bagaimana mungkin sakit hati bisa sesakit ini?
bagaimana mungkin keadaan rumit ini menghampiriku?
tolong tuhan, aku juga manusia jika seperti ini aku juga akan melemah, sangat menjadi lemah.
tapi Tuhan memang luar biasa tidak ada rasa sakit yang tidak tergantikan dengan bahagia. semuanya hanya soal waktu.
#Pemeran Utama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widi Nuramalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Aku berjalan di bawah guyuran hujan dengan terus menerus menangis. Mirip seperti drama-drama alay tapi ketahuilah aku benar-benar kacau Malam ini. Bagaimana bisa aku kuat dengan semua keadaan saat ini. laki-laki yang sangat ku cintai pergi dan tiba-tiba datang ke rumah sebagai pacar kakakku sendiri. Bagaimana perasaanku tidak hancur.
Semua rasa cinta yang ku punya di balas hantam tangis sehina-hinanya. Bagaimana ini bagaimana aku bisa melalui semua ini.
Aku terus saja menangis menuju cafe Hira dan setelah sampai langsung masuk. Aku tidak mempedulikan semua tatapan heran pengunjung cafe. Bagaimana aku tidak menjadi pusat perhatian. Bajuku basah kuyup. Mataku membengkak. Rambutku kuyup. dengan wajah memucat karna terlalu dingin.
"Hila" suara Nila langsung menghampiriku "Hila Lo kenapa?" Tanya Nila tapi tidak ku respon aku hanya jongkok kemudian menangis disana. dengan cepat Nila membawaku ke belakang, membawaku ke Hira karena risih dengan semua mata yang memperhatikan ku yang kacau.
"Nila Hila kenapa?" Tanya Hira dan Nila tidak menjawab kulihat ada Rino disana yang menatap datar ke arahku seakan dia sudah tau ini semua akan terjadi.
"Gantiin Bajunya dulu sayang. Biar gak masuk angin. Gak usah banyak nanya dulu" kata Rino dan kedua sahabatku membopongku ke sebuah kamar yang ada di cafe itu.
Hira Nila dan Rino sudah ada dikamar. Hira membuatkanku Teh hangat dan aku sudah lebih tenang.
"Lo kenapa?" Tanya Hira dan tanpa menjawab aku langsung memeluk Hira dan menangis di pelukannya.
"Ini kenapa si? Jelasin dong Hila kita jadi gak enak gini nih gak jelas tau nggk" gerutu Nila
"Rio Hira Rio" hanya itu yang pertama keluar dari mulutku
"Rio? Rio kenapa Rio?"
"Pacar, calon suaminya Teh Mila itu Rio Hira Rio Nila" kataku dan kembali menangis
"Hah?" Hira ataupun Nila sama-sama kaget setengah mati. Mendengarnya.
Ku jelaskan semuanya di tengah-tengah tangisanku. Hira terus memelukku begitupun Nila, malah Nila ikut menangis merasakan sakitnya jadi aku.
Setelah selesai ku jelaskan. Rino angkat bicara.
"Lo gak usah nangis Hil. Cuma buang-buang tenaga. Lupain semuanya. Memang tidak semudah itu. Tapi ayo bagaimana mungkin Lo terlihat sedih di depan laki-laki yang hianatin Lo dan malah bahagia sama kakak kandung Lo sendiri. jika Lo nganggep tuhan gak adil. Maka ciptakan sendiri keadilan itu dengan cara bertindak cepat. jangan terlihat bodoh" kata Rino
Aku hanya diam mencerna semua kata-kata Rino
"Gue pengen pergi jauh dari sini" kataku
"Lo punya rencana kemana Lo bakalan pergi?" Tanya Hira
"Kalo ayah ngizinin gue bakal pergi ke Amerika nyusul sepupu gue Kanya, yang kuliah disana mungkin selama libur semester gue akan disana." Kataku
"Udah Fiks?" Tanya Nila
"Ayah gak bakalan bisa ngasih uang secepat itu untuk Tiket"
"Gue kasih pinjem Lo uang buat tiket kesana tenang aja itu uang gue, tabungan gue, Lo gak perlu mikir Lo harus ganti cepet-cepet yang penting Lo pergi, tenangin diri Lo" kata Nila dan aku setuju dengan itu begitupun dengan Hira dan Rino
Malam itu aku segera menelpon Kanya yang terlihat senang.
"Kapan?" Tanya Kanya
"Paling cepet Lusa" kujawab
Dan tentu saja Kanya sangat senang. Sudah ku putuskan untuk pergi Lusa padahal ayah belum tentu mengizinkan ku. Malam itu aku menginap di cafe Hira.
"Biar gue yang ngomong ke nyokap Lo, Lo nginep di gue." Kata Hira
☘☘☘
Pagi ini aku pulang. Kuhidupkan hp dan ada beberapa pesan masuk dari Teh Mila yang pamit pulang kepadaku pagi ini. Hanya ku baca saja. Entahlah aku benci Teh Mila. Bunda lebih sayang Teh Mila. Dan sekarang dia merebut kekasihku. Aku hanya akan bersikap egois karena selain Rio yang brengsek tapi memang teh Mila saja ah aku benci Teh Mila.
"Bun Yah. Lusa aku mau ke Amerika. Aku mau liburan disana tinggal sama Kanya." Kataku
"Hah?" Kata Bunda
"Hila pengen aja kesana. kalo Ayah ada uang aku minta buat tiket doang. Sisanya Hila punya tabungan. Kalo ayah atau Bunda gak ngizinin Hila bakal tetep kesana dan kalo ayah gak ngasih uang pun Hila masih bisa minjem ke Nila dan biar Hila yang cicil nanti." Kataku dengan jelas. Kulihat ayah mengerutkan dahinya
"Kamu kenapa Hil?" Tanya Ayah seperti keheranan
"Gakpp. Semoga ayah ngizinin dan ngasih uang buat Hila. Biaya kuliah Hila gak semahal biaya kuliah Teh Mila ko. Gak semahal biaya Teh Mila ke Kairo beberapa kali. Hila yakin ayah gak pilih kasih." Lanjutku
"Neng kamu kenapa? Ko aneh?" Tanya Bundaku.
Aku memang aneh Bun hati aku sakit. batinku
"Ashhh iya iya yaudah kalo mau ke Amerika yaudah iya iya lusa yaudah ayah kasih buat tiket." Kata Ayahku
"Makasih ayah" kataku datar lalu masuk ke kamar meninggalkan Ayah dan Bunda yang kebingungan.
Aku mengecek hpku dan ada satu pesan yang masuk. Itu dari Vino yang memberikan no aktif si **** itu. Karena aku sengaja memintanya pada Bang Vino dengan alasan yang masuk akal. Aku akan menghubunginya untuk meminta penjelasannya sekali lagi tentang semua ini. Aku ingin melihat segentle apa **** ini. aku akan menemuinya besok.
☘☘☘
Pagi ini aku segera pergi untuk bertemu dengan **** itu. Sudah ku putuskan untuk mengajaknya bertemu dan Tanpa penolakan Rio menyetujui untuk datang menemuiku pagi ini. Aku yakin Rino membantu untuk ini.
Aku sengaja mengajak Rio bertemu di rooptop kampusku karena kebetulan hari itu aku harus memperbaiki satu nilai mata kuliahku. Sekalian jika sudah tak tahan aku akan mendorong Rio dari rooptop lantai 6 itu. Kulihat Rio sudah ada disana. Aku berjalan dengan lutut yang lemas.
"Hil" sapanya
"Sorry nyuruh Lo kesini." Kataku kasar
"It's oke aku lagi libur kerja ko. Emh kamu baik-baik aja kan?"
"Gue harus baik-baik aja walaupun pada kenyataannya nggk" jawabku dengan tersenyum menyeringai
"Sorry Hil, awalnya aku gak tau Mila kakak kamu. Hil aku tau aku Brengsek tapi Hil plis jangan pernah bilang ke Mila kalau kamu dan aku..."
"Kenapa? Kenapa aku jangan bilang ke Teh Mila? Kamu takut kehilangan Teh Mila? Harus adil dong aku aja kehilangan kamu jadi teh Mila pun harus" kataku
"Hil aku minta tolong ke kamu. Hil plis jangan gini. Hil dia cinta pertama aku begitupun sebaliknya. Hil aku selama 6 bulan lebih itu aku tulus sayang dan cinta sama kamu. Hil plis aku mohon."
"Rio plis aku masih cinta sama kamu. Aku gak bisa lupain kamu. Rio pikirkan posisiku bagaimana aku bisa menerima semua ini. Rio plis...." air mataku sudah keluar begitu saja sungguh aku terlihat begitu lemah di hadapan Rio. Aku sudah tidak memikirkan harga diri ku lagi. Semuanya sudah hilang karena rasa cinta itu
"Hil maaf tapi aku gak bisa. Hil aku yakin kamu bisa dapetin laki-laki yang jauh lebih baik dariku. Hil aku mohon buat bisa jadi pendamping kakak kamu. Hil aku gak mau kamu benci sama aku. Hil plis aku sayang aku cinta Mila. Plis Hil mohon maafin aku dan kasih aku kesempatan buat jadi orang yang gak brengsek dengan mencintai kakak kamu. Kasih aku kesempatan buat aku menebus semua kesalahan aku ke kamu dengan cara menjaga Mila. Plis Hil plis perasaan gak bisa dipaksakan Hil" jelasnya. Aku yang menangis berusaha sekuat tenaga untuk berhenti menangis dan Tidak bersikap seolah-olah aku lemah. Dia terlalu brengsek. Karena dengan teganya mengatakan dia cinta wanita lain di depanku yang jelas mencintainya. Dan kakak ku sendiri yang dia cintainya.
"Terserah Lo Rio. Maaf karena sampai kapanpun gue gak bakal pernah maafin Lo." Kataku lalu pergi dengan tangisan yang belum mereda dan lutut yang semakin lemas.
Tuhan apa ini? Apa kau benar-benar sekejam ini kepadaku?
☘☘☘
semangat thot buar bsa up trus 😁😁
up dong...