Delina Azzahra Gustia, gadis 21 tahun yang paling anti dengan yang namanya duda, harus menghadapi kenyataan pahit... ancaman dari ayahnya.
"Kalau kamu masih bangun siang terus, Bapak nikahkan kamu sama duda!"
Ancaman itu selalu ia anggap angin lalu.
Sampai suatu hari... semuanya berubah.
Sebuah kejadian konyol yang tak pernah ia bayangkan-kepeleset, lalu jatuh tepat di atas seorang pria asing-membuat hidupnya jungkir balik.
Lebih parahnya lagi, warga memergoki mereka dalam posisi yang... tak bisa dijelaskan.
Pria itu adalah Muhammad Agam Alfariz. Seorang gus berusia 30 tahun.
Dan sialnya... dia adalah tipe pria yang paling Delina benci. Namun karena fitnah yang terlanjur melebar, satu keputusan harus diambil.
Menikah...
Dalam semalam, Delina yang anti duda... justru sah menjadi istri seorang gus mantan duda.
Hidupnya yang dulu bebas, kini berubah total.
ig: adelgustian_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Dirumah keluarga Pak Roslan.
" Nak, bantu-bantu Mamak sebentar!? Kakak-kakak mu sebentar lagi datang." Panggil Mak Nurlela.
" Abang Enong sama Bang Nul? Tumbenan merka datang, biasanya mau acara aja sama lebaran kesini."
" Kan ini mau acara nikahan kamu, makanya merka pada kesinian."
" Eh iya juga ya mak...." ucap Delina nyengir pelan.
Mak Murlela menggeleng-geleng saja melihat tingkah anaknya.
Keduanya mulai berkutat dengna pekerjaan masing-masing, Mak Nurlela memaksa didapursekalian untuk lamaran keluarga Agam yang akn datang sedangkan Delina ia beberes rumah.
Butuh waktu 20 menit keduanya masih berkutat, Pak Roslan. Pria itu dikebun katanya ada yang beli hasil panen nya.
TOK...
TOK...
TOK...
" Assalamualaikum...." panggil seseorang dari arah luar.
" MAK, ADA ORANG!?" teriak Delina yang posisinya wanita itu tengah menyapu tetapi ia berlari masuk menghampiri mamaknya didapur.
" Ya, bukain Deli!? kok malah lari kedalem. Sana buka siapa tahu abang kamu." ucap Mak Nurlela.
" Ishh! males Mak." rengek Delina mencak-mencak tak jelas.
" Sana bukain!"
" Mamak aja yaa..." melas Delina memasang wajah sok imuntya.
" Amit-amit!? Muka mu itu ga cocok di imutin segala, Mamak males..." ogah Mak Nurlela.
" Ya udah deh..." lesu Delina masih memegang sapu ditangan nya ia berbalik arah tapi sebelum itu langkahnya terhenti.
" Sana, ehh... tunggu!? " ucap Mak Nurlela menarik cepol anaknya itu.
" Ishh, Mak! apa gak ada tarikan yang laen kek selain rambut anaknya." ringis Delina memperbaiki cepolannya.
" Ganti bajumu dulu, siapa tahu bukan abangmu." perintah Mak Nurlela yang baru sadar dengan pakaian anaknya.
" Males Mak, palingan juga mereka. Siapa yang mau bertamu siang-siang bolong sepanas membahana ini."
" Ya, sudah terserah kamu. Mamak males debat sama batu, Kalau orang lain. kamu yang tanggung malunya." ucap Mak Nurlela kembali melanjukan aktvitasnya.
" Ngapain malu, kan masih pakai baju." jawab Delina sembari melangkah menuju pintu rumah.
Suara ketukan masih terdengar.
" IYA SEBENTAR BANG! " balas Delina.
DI SISI LAIN.
" Sudah Mii, orangnya denger kok palingan lagi sibuk." ucap Abah Ahmad.
" Takutnya gak denger Bah, atau gak ada orrangnya ya?" pikir Ummi Jemmah.
" Kamu sudah kasih tau mereka belum? kalau kita mau kesini." tanya Abah Ahmad.
Agam hanya menyengir pelan lalu menggeleng.
" Astagfirullah Agam! kalau beneran gak ada orangnya gimana? habislah kita mana berat lagi bebawaan beginian." ucap Ummi Jemmah.
Mereka membawa 1 set seserahan perhiasan yang Agam mintakan dari sahabat dan 1 set alat sholat sebagai syarat sementara nanti untuk acara sebenarnya seserahan yang lengkap akan disajikan semua.
Terdengar samar-samar suara teriakan dari dalam.
" Nah, tuh. Ada orangnya Mii." jawab ABah Ahmad.
" Alhamdullilah kalau begitu. " tenang Ummi Jemmah.
Tidak lama pintu terbuka lebar dari dalam...
KLEK-
" Tumben Bang Nul-" ucapan Delina terggantung diudara saat melihat siapa tamu yang berada dibalik pintu.
Begitu juga ketiganya, yang berbeda usia itu begitu tampak syok. Bukan apa.... pasalnya wanita dihadapan mereka hanya memakai baju kaos diatas pusar dan celana kain diatas paha dengan rambut yang dicepol.
" Astagfirullah! Delina!?" ucap Agam menyadarkan semua orang disana yang saling mematung.
Lelaki itu bergerak cepat, berutungnya. ia masih memakai Sorban yang sudah menjadi kebiasaan Agam selalu membawa sorban dimanapun dan kapanpun kecuali kalau dinas saja tampilan nya akan berbeda.
Agam memakaikan nya di atas kepala wanita itu menutupi rambut Brown nya, hingga menutupi seperempat tubuhnya, pria itu maju menghadap kearah Delina otomatis menghalangi pandangan kedepannya karena tertutup dada bidang kekar pria itu.
" Ayo masuk, ganti dulu baju kamu." ajak Agam menuntun Delina dengan memegang bahu wanita itu dan mengajaknya berjalan duluan hingga kekamar wanita itu.
Tidak lama, keluarlah Mak Nurlela.
" Ada apa Lin, kok ribut-ribut..." ucap Mak Nurlela kaget melihat apa yang terjadi didepan matanya.
" Astaga Lin, cepet bawa dia kekamar Nak Agam. Dasar bocah gendeng dikasih tahu gak nurut." gemes Mak Nurlela melihat tingkah Delina yang hanya terdiam saja saat tubuhnya dituntun Agam menuju kamar.
" Iya Bu, didepan ada orang tua saya." ucap Agam lagi.
BLAM...
Terdengar suara pintu kamar yang tertutup, hanya menyisakan Ummi Jemmah dan Abah Ahmad yang beristigfar dalam hati melihat apa yang barusan terjadi.
" Silahkan masuk Bu, dan Pak. saya minta Maaf atas sikap anak saya." ucap Mak Nurlela merasa tidak enak.
" GAk apa-apa Bu, kami kaget saja. dikota juga banyak yang berpakaian seperit itu bukan awam lagi. " sahut Ummi Jemmah harap maklum.
" Ini bu, seserahan nya."
" Astaga, repot repot sekali, seharusnya nanti saja bu saat acara lamaran resminya." Ucap Mak Nurlela menerimakan seserahan sederhana itu.
" gapapa bu, ini saah satu bentuk syarat dari keluarga saya. Kalau ada yang mau menikah harus diikat dulu dengan seserahan sementara nya." Ucap Ummi Jemmah.
" Maaf sebelumnya, saya kira besok. jadi saya gak ada persiapan pun." ucap Mak Nurlela kembali merasa tidak enak.
" Gak masalah Bu, kami gak mau merepotkan makanya kami datang tanpa memberitahu duluan." ucap Abah Ahmad.
" Suami saya masih dikebun, sebentar saya telepon dulu." ucap Mak Nurlela ijin undur diri.
Menyisakan Ummi Jemmah dan Abah Ahmad saja diruang tamu.
" Mii, yakin? calon mantu kita bentukan nya seperti itu?" tanya Abah Ahmad.
" Dia sudah mantu kita Bah, gak boleh menilai orang dari cara berpakaian nya. belum tentu yang pakaian nya tertutup rapat akhlaknya baik. Dont judge book by Cober." jelas Ummi Jemmah.
" Iya-iya, abah tahu. maksud Abah, gak nyangka aja pilihan Agam yang modelan begitu. Apalagi katanya lebih muda dari AGam."
" Ummi juga awalnya kaget pas lihat muka istrinya Agam, cuman ya... mau diapain gak bisa juga Ummi suruh batalin, Mungkin sudah takdir mereka berjodoh. Sekarang tidak dijadikan patokan usia berapa pun yang penting setia dan saling mendukung dalam suka dan duka sampai tua." jelas Ummi Jemmah.
Mak Nurlela, kembali datang dengan nampan berisikan teh dan juga martabak ala homemade yang masih panas. sepertiya memang baru di goreng.
" INi saja yang bisa saya sajikan dulu Bu dan Pak." ucap Mak Nurlela meletakannya.
" Tidak perlu repot-repot Bu, air putih saja tidak masalah." ucap Ummi Jemmah merasa hangat saat mereka disambut hangat dari sipemilik rumah walaupun sederhana mereka merasa dihargai .
Berbeda dengan dikota, yang memang adat istiadat budaya nya sudah beda jadi hanya disajikan aqua botol saja diatas meja tidak ada embel-embel yang lain.
" Katanya sebentar lagi suami sya pulang."
" Kebun dari sana krumah biasanya berapa Jam Bu?" tanya Abah Ahmad.
" Cuman 15 menitan saja Pak, itupun kalau jalaan nya pelan. Kalau jalan nya laju mungkin 5 menit sampai. "
" Oh, termasuk deket ya Bu. tak kirain digambaran saya, Kebun itu. 1 jam masuk pelosok lagi terus masuk hutan. "
" Dulu memang iya Pak, cuman semakin tahun semakin banyak para pengungsi dan perkebunan jadinya sudah mulai ramai tidak seperti hutan belantara lagi."
"Disini masih sangat asri berbeda di kota sangat polusi banget, asap dimana mana hutan digunduli." Keluh Ummi Jemmah.
Mereka mengobrol singkat, sampai terdengar suara Pak roslan.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam, masuk Dulu pak." Ucap Mak Nurlela menyambut suaminya datang.
" Maaf agak lambat, tadi ban saya bocor dijalan." Ucap Pak Roslan mendekati ketiganya.
" Gapapa Pak Roslan, menurut saya sampean sudah cepet nih."
" Saya mandi dulu sebentar, ga papa kan nih."
" Monggo pak silahkan." Jawab Abah Ahmad.
" Dimana Delina? Sama Nak agam? " tanya Pak Roslan yang baru sadar keduanya tidak ada.
" Masih didalam, sudah sana Pak. Mandi dulu." Ucap Mak Nurlela.
" Oh iyaiya... Bpak lupa hehe." Ucap Pak Roslan berlalu menuju kamar mandi dapur.