"Aku tau kau membenciku Quen... tapi apa kau tahu jika perkataanmu menyakitiku?" tanya Anna dengan tangisan nya
" Rasa sakit yang kau rasakan sekarang hari ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan sejak dulu... sebelum kau merasa dirimu tersakiti fikiran dulu apa yang sudah kau lakukan padahal kau sama sama wanita... apa kau tidak punya hati atau kau memang tidak tau malu? " tanya Quen tajam
dan membuat Sean menatap Quen dengan tak kalah tajam nya Sean dan Quen menikah karna perjodohan yang di lakukan ayah Sean,Sean menerima perjodohan itu karna saat itu kekasih Sean berselingkuh di belakang Sean yang membuat Sean menerima perjodohan itu tapi tak lama Sean malah menjalin hubungan kembali dengan kekasihnya setelah menikah dengan Quen malah perselingkuhan itu di lakukan secara terak terangan di hadapan Quen dan di dukung oleh teman teman Sean dan kekasihnya. Quen yang mengetahui perselingkuhan yang dilakukan Sean hanya bisa diam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quenn9597, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Sean menginstrusikan Tim Medis untuk menyiapkan agar Tuan Sam bisa diletakan di Helikopternya Tuan Sam dibawa dengan dibantu Tim Medis dan Tentara,Setelah Tuan Sam dibawa masuk ke helikopter Helikopter itu pergi dan mereka melihat Helikopternya yang terbang.
“Hufttt Akhirnyaaa" kata Satria dan Jeno lega dan tim medis juga sangat lega Rasanya beban mereka semuanya telah terbang dibawah oleh helicopter tersebut Althea melihat kearah Tim Medis.
"Punggungku pegal sekali" kata Satria.
"Huuu kau hebat sekali Quen.. darimana kau tau teknik rongRong Jantung hah?" tanya Gavin.
"Memang apa yang aku tidak tahu" kata Quen sambil terseyum Nino, Kai, Rio, Chen, Susan, Ethan, Jeff, Alvian dan Albian tersenyum pada Quen namun tidak dengan Sean yang hanya diam namun dalam hatinya ia menatap kagum kearah gadis yang sebenarnya adalah istrinya.
“Aku sudah siapkan sarapan pagi untuk kalian. ayo kita sarapan bersama" kata Susan.
Mereka semua sarapan bersama.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Jeff pada mereka Tim medis melihat kearah Jeff.
"Kami baik-baik saja ka" kata Kafa.
“Aku rasa kalian kelelahan.. setelah ini istirahat saja dulu" kata Nino.
"Tidak Ka.. kami harus mulai melakukan pelayanan kesehatan" kata Beno.
"Diundur saja.. semenjak sampai disini kalian sama sekali tidak dapat istirahat apalagi kalian ber4 istirahatlah dulu"
"Tidak apa-apa Ka.. kami sudah biasa seperti ini dirumah sakit" kata Jevan.
"Itu dirumah sakit.. tapi disini beda" kata Kai.
"Sama saja Ka.. baik disini maupun dirumah sakit kesehatan adalah hal yang penting.. tidak apa-apa kami masih kuat.. iya kan?" tanya Arsen pada mereka dan tỉm medis mengangguk.
"Sudah jam 9.. ayo pelayanan kesehatannya akan segera dimulai" kata Quen.
"Tunggu saja dulu.. kalian istirahat saja..pelayanannya diundur saja.. nanti kami yang akan mengatakannya" kata Arya.
“Apa bisa?" tanya Gavin.
"Bisa.. nanti pelayanannya akan diundur." kata Sean yang akhirnya bicara.
“Baiklah.. undur saja sampai jam 10 pagi..kami akan bersiap dulu" kata Quen.
"Itu terlalu singkat.. kenapa tidak jam 2 siang saja" kata Rio.
"Itu terlalu lama Ka.. tidak apa-apa walaupun kami terlihat lemah tapi kami sebenarnya kuat" kata Vio Tim medis melihat aneh kearah Vio.
"Benar bukan?" tanya Vio Mereka mengangguk dengan terpaksa.
"Kami permisi Ka.. kami ingin mandi sebentar sebelum pelayanannya dimulai" kata Gavin Tim medis pergi menuju kekamar mereka.
“Kasihan mereka. ternyata menjadi dokter itu sangat berat" kata Ethan.
“Ka.. undur pelayanannya sampai jam 1 siang" perintah Sean.
“Baik Sean" kata Nino.
"Kenapa diundur?" tanya Aria.
"Mereka perlu istirahat" kata Sean.
"Bukankah mereka sudah bilang tidak apa- apa?" tanya Anna.
"Walaupun begitu kita harus mengerti jika mereka juga kelelahan.. " kata Sean dan terbesit nada penyesalan disana membuat Althea agak aneh mendengarnya.
"Apa karena Quen tidak dapat tidur?" tanya Rio tiba-tiba dan membuat mereka semua melihat Rio lalu melihat kearah Sean Anna tersenyum sinis mendengar apa yang Rio katakan.
"Aku memikirkan semua tim medis.. karena mereka bukan kita para tentara" kata Sean dingin Rio hanya mengangguk namun ia tersenyum jahil bersama dengan Arya.
"Umumkan segera!" perintah Sean lalu ia meminum airnya dan pergi.
“Ada apa dengannya?" tanya Nino.
“Aku melihat seperti. langkah mulai peduli" kata Arya dengan tersenyum penuh arti.
Anna diam dan ia pergi dari sana membuat mereka semua diam Mereka berdua saling melihat dengan tatapan tidak bersalah sedangkan yang lainnya hanya diam.
Quen yang baru saja.. akan masuk kekamar mandi mendengar pengumuman tentang pelayanan kesehatan nya yang jam 1 dan membuatnya kaget.
“Kenapa diundur?" tanya Quen.
Tim medis yang tahu diundur langsung memanfaatkannya untuk istirahat Quen juga yang awalnya mau keruangannya namun malah istirahat dikamarnya karena jujur ia sangat ngantuk Sean tengah sibuk dengan layar yang melihat pantauan disebuah daerah gersang, mata tajamnya memperhatikan dengan sangat setiap mobil yang lewat disana.
Jam menunjukan pukul 12 siang dan Quen terbangun karena ia tidak sengaja menjatuhkan bantal guling.. ia bangun dan melihat kearah jam yang menunjukan jam 12 siang dan ia langsung bersiap untuk menyiapkan pelayanan kesehatannya Quen masuk keruang ganti dan mengambil pakaiannya Quen selesai berganti baju dan ia kini keluar dari kamarnya dan menuju ke tempat pemeriksaan dimulai.
Quen tiba dilantai dua tim medis dan disana tim medis lainnya sudah mulai mempersiapkan pelayanannya.. Quen mengambil jas dokternya yang tergantung ditempat khusus lalu ia mengikat kuda rambutnya yang tadi ia urai.
"Selamat Siang Semua" sapa Quen pada mereka.
"Siang Quen" kata Mereka dan kembali sibuk Setelah melakukan persiapan.. mereka mulai duduk di tempat periksa mereka.
Quen didampingi Arsen, Vio didampingi Kafa, Satria didampingi Beno,Jeno didampingi Jevan sedangkan Acha dan Bella membantu Gevin dan Aksa ditempat apoteker Quen tengah sibuk dengan Arsen di mejanya dan diluar gedung medis para tentara sudah mengantri dan bisa dibilang antriannya lumayan banyak.
Sean membuka jendela ruangan kerja Althea ia melihat tentaranya yang mengantri panjang di gedung medis dengan segelas wine ditanganinya.
"Antriannya panjang sekali" kata Rio.
"Aku rasa mereka sangat khawatir dengan kesehatan mereka" kata Arya.
“Aku juga sangat khawatir.. aku akan mengecek kesehatanku juga nanti" kata Alvian.
"Iya.. aku juga" kata Arya semangat.
"Bukankah kita semua juga akan mengecek kesehatan kita" kata Nino.
"Tapi aku yang paling dulu" kata Arya Sean hanya diam melihat kearah kerumunan tentara.
Tim Medis memeriksa kesehatan para tentara. dan beberapa tentara ada yag memang sering sakit perut, kepala, lalu pegal dan juga ada yang mengobati lukanya karena habis berperang Setelah semua tentara selesai, giliran Althea yang memeriksa kesehatan mereka Kai memeriksa kesehatannya di tempat Quen.
"Keadaan Kaka baik. hanya saja Kaka jarang meminum air putih.. rajinlah minum air putih dan kurangi alkoholnya" kata Quen.
“Baiklah.. terimakasih" kata Kai tersenyum.
"Sean. kau juga harus diperiksa.. ayo" Panggil Kai dan sontak membuat Quen yang tadinya tersenyum berubah menjadi datar Sean melihat kearah Quen begitu juga dengan Quen yang melihat Sean.
"Kau saja" kata Sean dan hendak pergi namun Anna datang dan membuat ia bertemu dengan Anna, Quen yang melihatnya memilih untuk sibuk dengan catatannya karena tidak sanggup melihat Sean dengan Anna Kai bangun menuju kearah Sean.
“Sean ayolah. kau harus diperiksa" kata Levin.
“Aku tidak mau.. aku tidak apa-apa" kata Sean.
"Sean sehat-sehat saja Ka. apa yang perlu ia periksa" kata Anna.
Quen yang mendengarnya melihat Anna Quen hanya melihat Anna datar.
“Ayo Sean" kata Anna.
"Setelah pemeriksaan kalian selesai langsung kumpul diruangan!" perintah Sean.
"Baik Kapten" kata mereka.
Sean pergi dengan Anna membuat hati Quen sakit namun Quen diam.
Pemeriksaan selesai jam 5 sore dan mereka langsung membereskan peralatan lainnya dan membersihkan lantai satu gedung tersebut.
"Akhirnya selesai juga" kata Beno.
“Mereka semua sangat antusias dan mereka juga patuh dengan apa yang kita sarankan" kata Jevan dengan wajah bahagianya.
"Iya dan mereka juga sangat tertib" kata Arsen.
"Tapi masalah mereka semua sama..kurang minum air putih dan terlalu banyak alkohol.. terutama tim inti Althena" kata Jeno.
“Iya.. mereka smeua alkohol holic" kata Arsen.
"Padahal itu sangat bahaya dan memperngaruhi kesehatan mereka" kata Acha.
“Bagaimana dengan Kapten Sean? Aku rasa ia mungkin yang paling parah" kata Aksa dan sontak mereka melihat pada Quen.
“Kenapa?" tanya Quen pada mereka.
“Quen tidak memeriksa Kapten Sean dia tidak mau diperiksa" kata Arsen.
"Hahhh" kata mereka.
"Kenapa dia tidak mau?" tanya Gevin.
“Aku rasa Anna itu yang memperngaruhinya" kata Vio kesal.
"Iya.. Selingkuhannya.. ia juga tidak diperiksa" kata Acha.
Quen hanya diam dan memilih untuk bermain dengan ponselnya Namun dalam hatinya ia agak khawatir dengan Sean.. ia tahu Sean sangat suka dengan Alkohol dan hampir setiap hari ia meminum alkohol.. Sean memang tidak sakit hanya saja ia yakin Sean pasti kurang minum air putih dan ia jujur sangat khawatir dengan keadaan Sean yang juga sering mandi pada malam hari Hari terus berlalu dan semuanya masih tetap sama untuk Sean maupun Quen tidak ada yang berubah dari keduanya Sean masih sama dengan sikapnya yang tidak peduli dengan Quen begitu juga dengan Quen yang lebih sering menghindari Sean dan ia juga jarang ikut makan dengan mereka sedangkan hubungan antara Sean dengan Anna semakin dekat mereka sering menghabiskan malam yang panas bersama dan mereka sering melakukannya di ruangan meeting atau pun diruangan Sean.
Sekitarnya baru saja dalam proses pembangunan Ia membuka pintu ruangan itu begitu saja membuat seorang pria yang tengah duduk disana ter sendak kaget dan menatap takut kearah pria tinggi tersebut.
"Tuan William" kata Pria itu kaget dan membuat pria yang dipanggil William itu tersenyum sinis.
"Kau sudah menyiapkan barangnya Tuan Rangga?"
"Sudah Tuan.. ini" kata Pria yang dipanggil Rangga dan memberikannya 3 butir benda dengan harga Triliunan William tersenyum menatap benda yang tersebut.
"Bagus.. minggu depan siapkan lagi untukku" kata William dan membuat Rangga mengangguk.
"Terimakasih" kata William lalu keluar ruangan Rangga Rangga membuka koper tersebut dan ia tersenyum dengan uang yang ia pegang sekarang namun perkataan William membuatnya takut Tidak untuk yang lainnya.
"tidak akan aku berikan" kata Rangga lalu menuju kesebuah sudut ruangan dan ia membuka lantai kayu dan mengambil sebuah kotak hitam dan membukanya disana terdapat lima butir benda yang sama lalu ia mengumpulkannya ditangannya dan menelannya.
la menelannya dengan sekuat tenaga menahan rasa sakit di tenggorokannya dan setelah itu, ia mengambil uangnya lalu pergi dari ruangannya dengan terburu-buru.
Quen tengah menikmati makan siangnya yang terlambat.. dia baru makan siang sekitar jam 1 siang lantaran ada laporan yang harus ia selesaikan dan sekarang ia tengah makan sendirian disana.
"Quen kau baru makan?" tanya Kai yang datang dengan Sean , Anna, Aria dan Elvin serta Ethan.
"Iya Ka" Jawab Quen singkat dan kembali fokus pada makanannya Quen tidak memperdulikan Sean begitu juga sebaliknya.
Sean juga fokus pada makanannya dan sesekali ia berbincang tentang hal yang penting dengan mereka dan ia juga mendengar obrolan dimana suara Anna yang lembut pada Sean dan Sean menanggapinya dengan santai Selesai makan, Quen membereskan piringnya dan membawanya ke dapur lalu pergi setelah pamit pada mereka dan hanya ditanggapi oleh Kai dan Ethan.
“Melihat Quen aku berani bertaruh jika Quen masih Virgin" kata Kai tiba-tiba sontak membuat Sean menatap Kai tajam begitu juga dengan mereka.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Aria.
"Tidak aku hanya sedikit heran di era sekarang masih ada perempuan yang seperti itu" kata Kai.
"Kenapa kau menginginkannya?" tanya Elvin terkekeh.
"Tidak hanya saja.. aku heran saja dan berarti Quen itu tetap pendirian.. Sean tidak pernah menyentuhnya dan Quen juga tidak mudah memberikan kehormatannya pada laki-laki lain" kata Kai.
"Sean sudah ada Anna dan dia tidak membutuhkan Quen dan seharunya perempuan itu tahu diri" kata Aria.
“Aku rasa ia ingin kau yang menyentuhnya dulu" kata Anna ada Sean.
"Tidak. dia menolakku" kata Sean.
"Maksudmu?" tanya Kai.
"Dulu saat aku mabuk aku pernah hampir menyentuhnya tapi dia menolakku lalu ia pergi dari rumah" kata Sean singkat.
"APA" kata mereka semua.
"Kau" kata Anna lirih.
"Saat itu aku mabuk dan akal sehatku hilang dan juga karena ka Rio yang mencampurkan obat aneh diminumanku membuatku kalang kabut dan aku hampir melakukannya tapi dia menolakku"
"Kenapa dia menolakmu?"
“Aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu setidaknya aku tidak diliputi tanggung jawab karena sudah menyentuhnya" kata Sean dingin.