NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:18.5k
Nilai: 5
Nama Author: Greytha

Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.

Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.

Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 14

Jam dinding menunjukkan pukul 12.30.

Dewangga berdiri di depan jendela kamarnya. Tubuhnya tegak, tatapannya lurus ke arah bulan. Hanya berdiri diam dengan fikiran yang entah berlari kemana.

Di tangannya, gelas minuman yang sedari tadi ia pegang itu kembali berputar pelan.

Gerakan yang sama.

Berulang.

Namun kali ini, cengkeramannya semakin mengeras. Urat di tangannya terlihat menegang.

Tatapan matanya ikut berubah.

Semakin tajam.

Semakin dalam.

Pikirannya kalut… tapi di saat yang sama, ada satu hal yang terus ia pegang erat.

Harapan yang tidak pernah ia lepaskan.

"Zeya… kali ini Mas pasti akan menemukan kamu, di mana pun itu."

Suaranya pelan.

Tapi penuh tekanan.

Tatapannya tidak berpindah dari bulan di luar sana. Seakan bulan dapat menyampaikan pesannya kepada Zeya… meski tahu itu tidak akan pernah terjadi.

Tatapan matanya yang selalu menyimpan ambisi, keyakinan, dan tekad untuk bisa memperbaiki kesalahannya dimasa lalu.

"Pasti…"

Gumamnya lirih.

Senyum tipis terangkat di sudut bibirnya. Senyuman yang terlihat seperti obsesi dalam dirinya.

Waktu berlalu satu jam tanpa terasa.

Dewangga masih berdiri di tempat yang sama.

Hingga getaran dari dalam saku celananya memecah keheningan.

Ia sedikit tersentak.

Lamunannya terputus.

Tangannya bergerak cepat mengambil ponsel.

Nama Riko tertera di layar.

Tanpa menunggu lama, ia langsung mengangkatnya.

"Ada kabar apa?"

Dewangga langsung bertanya tanpa repot-repot untuk basa-basi.

"Kami menemukan informasi bahwa Nona Linda sering datang ke Desa Barus. Pak, tempatnya sangat terpencil. Selain itu, setiap kali Nona Linda ke sana, dia akan tinggal di salah satu rumah yang ada di desa tersebut."

Dewangga tidak langsung menjawab ia hanya diam mendengarkan setiap informasi yang disampaikan Riko.

Setiap kata yang diucapkan oleh Riko masuk dengan jelas ke dalam kepalanya.

"Pak, kami juga sempat mengikutinya saat baru keluar dari toko perbelanjaan. Dia bersama gadis yang terlihat seumuran dengannya, dan…."

Kalimat itu menggantung.

Dewangga mengerutkan kening.

Tangannya kembali menegang.

"Dan apa, Riko?"

Nada suaranya sedikit menekan.

Hatinya entah mengapa menjadi tegang dan tidak karuan.

"Anu, Pak… saya melihat Nona Linda bersama anak kecil perempuan. Kalau dilihat… mungkin umurnya sekitar dua tahun."

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Sudut bibir Dewangga perlahan terangkat.

Senyum tipis terbit di bibirnya.

Senyum yang berbeda seperti sebelumnya.

Terdapat kebahagiaan yang terpancar dimatanya.

Sesuatu yang sudah lama hilang dalam hidupnya seakan menemukan jalan untuk kembali padanya lagi.

"Aturkan saya cuti besok. Dan urus keperluan perjalanan saya ke sana besok. Saya mau secepatnya… kalau bisa penerbangan paling pagi.”

Nada suaranya kembali tenang. Namun perintahnya tidak untuk dinego apalagi ditolak.

Tanpa menunggu jawaban, Dewangga langsung mematikan panggilan.

Ponselnya turun perlahan dari telinga.

Napasnya terasa sedikit lebih ringan.

"Ketemu juga…"

Gumamnya pelan.

Tatapannya kembali mengarah ke luar jendela.

Namun kali ini… bukan lagi kosong.

Sedangkan di seberang sana.

Riko hanya menatap layar ponselnya yang sudah mati. Bahkan sebelum iya mengatakan sesuatu.

Menghela napas panjang.

"Dasar bos kamp**t…"

Dengusnya pelan.

Ia membuka pintu mobilnya dengan sedikit kasar, lalu masuk ke dalam.

Mesin mobil menyala.

Lampu depan menerangi jalanan gelap di depannya.

Riko menyandarkan kepalanya sejenak ke kursi.

Lelah.

Tapi juga bersyukur karena pencariannya selama tiga tahun akhirnya menemukan harapan.

Tak lama, mobil itu melaju.

Meninggalkan jalanan yang sepi, menuju vila tempatnya tinggal selama berada di sana.

Di tengah jalan yang sepi…

Ia hanya bisa berharap

Pencariannya kali ini ini benar-benar akan membawa hasil.

Karena jika tidak…

Ia tahu sendiri bagaimana Dewangga akan bereaksi.

...****************...

Perjalanan itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Bukan karena jaraknya.

Tapi karena pikirannya tidak pernah diam.

Mobil yang ditumpangi Dewangga akhirnya melambat.

Aspal halus perlahan berubah menjadi jalanan tanah. Getaran kecil terasa di dalam mobil, cukup untuk menyadarkan bahwa ia sudah jauh dari hiruk pikuk kota.

Sangat jauh.

Dewangga menatap keluar jendela.

Pemandangan yang asing.

Rumah-rumah sederhana berdiri berjajar. Beberapa anak kecil terlihat bermain di pinggir jalan, suara tawa mereka terdengar samar, terbawa angin.

Tenang.

dengan udara yang sejuk dan asri

Beberapa warga yang duduk di depan rumah memperhatikannya sejak mobilnya memasuki area desa.

Ada yang berbisik pelan.

Ada yang hanya diam, tapi tatapannya mengikuti kemana arah perginya mobil Dewangga.

Mobil berhenti tepat didepan Vila

"Pak… kita sudah sampai. Desa Barus."

Suara sopir memecah lamunan Dewangga.

Dewangga tidak langsung turun.

Matanya masih menyapu sekitar.

Memperhatikan.

Mencerna keadaan sekitar yang masih sangat terjaga keasrianya.

"Jadi… ini tempatnya." gumam Dewangga saat meneliti setiap pekarangan desa tempat yang akan dia tinggali untuk waktu yang tidak ia ketahui lamanya. Namun yang pasti ia tidak akan pulang tanpa Zeya dan anaknya.

Tangannya perlahan membuka pintu mobil.

Kakinya menapak tanah.

Debu tipis sedikit terangkat saat ia melangkah keluar.

Udara di sana berbeda.

Lebih dingin.

Lebih… sepi.

Tatapan Dewangga kembali bergerak.

Setiap sudut ia perhatikan.

Seolah takut melewatkan sesuatu.

Atau… seseorang.

Orang-orang sekitar mulai melirik.

Penampilannya terlalu mencolok untuk tempat seperti itu. Kemeja rapi, sepatu bersih, aura yang berbeda.

Asing.

Namun Dewangga tidak peduli.

Langkahnya maju perlahan melangkah masuk kedalam Vila.

Setiap langkah terasa berat.

Perasaannya tambah tidak karuan dan terasa semakin sesak dengan hal-hal yang menumpuk di dadanya.

Tiga tahun…

Tangannya mengepal pelan di samping tubuhnya.

Rahangnya mengeras.

"Kalau benar kamu di sini…"

Ia berhenti sejenak.

Menarik napas dalam.

Tatapannya lurus ke depan.

"Kenapa kamu memilih tempat sejauh ini… untuk menghilang dariku?" batin Dewangga sendu

Angin berhembus pelan.

Membawa suara dedaunan yang saling bergesekan.

Sunyi.

Dewangga melanjutkan langkahnya.

Masuk kedalam Vila, dengan Riko yang sudah ada dibelakangnya, berjalan mengikutinya sambil membawa kopernya.

Sudut matanya merah

Nafasnya terasa sangat berat sepanjang jalan.

Meski ia sendiri belum tahu harus mencari ke mana. Namun hatinya seakan terus meyakinkan dirinya untuk menerima semua reaksi Zeya nantinya.

"Riko, apa ada informasi lain yang kamu dapatkan tentang anak kecil itu?."

Dewangga memutar badannya menghadap Riko, dan langsung mengajakukan pertanyaan, membuat Riko kaget dan hampir menabrak dirinya.

Riko cepat-cepat mundur perlahan dan menundukkan kepalanya

"Pak, informasi yang saya dapatkan bahwa anak itu adalah, memang benar, anak dari nona Zeya" Jawab Riko

Dewangga tersenyum sumringah saat mendengar jawaban Riko, dan tanpa sadar mencengkram kedua lengan Riko

"Riko, apa yang kamu katakan barusan, apa dia benar-benar anakku?." tanya Dewangga dengan mengguncang tubuh Riko

Riko menepuk-nepuk tangan Dewangga menyuruhnya berhenti, karena selain lengannya yang sakit, kepalanya juga ikut pusing.

"Pak tolong berhenti"

Dewangga spontan berhenti saat melihat asistennya itu kesakitan

"Maaf saya terlalu senang"

Dewangga hanya mendengus kesal

"Benar, Pak. Itu informasi yang kami dapatkan tadi pagi, saat mencari data-data para penduduk desa disini, dan nama bapak terdapat dalam nama ayah anak itu"

Dewangga semakin tersenyum lebar, membuat Riko bergidik ngeri melihat senyuman bosnya itu.

Riko menjadi ngeri sendiri melihat senyum bosnya, yang bisa saja membuat bibirnya itu sobek.

"Bagus Riko" Dewangga menepuk pundak Riko "sekarang kamu boleh pergi istirahat"

Meskipun terdengar aneh dan menyeramkan, Riko hanya mengangguk patuh dan buru-buru lari dari hadapan bosnya yang terlihat sangat aneh.

"Baik, terimakasih pak"

Setelah mengucapkan terimakasih Riko langsung berjalan cepat meninggalkan Dewangga yang masih saja tersenyum aneh

"Sayang, aku datang " ucap Dewangga dengan membuka kedua tangannya lebar-lebar.

Riko yang masih berada didepan pintu kamar Dewangga, mengelus tengkuknya yang terasa merinding mendengar suara Dewangga.

1
Bagong
KLO nuntut dino kahin SDH pasti bukan wanita baik baik ,,,,gitu aja kok g mikir,,,,,wanita yg mencintai almarhum suaminya akan sulit Nerima kehadiran pria baru ato mungkin TDK akan bisa,,,,,lah ini hitungan hari bulan SDH terobsesi sama pria lain nuntut alasan hutang nyawa bener an dia cinta sama almarhum ato dia diam diam suka sama temen almarhum selama ini benernya,,,,,ato jg jg kecelakaan ini dia yg buat skenarionya supaya dpt menjerat sang teman suami
Bagong
pret,,,,,ntar amanatnya mau bundir za di kawinini
Bagong
bukan g punya kesempatan tp pria yg membuang waktu dan kesempatan demi ngurusin wanita lain,,,,itu namanya apa namanya g cinta
Bagong
Halah laki labil buat apa bertahan disisinya KLO hanya utk menyaksikan sang lelaki yg selalu memprioritaskan wanita lain,,,g ada wanita yg mau oon,,,,seharusnya senang dong bisa bebas jalanin amanat,,,,,amanat yg salah alamat anak kecil aja tahu dasarnya aja laki Maruk merasa dibutuhkan byk wanita,,,,,
falea sezi
😒 tuh liat akibat lu belain janda kegatelan🤣
Mommy tulipp
Smga Mama baik2 saja ya Zea
Mommy tulipp
Kok tega tinggalkan Zeya
falea sezi
🤣🤣 laki bloon
Anonim
semangat author
Pingky-Puzzle
Haii readers, ketemu lagi sama author, gimana ada yang kangen ngak sama author? atau kangen sama Zeya dan Dewangga?, jangan lupa like and comment yahh, supaya author makin semangat updatenya 😍🤏
HjRosdiana Arsyam
Luar biasa
Daulat Pasaribu
alhamdulillah zeyanya uda pergi dari kehidupan dewangga
Daulat Pasaribu
aku bilang mampooss kau dewangga....cowok bodoh nyia nyia kan cewek yg uda setia dan tulus sama mu kau buang
Daulat Pasaribu
ini lah cowok paling bodoh,tolol,paok sedunia....bisa-bisanya lebih memilih nenek lampir dari pada ceweknya sendiri yg uda 4 tahun bersama
Daulat Pasaribu
suka sama persahabatn mereka saling mendukung😍
Daulat Pasaribu
sampai depresi gitu si zeya.memang kelewatan si dewangga
Daulat Pasaribu
loh kok cepat kali hamilnya thor.bukannya mereka baru ya ngelakuiinya
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Pingky-Puzzle
soalnya author rencana mau konsisten nulis, dan namatin cerita ini, tapi agak ragu, menurut kalian gimana?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!