NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Malam itu, sorak-sorai kemenangan Thalia masih menggema di kepala banyak orang.

Namun, tidak semua orang pulang dengan hati ringan.

Di parkiran belakang auditorium, sebuah sedan hitam melaju pelan meninggalkan kerumunan. Di dalamnya, Nadine duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela tanpa suara. Jemarinya mencengkram rok gaunnya erat-erat, kuku nyaris menusuk kain.

Di sampingnya, Marrie bersandar dengan tangan terlipat. Riasan wajahnya yang sempurna tidak bisa menutupi sorot mata kecewa. Ia menoleh sekali pada Nadine, lalu kembali menghadap ke depan.

"Seharusnya kamu bisa lebih baik dari itu," ucap Marrie, nadanya datar tapi dingin. "Kamu latihan berbulan-bulan, tapi... lihat hasilnya. Bahkan juara dua pun tidak."

Nadine menggigit bibir bawahnya. "Aku... aku sudah berusaha, Mama."

"Berusaha?" Marrie tersenyum tipis, namun tidak ada kehangatan di sana. "Berusaha itu tidak cukup. Orang-orang hanya ingat pemenang. Dan malam ini... semua orang akan mengingat Thalia."

Nama itu diucapkan Marrie seperti racun.

Nadine menunduk, matanya berkilat marah.

Tidak. Ini belum selesai. Dia boleh menang malam ini, tapi aku akan pastikan itu menjadi satu-satunya kemenangannya.

Mobil itu melaju meninggalkan lampu-lampu kota, membawa pulang dua hati yang sama-sama dipenuhi rasa pahit.

Di kediaman Maverick, suasana berbeda. Liam duduk bersila di sofa ruang keluarga, memeluk tablet yang menampilkan video penampilan Thalia di panggung. Mata bulatnya bersinar setiap kali suara ibunya memenuhi ruangan.

"Mama cantiiik..." gumamnya, lalu tertawa kecil. Tangannya memutar ulang video itu untuk ketiga kalinya.

Saat Thalia di video memainkan nada tinggi, Liam menepuk tangan sendiri sambil berteriak, "Mama kelen! Mama kelen!"

Rina yang sedang membereskan meja tersenyum melihat tingkah bocah itu. "Tuan kecil, tidak bosan menonton videonya?"

Liam menggeleng cepat. "Nggak... ini Mama nyanyi... cualanya kayak peli!" Ucapannya cadel, tapi antusiasmenya tulus.

Thalia, yang baru saja keluar dari kamar untuk mengambil air minum, tertegun melihat putranya. Senyum tipis terbit di wajahnya. Ia duduk di samping Liam, mengusap rambutnya. "Kamu suka, ya?"

Liam mengangguk keras. "Cuka banget! Mama haluc nyanyi lagi becok!"

Tawa kecil keluar dari bibir Thalia. "Kita lihat nanti, ya."

Bagi Thalia, tepuk tangan penonton memang menyenangkan, tapi sorak polos anak kecil ini... jauh lebih berharga.

Di lantai atas, Aiden duduk di kursi kerja dengan ponsel di tangannya. Layar menampilkan video viral penampilan Thalia-tagar namanya memenuhi beranda.

Ia menontonnya tanpa suara beberapa detik, lalu menekan tombol play dengan volume penuh.

Suara Thalia mengisi ruangan kedap suara tersebut, jernih dan menguasai panggung. Jemari Aiden mengetuk meja perlahan mengikuti irama, namun ekspresinya tetap datar.

Di dalam kepalanya, pikiran berputar:

Bagaimana bisa dia menguasai panggung seperti penyanyi profesional?

Alih-alih merasa bangga, sisi skeptisnya yang dominan justru makin aktif. Apa ini trik untuk menarik perhatianku? Atau... dia sedang berusaha memikat seseorang?

Aiden memutar ulang video itu, matanya tajam meneliti setiap gerakan Thalia.

Perempuan itu penuh rahasia. Licik... selalu ada sisi yang tidak ditunjukkan. Apa yang sebenarnya kau rencanakan, Thalia?

Pikirannya semakin rumit, bukan hanya karena penampilan itu, tapi karena ia sadar: istrinya bukan lagi sosok yang mudah ia baca.

Di rumah keluarga Anderson, Yoshi duduk sendirian di ruang kerja. Lampu meja menyinari tumpukan dokumen, tapi pikirannya tidak berada di sana.

Tatapan dingin Thalia saat menerima selamat tadi terus terbayang. Dingin, formal... tanpa secercah kerinduan. Seakan mereka hanyalah orang asing.

Yoshi menyandarkan diri di kursi, menatap langit-langit. Kenangan masa mudanya datang tanpa diundang saat ia masih mahasiswa miskin, jatuh cinta pada Renata, gadis tercantik di kampus. Wajah Thalia malam ini... adalah cerminan Renata. Aura yang sama, pesona yang sama.

Tapi berbeda dengan Renata yang dulu tersenyum hangat padanya, Thalia justru memalingkan hati. Yoshi merasakan sesuatu yang ia benci akui-penyesalan.

Ia meraih gelas di meja, meneguk isinya. Namun rasa pahit itu tidak hilang. Bagaimana kalau aku sudah kehilangan kendali sebagai ayah? Bagaimana kalau dia benar-benar menjauh untuk selamanya?

**

Pagi itu, sinar matahari menyelinap di antara tirai tipis kamar Thalia. Gadis itu masih terbaring di ranjang, selimut setengah terlepas dari tubuhnya. Ponsel di meja samping sudah bergetar berkali-kali sejak beberapa menit lalu, namun ia terlalu malas untuk mengangkatnya. Baru ketika getaran itu disusul dengan bunyi notifikasi bertubi-tubi, ia mengulurkan tangan dan meraih ponsel dengan mata masih setengah terpejam.

Begitu layar terbuka, kantuknya langsung hilang. Puluhan pesan pribadi membanjiri kotak masuk akun media sosialnya. Sebagian besar dari akun resmi-bukan penggemar biasa. Logo-logo centang biru itu terpampang jelas, menandakan pengirimnya adalah pihak yang terverifikasi.

Pesan-pesan itu membuat sudut bibirnya terangkat tipis. Ada tawaran dari manajemen artis, agensi hiburan, bahkan beberapa produser musik ternama. Mereka semua terkesan dengan penampilannya di ajang Duta Kampus semalam. Ada yang menawarkan pertemuan langsung, ada pula yang mengirimkan pujian panjang tentang bakatnya.

Thalia duduk bersandar, membuka satu per satu pesan. Harmony Stars Management mengundangnya untuk bergabung dengan tim bintang pop muda mereka. ViralVision Agency mengaku siap memberinya jalur cepat untuk masuk dunia hiburan televisi. Dan di antara pesan-pesan itu, ada satu nama yang membuat Thalia berhenti sejenak: Gotta Labels Official.

Matanya menyipit sedikit. Nama itu tidak asing. Di berita televisi yang ia tonton, Gotta Labels adalah perusahaan rekaman terbesar di negara ini, anak perusahaan dari Gotta Entertainment, konglomerasi hiburan raksasa yang menguasai film, musik, teater, dan media. Gotta Entertainment memiliki empat divisi utama: Gotta Films untuk dunia perfilman, Gotta Stage untuk teater, Gotta Media yang mengelola saluran TV, radio, dan platform digital, serta Gotta Labels yang fokus murni pada penyanyi dan produser musik.

Gotta Labels terkenal ketat dalam memilih artis.

Mereka hanya mengambil talenta yang benar-benar unik dan memiliki potensi besar. Mereka jugalah yang melahirkan diva internasional dan musisi peraih penghargaan bergengsi. Bergabung dengan mereka berarti melangkah ke panggung yang lebih besar, tapi juga berarti siap menghadapi standar yang sangat tinggi.

Di kehidupan pertamanya, Thalia debut sebagai penyanyi sebelum merambah ke dunia akting. Jalur itu memberinya fondasi kuat dan membangun reputasi yang kokoh. Sekarang, ketika kesempatan ini datang lagi, ia tahu apa yang harus ia pilih. Tidak akan ada lagi langkah gegabah. Kali ini, ia akan memastikan semua sesuai rencana.

Ia mengambil buku catatan kecil dari laci, mulai menulis daftar. Satu per satu ia menimbang tawaran yang masuk. Ada yang ia coret karena reputasinya buruk, ada yang kontraknya mengikat terlalu lama, ada pula yang terlalu mengkhususkan pada bidang yang bukan fokusnya. Setelah menimbang dengan hati-hati, pilihannya jatuh pada Gotta Labels.

Thalia mengetik balasan singkat namun formal.

"Terima kasih atas tawarannya. Saya tertarik untuk berdiskusi lebih lanjut. Mohon informasikan waktu yang sesuai untuk pertemuan."

Tak sampai setengah jam kemudian, balasan datang. Mereka mengundangnya untuk datang besok pagi ke kantor pusat Gotta Entertainment di distrik bisnis utama. Jadwalnya padat, tapi mereka rela memberikan waktu khusus untuknya. Itu pertanda baik.

Thalia menutup ponsel dan berjalan keluar kamar. Di ruang tamu, Rina sedang membereskan bantal sofa. "Rina, besok ikut aku," ucapnya.

Rina mengangkat kepala, tampak bingung. "Ikut ke mana, Nyonya?"

"Kita akan bertemu pihak Gotta Labels. Anggap saja mulai besok kamu jadi asisten dadakan."

Mata Rina membulat. "Asisten? Tapi saya-"

"Kamu hanya perlu menemaniku, bantu urusan administrasi kalau diperlukan, dan pastikan aku tidak lupa makan." Thalia mengangkat sebelah alis, seolah tak memberi ruang untuk penolakan.

Rina akhirnya tersenyum gugup. "Baik, Nyonya. Saya akan siap-siap."

Malam itu, Thalia duduk di meja kerja dengan laptop terbuka. Ia mempelajari daftar artis di bawah naungan Gotta Labels-mulai dari bintang pop remaja hingga diva internasional yang namanya dikenal di berbagai negara. Ia meneliti strategi promosi mereka, pola debut artis baru, hingga jenis kontrak yang biasa mereka tawarkan.

Dari pengamatannya, Gotta Labels selalu memberi debut stage di media milik Gotta Entertainment sendiri, kolaborasi dengan produser musik papan atas, tur mini untuk membangun basis penggemar, dan kontrak awal yang fleksibel untuk artis yang bisa membuktikan diri dalam dua tahun pertama. Semua itu sesuai dengan visi Thalia.

Keesokan paginya, Rina sudah menunggu di depan pintu kamar Thalia, mengenakan setelan rapi warna pastel dan sepatu rendah. Rambutnya disanggul sederhana, wajahnya penuh antusias tapi juga gugup.

Thalia keluar dengan penampilan yang elegan namun profesional-blus satin krem, rok pensil hitam, dan sepatu hak sedang. Makeup-nya natural, hanya menonjolkan kecantikannya tanpa terlihat berlebihan.

Mobil pribadi keluarga Maverick membawa mereka menuju distrik hiburan. Jalanan di sana berbeda dengan pusat kota biasa. Papan reklame raksasa menampilkan poster film terbaru, album musik, konser mendatang, dan wajah-wajah artis terkenal. Suasana penuh energi dan gemerlap, seperti dunia lain yang hidup dari sorotan lampu dan tepuk tangan penonton.

Ketika mobil berhenti di depan gedung Gotta Entertainment, Rina ternganga. Bangunan kaca itu menjulang 40 lantai, dengan logo emas besar bertuliskan GOTTA di puncaknya. Lobi depannya dipenuhi poster artis yang menaungi perusahaan itu, sebagian adalah wajah-wajah yang karyanya mendominasi tangga lagu.

Begitu melangkah masuk, udara dingin dari pendingin ruangan menyambut mereka. Lantai marmer berkilau, pencahayaan modern, dan aroma lembut bunga segar dari vas-vas besar di sudut ruangan memberikan kesan mewah namun profesional. Di meja resepsionis, seorang wanita muda dengan setelan hitam menyambut mereka dengan senyum ramah.

"Selamat pagi, Nona Thalia. Tim A&R sudah menunggu Anda di lantai tujuh belas," ucapnya.

Thalia mengangguk sopan. "Terima kasih."

Mereka berjalan menuju lift. Rina menatap sekeliling dengan mata berbinar, sementara Thalia tetap tenang. Namun, di dalam hatinya, ia tahu betul -ini adalah langkah pertama menuju panggung yang lebih besar dari sekadar acara kampus. Dan kali ini, ia akan memastikan, bukan hanya menjadi bintang sesaat... tapi legenda yang tak tergantikan.

1
CaH KangKung,
MC... josss
CaH KangKung,
👣👣
Fajar Fathur rizky
cepat hancurkan Abraham thor
Iry
siap
Mifta Nurjanah
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
secangkir kopi buat kamu thor😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: sama🤗
total 2 replies
Lili Inggrid
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor, bab ini tadi ceritanya ada yang di ulang²🤭
Iry: baiklah beb
total 3 replies
Sugiarti Arti
bagus
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor kasih visualnya dong😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: iya dong thor biar gak penasaran 🤭
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
jos jis thalia👍🏻
Anonim
bagus iii ceritanya
lanjuttttt/Kiss/
Ma Em
Semangat Thalia pasti kamu pemenang nya dan sukses jadi bintang kalahkan semua saingan mu dan bersinar lah dgn prestasimu apalagi Nadine yg tdk ada apapa nya buat mereka yg dulu selalu menghinamu malu .
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul "Beautifully Hurt" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Apa jadinya kalau Dinda (21) dipaksa menikah dengan Rendra (35) ? Putra tunggal presiden yang reputasinya sedang hancur karena skandal panas dengan seorang aktris.
Di balik pernikahan yang penuh tekanan, rahasia, dan sorotan publik, Dinda harus bertahan di dunia yang sama sekali bukan miliknya 💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!