Aiza Bahira adalah gadis cerdas, cantik dan selalu ceria. Sebuah peristiwa di masa lalu yang melibatkan keluarga darah biru menyeretnya ke dalam sebuah konflik kehidupan dan terpisah dengan keluarganya serta kehilangan ingatan akan masa lalunya.
Sedangkan Deanka Kavindra Byantara adalah anak cerdas yang dijadikan korban perjanjian politik. Masa lalu Deanka dipenuhi dengan tekanan dan kekerasan hingga ia trauma dan takut jatuh cinta.
Aiza dan Deanka terjebak dalam kisah cinta yang sangat rumit. Aiza dan Deanka sama-sama menjadi korban keserakahan keluarganya yang gila harta, popularitas dan jabatan.
Apakah Aiza dan Deanka bisa menemukan cinta dan kebahagiaan?
Apakah Aiza bisa mengingat lagi masa lalunya dan berkumpul lagi dengan keluarganya?
Apakah Deanka bisa sembuh dari traumanya?
Mari kita ikuti kisahnya!!
NB: Siapkan tissue!
***
Terima kasih sudah berkenan mampir dinovel pertamaku ❤
Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan.
Aamiin...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Ambu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Biru di dalam Rahim
Mobil mewah berwarna silver dengan kacanya yang gelap melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang masih lenggang munuju sebuah villa.
Di dalam mobil tersebut wanita cantik dan molek itu mencoba meronta untuk melepaskan diri, namun kini tangannya sudah terikat lagi, begitupun dengan mulutnya sudah tertutup lakban hitam.
Wajahnya terlihat pucat dan ketakutan, badannya terus bergetar, buliran air mata membasahi pipinya.
"Emmm ... aroma rambutmu wangi juga ya ... gadis miskin, badanmu juga harum." Penjahat yang berada di samping Nara mengendus-endus tubuh Nara.
"Hei jangan kau sentuh dia! Kita kan hanya diperintahkan menculiknya saja, tapi tidak di suruh menjamahnya, kalau kita salah bertindak kita bisa mati!" Kata pria yang ada di belakang kemudi.
Terimakasih Tuhan! Nara bersyukur dalam hatinya.
Mobil itu kini sudah memasuki area villa.
Sepertinya itu villa keluarga karena nampak sepi dan tidak ada aktivitas lain ataupun keramaian di sekitar villa tersebut.
Bahu Nara ditarik paksa untuk keluar dari dalam mobil, Nara berjalan gontai, pria jahat itu segera menyeretnya agar berjalan lebih cepat.
Nara semakin ketakutan batinnya terus menjerit memanggil orang yang dicintainya.
Bola matanya berputar mengitari keadaan di dalam villa tersebut.
Kondisi di dalamnya sangat mewah berbagai furniture ada di sana, lengkap dengan perabotan rumah tangga dan berbagai tanaman hias yang tertata rapi.
Terdapat pula akuarium berukuran cukup besar, dengan ikan-ikan kecil yang berwarna terang di dalamnya.
Nara dipaksa untuk duduk bersimpuh di ruang tamu villa tersebut, tanganya masih terikat. Badannya menghadap sebuah kursi yang bentuknya berbeda dengan kursi lainnya.
Lakban di mulutnya dilepaskan.
"Tolong jangan sakiti keluargaku, Tuan!"
"Diam kau gadis cereeeewet...! Sebentar lagi kau akan tau, hadapi takdirmu, silahkan berteriak semampumu, toh tak akan ada yang menolongmu, wuahahahhaa...!" Mereka tertawa puas.
"Tuk... tuk... tuk... " terdengar suara langkah sepatu.
Nara masih bersimpuh dan terus menangis.
"Silahkan duduk Tuaaaan!" para penjahat itu mempersilahkan.
"Oh jadi ini yang membuat anakku hilang akal? Akhirnya aku biasa melihatmu dari dekat."
"Heeeeiiii kaau gadis miskin!! Lihat aku!"
Dengan seluruh keberaniannya Nara mencoba mengangkat kepalanya dan memandang laki-laki yang tengah duduk di kursi tepat di hadapannya.
Nara terkejut dan semakin ketakutan.
"A-A-Ayah mertua, sa-sa-salam ho-hor-mat dariku, Ayah!"
"Apa kau bilang?" Pria paruh baya itu berdiri.
"Lancang sekali mulutmu memanggilku ayah mertua, aku bukan ayah mertuamu, aku tidak sudi dipanggil seperti itu oleh mulut rendahanmu ...! Sampai matipun aku tidak rela dan tidak akan menerimamu sebagai menantuku! Bagiku kau tidak lebih rendah dari sam-pah!"
Menyakitkan sekali kata-katanya, maafkan aku yang lemah, Tuhaan ...!
"Panggil aku Tuan! Kau ingat baik-baik ya...aku ini darah biru, darah kotor sepertimu tidak pantas bersanding dengan anakku..., beraninya kau mengabaikan peringatanku, sekarang terimalah akibatnya."
"Hendriiik ...!"
"Ya Tuan!"
"Buka pakaian gadis lancang itu, nodai dia, buat dia jadi gila!"
Si Tuan jahat itu kembali duduk di kursi, raut wajahnya sangat mengerikan.
"Tu-Tu-Tuan, ma-ma-maafkan aku yang lancang, izinkan sampah hina ini bicara padamu. Tolong berikan aku waktu untuk bicara." Nara memohon sambil meronta-ronta karena Hendrik sudah mulai berusaha untuk melepas pakainnya.
"Hentikaaan ... !!! Tuan ku mohon, kasihani aku walau hanya sebagai sampah di matamu, apa guna pendidikan dan kedudukanmu yang tinggi jika Tuan tidak punya hati."
"Tuaaaan .... Tuaaan kumohon hentikan, apa yang kau mau dariku? Jika tuan ingin aku mati, segera bunuh saja aku! Tapi kumohooon jangan merendahkan aku!"
Nara terus meronta, tapi apalah daya Hendrik yang berbadan tinggi dan besar bukanlah lawan yang setimpal untuknya.
Gadis malang itu mulai kehabisan tenaganya, dia tidak lagi bergerak saat Hendrik merobek baju dan roknya.
Gadis itu tertidur miring di lantai menghadap pria berhati iblis, tangannya masih terikat, baju dan roknya sudah terlepas.
Hanya menyisakan pakaian dalam.
Mata Hendrik terbelalak, awalnya dia merasa kasihan, namun saat melihat tubuh indah Nara terbuka, jiwa laki-lakinya bangkit.
"Tuaaaan ...."
Nara berbicara sangat lirih dan pelan karena tenaganya sudah hampir habis.
"Ku mohoon Tu-Tu-Tuaan hentikan semua ini, bi-bi-biar bagaimanapun aku adalah wanitanya anakmu, aku istrinya, aku mencintainya, dia juga mencintaiku. Jika benih itu tumbuh, itu berarti sebagian dari darah birumu ada di rahimku."
Tes ...tes ... tes ... air mata Nara membasahi lantai.
Pria berhati iblis itu terperanjak.
"Apaaaaa ...." Menjambak rambut Nara, dan menariknya sampai posisi Nara menjadi duduk, lalu "Plak, plak" menampar pipi Nara dengan kuat, hingga Nara jatuh tersungkur kembali ke lantai.
Darah segar mengalir dari hidung dan ujung bibirnya.
Mata Nara yang cantik, perlahan mulai terpejam.
Terbayang kenangan manis bersama orang-orang yang mencintainya.
Bibirnya tersenyum.
Kenangan itu kemudian hilang ditelan kegelapan, menyisakan luka yang entah kapan bisa disembuhkan.
Nara tidak bergeming, tubuhnya lunglai.
Nara pingsan.
♡♡ Bersambung....
kl visual deanka aku rasa sdh pas...sesuai banget...
tp aizanya jelek banget thor...
biar kau visual sendiri aja kayak nya ya...hehehee...
sambil nunggu TBR
persatuan indonesia.. dan lain lain sbgy nya..
yg jdi bawang putih bukan s susi
tp si niana sm s liana
tanya aja tuh sama s thor
aku juga bingung
tapi sma pabrik juga karyawan bahkan sma yg punya pabrik nya pun dia beli..
ngapa kerja nya nyangsrang d rumah warga thor.. heum bahaya ini mh
yang kaya yg banyak harta banda nya pda dapat BANSOS..
yg miskin melarat mh cuma pda mangap doang makan angin
d jilat ge ngapa aaah