Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Sandiwara di Atas Luka
Udara di ruang kerjaku seolah tersedot habis ke dalam ruang hampa. Paru-paruku menolak bekerja. Mataku terkunci pada kepingan logam berbalut krom di atas bantalan beludru hitam itu.
Sebuah lambang kemudi yang patah.
Ingatanku ditarik paksa menembus lorong waktu yang gelap. Tiga tahun lalu, di tengah guyuran hujan lebat dan kilat lampu ambulans, aku melihat sisa-sisa mobil Adrian yang hancur menabrak pembatas jalan tol. Bagian depan mobil itu remuk tak berbentuk, dan lambang kemudi ini... lambang ini ditemukan terlempar beberapa meter dari lokasi kejadian, ternoda oleh darah pria yang pernah bersumpah menemaniku hingga tua.
"Yang berikutnya adalah rem mobil suamimu."
Kalimat dalam secarik kertas itu bukan sekadar ancaman. Itu adalah sebuah tiket eksekusi.
Aku merasa duniaku berputar. Tanganku yang sedang memegang kertas itu mulai gemetar hebat hingga kertasnya bergetar menimbulkan suara berdesir yang menyedihkan.
"Kau pucat sekali, Sayang," suara Rendra mengalun lembut, membelai telingaku dengan nada kepuasan yang psikopatik. Dia menumpukan kedua tangannya di atas meja kerjaku, mencondongkan tubuhnya ke arahku seolah kami adalah sepasang kekasih yang sedang berbagi rahasia. "Kudengar SUV barumu ini keluaran Eropa. Sistem pengeremannya pasti sangat canggih. Sayang sekali, mekanikku menyukai tantangan."
Rendra mengulurkan tangannya, berniat menyelipkan seuntai rambutku yang jatuh ke belakang telinga.
Namun, sebelum jemarinya yang dingin itu sempat menyentuh kulitku, sebuah tangan yang jauh lebih besar dan kokoh menyambar pergelangan tangan Rendra di udara.
Bunyi bukk tertahan terdengar saat cengkeraman itu mengunci.
Bumi tidak lagi berada di sofa. Dalam sepersekian detik, dia sudah berpindah posisi, berdiri tegap tepat di sebelahku. Rahangnya mengeras sekeras baja, dan urat-urat di lehernya menonjol tajam di balik kerah kemejanya.
"Jangan. Sentuh. Istriku," desis Bumi. Suaranya tidak keras, tidak ada teriakan. Namun getaran baritonnya memancarkan bahaya murni—sebuah peringatan mematikan dari seorang predator yang wilayahnya baru saja diusik.
Rendra terkesiap pelan. Matanya melebar melihat cengkeraman tangan Bumi di pergelangan tangannya. Pria ningrat itu mencoba menarik tangannya kembali, namun Bumi tidak bergeming satu milimeter pun. Cengkeraman suamiku sekuat catok besi. Aku bahkan bisa melihat buku-buku jari Bumi memutih karena tenaga yang ia kerahkan.
"Lepaskan tanganku, Programmer rendahan," ancam Rendra, mencoba mempertahankan senyum angkuhnya meski wajahnya mulai memerah karena menahan rasa sakit. "Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa."
"Dan kamu tidak tahu sedang berdiri di wilayah siapa," balas Bumi dingin, menggunakan sapaan yang sengaja merendahkan. Matanya menatap lurus menembus bola mata Rendra tanpa berkedip. "Kamu datang ke sini membawa rongsokan logam dan secarik ancaman murahan bak preman pasar. Sangat amatir untuk ukuran seorang pemegang saham."
Bumi melepaskan pergelangan tangan Rendra dengan satu sentakan kasar, membuat pria berjas rapi itu sedikit terhuyung ke belakang.
Tanpa memalingkan pandangannya dari Rendra, tangan kiri Bumi bergerak mengambil secarik kertas ancaman di atas mejaku. Dengan gerakan lambat dan penuh perhitungan, Bumi merobek kertas itu menjadi dua, lalu menjadi empat, lalu meremasnya menjadi gumpalan sampah kecil dan menjatuhkannya ke lantai.
"Suami Aruna yang dulu mungkin tidak tahu cara melawan monster pengecut yang bersembunyi dalam bayang-bayang," ucap Bumi, setiap kata yang keluar dari bibirnya seolah diukur dengan presisi mematikan. "Tapi aku lahir di tempat yang jauh lebih keras dari ruang direksi ber-AC ini, Rendra. Jika kamu ingin mencoba memutus rem mobilku, silakan. Tapi aku pastikan, sebelum mobil itu menabrak dinding, aku sendiri yang akan menyeretmu ke neraka bersamaku."
Ruang kerjaku yang luas terasa menyusut menjadi arena pertarungan dua gladiator. Rendra, dengan segala uang dan kekuasaan aristokratnya, berhadapan dengan Bumi, pria yang tidak memiliki apa-apa selain harga diri dan keberanian yang tak terbatas.
Rendra memegangi pergelangan tangannya yang kini memerah dan membentuk bekas cetakan jari Bumi. Senyum ramahnya lenyap tak bersisa. Ia menatap Bumi dengan kebencian yang telanjang.
"Kita lihat saja berapa lama nyali besarmu ini akan bertahan, anak muda," desis Rendra sinis. Ia lalu menoleh padaku. "Waktumu sudah habis, Aruna. Aku akan menunggumu datang memohon padaku saat kau sadar bahwa anjing penjagamu ini tidak bisa menahan takdir."
Rendra merapikan jasnya, memutar tubuhnya dengan elegan, dan melangkah keluar dari ruanganku.
Begitu pintu jati itu tertutup rapat dengan bunyi klik, sisa-sisa tenaga di kedua lututku seolah menguap. Aku terhuyung mundur. Jika bukan karena tepi meja kerjaku yang menahan pinggangku, aku pasti sudah ambruk ke lantai.
Tanganku mencengkeram tepi meja. Napasku memburu, tersendat oleh isakan yang mati-matian kutahan. Ancaman itu terasa terlalu nyata. Ingatan tentang tubuh Adrian yang dingin di kamar jenazah... lalu bayangan Bumi mengalami hal yang sama...
Tidak. Tidak, aku tidak akan sanggup. Aku tidak bisa menanggung beban nyawa orang lain lagi.
"Aruna?!"
Suara Bumi melembut seketika. Seluruh aura membunuhnya lenyap saat ia menoleh ke arahku. Ia melangkah cepat memangkas jarak di antara kami, tangannya terulur untuk meraih lenganku.
"Jangan sentuh aku!" teriakku histeris, mundur satu langkah hingga punggungku menabrak rak buku di belakang meja.
Bumi terpaku. Tangannya membeku di udara. Matanya memancarkan kebingungan dan luka yang membuat dadaku semakin sesak.
"Aruna, bernapaslah. Dia sudah pergi—"
"Dia tidak akan pergi, Bumi! Tidakkah kamu mengerti?!" Suaraku pecah, air mata yang panas akhirnya tumpah membasahi riasan wajahku. Zirah CEO-ku hancur menjadi serpihan debu. "Dia membunuh Adrian. Dia menyewa orang untuk membunuh Sifa. Dan sekarang dia menargetkanmu secara terang-terangan!"
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, tubuhku bergetar hebat. "Ini semua salahku. Rendra menginginkanku, dan dia akan menghancurkan siapa pun yang berani berdiri di dekatku. Aku ini kutukan. Keberadaanku hanya membawa maut bagi orang-orang yang melindungiku."
Kekalutan menelanku bulat-bulat. Aku membiarkan ketakutanku berbicara.
"Kita akhiri saja sandiwara ini," isakku, menatapnya dengan pandangan nanar. "Kita pergi ke pengadilan agama besok. Aku akan mengurus surat perceraian kita. Ambil dua miliar itu, bawa ibumu dan Sifa pergi jauh dari Jakarta. Sembunyilah. Aku... aku tidak mau melihatmu mati karena wanita sepertiku."
Aku menundukkan kepala, menunggu. Menunggu langkah kaki Bumi menjauh. Menunggu pria cerdas itu menggunakan logikanya dan menyadari bahwa keselamatannya jauh lebih berharga daripada pernikahan transaksional ini.
Namun, tidak ada suara langkah yang menjauh.
Yang terjadi justru kebalikannya. Terdengar suara langkah tegas mendekat. Sebelum aku bisa menghindar, sepasang lengan yang kuat melingkari tubuhku, menarikku dengan paksa namun penuh kelembutan dari rak buku.
Bumi mendekapku. Erat. Begitu erat hingga udara di paru-paruku seakan tergantikan oleh detak jantungnya yang kokoh dan konstan.
"Lepaskan aku, Bumi... kamu bisa mati..." rontaku lemah, memukul pelan dadanya.
"Tidak," jawab Bumi pelan, menenggelamkan wajahnya di puncak kepalaku. Hembusan napasnya yang hangat terasa di sela-sela rambutku. "Aku tidak akan melepaskanmu. Dan aku tidak akan pernah menceraikanmu."
"Kamu keras kepala! Dia punya uang, dia punya pembunuh bayaran!"
Bumi sedikit melonggarkan pelukannya, namun hanya agar ia bisa menunduk dan menatap langsung ke mataku. Kedua tangan besarnya menangkup wajahku yang basah oleh air mata. Ibu jarinya bergerak sangat lembut, menghapus aliran air mataku dengan penuh kehati-hatian.
"Dengarkan aku, Aruna," ucap Bumi. Suaranya tidak lagi menggunakan nada seorang bawahan yang patuh. Itu adalah nada mutlak dari seorang laki-laki yang memegang kendali. "Rendra mungkin bisa memutus selang rem, tapi dia bukan Tuhan yang bisa menentukan kapan aku akan mati."
Bumi menatap lurus ke dalam netraku, mencari setiap titik keraguan di sana dan menghancurkannya satu per satu.
"Kamu bukan kutukan. Kamu adalah wanita yang mengorbankan seluruh harga dirimu demi menyelamatkan nyawa adikku. Jika aku lari sekarang karena gertakan pengecut seperti Rendra, gelar apa yang pantas kusematkan pada diriku sebagai suamimu?"
Air mataku terus mengalir, namun kali ini bukan karena ketakutan, melainkan karena rasa haru yang luar biasa besar. Bagaimana bisa pria ini begitu yakin padaku? Bagaimana bisa dia berdiri dengan gagah di tengah badai yang diciptakan oleh masa laluku?
"Aku berjanji padamu," bisik Bumi, mendekatkan wajahnya hingga jarak kami hanya tersisa beberapa sentimeter. Aku bisa menghirup aroma sabun dan kebersihan dari kulitnya, aroma yang menghapus rasa mualku. "Aku tidak akan membiarkanmu menjadi janda untuk kedua kalinya. Aku akan hidup. Kita berdua akan hidup, dan kita akan melihat Rendra membusuk di penjara."
Jantungku berdebar tak karuan. Jarak kami begitu dekat. Sentuhannya di wajahku terasa membakar, namun memabukkan. Di tengah ruang kerjaku yang dingin, di bawah bayang-bayang ancaman pembunuhan, aku merasa... benar-benar dilindungi tanpa syarat.
Aku mengangkat kedua tanganku yang bergetar, membalas sentuhannya dengan meletakkan telapak tanganku di atas punggung tangannya yang masih menangkup wajahku.
"Terima kasih," bisikku parau, menatap bibirnya sebelum kembali menatap matanya. "Terima kasih, Bumi."
Sebuah senyum tipis yang tulus akhirnya terbit di bibir Bumi. Ia mengangguk pelan. Momen itu begitu intim, begitu murni, hingga aku lupa bahwa kami sedang berada di medan perang.
Namun, Bumi adalah pria dengan insting bertahan hidup yang tak pernah tertidur.
Dia perlahan melepaskanku, meskipun tatapannya masih melembut. Dia berbalik, pandangannya jatuh kembali pada kotak beludru hitam yang ditinggalkan Rendra di atas meja.
"Sekarang, mari kita lihat apa yang sebenarnya dibawa oleh monster dari masa lalumu ini," gumam Bumi, kembali ke mode analitisnya.
Aku mengerutkan kening, menghapus sisa air mata. "Itu hanya lambang kemudi mobil Adrian. Dia membawanya untuk mengintimidasi kita."
"Orang licik seperti Rendra tidak akan melakukan satu gerakan hanya untuk satu tujuan," Bumi mengambil kotak beludru itu. Dia tidak menyentuh emblem logamnya secara langsung, melainkan menggunakan sapu tangan dari sakunya.
Matanya menyipit saat ia memeriksa jahitan di dalam bantalan beludru hitam tersebut. Dengan sangat hati-hati, Bumi menarik sedikit jahitan kain beludru itu.
Mataku membelalak. Di balik bantalan beludru itu, tersembunyi sebuah cip elektronik berukuran sangat kecil—tidak lebih besar dari biji beras—dengan titik lampu merah yang berkedip mikroskopis.
"Alat penyadap mikro dan pelacak GPS aktif," bisik Bumi dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Rendra sengaja membuat adegan intimidasi dan ancaman rem blong sebagai pengalih perhatian, agar kami fokus pada ketakutan kami. Dia berharap kami menyimpan kotak ini sebagai barang bukti atau menyimpannya di ruangan ini, sehingga ia bisa menyadap pembicaraan kami.
Aku membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, namun Bumi segera mengangkat telunjuknya ke depan bibirnya. Ssst.
Dia meletakkan kembali kotak itu di atas meja. Lalu, Bumi meraih pulpen dari mejaku dan menarik selembar sticky note. Dengan cepat, ia menuliskan sesuatu dan menyodorkannya padaku.
Tulisan tangannya berbunyi:
"Mikrofonnya sangat sensitif. Sarah pasti sedang memantau rekamannya dari meja depan. Kita akan memberinya pertunjukan yang mereka inginkan."
Aku menatap Bumi dengan bingung. Pertunjukan apa?
Bumi menarik kembali kertas itu, membaliknya, dan menulis lagi.
"Berpura-puralah kita bertengkar hebat. Buat mereka percaya bahwa ancaman Rendra berhasil membuat kita ketakutan setengah mati dan saling membenci."
Aku membaca instruksi itu. Otak CEO-ku segera memahami taktik ini. Jika Rendra mengira kami pecah dan saling menyalahkan, dia akan menurunkan kewaspadaannya.
Bumi menatapku, memberikan anggukan pelan sebagai aba-aba. Tiga, dua, satu.
"Kamu gila, Aruna?!" Suara Bumi tiba-tiba menggelegar, memecah keheningan ruangan dengan nada marah yang sangat meyakinkan. Dia memukul meja kerjaku cukup keras hingga aku sedikit tersentak. "Pria itu baru saja mengancam akan membunuhku! Kamu tidak pernah bilang bahwa mantan kekasihmu adalah seorang pembunuh berdarah dingin!"
Aku segera menangkap ritmenya. Aku membalas dengan suara melengking dan panik, persis seperti wanita yang sedang histeris.
"Lalu kamu mau apa, Bumi?! Kamu mau aku bagaimana?! Aku juga tidak tahu dia akan sejauh ini!" teriakku.
"Batalkan kontrak sialan ini!" bentak Bumi, suaranya dipenuhi amarah yang dibuat-buat. "Aku menikahimu untuk biaya rumah sakit Sifa, bukan untuk menukar nyawaku! Dua miliar tidak sebanding dengan nyawaku, Aruna! Aku mau cerai!"
Mendengar kata 'cerai' diteriakkan dengan suara lantang, hatiku sempat mencelos meski aku tahu ini hanya sandiwara.
Namun, yang terjadi selanjutnya membuat otakku benar-benar berhenti berfungsi.
Sambil terus meneriakkan kata-kata kasar dan makian palsu, Bumi melangkah maju. Dia meraih pinggangku dengan satu gerakan mulus yang tak terbantahkan, lalu menarik tubuhku hingga menabrak dada bidangnya.
Dia mendudukkan dirinya di tepi meja kerjaku yang kokoh, lalu menarikku hingga posisiku berdiri tepat di antara kedua kakinya yang sedikit terbuka. Kedua lengannya melingkar protektif di punggung bawahku, menahanku dalam dekapan yang sangat intim, posesif, dan... mendebarkan. Sama sekali berbanding terbalik dengan kata-kata kejam yang keluar dari mulutnya.
"Dasar penipu! Kamu menjebakku!" teriak Bumi untuk para penyadap.
Lalu, dia menundukkan kepalanya, membenamkan wajahnya di perpotongan leher dan bahuku. Bibirnya menyentuh kulit leherku dengan sengaja, menghembuskan napas hangat yang membuat seluruh bulu romaku meremang seketika.
"Lalu kamu mau uang tambahan?! Sebutkan angkanya, brengsek!" jeritku merespons, namun aslinya suaraku bergetar, nyaris terengah-engah karena sentuhan bibirnya di leherku. Tanganku tanpa sadar meremas kemeja bahunya. Kakiku nyaris lemas. Sandiwara ini terlalu ekstrem untuk kewarasanku.
"Aku tidak butuh uangmu!" teriak Bumi lagi.
Di saat yang bersamaan, dia mengecup pelan denyut nadi di leherku—sebuah kecupan ringan yang tidak akan terdengar oleh mikrofon mana pun, tapi sukses mengirimkan ledakan kembang api ke seluruh sel saraf di tubuhku. Wajahku memanas hingga ke telinga. Aku menahan napas sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara memalukan.
Matanya menatapku dari jarak beberapa sentimeter, memancarkan binar geli bercampur dengan kelembutan yang sangat memabukkan. Pria ini sedang menggodaku. Sengaja membuat napasku tersengal agar suaraku di rekaman itu terdengar seperti wanita yang sedang menangis panik. Suamiku yang biasanya kaku dan pemalu ini, ternyata tahu persis bagaimana cara membuat jantungku melompat keluar dari rongganya.
"Keluar! Keluar dari ruanganku sekarang!" aku menjerit ke arah kotak beludru itu, memainkan peranku dengan susah payah karena kewarasanku sedang diuji habis-habisan.
"Dengan senang hati!" bentak Bumi.
Dia melepaskan pelukannya, meski ibu jarinya sempat mengusap lembut pinggangku sebelum ia benar-benar menjauh. Bumi mengambil kotak beludru itu dengan kasar, membanting pintu ruanganku dengan keras, dan pergi dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan, meninggalkan aku sendirian dengan dada yang naik turun dan pipi yang terbakar sehebat lahar panas.
Aku menyentuh leherku. Sisa kehangatan bibirnya masih tertinggal di sana, mengirimkan gelombang debaran yang membuatku harus duduk di kursi agar tidak jatuh.
Zirahku mungkin telah dihancurkan oleh Rendra. Tapi di ruang kerjaku ini, Bumi baru saja memberiku perlindungan baru yang jauh lebih kuat: kepercayaan dan sebuah debaran cinta yang tak bisa lagi kusangkal.
___________________________________________
Di meja depan, Sarah tersenyum penuh kemenangan mendengar bantingan pintu dan melihat Bumi berjalan keluar dengan wajah merah padam karena 'marah'. Wanita itu diam-diam mengetikkan pesan di ponsel rahasianya: "Umpannya dimakan. Mereka bertengkar hebat dan akan bercerai."
Namun, Sarah tidak menyadari bahwa kotak beludru yang dibawa pergi oleh Bumi tidak ia buang ke tong sampah. Di dalam lift, dengan senyum dingin, Bumi menempelkan kotak berisi penyadap itu ke bagian bawah kereta dorong cleaning service yang akan bertugas di area gudang pembuangan limbah bawah tanah. "Nikmatilah mendengarkan suara tikus, Sarah," gumam Bumi. Tepat saat pintu lift terbuka di lantai dasar, ponsel Bumi bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Pesan itu hanya berisi satu foto. Foto ibu Bumi, Hajah Fatimah, yang sedang berjalan keluar dari minimarket dekat rumah sakit, difoto dari dalam sebuah mobil yang sedang mengintainya dari seberang jalan.
𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣
𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...
𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘