NovelToon NovelToon
TRAPPED

TRAPPED

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Single Mom / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:149
Nilai: 5
Nama Author: Ann Rhea

Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.

Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.

Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GET MARRIED

Berulang kali Karel mencoba menghubungi James tapi tidak kunjung mendapat balasan. “Kemana sih? Ngilang gitu aja udah hampir seminggu.”

Karel mencoba meneleponnya lagi tapi tetap tidak ada jawaban. Ia berbalik badan dan terdiam melihat mamanya tengah melakukan obrolan video, memamerkan kabar baik tentang keluarga.

“Iya Mbak, aku bakalan punya mantu akhirnya. Jangan lupa datang ya! Undangan digitalnya udah aku kirim.”

Karel bahagia, merasa tenang. Senyum bahagia Elena lebih indah dari fenomena aurora. Senyuman itu meringankan beban yang ia pikul.

Walaupun harus menunda pesta impian yang Elena dambakan. Tapi dia begitu bahagia, padahal keinginannya ingin lengkap. Ada foto prewedding dan cetak undangan fisik. Hanya saja karna waktu mepet, harus di urungkan. Tapi Karel berjanji, tahun depan semua itu akan terwujud demi mamanya.

Setidaknya permintaan Elena terpenuhi, walaupun harus mengorbankan hidup Karel sendiri. Karna sibuk juga, Karel jadi lupa soal James. Apa mungkin dia marah? Sampai kuat tidak menghubunginya lebih dari sehari. Biasanya sebelum tidur suka video call.

“Makasih, ya.”

Karel menoleh. “Buat?”

“Karna lo, gue bisa di terima baik lagi di keluarga gue. Intinya gue hutang budi banget sama lo, bahkan ucapan terima kasih aja gak cukup,” kata Luz sambil tersenyum. “Gue bakalan selalu inget jasa lo. Emang penyimpangan lo gak bisa di toleransi tapi itu hidup lo yang sepenuhnya hak lo. Tugas gue cuman menuhi kewajiban disini dan janji.”

“Janji gue gak akan pernah ingkar, itu pasti,” sambungnya seraya tersenyum indah.

Karel mengangguk. “Tugas lo gampang, pura-pura gatau aja dan bertingkah seperti istri pada umumnya. Gue udah bahas lengkap juga jadi gak ada yang perlu di sesali nanti kan?”

“Gue yakin gak akan pernah nyesel sedikit pun.”

“Kok lo kesini tiba-tiba banget, sama siapa?” tanya Karel yang merasa tidak mengundangnya.

Luz tertawa. “Sendiri, bawa motor. Nyokap lo nyuruh gue ke sini, gatau ada apa.”

“Eh Luz, ada calon anak cantik Mama. Sini-sini ayo Mama mau ngasih tunjuk sesuatu.” Elena melambaikan tangannya sumringah.

Luz melirik Karel. Karel langsung menyuruhnya menemui Elena.

“Udah sana, di tungguin tuh.”

“Oke gue tinggal dulu.” Luz berlari cepat sambil melompat. Dia sepertinya sangat gembira.

“Hati-hati kamu lagi hamil, nanti jatuh,” kata Elena lalu menggandengnya naik lift dan masuk ke kamarnya.

Elena membuka lemari dan menunjukkan kebaya pernikahan, berwarna putih. “Mama pengen kamu pake ini di hari pernikahan ya? Ini bekas Mama nikah dulu. Masih Mama simpan rapih, karna Mama harap anak Mama bakalan nerusin. Karna dia cowo, masa pake kebaya. So kamu mau?”

“Muat. Menurut Tante cocok gak aku pake ini, gak kekecilan?”

Elena menggeleng. “Ayo coba dulu, pasti cantik.”

Beberapa menit Luz berganti pakaian lalu keluar menunjukkan kebaya putih itu.

Elena menutup mulutnya tak percaya. “Kamu cantik sekali sayang. Oke deal pake ini aja ya?”

--✿✿✿--

“Aku mau pulang! Temen aku mau nikah, gak mungkin aku gak hadir di hari bahagianya dia. Lagian aku ke sini nyusulin kamu, tapi kamu malah kayak gak seneng. Capek tau ah, kita udahan aja!” Mireya berjalan cepat menghindar dari kekasihnya.

“Sorry baby, im bussy. Sibuk banget, oke aku bakalan ikut pulang. Buat nemenin kamu kondangan. Biar pacar aku, gak di godain cowok lain. Because kamu milikku,” katanya sambil memegang dagu Mireya.

Mireya terdiam termakan rayuan pacarnya. “Boong ah kamu gamau ah.”

“Promise. Oke jangan sedih terus dong. Kita ke Jakarta sekarang,” katanya sambil tersenyum.

Di perjalanan menggunakan mobil, Mireya melakukan panggilan video dengan Luz. “Gue bakalan cepet sampe buat bikin bridal shower sama lo!”

“Di tunggu, gak sabar banget. Lo ke sini dateng sama pacar lo ya, gue mau tau.” Luz tersenyum lebar di balik layar.

“Aku sekalian pulang, karna temen aku juga mau nikah. Jadi bisa sekalian.”

“Dengerkan lo? Itu suara dia!”

“Denger. Gitu dong akur, jangan marahan terus,” jawab Luz.

Panggilan berakhir, pintu kamar Luz di ketuk. Ia menoleh, ayah berdiri dengan wajah tak tertebak. “Ada apa?”

“Ayah mau ngomong,” katanya menghampiri Luz. Duduk di sampingnya.

“Soal?”

“Ayah mau minta maaf.”

Luz langsung memaafkannya dan memaklumi. “Tapi aku harap itu terakhir. Kalo ayah gitu lagi, aku gak akan segan-segan ngomong sama mama kalo ayah punya istri dua dan satu anak perempuan lain.”

“Dari mana kamu tau itu semua?!” Jelas, Erwin sangat terkejut.

Luz berdecak dan menjatuhkan dirinya ke kasur. “Ayah mungkin bisa boongin mama, enggak sama aku. Aku tau dari lama dan tetap aku simpan sampe sekarang.”

“Kenapa?”

Luz menggeleng.

“Lagi pada ngomongin apa?” Minawari muncul di ambang pintu.

Erwin menoleh. “Biasa, Ma.”

“Udah sana ayah keluar. Ada mama tuh nanti curiga.”

--✿✿✿--

James: aku bakalan datang ke acara kamu, itu pasti

Karel: kemana aja?

James: nyibukin diri, sekalian sibuk banget

Karel: jangan cemburu help

James: aku juga bakalan dateng sama cewek

Karel: gapapa

James: biar gak di sangka jomblo, aku bakalan bawa pacar pura-pura

Karel: ide bagus, aku janji gak bakalan ke bawa perasaan sama dia

James menutup handphone nya saat seorang wanita. “Udah?”

“Jeremiah, tolong dong bukain pintunya. Aku susah bawa belanjaan banyak,” katanya meminta tolong.

James membukakan pintu dan membawa barang belanjaan ke dalam mobil. “Beli apa aja banyak banget, Mir?”

“Kado buat temen aku, aku beliin dia banyak gift yang aku yakin bakalan ke pake.”

Dahi James mengerut. “Tapi kok ada baju bayi? Emangnya siapa yang lahiran?”

“Kado buat anaknya temen aku, udah deh gausah kepo. Nanti juga tau, aku sekalian beliin kamu kemeja. Bagus deh,” kata Mireya lalu masuk ke dalam mobil dan tidur dengan tenang di bahu James menunggu perjalanan selesai.

...--✿✿✿--...

Hari pernikahan Karel dan Luz telah tiba. Acaranya tidak terlalu meriah, hanya di gelar di sebuah hotel bintang 5. Dengan dekorasi yang sederhana tapi mewah. Semua yang hadir kompak menggunakan baju berwarna putih. Senada dengan dekorasi. Luz mengenakan kebaya milik Elena, di balut riasan wajah yang terlihat sangat natural.

Dia berjalan ke pelaminan di tuntun sahabatnya, duduk di samping seorang lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya.

Hari itu hari yang tidak bisa Luz lupakan. Ia tidak menyangka setiap masalah ada solusi walau tidak selalu sempurna. Walau ini cuman pernikahan seperti di atas kertas. Luz harap ini bisa menyelamatkan hidupnya dan anaknya.

Mengingat Zaren pergi begitu saja meninggalkan dirinya seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Datanglah Karel, dengan anehnya. Dia mah menerimanya dengan syarat saling menguntungkan.

“Lo masih inget?” bisik Karel.

“Jelas. Lo juga kan?”

Karel mengangguk. “Tenang aja, gue gak akan ingkar janji.”

“Aman.”

Mereka bersalaman dengan sanak saudara.

“Congrats baby!” seru Mireya lalu memeluk Luz erat. “Pangling banget, so pretty! Ini hadiah kecil dari gue sama my boyfriend. Semoga suka.”

Luz terkekeh. “Pasti! Thank you.” Ia melihat wajah cowok bersama Mireya heran seperti melihat tapi tidak tahu, dia memakai kaca mata.

Kemudian giliran Karel berjabat tangan dengan Mireya.

Mireya terdiam. “Bukannya ini yang mau di jodohin sama gue? Aslinya ganteng banget taunya jodohnya temen gue,” batinnya.

“Congrats.”

Sedangkan Karel pura-pura gak inget. Lalu berjabat tangan dengan James dimana dia terlihat kesal.

“Happy wedding,” kata James cetus.

Karel merasa tidak enak hati. “Thank you.”

“Itu pacarnya temen gue, kenapa liatin nya gitu?” bisik Luz.

Karel menggeleng. “Cuman pacar boongan,” batinnya.

Selalu itu makan dan berfoto bersama. Lalu berbincang hangat dan acara selesai tanpa harus memakan banyak waktu. Kaki Luz teras pegal, padahal ia tidak memakai sepatu hak tinggi. Biasa saja. Bukan hanya itu pundak, pinggang, terasa pegal. Dari tadi dia terus memijat area itu sampai Elena melihatnya dan meminta tukang urut datang.

“Abis ini mau kemana?” tanya Elena.

“Maksudnya ke rumah mama, atau di apart apa mau di hotel?”

Karel menjawab, “Langsung ke apartemen aku aja. Biar langsung istirahat. Apa mau di periksa dokter?”

“Mama udah telepon tukang pijet langganan mana buat ke apartemen kamu. Kalau gitu mama mau pulang, nanti pagi mau pergi ke Australia, kalian baik-baik ya maafin gak bisa nganterin sampe rumah,” ucap Elena, memeluk Luz dan menempelkan pipi satu sama lain.

Karel dan Luz juga langsung pulang. Di mobil yang sama dengan tujuan yang sama. Di perjalanan, Luz hanya bersandar dan memejamkan mata. Dia tertidur rupanya.

Sesampainya di basement. Karel membangunkannya. Tapi tak kunjung bangun. Hingga harus menggendongnya.

Untung Luz tidak terlalu berat, lumayan ringan tapi bisa bikin pegel lama kelamaan. Karel memencet tombol ke lantai lift yang akan ia tuju, susah payah. Lalu masuk dan menunggu beberapa saat. Ia memencet tombol pin dan pintu terbuka. Di letakkan tubuh wanita itu di atas kasur lalu pergi mandi dan memesan makanan.

Saat kembali dari toilet, Karel terlonjak kaget saat Luz bangun dari kasur. Karel masih canggung, ia hanya memakai handuk sepinggang. Sisanya Luz dapat melihat semuanya.

Luz tertawa. “Tenang aja... gue gak doyan sama lo. Bapaknya dia ini kekar sawo matang gak suka gue yang putih pink jelek.”

Tak Karel hiraukan. “Halah ujungnya di tinggal kan? Lagian tau dari mana kalo punya gue putih pink? Ngaco.”

“Gatau emang gimana benernya?”

Karel menggosok rambutnya yang basah. “Kepo.”

“Apa coba?!”

“Coklat.”

Luz berjalan menghampiri Karel memandangnya penuh tanya. “Gak percaya ah.”

“Serius mana liat!” gertaknya lagi.

“Gak ada, apa sih,” ketus Karel berusaha menjauh.

Terlintas ide jahil, apalagi wajah Karel panik begitu. Luz menarik pelan ujung handuk, hingga akhirnya terlepas. Wajah Karel benar-benar memerah dengan mata membulat.

Mata Luz perlahan turun dan tertawa. “Benerkah dugaan gue, sama persis kayak warna bibir lo.”

“LUZ VALARIE!” teriak Karel langsung menutup kemaluannya dan memungut handuk.

Sedangkan Luz melengos tanpa rasa bersalah ataupun minat, ia melepaskan rok dan kebaya juga hiasan di kepala, pergi ke kamar mandi hanya mengenakan pakaian dalam sambil menenteng handuk.

Karel rasa memutuskan menikah dengan Luz adalah ide yang gila. Dia sangat agresif bahkan belum genap di hari pertama sebagai suami dan istri. Bagaimana hari selanjutnya? Dirinya sangat takut dengan wanita itu.

...--To Be Continued--

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!