NovelToon NovelToon
CAMELIA

CAMELIA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:665.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Kimmy reana

Kara,gadis cantik dan baik hati, tapi suatu kejadian mengerikan mengubah hidupnya menjadi gadis liar dan sulit di kendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy reana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bagian 14

Confused 14

Alfaro Keenan

Sudah hampir beberapa bulan ini ada beberapa orang tidak dikenal,mondar-mandir di sekitar rumah. Mereka berpenampilan serba hitam, seperti tengah memperhatikan sesuatu. Aku tidak begitu yakin, hanya saja mereka terlihat seperti tengah mengawasi tempat tinggalku.

"Siapa,Kak?" Alma bertanya, aku masih mengamati dua orang itu dari balik tirai jendela. Mereka berdiri tak jauh dari rumah.

"Nggak tau, Dek." Balasku,

"Alma sering lihat orang itu, di sekitar rumah kita. Apa mereka penagih hutang?" Aku berbalik, menghadap Alma.

"Kita nggak punya hutang sama siapapun. Ayo sarapan dulu, Ibu buatin nasi goreng kesukaan Alma."

Aku dan Alma berjalan menuju meja makan. Aku semakin penasaran, siapa mereka?

Selesai sarapan bersama,aku langsung berangkat menuju kampus.

"Hari ini ada acara apa?" Dea yang semenjak kelas nya selesai langsung mendatangi ruang kelasku.

"Mau langsung ke tempat kerja." Balasku, masih sibuk memasukan beberapa barang kedalam ransel.

"Gak bisa ditunda? Temani aku photoshoot." Rengek Dea, beberapa orang menoleh ke arahku dan Dea.

Dea sering kali berpenampilan kelewat modis, bahkan untuk tampilannya kali ini menurutku sedikit berlebihan. Dia mengenakan tangtop crop,putih dan celana jeans biru denim. Menurutku terlalu terbuka hanya untuk sekedar pergi ke kampus.

"Aku gak bisa."

"Bisa ijinkan? Sekali ini saja. Pemotretan nya jauh." Ia kembali merajuk.

"Beneran gak bisa ,De."

"Ngerasa gak sih akhir-akhir ini kamu berubah?!"

"Berubah apanya?" Aku menghela, menatap sekilas wajah Dea yang sudah berubah masam. Tapi bukannya menjawab, Dea justru berdecak dan beranjak pergi. Aku segera meraih pergelangan tangannya sebelum dia berjalan terlalu jauh.

"Dea."

"Aku tau. Aku selalu jadi nomor dua di kehidupan kamu, sekarang kamu pergi aja. Gak usah peduli aku lagi." Dea menepis lenganku.

"De, kamu tau kan, aku butuh uang untuk pengobatan Alma? Aku butuh kerja untuk bisa menghasilkan uang."

"Ya sudah. Kerja sana!" Dea mulai meninggikan suaranya.

Kulepas gemggamanku, aku tidak lagi menahannya begitu dia pergi. Aku bukan tipe laki-laki yang akan mengemis atau membujuk kekasihnya merajuk. Aku lebih memilih diam, membiarkannya tenang, setelah itu baru aku akan bicara. Percuma bicara jika semua masih sama-sama emosi. Setelah Dea pergi, akuoun kekuar dari kelas, menuju parkiran motor di belakang gedung kampus.

"Selamat siang Mang Udin." Sapaku, begitu aku sampai di pintu gerbang rumah Kara.

"Siang Mas Faro. Silahkan masuk." Mang Udin membuka pintu gerbang dan aku langsung menuju halaman rumah Kara, memarkir motor di tempat biasa.

Turun dari motor dan berjalan menuju pintu masuk rumah Kara, namun aku melihat mobil Kara sudah berada di garasi. Aku melirik jam di pergelangan tangan, memastikan apa aku datang terlambat atau tidak. Biasanya aku terlebih dulu datang di banding Kara.

Pintu rumah sedikit terbuka. Ada sedikit keraguan, apa aku harus masuk atau tidak, namun begitu aku melihat beberapa orang tengah mengelilingi Kara, aku memberanikan diri membuka pintu lebih lebar. Dan betapa terkejutnya aku begitu melihat Kara tengah menangis, dengan kondisi duduk di lantai dan semua benda berserakan seperti habis terkena badai.

"Ada apa,Bi?" Aku segera mendekat, menghampiri Kara.

"Ada apa,Kar. Kenapa rumah kamu berantakan? Dan juga kamu_ " Mataku terbelalak begitu melihat telapak kaki Kara berdarah.

"Ya ampun Kara." Aku segera mendekat,besimpuh dan memeriksa kakinya,

"Kenapa? Ini kenapa,Bi!" Aku mulai kesal karena tidak ada satupun yang menjawab pertanyaanku dari tadi.

"Ambilkan perban dan obat-obatan!" Perintahku, meski aku bukan siapa-siapa dirumah ini, aku memberanikan diri menyuruh Bi Iyah mencari obat untuk mengobati luka Kara.

"Kamu baik-baik saja?" Tanyaku,berjongkok dan memegang kedua pundak Kara.

Kara mendongkak menatapku, berikutnya Kara menarik kaos dan memeluk tubuhku dengan erat. Tangisnya pecah, isak tangisnya semakin kencang, siapapun yang mendengarnya akan tersentuh. Sebelah tanganku memeluk punggungnya dan satu tanganku mengelus rambutnya. Ada rasa tak tega dan tak terima melihatnya menangis, kesal dan iba bercampur jadi satu, bergejolak tak menentu di hatiku.

Aku mengobati luka goresan di telapak kaki Kara, setelah dia puas menumpahkan segala kesedihannya di pelukanku.

"Sakit?" Tanyaku,

Kara menggeleng. Meski tangisnya berhenti tapi masih terdengar isak nya, sesekali. Tidak mungkin dia mau belajar dalam kondisi seperti ini, meski lukanya tidak terlalu parah, tapi melihat kondisi rumah berantakan dan banyak barang pecah berhamburan, aku yakin apapun yang aku jelaskan tidak akan bisa diserap dengan baik.

"Sebaiknya kamu istirahat. Kita belajar kalau kamu sudah membaik." Kara masih duduk di kursi dan aku masih mengobati luka nya sambil berjongkok. Sementara Bi Iyah dan anak nya Mbak Susan, sibuk membersihkan ruang tamu di bantu Mang Udin.

"Lukanya sudah di perban. Mau aku antar ke kamar?" Tawarku.

Kara masih tidak bergeming, bahkan tatapannya kosong memandang lurus ke depan.

"Kara," aku meraih jemarinya "Istirahat, aku antar ke atas. Ya?" Aku berdiri, menarik lengan Kara agar ikut berdiri. Namun kara justru menahan lenganku.

"Jangan pergi." Ucapnya

"Jangan pergi," ulangnya lagi.

"Aku gak akan pergi, tapi kamu harus istirahat."

Akhirnya aku memapah tubuh Kara sampai ke kamarnya di lantai dua, setelah bebrapa kali Kara menolak. Ini pertama kalinya aku memasuki kamar seorang gadis. Selama pacaran dengan Dea pun, aku tidak pernah berani memasuki kamarnya, aku tetap membatasi diri hanya sampai depan pintu kamarnya. Itupun hanya satu kali, ketika Dea sakit. Kara kesulitan berjalan akibat luka gores di telapak kaki nya, jadi aku rasa wajar saja aku mengantarnya hingga ia duduk di tepian tempat tidur.

Canggung, itu yang aku rasakan. Berada satu ruangan dengan seorang gadis membuatku salah tingkah.

"Sini." Kara menepuk sebelah ruang kosong di pinggiran ranjang, sebelahnya. Meski ragu, aku tetap menuruti keinginannya.

"Terima Kasih." Ucapnya lirih, kepalanya menunduk memainkan kuku jarinya.

"Kamu bisa cari aku kalau sedih." Balasku,

"Kamu boleh pulang, aku udah gak apa-apa." Meski Kara berkata dirinya baik-baik saja, tapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Bahkan dia mulai kembali menangis.

Ingin sekali aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku tidak mungkin bertanya di saat kondisi Kara seperti ini.

Aku turun dari tepian ranjang, berlutut di lantai berhadapan persis di depan Kara, aku menengadah menatap wajahnya yang sembab.

"Jangan nangis lagi." Aku mencondongkan tubuhku dan mengusap air matanya.

"Aku gak tau apa yang sebenarnya terjadi. Kamu gak perlu cerita sekarang, tapi jangan nagis lagi."

"Tidak ada yang peduli padaku." Suara Kara pelan, tertahan.

"Ada. Aku contohnya." Tatapanku bertemu dengan mata hitam milik Kara, beberapa saat saling menatap. Namun entah apa yang aku lakukan, tiba-tiba aku mendekatkan wajahku dan mencium bibir Kara. Awalnya Kara hanya diam menerima ciuman dadakan dariku, namun begitu aku mulai menggerakan bibirku,memberikan lumatan kecil di bibirnya, Kara mulai mengikuti.

Aku semakin memperdalam ciumanku. Ciuman paling manis yang pernah aku rasakan, sekaligus ciuman penuh emosional yang pernah aku lakukan,Karena Kara mulai membalas ciumanku sambil terisak, lengannya mencengkram pundakku, bahkan rasa asin air mata Kara bercampur dengan rasa manis bibirnya.

Aku melepas ciumanku, meski sebenarnya enggan aku lakukan.

"Mulai sekarang kamu punya aku. Jadi jangan pernah merasa sendiri lagi." Kara mengangguk, bahkan kini ia tersenyum meski sekilas samar-samar.

"Aku pulang. Hubungi aku kalau ada apa-apa, aku pasti datang." Kara kembali mengangguk.

Aku menutup pintu kamar Kara, beranjak pulang. Dari tangga masih bisa aku lihat Bi Iyah,Mbak Susan dan Mang Udin masih membersihkan rumah dari sisa-sisa pecahan barang.

"Sebenarnya apa yang terjadi,Bi?" Aku menghampiri mereka bertiga.

"Tadi Ibu sama Bapak berantem. Denger- denger sih mau cerai. Bapak kalau marah suka banting-banting barang, terus Neng Kara pulang. Dia mencoba melerai orang tuanya bertengkar,tapi justru dia yang terluka,nggak sengaja injak pecahan kaca." Jelas Mbak Susan,

"Gak begitu jelas sih, Mas. Yang aku dengar cuman mereka ribut gara-gara anak Pak Fatur, dari istrinya yang dulu mau dibawa kesini." Lanjut Mbak Susan.

"Emang, Pak Fathur punya istri dua?"

"Nggak. Bapak menikah sama Bu Dahlia setelah bercerai sama istrinya dulu. Siapa ya nama nya , kalau gak salah Sal_ "

"Mas Faro mau pulang? Ayo saya antar ke depan?" Tiba-tiba Mang Udin menyela.

"Oh iya ,Mang." Aku tidak melanjutkan perbincanganku dengan Bi Iyah dan Mbak Susan. Meski sebenarnya aku sangat penasaran, tapi aku tidak se kepo itu dengan urusan keluarga Kara.

"Aku pulang ya Mang. Tolong lihatin Kara ya Mang, dia pasti sedih banget."

"Iya Mas."

Aku merebahkan tubuhku di kasur, setelah pulang dari rumah Kara, aku langsung membersihkan diri dan hanya menatap layar ponsel sejak tadi. Beberapa pesan yang dikirim, belum di balas satupun oleh Kara, aku harap dia baik-baik saja. Meski aku sadar apa yang aku lakukan dengan pada Kara salah, tapi aku tidak bisa,otak dan tubuhku bertolak belakang, aku tidak bisa membohongi hatiku.

Aku menghianati Dea, tapi aku juga menginginkan Kara. Rasa kasihanku pada Kara, kini berubah jadi rasa ingin memiliki, bahkan rasa Iba justru berubah menjadi rasa ingin melindungi.

Sebenarnya ada yang begitu mengusik pikiranku sejak keluar dari rumah Kara. Begitu aku berjalan beriringan dengan mang Udin, samar-samar aku mendengar Mbak Susan menyebut nama seseorang yang begitu familiar.

"Salma, istri Pak Fathur dulu namanya Salma, iya kan Mak." Itulah kata-kata yang aku dengar, meski samar aku yakin aku tidak mungkin salah dengar. Begitu mendengar nama Salma, otaku langsung bekerja mengingat seseorang yaitu,Ibu. Ibuku bernama Salma.

1
Wida
sukaaa
lika16
titip sendal
X'tine
bingung baca cerita ini, di ulang ulang
Doubley
KERENN! Aku udah baca, komen, dan like. Semangat, Kak. Feedback ke novel saya dong, judulnya The Vengeance. Terima kasih.❤
Anisa Shofy
ceritanya bagus kak. aku baca di lapak sbelah, krna ga selesai jadi donlot noveltoon buat baca karyamu. semangat yaa..smoga ga typo lagi dan ga ketuker2 namanya hihi
Anisa Shofy
yaamponn jantungan thorr😣
Anisa Shofy
yaamponn jantungan thorr😣
Just Rara
akhirnya happy ending juga
Just Rara
😄😄😄lucu ayahnya si jupiter
Just Rara
knp tiba2 aksa bisa benci gt sm camelia ya?
Just Rara
wah si kara hamil,semoga bu mala bisa luluh hatinya setelah dpt cucu baru dr kara dan jupiterr☺️☺️
Just Rara
knp si febian gak dijodohin sm si nadira aja
Just Rara
akhirnya mereka nikah juga☺️
Just Rara
lah itu febiannya blm meninggal🤔🤔
Just Rara
yak knp si febiannya dibikin meninggal thor😭😭
Just Rara
mantap febian,ungkap semua penjahat nya👍
Just Rara
pasti tu si jupiter sm nadia deh yg ada diruangan itu
Just Rara
say good bye to jupiter ya kara😁
Just Rara
dasar si jupiter,dia gak tulus cinta sm kara😒😒😒
Just Rara
sama aja jahatnya jupiter dgn para lelaki hidung belang itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!