Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Lampu-lampu kristal di ruang tengah mansion Mahendra berpijar mewah, namun bagi Adel, cahayanya terasa mencekik. Pagi ini, sebuah pengumuman dibuat, namun bukan pengumuman yang ia harapkan. Tuan Mahendra berdiri di depan seluruh staf rumah tangga dengan wajah tegang.
"Mulai hari ini, Adel akan tinggal di sini secara permanen," suara Tuan Mahendra menggema. Ia berdehem sejenak, menghindari tatapan mata Adel. "Dia adalah... keponakan jauh saya dari desa yang baru saja kehilangan orang tuanya. Saya harap kalian memperlakukannya dengan hormat."
Adel terpaku di tempatnya. *Keponakan jauh?* Jadi, setelah semua hasil tes DNA itu, ayahnya masih terlalu malu untuk mengakui bahwa putri kandungnya telah hidup sebagai pelayan?
"Kenapa, Ayah?" bisik Adel saat para pelayan mulai membubarkan diri. "Kenapa bukan sebagai putri?"
Tuan Mahendra memegang bahu Adel dengan canggung. "Reputasi bisnis keluarga Mahendra sedang di ujung tanduk, Nak. Jika publik tahu aku membiarkan putri kandungku terlunta-lunta selama tujuh belas tahun, saham perusahaan akan anjlok. Kita butuh waktu untuk 'merapikan' ceritanya. Bersabarlah, ini demi masa depanmu juga."
Adel hanya bisa tersenyum getir. Masa depan yang dimaksud ayahnya sepertinya masih harus dibeli dengan harga dirinya sendiri.
"Dengar itu, 'Sepupu'?" Clarissa muncul dari balik pilar, suaranya sarat dengan nada kemenangan. Ia sudah tampil cantik dengan gaun sutra berwarna *peach*. "Kau tetaplah orang asing di rumah ini. Keponakan jauh? Itu sebutan halus untuk 'penumpang cuma-cuma', bukan?"
Tuan Mahendra segera berangkat ke kantor, meninggalkan Adel di medan perang yang tak seimbang. Begitu mobil Rolls Royce itu menghilang dari halaman, Nyonya Siska langsung memberikan tatapan tajam pada Adel.
"Masuk ke kamarmu di belakang, Adel. Jangan berkeliaran di area utama jika tidak perlu. Dan kau, Clarissa, jangan buat keributan," perintah Nyonya Siska dingin sebelum pergi menuju ruang spa pribadinya.
Adel kembali ke paviliun belakang. Namun, pemandangan di dalam kamarnya membuatnya membelalak. Pakaian-pakaian indah, terusan sutra, dan kemeja rajut yang baru saja dibelikan Tuan Mahendra untuknya kini berserakan di lantai. Semuanya telah digunting menjadi serpihan kain tak berbentuk.
"Oh, astaga! Sepertinya ada tikus besar di kamar ini," Clarissa berdiri di ambang pintu sambil memainkan sebuah gunting kain yang besar.
"Clarissa, apa yang kau lakukan? Ayah membelikan ini semua agar aku bisa tampil layak!" Adel mencoba memunguti sisa-sisa kain yang hancur itu.
"Layak? Sampah tetaplah sampah meski kau bungkus dengan emas, Adel," Clarissa melangkah masuk, menginjak salah satu potongan kain yang paling mahal dengan sepatu hak tingginya. "Kau pikir dengan status 'keponakan' itu kau bisa merebut Devan dariku? Jangan mimpi."
Clarissa tiba-tiba tersenyum licik. Ia melihat sebuah ember berisi air bekas pel yang ditinggalkan pelayan di koridor luar. "Ngomong-ngomong, kamarmu ini sangat berdebu. Biar kubantu membersihkannya."
Clarissa meraih ember itu. Adel yang mencoba menghalangi justru didorong hingga terjatuh di lantai yang keras. Clarissa mengangkat ember itu, siap mengguyurkannya ke kepala Adel.
"Rasakan ini, 'Sepupu'!"
"Hentikan, Clarissa."
Suara bariton yang dingin dan tajam itu membuat gerakan Clarissa membeku di udara. Di ambang pintu paviliun yang sempit, berdiri Devan Dirgantara. Ia mengenakan setelan jas formal, namun wajahnya tampak lebih beku dari biasanya. Matanya menatap ember di tangan Clarissa, lalu beralih pada Adel yang terduduk lemas di lantai dengan tumpukan baju yang hancur.
"Devan? K-kau sudah sampai?" Clarissa mendadak berubah gagap. Ia menurunkan embernya dengan gemetar, mencoba memasang wajah polos. "Aku... aku hanya bercanda dengan Adel. Kami sedang... main air."
Devan melangkah masuk. Ruangan yang sempit itu seolah semakin sesak oleh kehadirannya yang dominan. Ia mengabaikan Clarissa dan mengulurkan tangannya pada Adel.
"Bangun," ucap Devan pendek.
Adel menatap tangan Devan yang besar dan kokoh. Setelah ragu sejenak, ia menyambut tangan itu. Devan menariknya berdiri dengan satu sentakan kuat, membuat tubuh Adel sempat bersentuhan dengan dada bidang pemuda itu selama sedetik.
"Apa yang terjadi dengan baju-baju ini?" tanya Devan, matanya menatap gunting di tangan Clarissa.
"Itu... tikus! Tadi aku melihat tikus dan aku mencoba—"
"Jangan membohongiku, Clarissa," potong Devan. Ia mengambil gunting dari tangan Clarissa dan melemparnya ke meja hingga menimbulkan suara denting yang keras. "Aku datang ke sini atas perintah ayahmu untuk mengantarkan dokumen, tapi aku tidak menyangka akan melihat pertunjukan sirkus yang menjijikkan."
Clarissa mulai menangis, sebuah taktik andalannya. "Kau selalu membela dia, Devan! Aku ini tunanganmu!"
"Tunangan yang perilakunya lebih rendah dari pelayan yang dulu kau hina?" Devan menatap Clarissa dengan jijik. "Keluar dari sini. Sekarang. Sebelum aku melaporkan ini pada Tuan Mahendra."
Clarissa menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal, lalu berlari keluar sambil terisak keras.
Kini hanya ada Devan dan Adel di dalam kamar yang berantakan itu. Adel mulai memunguti kain-kainnya lagi, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
"Kenapa kau diam saja saat dia menindasmu?" tanya Devan, bersandar di kusen pintu kayu yang mulai lapuk.
"Aku tidak punya pilihan, Devan. Aku hanya 'keponakan jauh' di sini. Jika aku melawan, Nyonya Siska akan punya alasan untuk mengusirku sebelum aku benar-benar mendapatkan hakku," jawab Adel parau.
Devan mendekat, mengambil salah satu potongan kain sutra yang tergunting. "Kau tahu, Adel... di dunia bisnis, jika kau diam saat diinjak, orang-orang tidak akan menganggapmu sabar. Mereka akan menganggapmu tidak berguna."
Adel mendongak, menatap mata Devan yang dalam. "Lalu aku harus apa? Aku tidak punya kekuasaan sepertimu."
Devan menarik napas panjang, lalu melepaskan jasnya dan menyampirkannya ke bahu Adel yang sedikit gemetar. "Gunakan kecerdasanmu. Ayahmu menutup identitasmu karena dia takut pada opini publik. Maka, buatlah opini publik yang memaksa dia untuk mengakuimu."
"Maksudmu?"
"Lusa adalah hari pertamamu kembali ke sekolah. Jangan datang sebagai Adel yang lama," Devan mengambil kartu namanya dari saku kemeja dan menyelipkannya di antara jemari Adel. "Hubungi nomor ini. Katakan pada mereka kau adalah orang yang dikirim Devan Dirgantara. Mereka akan menyiapkan 'senjata' untukmu."
Adel menatap kartu nama itu, lalu menatap Devan yang mulai berjalan pergi. "Kenapa kau membantuku, Devan? Kau tunangan Clarissa."
Devan berhenti sejenak tanpa menoleh. "Karena aku benci barang palsu, Adelard. Dan aku lebih suka bertaruh pada serigala yang sedang menyamar, daripada anjing rumahan yang hanya bisa menggonggong."
Setelah Devan pergi, Adel menggenggam erat jas milik pemuda itu. Aroma maskulin yang elegan masih tertinggal di sana, memberikan kekuatan baru yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia menatap tumpukan baju yang hancur di lantai. Ia tidak lagi merasa sedih. Ia justru merasa terpacu.
"Kau benar, Devan," bisik Adel. "Sudah waktunya serigala ini menunjukkan taringnya."
Adel berjalan menuju cermin kecil di sudut kamar. Ia mengikat rambutnya dengan kencang, menatap pantulan matanya yang kini berkilat penuh tekad. Lusa bukan hanya hari pertama sekolah. Lusa adalah hari di mana ia akan menghancurkan ilusi yang dibangun Clarissa, di depan semua orang yang pernah menghinanya.
Di lantai atas, Clarissa sedang menghancurkan barang-barang di kamarnya karena marah. Namun, ia tidak tahu bahwa di paviliun belakang, 'keponakan jauh' yang ia remehkan baru saja mendapatkan kunci untuk meruntuhkan istananya.