Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Season 2 BAB 2: BUBUR PENYEMBUH
Matahari Jakarta baru saja mengintip di balik gedung-gedung pencakar langit Sudirman, menyebarkan rona oranye yang terpantul pada kaca-kaca jendela kantor Arga Heritage & Co. Di lantai 35, Arga duduk mematung di kursi kerjanya yang ergonomis. Di depannya, pisau baja Damaskus itu tergeletak di atas kain beludru hitam.
Dia tidak tidur semalaman. Setiap kali dia memejamkan mata, aroma mentega dan wijen dari martabak manis buatan Kirana memenuhi rongga hidungnya. Dan yang lebih mengganggu adalah rasa sesak di dadanya—sebuah kerinduan yang sangat spesifik, seolah-olah dia telah kehilangan sesuatu selama ratusan tahun dan baru saja menemukan petunjuknya di sebuah kedai modern.
"Siapa sebenarnya kau, Kirana?" bisik Arga pada ruangan yang sepi.
Pikirannya terputus saat pintu ruangannya diketuk. Asisten pribadinya masuk membawa sebuah kotak kayu berpita satin marun.
"Pak Arga, ada kiriman dari Kedai Majapahit. Kurirnya bilang ini 'resep wajib' untuk sarapan Anda," lapor sang asisten dengan wajah heran. Arga bukanlah tipe orang yang menerima kiriman makanan sembarangan, apalagi dia sangat pemilih.
Arga mengernyit. "Letakkan saja."
Begitu asistennya keluar, Arga membuka kotak itu. Aroma jahe yang hangat, serai, dan kaldu ayam yang gurih langsung menyeruak. Di dalamnya terdapat sebuah mangkuk keramik berwarna krem berisi bubur halus dengan topping suwiran ayam kampung, irisan daun bawang yang sangat rapi, dan taburan kacang kedelai goreng yang garing. Di sampingnya ada secangkir teh herbal hangat.
Ada secarik kertas kecil di atasnya. Tulisan tangannya tegas namun elegan:
> “Lambung yang terluka tidak butuh kopi di pagi hari. Habiskan bubur ini, atau aku akan datang ke kantormu dan menyuapimu secara paksa seperti bayi. — K.”
>
Arga mendengus, hampir tertawa. "Wanita sombong. Dia pikir dia siapa?"
Namun, tangannya justru meraih sendok. Dia mencicipi sedikit bubur itu. Teksturnya sangat lembut, hampir seperti sutra, dengan rasa gurih yang tidak berlebihan. Jahenya memberikan sensasi hangat yang langsung menenangkan perutnya yang sering terasa perih di pagi hari.
Satu suapan. Dua suapan.
Tiba-tiba, Arga merasa dunianya berputar.
Di dalam sebuah tenda besar di tengah hutan, dia sedang duduk dengan wajah pucat. Perutnya melilit hebat karena stres memikirkan strategi perang. Seorang wanita dengan wajah galak namun mata yang penuh kekhawatiran menyodorkan mangkuk serupa. "Makan, Jenderal! Kau tidak bisa memimpin pasukan kalau mati karena maag. Jangan membantah, atau aku campurkan racun tikus ke makananmu selanjutnya!"
Arga tersentak. Dia meletakkan sendoknya dengan tangan gemetar. Bayangan itu bukan mimpi. Itu terasa seperti memori yang terkunci di dalam sel darahnya. Dia merasa sangat mengenal wanita galak di bayangannya itu—dan wanita itu adalah Kirana.
"Tidak mungkin..." gumamnya.
Suara pintu yang terbuka kembali mengejutkannya. Kali ini, seorang wanita cantik dengan gaun formal berwarna putih tulang masuk tanpa izin. Dia adalah Larasati, atau yang dikenal sebagai Laras, konsultan seni ternama sekaligus wanita yang selama ini dijodohkan oleh keluarga besar Arga dengannya.
"Arga, sayang. Kamu sudah mulai sarapan?" suara Laras lembut, sangat merdu, persis seperti denting kecapi. Dia tersenyum, namun matanya yang tajam langsung menangkap keberadaan kotak makanan dari Kedai Majapahit.
Arga segera menutup kotak itu. "Laras. Ada apa pagi-pagi ke sini?"
Laras berjalan mendekat, aroma parfumnya yang manis—terlalu manis bagi Arga—memenuhi ruangan. "Aku dengar kamu menemukan artefak baru dari situs Majapahit. Pisau Damaskus? Aku sangat tertarik untuk melihatnya. Kamu tahu kan, aku sedang menyusun pameran 'Warisan Nusantara'."
Arga melirik pisau di atas meja. Entah kenapa, dia merasa enggan menunjukkan benda itu pada Laras. Ada insting protektif yang muncul tiba-tiba.
"Benda itu belum dibersihkan. Masih perlu verifikasi," jawab Arga dingin.
Laras tidak menyerah. Dia melirik pisau itu, lalu matanya beralih ke kotak makanan. "Oh, Kedai Majapahit? Koki di sana, Kirana, sedang sangat viral ya? Tapi aku dengar dia agak... aneh. Dia mengklaim masakannya memiliki sejarah yang akurat secara mistis. Kamu harus hati-hati, Arga. Banyak orang menggunakan cara-cara tidak sehat untuk mendekati pria sepertimu."
"Dia hanya seorang koki, Laras," sahut Arga pendek.
"Benarkah?" Laras mengelus bahu Arga dengan lembut. "Tapi bubur itu... aromanya sangat tradisional. Seperti sesuatu yang biasa dimasak oleh orang zaman dulu. Jangan sampai kamu terkena 'sogokan' hanya karena rasa yang familiar, Arga."
Arga melepaskan tangan Laras dari bahunya dengan sopan namun tegas. "Aku punya rapat sepuluh menit lagi. Terima kasih sudah mampir."
Wajah Laras berubah sesaat—kilatan amarah yang sangat cepat—sebelum kembali ke senyum polosnya. "Tentu. Oh, malam ini ada acara gala dinner untuk asosiasi kolektor. Kamu datang bersamaku, kan?"
"Akan kupikirkan."
Begitu Laras keluar, Arga kembali menatap bubur di depannya. Kata-kata Laras tentang 'sogokan' makanan mengingatkannya pada sesuatu. Di profil karakter Tantri yang Kirana buat di masa lalu, Tantri sering menggunakan makanan untuk menarik simpati orang-orang di kediaman Jenderal.
Apakah Kirana sedang melakukan hal yang sama padaku? pikir Arga skeptis. Atau dia benar-benar peduli pada kesehatanku?
...****************...
...Bersambung.... Terima kasih telah membaca📖 Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
arga itu kakak iparnya Panji? terus Kirana siapanya panji sih? 😅
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia