NovelToon NovelToon
STH: Beyond Immortal

STH: Beyond Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RA.AM

Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥


Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:

"Zaman dan Era telah berubah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22 — Membuat Perjanjian dengan Raja Yan

Keesokan paginya, saat Xiao Nannan masih tertidur pulas dengan wajah tenang di kasur sebelah, Li Yao sudah bangun. Ia bergerak pelan, tidak ingin membangunkan gadis kecil itu.

Dari dalam saku, ia mengeluarkan beberapa koin tembaga dan perak meletakkannya di atas meja kayu—cukup untuk makan Xiao Nannan selama seharian. Lalu ia menulis secarik pesan pendek di atas kertas tipis.

Kakak pergi sebentar. Jangan keluar sebelum kakak kembali. Ada uang di meja untuk sarapan, minta pelayan penginapan untuk membawa makanan.

Li Yao meletakkan pesan itu di samping bantal Xiao Nannan, lalu beranjak keluar.

Pagi di ibu kota Yan cukup sejuk. Matahari baru saja naik, sinarnya masih terasa lembut tidak menyengat. Pedagang mulai membuka lapak, gerobak-gerobak mulai berderit di jalanan, dan asap dari cerobong dapur mengepul tipis. Li Yao berjalan cepat, tidak lagi sekedar berbaur seperti kemarin. Kini ia punya hal yang harus dilakukan.

Pasar kultivator ternyata berada di bagian timur kota, dekat dengan tembok kota. Tidak terlalu besar, tidak terlalu ramai, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Li Yao membeli beberapa lembar jubah cadangan—warna gelap, lebih praktis untuk perjalanan.

Dua botol pil pemulih energi level rendah, untuk berjaga-jaga. Beberapa potong besi spiritual kualitas sedang dan sepotong kecil batuan untuk bahan sementara memperbaiki Pagoda Kekacauan. Pagoda itu masih tersimpan di Lautan Pahitnya, retak tapi masih bisa diselamatkan, tidak perlu membuat ulang dari awal.

Selesai berbelanja perbekalan, Li Yao berjalan ke arah utara kota. Di sana, berdiri istana besar kerajaan Yan.

Istana kerajaan Yan tidak semegah istana-istana di negara besar lainnya. Temboknya tinggi tapi tidak terlalu tebal, gerbang utama dijaga dua lusin penjaga dengan seragam merah tua.

Namun tetap terasa megah bagi ukuran kerajaan kecil seperti Yan. Li Yao tidak masuk melalui gerbang depan. Ia melayang rendah di atas tembok samping, menghindari penjaga yang tidak waspada. Tak lama kemudian ia sudah berada di dalam halaman istana.

Li Yao tidak tahu persis di mana raja berada. Istana ini cukup besar, dengan banyak ruangan dan lorong. Tapi ia tidak perlu mencari lama, indra spritual telah menangkap keberadaan raja–cukup ikuti lorong utama menuju bangunan paling besar di tengah, dengan atap bersusun dan ukiran naga di pilar-pilarnya. Singgasana. Di sanalah raja biasanya berada.

Pintu ruang singgasana terbuka. Di dalam, seorang pria paruh baya dengan jubah merah bersulam naga sedang duduk di singgasana kayu ukir. Wajahnya lelah, mata sembab, seperti baru bangun atau belum tidur sama sekali. Di sekelilingnya tidak ada menteri atau penjaga—mungkin sedang melakukan tugas lain.

Raja Yan adalah manusia biasa. Bukan seorang kultivator. Tidak ada energi spiritual yang terpancar dari tubuhnya. Hanya seorang pemimpin kerajaan kecil yang usianya mulai menua, dengan rambut yang sudah mulai beruban di antara pelipisnya.

Beberapa penjaga berdiri di luar pintu, tapi Li Yao masuk begitu saja. Pintu terbuka pelan, dan raja mendongak dengan kaget.

"Siapa kau?" Raja Yan setengah berdiri, wajahnya pucat. Tangannya meraih pedang kecil di samping singgasana.

"Tenang Yang Mulia," kata Li Yao dengan suara datar. Ia tidak menyembunyikan aura kultivasinya, aura Istana Dao merembes sedikit. Ruangan itu tiba-tiba terasa berat. Raja Yan yang tidak punya pertahanan spiritual langsung merasakan tekanan, napasnya terengah-engah.

"Saya bukan seorang pencuri, bukan pembunuh. Saya hanya seorang kultivator yang lewat dan ingin meminta bantuan."

Raja Yan menelan ludah. Di kerajaan sekecil Yan, kultivator sekuat ini adalah sosok yang hampir tidak pernah ia temui. Ia tahu betapa besar perbedaan antara manusia biasa dan kultivator. Satu gerakan orang ini bisa menghancurkan istananya.

"A... apa yang tuan abadi inginkan?" suaranya sedikit gemetar. Meskipun penampilan Li Yao masih terlihat kekanak-kanakan, tetapi Raja Yan tidak pernah meremehkannya. Jelas dia tau kengerian dan kekejaman seorang praktisi keabadian.

"Saya ingin menitipkan seseorang," kata Li Yao. "Seorang gadis kecil, usinya sekitar tiga atau empat tahun, nama gadis kecil itu Xiao Nannan. Saat ini dia tinggal di sebuah penginapan dekat pasar timur. Saya tidak bisa membawanya dalam perjalanan. Saya ingin Yang Mulia menjaga Xiao Nannan selama dia masih berada di ibu kota ini."

"Menjaga? Maksud tuan abadi?" Raja Yan sedikit bingung. Kenapa kultivator sekuat ini memperdulikan seorang gadis kecil?

"Tidak perlu menjaga secara terang-terangan. Cukup sediakan beberapa koin tembaga dan perak untuk makan setiap hari, dan biarkan Xiao Nannan tetap tinggal di penginapan itu. Awasi saja dari jauh. Jangan pernah mengganggu kehidupanya. Terakhir, pastikan tidak ada yang menyakitinya."

Raja Yan mengernyit. "Itu... itu bisa diatur Tuan. Tapi..."

Li Yao tersenyum tipis. "Aku akan membantu kesehatan Yang Mulia dan keluarga anda. Raja Yan hanya manusia biasa, kan? Aku bisa memberi ramuan untuk memperpanjang umur—bukan keabadian, tapi cukup untuk membuat Yang Mulia hidup lebih lama dan lebih sehat dari manusia biasa pada umumnya. Aku juga akan memeriksa permaisuri, selir, dan anak-anak Yang Mulia."

Li Yao berhenti sebentar, lalu melanjutkan.

"Bahkan, jika ada di antara putra-putri Yang Mulia yang memiliki bakat kultivasi, saya bisa merekomendasikannya pergi ke Lingxu Dongtian. Anda pasti tau Gua Surga Lingxu, meskipun bukan Tanah Suci, tetapi cukup untuk langkah pertama dalam kultivasi."

Mata Raja Yan berbinar. Itu tawaran yang sangat menggiurkan, mungkin hanya orang tak berakal yang menolaknya. Kerajaan Yan adalah negara kecil, akses ke Gua Surga kultivasi sangat sulit, apalagi Tanah Suci.

Raja Yan tidak berharap lebih. Jika anak-anaknya bisa berlatih di sana, itu bukan hanya prestise—itu bisa mengubah nasib keluarga kerajaan untuk generasi mendatang. Apalagi tawaran ramuan umur panjang. Sebagai manusia biasa, usianya sangat terbatas. Jika bisa hidup lebih lama, Raja Yan bisa memerintah lebih lama, mengamankan tahta untuk anak-anaknya.

"Apakah tuan abadi yakin?" Raja Yan masih ragu, matanya menyipit.

"Tidak ada untungnya saya berbohong," kata Li Yao dingin. "Aku bisa membunuh Yang Mulia kapan saja jika saya mau. Tapi itu tidak menguntungkan, saya hanya ingin memberi Xiao Nannan perlindungan."

Raja Yan terdiam, hawa dingin menusuk bagian belakang lehernya, seakan sewaktu-waktu kepalanya dapat terlepas kapan saja. Raja Yan menenangkan diri, kemudian mengangguk. "Baiklah, saya terima tawaran tuan abadi."

Li Yao mengeluarkan selembar kertas dari jubahnya—gambar Xiao Nannan yang ia buat dengan tinta dan kuas pinjaman dari pemilik penginapan. Wajah gadis kecil lucu itu tergambar sederhana, mungkin tidak terlalu mirip, tapi cukup untuk dikenali. Mata bulat, rambut diikat membentuk dua pony, pipi sedikit kurus.

"Ini dia. Xiao Nannan."

Raja Yan mengambil gambar itu, memeriksa sebentar. "Anak kecil biasa? Kenapa tuan abadi begitu peduli padanya." Pada akhirnya Raja Yan tidak bisa menahan rasa penasarannya.

Li Yao menatap raja dengan mata yang tiba-tiba berubah serius. Tekanan di ruangan itu meningkat. Raja Yan merasakan hawa dingin menjalar sekali lagi, meskipun tidak tahu kenapa.

"Dia bukan anak biasa, Yang Mulia," kata Li Yao pelan. "Dia adalah inkarnasi seorang dewa. Satu nafasnya bisa menghancurkan kerajaan kecil seperti Yan ini. Maka jangan sampai Yang Mulia dan orang-orang anda menyakitinya, atau melakukan sesuatu di luar kehendaknya. Biarkan dia hidup seperti anak kecil biasa. Itu sudah cukup."

Raja Yan pucat pasi. Bibirnya gemetar. "A...apakah itu nyata?"

"Jangan tanya lebih jauh. Cukup lakukan sesuai pesanku." Suara Li Yao kembali normal. Tekanan di ruangan itu menghilang. "Sekarang, panggil keluarga Yang Mulia. Saya akan memeriksa kesehatan mereka."

Raja Yan mengangguk tergesa-gesa, lalu memanggil pelayan di luar pintu.

Dua jam kemudian, Li Yao keluar dari istana melalui pintu samping, tidak melalui gerbang depan. Langit sudah terang, matahari naik cukup tinggi. Ibu kota Yan terlihat luas dari tempatnya berdiri—atap-atap rumah berwarna merah dan abu-abu membentang sampai ke tembok kota, dengan sesekali menara pengawas menjulang. Di kejauhan, pasar sudah ramai, suara pedagang terdengar samar.

Pemeriksaan kesehatan keluarga raja berjalan lancar. Permaisuri dan selir-selir semuanya dalam kondisi normal—kelelahan, kurang gizi pada beberapa, tapi tidak ada penyakit serius. Anak-anak raja, tiga orang, semuanya laki-laki.

Yang tertua sekitar dua belas tahun, yang bungsu lima. Li Yao memeriksa bakat kultivasi mereka dengan metode sederhana—merasakan resonansi energi spiritual di tubuh mereka. Tidak ada yang istimewa. Mungkin yang tertua memiliki sedikit bakat, tapi tidak sampai level jenius. Cukup untuk direkomendasikan ke Lingxu Dongtian, jika raja Yan menginginkannya.

Li Yao memberi resep ramuan umur panjang kepada tabib istana. Resep sederhana, bahan-bahan mudah didapat. Cukup untuk memperpanjang hidup manusia biasa sepuluh hingga lima belas tahun, tergantung keteraturan minum. Bukan ramuan level tinggi, tapi lebih dari cukup untuk manusia biasa.

Li Yao juga meninggalkan satu botol pil pemulih—untuk berjaga-jaga jika ada anggota keluarga yang sakit parah. Satu pil bisa menyembuhkan demam tinggi dan penyakit umum dalam hitungan jam.

Setelah semua selesai, Li Yao berpesan sekali lagi kepada raja–jangan sakiti Xiao Nannan, jangan ganggu hidupnya, jangan coba-coba memanfaatkannya. Cukup sediakan uang dan pengawasan diam-diam.

Raja Yan mengangguk berkali-kali, wajahnya masih pucat mendengar "inkarnasi dewa" tadi.

Li Yao berdiri di sisi barat istana, memandang ibu kota Yan dari kejauhan. Angin berhembus, membawa debu dan suara kota. Di bawah sana, ribuan manusia biasa sibuk dengan urusan mereka—berdagang, bekerja, bertengkar, tertawa. Mereka tidak tahu bahwa di tengah mereka, seorang gadis kecil bernama Xiao Nannan, buah Dao Kaisar Kejam berkumpul bersama mereka.

"Hanya ini yang bisa kulakukan untuk Xiao Nannan. Aku tidak bisa membawanya dalam perjalanan. Untuk saat ini, kerajaan Yan lebih cocok untuknya."

Li Yao tidak tahu apakah keputusannya benar. Xiao Nannan mungkin akan kesepian. Mungkin akan menangis saat ia pergi nanti. Tapi membawanya ke Utara, ke tempat-tempat berbahaya, ke wilayah yang bahkan ia sendiri belum tahu apa yang menanti—itu lebih egois.

Di sini Xiao Nannan lebih aman, Raja Yan akan menjaganya. Meskipun sementara Raja Yan akan sakit kepala karena takut pada ancaman "dewa" yang bisa menghancurkan kerajaannya.

Li Yao berjalan kembali ke arah penginapan.

Ia akan menemani Xiao Nannan selama beberapa hari. Membelikannya makanan, mengajaknya jalan-jalan, membacakan cerita. Lalu, ketika Xiao Nannan sudah terbiasa dengan kehidupannya yang baru—dengan pakaian baru dan keamanan diam-diam dari istana—ia akan pergi.

Perjalanan ke Wilayah Utara tidak bisa ditunda, Li Yao harus memperoleh kitab Kaisar Barat secepat mungkin.

1
Eza Bae
tes
Eza Bae
test
Eza Bae
tes
T28J
saya mampir Thor 👍👍
Fajar Fathur rizky
update yang banyak thor semangat thor
SnowEdge: test ombak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!