NovelToon NovelToon
GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lestari visa

GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)

"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔

Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔

Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥

📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Jeak yang Tak Terlihat

Hanya butuh waktu tujuh menit bagi Aditya Pratama untuk menempuh perjalanan dari kantornya menuju kediaman besar keluarga Tanudjaya—jarak yang biasanya memakan waktu dua puluh menit, malam itu ia tempuh seolah sedang mengejar nyawanya sendiri. Mobil hitam mewahnya melesat membelah kesunyian malam, memotong tikungan dengan kecepatan tinggi, lampu-lampu jalan hanya terlihat seperti garis-garis cahaya yang kabur di matanya. Di dalam dada lelaki itu, ada amarah yang berkobar hebat, bercampur dengan rasa cemas yang tak terkira. Selama bertahun-tahun ia menjaga Luna, selama bertahun-tahun ia membangun benteng pertahanan yang ia kira tak bisa ditembus siapa pun... tapi malam ini, ada seseorang yang berhasil masuk, berdiri tepat di sisi tempat tidur wanita yang dicintainya itu, dan mengucapkan ancaman yang begitu mengerikan.

Bagi Aditya, ini bukan sekadar ancaman biasa. Ini adalah penghinaan terbesar.

Begitu gerbang rumah terbuka, mobil Aditya langsung meluncur masuk dan berhenti mendadak tepat di depan tangga utama. Ia keluar dengan langkah lebar, terburu-buru, jasnya terlihat sedikit berantakan, wajahnya yang biasanya selalu tenang dan terkontrol kini terlihat kaku, dingin, dan menakutkan. Para penjaga yang sedang bertugas tertegun, saling pandang dengan wajah pucat—mereka tahu, jika Tuan Aditya keluar di jam segini dengan wajah semuram itu, berarti sesuatu yang sangat buruk telah terjadi.

Aditya tidak menyapa siapa pun. Ia langsung bergegas masuk ke dalam rumah, menaiki tangga dua langkah sekaligus, menuju lantai dua tempat kamar Luna berada. Saat ia sampai di depan pintu kamar itu, ia tidak langsung membuka, tapi mengetuk dua kali dengan ritme khusus yang hanya mereka berdua yang tahu.

"Luna, ini aku. Buka pintunya," suaranya terdengar rendah tapi jelas, menusuk lewat celah pintu.

Dari dalam, terdengar suara kunci yang diputar perlahan. Pintu terbuka sedikit, dan di balik celah itu, Aditya melihat wajah Luna yang pucat pasi, matanya sembab dan masih berlinang air mata, tubuhnya sedikit gemetar saat menatapnya. Tanpa berpikir panjang, Aditya mendorong pintu itu terbuka lebar, masuk ke dalam, dan seketika itu juga ia menarik tubuh Luna ke dalam pelukannya—erat, sangat erat, seolah takut jika ia melepaskannya barang sedetik saja, wanita itu akan hilang dari hadapannya.

"Duhai... kamu tidak apa-apa, kan? Dia tidak menyakiti kamu sedikit pun, kan?" bisik Aditya di samping telinga Luna, suaranya bergetar menahan emosi yang meluap. Tangannya yang besar dan kasar bergerak memeriksa wajah, bahu, dan lengan Luna dengan cermat, memastikan tidak ada goresan atau bekas luka sedikit pun.

Luna menggeleng pelan, menyandarkan wajahnya ke dada bidang Aditya, mencari ketenangan dari detak jantung pria itu yang terdengar kuat dan berirama. Rasa takut yang masih tersisa di hatinya perlahan-lahan menguap begitu saja, tergantikan oleh rasa aman yang selalu ada setiap kali Aditya berada di dekatnya.

"Dia tidak menyakitiku, Tuan... dia hanya bicara. Dia berdiri di sini, tepat di samping tempat tidurku..." suara Luna terdengar lirih, ia menunjuk ke arah sisi tempat tidurnya sendiri dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Dia bilang dia sudah menunggu bertahun-tahun. Dia bilang dia akan mengambil semuanya dariku... harta, nama baik, dan... dan Tuan juga. Dia bilang aku akan menangis dan memohon, tapi tak ada yang akan mendengarkanku."

Aditya mendengarkan setiap kata itu dengan saksama. Napasnya memburu, rahangnya mengeras menahan amarah yang mulai meledak di dalam dadanya. Ia melepaskan pelukannya sebentar, lalu menatap wajah Luna lekat-lekat, menangkup kedua pipi wanita itu dengan kedua tangannya, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa Luna masih utuh, masih ada di sini, dan masih miliknya.

"Jangan takut, Luna. Tidak ada yang akan mengambilku darimu. Tidak ada yang akan mengambil apa pun yang menjadi hakmu. Selama aku masih bernapas, selama jantung ini masih berdetak... aku akan pastikan tidak ada satu pun orang yang berani menyakiti atau bahkan hanya berniat buruk padamu," ucap Aditya dengan nada yang tegas, berat, dan penuh janji yang tak tergoyahkan. Matanya yang tajam menyapu seluruh sudut kamar itu—dari jendela yang tertutup rapat, lantai yang bersih tanpa debu, hingga pintu yang terkunci ganda.

Ia berjalan menuju jendela besar di sisi timur kamar itu, memeriksa kait-kaitnya, lalu melihat ke bawah ke arah taman dan pagar pembatas. Semuanya masih sama, tidak ada kerusakan, tidak ada tanda-tanda ada orang yang memanjat atau masuk paksa.

"Kamu yakin tidak salah dengar? Suaranya... ada yang mirip dengan siapa pun yang pernah kita kenal?" tanya Aditya sambil berbalik badan kembali menghadap Luna.

Luna mengangguk pelan, berjalan mendekat mengikuti langkah Aditya. "Suaranya dibuat berat dan kasar, Tuan... tapi ada nada bicaranya, cara dia menekankan kata-kata tertentu... rasanya pernah aku dengar dulu. Dulu, saat aku masih kecil, saat aku masih hidup menderita di luar sana. Tapi aku tidak ingat siapa. Semua orang yang dulu membenciku, yang ingin menjatuhkanku... bukankah mereka sudah selesai? Bukankah mereka sudah dihukum, sudah miskin, sudah kehilangan segalanya? Bahkan ada yang sudah meninggal..."

Aditya diam sejenak. Otak cerdasnya mulai bekerja cepat, menyusun satu per satu potongan teka-teki ini. Benar, semua musuh besar mereka—keluarga yang dulu mengusir Luna, para pengkhianat yang ingin merebut warisan, orang-orang yang licik di perusahaan—semuanya sudah jatuh. Aditya sendiri yang mengatur kejatuhan mereka satu per satu, memastikan mereka tak punya lagi kekuatan, tak punya lagi tempat untuk berlindung, dan tak akan pernah bisa bangkit lagi untuk mengganggu Luna.

Tapi... benarkah sudah habis?

Aditya berjalan keluar kamar sebentar, memanggil kepala keamanan yang sedang menunggu dengan cemas di luar koridor. Wajah lelaki paruh baya itu pucat, keringat dingin menetes di pelipisnya. Ia tahu, kesalahan malam ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Bagaimana mungkin seseorang bisa masuk sampai ke kamar Nyonya Luna, melewati puluhan penjaga, melewati pagar tinggi, melewati kamera pengawas, tanpa ada satu pun orang yang menyadari?

"Periksa semua rekaman kamera pengawas. Mulai dari gerbang depan, taman, lorong, sampai di depan pintu kamar Nyonya Luna. Periksa detik demi detik, cari siapa pun yang lewat, siapa pun yang mencurigakan, bahkan jika itu hanya bayangan sekilas. Bawa rekaman itu ke ruang kerja sekarang juga. Dan kumpulkan semua anak buahmu di ruang tengah. Aku ingin tahu bagaimana cara dia masuk," perintah Aditya dengan suara rendah yang mengandung ancaman kematian. Matanya menatap tajam ke arah kepala keamanan itu, membuat lelaki itu menunduk gemetar ketakutan.

"Baik, Tuan Aditya. Segera kami laksanakan, Tuan..." jawabnya tergagap, lalu bergegas pergi secepat mungkin.

Aditya kembali masuk ke kamar, menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat, lalu menarik Luna duduk di tepi tempat tidur. Ia tidak akan meninggalkan wanita itu malam ini, bahkan sedetik pun. Ia akan tetap di sini, berjaga, memastikan tidak ada lagi bayang gelap yang berani mendekat.

"Tenanglah, Luna. Mulai detik ini, aku tidak akan pergi ke mana-mana sampai semuanya jelas. Orang itu bilang dia sudah menunggu bertahun-tahun... berarti dia punya kesabaran luar biasa, dia menyembunyikan diri dengan sangat baik, dan dia tahu persis kapan harus bertindak. Dia tidak mau mengganggumu saat kamu masih berjuang, saat kamu masih menderita... dia baru muncul saat kamu sudah di puncak kebahagiaanmu. Itu artinya, dia bukan sekadar musuh biasa. Dia membenci kamu dengan sangat dalam, dia ingin melihatmu hancur total, bukan sekadar terluka."

Luna menatap wajah samping Aditya yang tampak serius dan tegang. Di bawah cahaya lampu kamar yang redup, ia bisa melihat betapa dalamnya kerutan di kening lelaki itu, betapa tajamnya sorot matanya yang sedang berpikir keras. Luna merasa bersalah. Ia merasa kehadirannya selalu membawa bahaya bagi Aditya, selalu membuat lelaki hebat ini harus pusing, harus waspada, dan harus berjuang lagi demi dirinya.

"Tuan..." panggil Luna pelan, tangannya menyentuh lengan kekar Aditya. "Apakah... apakah aku membawa sial? Dulu aku berpikir semua sudah selesai, tapi ternyata bahaya masih ada. Aku selalu membuat Tuan repot, aku selalu membuat Tuan harus berjaga-jaga terus-menerus. Padahal aku hanya ingin hidup tenang, berbakti pada Tuan, dan membahagiakan Tuan saja..."

Aditya langsung menoleh, menatap Luna dengan tatapan lembut namun tegas. Ia mengusap pipi wanita itu, menghapus sisa air mata yang masih ada di sana.

"Jangan pernah bicara begitu, Luna. Kamu bukan pembawa sial. Kamu adalah keberuntungan terbesar yang pernah aku miliki. Masalah ini bukan salahmu, ini salah mereka... orang-orang yang berhati busuk yang tak pernah puas melihat orang lain bahagia. Dan ingat satu hal: aku melakukan ini semua bukan karena merasa direpotkan, bukan karena kewajiban... tapi karena aku cinta padamu. Karena hidupku sekarang tidak ada artinya jika ada satu pun goresan luka di tubuhmu."

Aditya berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah namun penuh tekad yang membara.

"Orang itu bilang dia akan mengambilku darimu? Dia bilang dia akan membuatmu menangis? Baiklah... mari kita lihat siapa yang akan menangis pada akhirnya. Aku akan mencari siapa dia, aku akan mengungkap siapa dia sebenarnya, dan aku akan pastikan dia menyesal seumur hidupnya karena berani menyentuh bayang-bayangmu."

Malam itu berlalu dengan penuh kecemasan. Aditya tidak tidur sedikit pun. Ia duduk di kursi dekat jendela, matanya terjaga lebar, menatap ke luar ke arah taman yang gelap, sementara Luna tertidur pulas dengan kepala bersandar di paha Aditya, merasa aman dan terlindungi sepenuhnya.

Pagi harinya, berita yang mereka temukan justru membuat suasana semakin tegang dan penuh kebingungan.

Rekaman kamera pengawas diperiksa berulang kali, diperlambat, diteliti detik demi detik... tapi hasilnya nihil. Tidak ada satu pun rekaman yang menangkap sosok orang asing itu masuk atau keluar. Tidak ada bayangan, tidak ada gerakan aneh, tidak ada apa pun. Semua kamera berfungsi normal, tidak ada yang rusak, tidak ada yang dimanipulasi. Seolah-olah orang itu benar-benar datang dari udara kosong, dan hilang kembali ke dalamnya.

Para penjaga juga diperiksa satu per satu, ditanyai dengan teliti, tapi semuanya memberikan keterangan yang sama: malam itu sunyi, aman, tidak ada yang lewat, tidak ada suara mencurigakan.

Aditya berdiri di ruang pengawasan, kedua tangannya dikaitkan di belakang punggung, matanya menatap layar-layar monitor itu dengan tatapan dingin dan penuh pertanyaan besar.

Dia bukan penyihir, dia manusia biasa. Dia pasti ada celah masuknya. Dia pasti ada jejaknya.

"Tuan Aditya..." panggil salah satu anak buahnya dengan ragu. "Ada satu hal aneh. Di rekaman kamera teras belakang, dekat pohon beringin besar itu... ada satu detik di mana gambarnya sedikit kabur, seolah ada sesuatu yang lewat sangat cepat, lebih cepat dari pandangan mata biasa. Tapi kami tidak yakin..."

Aditya langsung bergerak mendekat. "Tunjukkan."

Gambar itu diperbesar, dianalisis. Di sana, tepat di dekat batang pohon besar yang rindang itu... terlihat samar-samar ada bayangan tinggi berwarna gelap, bergerak lincah menuju dinding pembatas samping rumah. Dinding yang di sisi luarnya berjejer rumah-rumah warga biasa, bukan kawasan perusahaan atau gedung tinggi.

"Dia tidak masuk lewat gerbang utama. Dia tidak masuk lewat depan," gumam Aditya pelan, otaknya mulai menyusun peta jalur masuk orang itu. "Dia masuk dari belakang, memanjat pohon beringin itu, melompat ke dinding pembatas, lalu masuk ke dalam taman. Dia tahu persis letak kamera, dia tahu persis titik butak pengawasan, dia tahu jam berapa penjaga sedang berputar ronda... ini bukan orang sembarangan. Ini orang yang sudah sering mengamati tempat ini. Orang yang sudah hafal seluk-beluk rumah ini."

Aditya berbalik menatap anak buahnya dengan mata yang menyala tajam.

"Perluas pencarian. Periksa semua rumah di sekitar sini, tanya tetangga, cari siapa pun yang mencurigakan. Dan satu lagi... cari data masa lalu Luna. Semua orang yang pernah berhubungan dengannya, semua orang yang pernah menyakitinya, bahkan orang yang kita kira sudah meninggal atau sudah hilang bertahun-tahun lalu. Aku ingin semua berkas ada di mejaku sebelum sore ini. Aku tidak peduli seberapa jauh kalian harus mencari, seberapa dalam kalian harus menggali... aku ingin tahu siapa makhluk berhati iblis yang berani mengancam wanitaku ini."

Saat itu juga, Luna masuk ke ruangan itu. Ia sudah berpakaian rapi, wajahnya sudah lebih tenang meski masih terlihat sedikit lelah. Ia berdiri di samping Aditya, menatap layar kamera itu, lalu menatap wajah Aditya yang penuh amarah dan kewaspadaan.

"Tuan... ada satu hal lagi yang aku ingat," ucap Luna pelan, suaranya terdengar ragu namun pasti. "Saat dia bicara... dia sempat menyebut nama Kakek Arthur. Dia bilang... 'Orang tua gila itu, Arthur Tanudjaya, dia meninggal dan meninggalkan semua kekayaannya untukmu... padahal dia seharusnya memberikannya padaku'."

Kalimat itu meluncur dari bibir Luna bagaikan petir di siang bolong.

Aditya tersentak. Matanya membelalak sedikit, menatap Luna dengan kaget bercampur penasaran. Arthur Tanudjaya memberikan harta padanya... padahal seharusnya untuk dia?

Siapa dia?

"Kamu yakin dia bilang begitu?" tanya Aditya cepat.

Luna mengangguk mantap. "Ya. Dia mengucapkannya dengan penuh rasa iri dan marah. Seolah... seolah dia merasa dialah yang paling berhak atas semua ini, bukan aku."

Aditya terdiam hening, tapi di dalam hatinya, satu nama yang sudah lama terkubur jauh di dalam ingatan, satu nama yang hampir ia lupakan keberadaannya, perlahan mulai terbit kembali. Nama seseorang yang dulu sangat dekat dengan Arthur Tanudjaya, seseorang yang dianggap keluarga, seseorang yang tiba-tiba menghilang begitu saja tepat sebelum kakek Luna meninggal dunia... seseorang yang dulu juga merasa sangat kecewa dan marah saat tahu seluruh warisan jatuh ke tangan Luna.

Tapi bukankah dia sudah pergi ke luar negeri? Bukankah dia sudah hidup tenang di sana? Atau... apakah itu semua hanya sandi saja?

"Siapa pun dia, Luna... dia sedang bermain api. Dan dia tidak tahu, bahwa dia sedang menantang singa yang sedang tidur," gumam Aditya pelan, sambil merangkul bahu Luna dan menatap keluar jendela ke arah pohon beringin besar yang menjadi jejak pertama orang itu.

"Permainan ini baru saja dimulai. Dan aku pastikan... akhirmu tidak akan seindah harapanmu, siapa pun kau."

(BERSAMBUNG)

📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰

Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷

Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷

1
Ate Ida Rustono
😄👍
Ate Ida Rustono
tambah penasaran dehh
Ate Ida Rustono
penasaran jadinya
visa lestari
💪💪💪👍
visa lestari
ceritanya bagus thor semagata
visa lestari
mampir thor💪
Nadia Permatasari
mampir juga thor😍
Eemlaspanohan Ohan
lanjut makin seru
Eemlaspanohan Ohan
lanjut
Eemlaspanohan Ohan
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!