Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang tak terduga
Restoran hotel itu mulai ramai sejak sore. Meja-meja panjang ditata rapi, taplak putih disetrika sempurna, gelas-gelas kristal berkilau di bawah lampu gantung. Hari itu ada acara perusahaan, dan seluruh staf diminta bergerak lebih cepat dari biasanya.
Winda mengenakan seragam kerjanya dengan jilbab krem yang tersampir rapi, menutup rambutnya sempurna. Penampilannya sederhana, bersih, profesional.
"Meja VIP barat," kata supervisor singkat.
"Kamu pegang area itu."
"Saya pak?" tanya Winda meyakinkan.
"Iya, kamu, Winda"
Winda mengangguk. "Okay, pak"
Semua berjalan normal. Winda bergerak lincah dari satu meja ke meja lain, mencatat pesanan, mengantar minuman, menunduk sopan setiap kali menyapa tamu. Senyum tipis kepada tamu selalu ia jaga dengan baik.
Namun langkahnya tiba-tiba terhenti.
Saat melihat sosok di sudut ruangan, di antara beberapa pria berjas gelap, ada satu sosok yang membuat tubuh Winda menegang.
Jas hitam itu jatuh rapi di bahunya, posturnya dewasa, jauh berbeda dari sosok remaja yang ia kenal dulu—namun wajah itu tetap sama.
Winda menatap lebih lama dari seharusnya.
Tidak mungkin.
Namun kenyataan tidak berubah.
Dirga.
Ujung jarinya mendingin. Jilbabnya terasa terlalu ketat di leher saat napasnya mendadak pendek. Ingatan lama menyeruak tanpa izin—tatapan jijik, kata-kata dingin, rasa malu yang pernah ia telan sendiri di bangku SMP.
Ia buru-buru menunduk, berharap tak dikenali. Tapi rasa itu sudah terlanjur menghantam.
"Winda," panggil supervisor pelan.
"Ah iya, pak" Winda segera mengangkat kepalanya menatap supervisor itu dengan hormat.
"Meja itu minta tambahan minuman."
Winda mengikuti arah telunjuk supervisor—meja tempat Dirga duduk.
Winda menelan ludah yang terasa sangat sulit untuk di telan. Ia kembali menatap supervisor,
"Tapi saya mau antar minuman ke meja nomor 17 dulu, pak"
"Yaudah kamu antar yang itu dulu lalu meja yang itu"
"Ah..okay, pak" ucap winda dengan nada terpaksa.
Ia melangkah dengan nampan di tangan, setiap langkah terasa berat. Saat sampai di meja, ia menunduk sopan, menjaga jarak, menjaga profesionalitas.
"Pesanan tambahan akan segera kami antar, Pak," ucap Winda formal namun nadanya terdengar gugup.
Saat ia sedikit mengangkat kepala—
Tatapan mereka bertemu.
Dirga terdiam. Ekspresinya berubah sekilas—terkejut—lalu kembali dingin, seperti mengingat sesuatu yang tidak ingin ia sentuh. Tatapan itu meluncur cepat ke wajahnya, penuh penilaian.
Winda segera menunduk lagi. Tangannya gemetar lembut.
Tak ada kata keluar dari Dirga.
Winda berbalik pergi. Langkahnya cepat, napasnya tertahan, dadanya sesak. Di balik seragam rapi dan jilbab sederhana itu, Winda merasa dirinya kembali menjadi gadis yang dulu—kecil, tak dianggap, dan ingin menghilang.
Luka lama yang belum sembuh itu, baru saja terbuka kembali.
Winda kembali ke meja itu dengan nampan berisi minuman.
Langkahnya terukur, senyum profesional tetap terpasang, meski dadanya terasa sesak sejak tatapan pertama tadi.
Begitu ia mendekat, Dirga langsung menggeser kursinya ke belakang. Gerakannya halus, nyaris sopan—tapi jelas disengaja.
Jarak itu dibuat. Dijaga.
"Taruh di ujung meja saja," ucapnya datar, tanpa menatap wajah Winda.
Winda terdiam sepersekian detik, lalu mengangguk. "Baik, Pak."
Ia membungkuk sedikit, meletakkan gelas sesuai permintaan.
Saat ia menarik tangannya kembali, tanpa sengaja jarinya hampir menyentuh tangan Dirga.
Belum sempat terjadi apa-apa, Dirga sudah menarik tangannya cepat. Terlalu cepat untuk disebut refleks biasa.
Winda terpaku.
Dirga mengambil tisu dari saku jasnya, lalu mengelap tangannya perlahan. Satu kali. Dua kali. Wajahnya tetap tenang, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Seolah sentuhan yang nyaris terjadi tadi adalah sesuatu yang perlu dibersihkan.
Winda menelan ludah. Tenggorokannya terasa perih. Ia mundur selangkah, menunduk sopan.
"Silakan, Pak."
Ia berbalik pergi, langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Ada sesuatu yang menempel di dadanya—bukan marah, bukan sedih saja—melainkan rasa kotor yang tak terlihat.
Belum jauh ia melangkah, suara Dirga kembali terdengar.
"Sebentar."
Winda berhenti. Jantungnya berdetak tak beraturan. Ia menoleh kembali, berdiri tegak, profesional.
"Ambil kembali minuman ini." perintah Dirga dingin.
Dirga menoleh ke arah supervisor yang berdiri tak jauh dari sana.
"Saya minta pelayan lain."
Nada suaranya tenang. Tidak tinggi. Tidak kasar.
Namun kalimat itu jatuh seperti palu.
Supervisor tertegun. Beberapa tamu di meja itu saling berpandangan. Suara sendok dan piring di sekitar seakan meredam, lalu menghilang.
"Maaf, Pak… ada masalah?" tanya supervisor ragu.
Dirga tidak menjawab. Ia hanya melirik sekilas ke arah Winda—singkat, dingin—lalu kembali menatap ke depan.
"Tidak," katanya akhirnya. "Saya hanya tidak ingin dilayani dia."
Tidak ada alasan.
Tidak ada penjelasan.
Winda berdiri kaku. Senyum di wajahnya runtuh perlahan.
Ingatannya melompat jauh ke belakang—lorong sekolah, dan tatapan jijik yang sama.
Supervisor berdehem canggung. "Baik, Pak. Kami ganti."
Winda tidak menunggu perintah. Ia menunduk cepat mengambil kembali minuman itu sebelum melangkah pergi. Pandangannya buram, tangannya gemetar halus saat memasuki area dapur.
Di balik pintu itu, Winda menempelkan punggung ke dinding. Napasnya terengah, perutnya mual. Ia menekan dadanya dengan telapak tangan, mencoba menenangkan diri.
Ternyata, setelah bertahun-tahun berlalu—
rasa jijik itu masih sama.
Dan dirinya… masih orang yang ingin disingkirkan.
Air mata itu akhirnya tumpah. tak lagi bisa di tahan "Hiks..."
Winda terengah. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Dunia berputar pelan, seperti ditarik menjauh. Winda menutupi wajah nya dengan kedua telapak tangan nya. hingga yang terdengar suara tangis yang tertahan.
Langkah kaki terdengar mendekat di lorong dapur.
Sejak beberapa menit lalu, Tristan memang berkeliling. Memeriksa alur kerja, memastikan acara berjalan rapi. Namun begitu ia sampai di area persiapan, matanya langsung menangkap sesuatu yang tidak sesuai.
Winda.
Ia berdiri membelakangi pintu, bahunya bergetar halus. Jilbabnya masih rapi, seragamnya masih lengkap—tapi tangannya menutup wajah, menahan sesuatu yang tak lagi bisa ia simpan.
Tristan berhenti.
Ia tidak langsung memanggil. Tidak juga mendekat. Hanya berdiri beberapa langkah dari sana, memberi jarak—seperti memahami bahwa ada tangis yang tidak ingin disaksikan.
Namun saat Winda menyeka matanya dengan cepat dan menarik napas terburu-buru, tubuhnya goyah.
Itu cukup.
"Winda."
Suara Tristan rendah, tidak keras.
Winda tersentak. Tangannya langsung turun. Ia membalik badan dengan gerakan kaku, mencoba berdiri tegak seolah tidak terjadi apa-apa.
"Pak—" suaranya serak. "Maaf, saya—"
"Kamu kenapa menangis?" potong Tristan pelan.
Winda menelan ludah. Matanya merah, tapi ia memaksakan senyum tipis yang gagal.
"Maaf, Pak."
Tristan menatapnya lama. Terlalu lama untuk sekadar formalitas.
"Kamu nggak apa-apa kan?" ulangnya, kali ini seperti menguji.
Hening menggantung.
Winda menggeleng pelan. Tangannya gemetar lagi. "Saya permisi, pak. mau lanjut kerja."
"Tidak."
Ucap Tristan tegas.
Nada itu tegas, tapi tidak meninggi.
"Duduk." lanjutnya, lebih tegas.
Winda duduk di kursi logam dekat meja persiapan. Tangannya masih sedikit gemetar.
Tristan memberi isyarat pada staf lain untuk mengambilkan air. Lalu ia kembali menatap Winda.
"Kamu kenapa?."
Winda menggeleng pelan. Ia tidak sanggup bicara.
"Minum," ucap Tristan sambil menyodorkan segelas air.
Winda meneguk sedikit, lalu berhenti. Kepalanya terasa berat. Jilbabnya basah oleh keringat
"Kamu kenapa, Winda?" tanya Tristan lagi, tapi nadanya kali ini terdengar menuntut.
"Ga apa-apa, pak."
"Bohong!" Teriak Tristan tiba-tiba membuat Winda terlonjak kaget. Menyadari hal itu Tristan langsung meminta maaf dengan nada yang lembut namun tetap tegas "Maaf.."
"Apa terjadi sesuatu? di meja itu?"
Pertanyaan itu jatuh pelan, tapi tepat sasaran.
Winda membuka mulut, menutupnya lagi. Matanya berkaca-kaca, bukan karena ingin menangis—melainkan karena berusaha keras untuk tidak.
"Tidak ada apa-apa, Pak," jawab Winda akhirnya pelan.
Tristan menghela napas pendek.
"Kamu berhak bilang tidak ingin bicara," katanya. "Tapi jangan bilang tidak ada apa-apa."
Winda terdiam.
"Baiklah kalau kamu memang gak mau bicara,"
Ia berdiri tegak.
"Untuk sekarang, kamu istirahat. Aku urus sisanya."
Winda menunduk, suaranya hampir tak terdengar.
"Terima kasih, Pak."
Tristan berbalik pergi, langkahnya tenang namun berat.
_____________________________________
Malam itu restoran mulai lengang ketika Tristan akhirnya duduk di ruang kantor kecil belakang. Jasnya masih rapi, tapi kerutan di dahinya belum hilang sejak kejadian di dapur.
Entah mengapa ia masih memikirkan Winda dan ia penasaran mengapa Winda bisa menangis?
apa Dirga akan ikut meninggal jugaa 🤣🤣🤣🤣🤣 ,,, kalau sampai ending nya Dirga menikah sama Yasmine,, berarti bkn Winda donk tokoh utama cewek nya 🤣🤣🤣,,,kok merasa kurang Seruu yea karena Winda harus di buat meninggal,, harus nya cukup di buat kritis dan koma