NovelToon NovelToon
Secret Admirer

Secret Admirer

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Tamat
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Macet

Ketika Laura mendapatkan surat cinta, dia dengan tekad bulat akan menyusuri jejak sang pengagum!

....

Laura ingin rasanya memiliki seorang pacar, seperti remaja di sekitarnya. Sayangnya, orang-orang selalu menghindar, ketika bersitatap dengannya. Jadi, surat cinta itu membawanya pada ambisi yang kuat! Mampukah Laura menemukan si pengagum dan mendapatkan akhir bahagia yang ia impikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Macet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Dihukum Lagi

Dihukum Lagi

Pagi ini aku bangun dengan nafas terengah-engah. Kejadian kemarin saat Yuna bertingkah aneh selalu kupikirkan, aku tidak menemukan alasan logis mengapa dia menjadi seperti itu. Lebih sialnya, aku malah terbawa mimpi di mana Yuna mendorongku dari atas rooftop lantaran sudah muak dengan sikapku.

Yuna tidak akan melakukan itu kan?

Dengan cepat aku bangkit dan meraih gawai di atas nakas. Aku terbelalak kala melihat jam berapa sekarang. Kurang sepuluh menit sebelum jam tujuh, itu artinya sepuluh menit lagi bel sekolah akan berbunyi.

Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi, mandi secepat kilat dan lagi-lagi pergi ke sekolah tanpa sarapan. Saat ini yang kupikirkan hanya datang tepat waktu ke sekolah. Aku menunggu di halte bus, berharap dengan cemas supaya bus segera datang. Tahu begini, kemarin malam aku akan meminta Ayah untuk menungguku pagi-pagi supaya diantar.

"Ibu juga sangat jahat, tidak membangunkanku saat terlambat!" kataku ketus. Bahkan ketika aku pergi dari rumah dan pamit pada Ibu, wanita itu masih santai sembari menyesap tehnya, jangan lupakan senyuman manisnya.

Menunggu dengan kepalan tangan gugup, bus tidak kunjung datang hingga sebuah motor berhenti tepat di depanku. Aku mendongak guna melihat siapa gerangan pengendara motor tersebut.

"Naik! Kau bisa terlambat jika terus menunggu." katanya dan saat itu aku bergegas naik ke jok motor. Si pemilik suara adalah Zen yang dengan segera melajukan motornya.

Aku melirik jam tangan, terlambat sudah! Rasanya jam ini cepat sekali berputar, sekarang sudah jam tujuh lewat lima belas. "Cepatkan! Jika kamu mengendarai seperti siput, kita dipastikan tidak akan lolos dari amukan OSIS." kataku tajam. Aku tidak akan lupa hari di mana dihukum anggota OSIS membersihkan taman belakang dan tanpa perasaan Zen hanya melihat.

"Ini sudah batas kecepatannya. Kau tidak ingin berakhir mati jika aku melewati batas kecepatannya kan?"

Aku mendengus kesal dan spontan memeluk Zen dari belakang saat tiba-tiba laki-laki itu melajukan motornya dengan kecepatan yang bisa membuat nyawa melayang.

"Bukan seperti ini juga Zen!" seruku lantang. Masa bodo dengan atensi pengendara lain.

Selang beberapa saat, motor berhenti di bawah pohon mangga, lumayan jauh dari gerbang sekolah. Aku turun dari motor dan kulihat Zen memarkirkan motornya di salah satu warung terdekat, kemudian dia menghampiriku.

"Apa?" kataku memicing curiga kala melihat Zen memindahkan tangga dari pohon mangga ke tembok sekolah. "Kau tidak berniat untuk memanjat kan?"

Zen mengangguk. Dia menaikkan satu kaki dan naik begitu saja ke atas tembok. Duduk dengan gaya sembari menatapku sinis. Laki-laki ini gila, ya?

"Lebih baik aku masuk dari gerbang daripada melakukan hal gila ini. Aku memakai rok sialan!" kataku. Jika saja aku naik dan tidak sengaja terpeleset, malunya tidak dapat kujabarkan.

"Ya, terserah, jika kau bersedia menerima hukuman mereka. Hukuman mereka tidak pernah sederhana, lho!" tukas Zen dengan senyum mengejek. "Padahal ada tangga, tinggal naik saja tidak akan semerepotkan itu."

Aku menggeleng keras, melangkahkan kaki menuju gerbang dan dengan secepat kilat kembali ke bawah pohon mangga saat tak sengaja melihat anggota OSIS. Sejujurnya aku tidak ingin dihukum lagi.

Dengan terpaksa, aku menaikkan satu kaki ke tangga, begitu seterusnya hingga sampai di atas tembok. Aku menelan ludah gugup, padahal saat naik tadi temboknya tidak sampai setinggi ini.

"Lompat saja, kakimu tidak akan patah hanya karena melompat." kataku menyemangati diri. Aku menghirup nafas panjang dan menurunkan satu kakiku dengan mata tertutup, segera kupegang tembok erat-erat supaya tubuhku tidak terjatuh ketika aku turun.

"Sial! Ternyata kakiku tidak sepanjang yang aku pikirkan!" kataku mengumpat. Aku dengan cepat membuka mata, masih tersisa beberapa meter lagi ke bawah, posisinya saat ini aku seperti bersandar pada tembok dengan tangan menggaet ujung tembok.

"Bantu aku Zen sialan!" kataku menyentak. Zen di sudut sana hanya tersenyum, tidak mengindahkan perkataanku sama sekali.

"Bagaimana ini?!" kataku frustasi, tanganku tidak lagi kuat untuk menahan tubuhku supaya tidak jatuh. Detik berikutnya aku menutup mata lantaran pasrah ketika pegangan sudah terlepas. Anehnya, aku tidak merasakan sakit sama sekali.

"Bodoh, kau ingin melawak?" kata Zen ketika aku membuka mata. Dapat kulihat dia menahan tubuhku, memelukku dan melepaskannya ketika kakiku berpijak di tanah. Aku menghela nafas lega, kukira laki-laki ini tidak memiliki rasa simpati.

"Cih..." Aku memalingkan wajah, memikirkan dia memelukku membuat pipiku panas.

"Jangan melamun, ini saatnya untuk lari karena anggota OSIS sudah menemukan kita." kata Zen dan lekas berlari meninggalkan aku. Aku yang melihat itu melotot dan menoleh ke belakang, wajah masam anggota OSIS itu membuat kakiku lemas tak bisa digerakkan. Habislah sudah!

"Ikut denganku!" katanya kemudian menarik tanganku kasar. Mungkin saja murid perempuan ini sangat senang melihat mangsa baru yang perlu dihukum. Pelarianku tidak ada gunanya, tetap saja aku ditangkap dan ini semua salah Zen!

"Pecundang yang hanya bisa lari." kataku pelan berdecih sinis.

"Kau mengatakan sesuatu?" Anggota OSIS itu menatapku tajam dan lekas aku menggeleng.

Kami terus berjalan hingga sampai depan toilet, aku yang merasakan firasat buruk meneguk ludah kasar. Melirik sesaat ke arah murid perempuan yang menyeringai, pasti otak kecilnya sudah menyusun rencana jahat.

"Karena kauterlambat, hukumanmu adalah membersihkan toilet. Tidak perlu berterimaksah karena aku tidak menindak lanjut sampai BK," katanya sembari mengibaskan rambut panjangnya. Aku sedikit jengkel tetapi bersyukur juga karena tidak diberi hukuman yang berat.

"Jangan senang dulu, yang kumaksud bukan hanya toilet umum. Tetapi seluruh toilet yang ada di sekolah ini!" katanya kemudian tertawa jahat. Tawa yang mengalun bagaikan sambaran petir di pagi hari.

"Hanya aku seorang diri?" tanyaku tak percaya. Setahuku ada lima toilet di sekolah ini. Yakali, hanya aku seorang yang mengerjakannya.

"Seharusnya kau dan laki-laki yang melarikan diri itu. Tetapi karena yang terlihat hanya kau, jadi terima saja nasibmu." ujarnya kemudian berlalu pergi dari sana.

Aku terdiam dan menatap ke sekeliling, tidak ada siapa pun yang kulihat. Aku masuk ke dalam toilet wanita, berkata, "Hanya toilet perempuan bukan untuk toilet laki-laki kan?"

Aku mengambil sapu lidi dan memandang sekitar dengan mata tajam. Apakah tidak ada pilihan lain,  selain mengerjakan hukuman ini?

"Jika aku lari, tidak mengapa bukan? Soalnya mereka tidak mengenalku dan juga tidak ada yang menjaga di sini." kataku celingak-celinguk.

"Naif sekali," Suara itu mengudara dan raut wajahku masam seketika. "Aku tidak akan membiarkanmu kabur."

Dia ini anggota OSIS yang tidak memiliki pekerjaan lain kah? Aku melirik nama yang tertera di seragamnya. Calvina Angelina. Kutandai wajahmu!

1
tishabhista
lanjutttt...
Pena Macet: ceritanya udah tamat kak/Smile/
total 1 replies
Mona
lanjut kakkkk
Mona
Asekk dapat surat cinta 🔥
Queen Woo
absen dl kk
Shinn Asuka
Tidak bisa menunggu untuk membaca karya baru dari author yang brilian ini.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!