NovelToon NovelToon
Witch Hunter

Witch Hunter

Status: tamat
Genre:Perperangan / Action / Fantasi / Akademi Sihir / Iblis / Light Novel / Tamat
Popularitas:26.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayanagi Souma

Penyihir

Makhluk biadab yang memangsa manusia. Tak peduli siapa dirimu.
Mereka akan memangsamu. Membunuhmu.

Di dunia ini sihir terbagi dua.
Sihir cahaya dan sihir kegelapan.

Berabad-abad tahun lepas. Umat manusia berperang melawan makhluk mengerikan yang dinamakan penyihir. Sang para pengguna sihir kegelapan.

Umat manusia yang berjuang melawan mereka disebut 𝘛𝘩𝘦 𝘩𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. Mereka menggunakan sihir cahaya untuk membunuh para penyihir.

Kini saatnya untuk memburu penyihir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayanagi Souma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 –[ Pedang Goujian 01 ]–

06 Maret 2023

"Bagaimana kelasmu Manajer, lancar?" Luxia tersenyum, tangannya sibuk menulis di atas kertas. Mencatat berbagai laporan dan data.

Aku menghela nafas sejenak. "Mereka anak-anak yang berbakat. Kecuali Sizhu, aku tidak paham jenis sihir yang dia miliki. Selama ini sihir berasal dari rapalan maupun azimat. Tapi anak itu ... Aku tidak yakin itu apa." Mengambil tempat duduk di sofa. Menaruh kertas mata pelajaran di atas meja. "Dia menggunakan darahnya sendiri sebagai perantara untuk mengaktifkan bakat sihirnya. Sepertinya aku harus mencari tahu lebih jauh tentang sihir."

Luxia mengangguk, "Kamu pasti lelah Manajer Jianying. Selain mengawalku, kamu mengajar dan mengurus bisnis di kotamu. Maafkan aku karena sudah merepotkan." Tatapannya tertuju ke arahku. Aku menggeleng singkat.

"Itu sudah menjadi kewajiban ku untuk menuruti titah kaisar langit." berkata mantap.

Luxia tersenyum, "Omong-omong pedangmu yang patah, apa itu masih bisa diperbaiki? Itu pedang yang sangat berharga bukan?"

"Ya, pedang itu sudah ku kirim ke tukang pandai besi di Jepang. Mungkin akan butuh waktu lama untuk memperbaikinya seperti semula."

"Ara~Kebetulan, aku memiliki laporan menarik mengenai hal itu. Apa kamu bisa mengantarkan ku ke Shenzhen? Aku memiliki sebuah urusan mengenai pedang sihir."

"Dengan senang hati, Nona." Aku berdiri, membungkuk.

"Mari kita pergi." Luxia beranjak dari tempatnya. Aku mengikutinya dari belakang. Mengawal.

Kami berdua berjalan menuju parkiran lapangan mobil terbang di kantor Agensi Hunter. Sebuah mobil sedan mengambang bersiap menunggu di sana.

Menaiki mobil sedan terbang. Jenis mobil terbang sihir terbaru. Baru ada beberapa, tapi tak sebagus pesawat atau helikopter. Bisa melesat 100 kilometer per jam. Ada empat kursi di dalam, dengan desain sport car moderen. Berwarna putih mengkilap. Aku mengambil setir. Memang sudah tugasnya seorang pengawal pribadi untuk bisa melakukan segala hal. Termasuk menjadi supir. Biasanya aku yang meminta seseorang menjadi supir, kali ini nasib berbalik.

Luxia duduk di belakang, kursi penumpang. Berbagai interior spesial seperti anggur dan gelas tersedia. Dalam mobil ini sangat terkesan luxury. Terlihat elegan. Dengan teknologi mutakhir, mudah saja aku mengendarainya. Bahkan ada mode auto pilot seperti pesawat terbang. Mesin dan bahan bakar berasal dari batu sihir. Dicampur teknologi tinggi abad ini.

Benda terbang seperti ini mulai terkenal sejak Luxia menjabat menjadi ketua divisi. Bahkan seluruh teknologi yang ada di abad ini berkat ide cemerlang Luxia. Pasar ekonomi meledak besar karena perkembangan teknologi dan sihir. Sudah mulai banyak benda terbang di penjuru negeri. Terutama di kota-kota besar. Dengan posisinya sebagai ketua divisi, mudah saja menyebarkan prestasinya ke seluruh dataran Cina. Bahkan luar negeri pun mulai tertarik. Betapa jeniusnya gadis jelita satu ini.

Dan sebagian sistem bisnis itu diberikan kepadaku yang tinggal di ibukota. Aku mulai menyentuh dunia bisnis baru dua tahun semenjak Luxia mengangkat ku menjadi shio naga. Banyak keuntungan sekaligus resiko menjadi seorang kepala cabang. Terkhususnya bagiku yang hanya bisa mengandalkan senjata sihir dan azimat yang terbatas. Aku tak bisa menggunakan bakat sihir, namun aku berusaha menutupinya dengan keahlianku. Dengan mempelajari berbagai jenis bela diri dan senjata. Akhirnya, aku berhasil meraih puncak.

Aku belajar bela diri dan senjata di Jepang. Hingga akhirnya mendapatkan salah satu artifak pedang sihir, totsuka no tsurugi, menguasainya, lalu kembali ke Cina. Menjadi Hunter, memburu penyihir yang dahulu membunuh kakakku. Puluhan kepala penyihir dan tujuh kepala Arch Witch ku penggal. Penyihir yang membunuh kakakku belum berhasil ku buru.

Itu membuatku teringat akan malam itu. Malam ketika rasa sedih dicabut dari hatiku.

Malam itu, hujan gerimis membasahi atap, membuat dingin udara. Atap yang terbuat dari kardus mulai rembes, tak kuat menahan hujan. Aku dan kakakku adalah anak jalanan. Kami bertahan hidup di dunia yang kumuh. Tak mengetahui siapa ibu dan ayah. Hanya kakak perempuanku satu-satunya yang ku anggap sebagai keluarga. Dia sangat baik dan peduli. Penyayang dan cantik. Tangguh dan mandiri. Walau ombak hidup terus menghantam kami, kakakku selalu pulang dan membawa makanan untukku. Terkadang terluka parah hanya untuk memberiku, adiknya sesuap nasi. Tapi dia tak pernah menyerah.

Kami tinggal di distrik hiburan. Tempat ini sangat buruk, lebih buruk dari tempat penampungan sampah. Tak usah pedulikan mayat hewan yang membusuk, bahkan mayat manusia kadang terletak di jalanan begitu saja. Kakakku bekerja sebagai penghibur malam. Demi diriku, dia melakukan apa saja. Demi adiknya untuk terus menyambung hidup.

Malam itu, setelah gerimis berhenti, digantikan oleh hujan abu. Langit merah, asap abu mengepul, api berkobar.

Malam itu, distrik hiburan tempatku lahir terbakar hebat. Jeritan orang meraung mengisi orkestra malam. Tak terbilang jumlah mayat yang bergelimpangan. Darah dan daging membanjir. Pemandangan mengerikan.

Di tengah kekacauan itu, ada seseorang berjubah hitam, dengan kulit pucat, berambut hitam panjang, bersimbah darah, dia menatapku dan kakakku. Matanya seperti monster, berwarna merah darah pekat.

Saat itu aku sangat ketakutan. Seluruh tubuhku bergetar. Semuanya mati. Tinggal aku dan kakakku yang masih bernafas. Kami tersesat di tengah jalanan distrik hiburan. Sementara api berkobar hebat, dia—monster yang menyebabkan semua ini terjadi—perlahan berjalan mendekat.

"Jianying cepat kabur!" Kakakku berdiri di depanku. Dia menyuruhku pergi padahal dia juga bergetar ketakutan. Aku diam mematung tidak merespon. Waktu itu aku merasa sudah tidak ada harapan. Jika aku lari hasilnya akan sama saja.

"Cepat Jianying! Lari dari sini! Kamu harus tetap hidup!" Aku didorong keras oleh kakakku hingga terjengkang ke belakang. Menyuruhku berlari. Aku tidak mengerti. Aku masih terdiam.

Orang itu sudah satu langkah di depan kakakku. Mencekiknya. Mengangkatnya.

"La ... Ri ... Jian ... Ying ...."

Kakakku masih berusaha menyuruhku pergi. Tangannya terjulur ke arahku. Wajahnya saat itu ... Dia menangis. Sembari tersenyum untuk terakhir kali.

Krak!

Leher kakakku patah, orang itu lalu melemparkan tubuh kaku kakakku ke tanah. Aku masih terdiam, ini giliranku untuk mati. Tatapanku sudah kosong sedari tadi. Tak peduli air mata mengalir.

Orang seram itu mendekatiku. Kanan-kiri depan-belakangku hanyalah kobaran api. Aku ingin sekali berteriak, lalu kabur sesuai perintah kakakku. Namun, kakiku rasanya seperti terpaku. Aku tidak bisa bergerak. Hanya bisa pasrah.

Mata merah darah pekat itu menatapku. Hanya selangkah jarakku dengannya. Dia terus menatapku. Sepuluh detik ganjil. Orang itu lantas balik kanan. Pergi. Menghilang diantara kobaran api.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi saat itu. Kenapa orang itu tidak membunuhku? Setelah bertahan hidup bagai neraka setiap harinya, distrik terbakar, kakakku dibunuh, semua orang dibunuh, dan aku dibiarkan hidup begitu saja? Apa maksudnya ini?

Benci. Hanya kata itu yang terukir di kepalaku saat itu. Benci. Setelah semua kehilangan nyawa, kenapa hanya aku yang tersisa? Benci. Kenapa aku tidak lari seperti yang kakakku suruh? Benci. Melihat betapa kecil dan lemahnya diriku. Benci. Kepada makhluk itu yang sudah membunuh kakakku.

Aku hanya bisa menangis, memeluk tubuh dingin kakakku di tengah kobaran api yang panas. Tak lama, air hujan kembali berjatuhan. Memadamkan sekitar. Dua jam kemudian para Hunter datang. Tidak ada yang tersisa. Hanya abu. Dan diriku yang kehabisan air mata.

Sejak saat itu aku berlatih dan berlatih, memaksa tubuhku melewati batas. Memburu, memburu, dan memburu. Akan kubunuh penyihir itu walau harus mencarinya hingga ujung dunia.

Dendam itu tak terlupakan. Namun, saat ini aku mempunyai banyak tugas. Aku harus mengutamakan kesetiaan daripada dendam itu.

***

Setelah delapan jam perjalanan, kota Shenzhen menyala terang dari kejauhan. Kami sudah tiba. Kota yang asalnya desa nelayan itu menjadi kota metropolitan megah dengan berbagai bidang bisnis menjamur di dalamnya. Bahkan malam hari tempat itu masih berdenyut kehidupan kota.

"Kita telah tiba Nona. Nona ingin kita mendarat dimana?"

"Keluarga Tao. Kita mendarat di sana."

"Hâo." Aku membelokkan setir, menginjak pedal gas. Destinasi sudah dekat.

Sepuluh menit berlalu. Kami sampai. Mendarat di depan bangunan tinggi dengan arsitektur cina yang khas. Kediaman keluarga Tao, keluarga ahli pedang kuno di seantero Cina.

"Selamat datang, Nona Luxia, Tuan Jianying. Sungguh sebuah kehormatan bagi saya Nona berkunjung ke kediaman sederhana ini." Yuze Tao, shio babi, pemimpin kota ini membungkuk. Memberi hormat secara langsung. "Mari Nona, Tuan, kita berbicara sembari menikmati teh di dalam." Yuze menuntun kami ke kediamannya.

Pria berbangsa Cina, dengan rambut hitam panjang sebahu, dan jubahnya yang panjang mencerminkan sekali kekhasan keluarga Tao. Keluarga Tao dikenal sebagai pengguna pedang sihir terhebat. Sejak dari dinasti Qin, keluarga Tao sudah aktif sebagai ahli pedang kerajaan. Alhasil, banyak koleksi senjata sihir dari daratan Cina keluarga Tao simpan. Kediaman ini sudah seperti museum pedang sihir. Berbagai senjata sihir yang bernilai sejarah terpajang di dinding. Menunjukkan betapa berkuasanya keluarga ini. Sepertinya seekor semut pun tidak akan berani lewat ke dalam sini.

Aku pernah membaca sebuah buku mengenai pedang-pedang sihir menakjubkan ini. Ada dua puluh satu pedang sihir khusus yang digunakan oleh Kaisar Qin Shi Huang dulu untuk menyegel seorang raja Arch Witch. Dua puluh satu pedang sihir bersama dua puluh penggunanya berperang hebat tiga hari tiga malam tanpa henti melawan raja Arch Witch. Saking kuatnya penyihir itu, Qin Shi Huang memutuskan untuk menjebaknya dan membuatnya tersegel selama-lamanya.

Dan sepertinya salah satu pengguna pedang sihir itu adalah leluhurnya keluarga Tao.

Menaiki lift, kami sampai di lantai teratas. Terbentang pemandangan malam kota metropolitan yang indah nan megah. Meja dan kursi kayu sudah disiapkan. Di atasnya berbagai kudapan khas dan teko teh sudah siap. Yuze mempersilahkan kami duduk.

"Apa Nona butuh hidangan yang lain?"

Luxia menggeleng pelan. "Ini sudah cukup, Yuze. Terima kasih."

"Bagaimana dengan Tuan?"

Aku menggeleng singkat. Tidak.

Yuze mengangguk. "Nona kemari untuk meminta pedang sihir yang bagus untuk Tuan Jianying bukan? Seorang pria harus memiliki taring yang bagus untuk mencabik musuh."

Luxia tersenyum. "Ara~Keluarga Yuze memang perhatian. Apa ada taring yang cukup bagus untuk Manajer Jianying? Pedang sihirnya yang dulu patah saat Zhàn Dòu kemarin." Luxia menjelaskan maksud kedatangan.

Yuze tertawa pelan. "Dengan senang hati kami meminjamkan semua senjata yang ada di sini. Pedang sihir jenis apa yang dibutuhkan Tuan Jianying?"

"Pedang yang ringan dan tajam. Dengan atribut sihir yang tidak terlalu berat."

"Kami mungkin punya ... Tapi, sebelum itu mari kita santai sejenak. Silahkan dicicipi teh dan jiaozunya."

Luxia mengambil cangkir hangat di depannya. Menyeruput. Aku hanya diam.

"Silahkan Tuan Jianying. Tak perlu sungkan."

Satu teguk, itu sudah cukup. Aku di sini untuk menjaga Nona Luxia. Bukan ikut menikmati jamuan.

Yuze mengerti maksud raut wajahku. Membiarkan.

"Omong-omong, apa kabar anak bermata hijau itu?" Yuze mencomot topik.

"Dia bersekolah di akademi. Aku ingin mengenalkan dunia sihir lebih dalam lagi padanya." Luxia yang menjawab. Sesekali menegak teh.

"Wah, dengan bakat bela diri dan sihirnya yang unik. Anak itu bahkan bisa menjadi penerus ketua divisi nantinya. Jika tak keberatan, apakah Nona berkenan untuk membuatnya belajar di sini? Saya bisa mengajari beberapa keahlian berpedang padanya." Yuze menawarkan diri. Luxia menggeleng hormat.

"Maaf menolaknya, Yuze Tao. Saat ini Manajer Jianying sudah menjadi pengajar kelasnya di sana." Yuze menatap Jianying lamat-lamat. Raut wajahnya tak bisa disembunyikan. Dia kecewa tidak dapat melatih Sizhu.

"Itu sangat disayangkan. Tentu saja Tuan Jianying lebih baik dari saya. Sebuah kehormatan bagi saya untuk bisa membantu anak berbakat itu tumbuh."

"Ara~Apa Yuze benar-benar ingin mengajarnya? Aku bisa meminta rektor akademi untuk menjadikanmu sebagai pengajar di sana."

Yuze tertawa kecil. "Saya dengan senang hati menerimanya. Namun, saya memiliki banyak urusan kota dan agensi di sini. Akhir-akhir ini sebuah bayangan sedang bergerak dalam senyap. Saya tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika saya tidak ada di sini." Menolak dengan halus. Luxia mengangguk paham.

"Bayangan?" Luxia bertanya memastikan. Aku paham apa yang dimaksud 'bayangan' oleh Yuze.

Sebuah kelompok pengintai yang diam-diam bergerak mengawasi para Hunter di negeri ini. Mereka bergerak dalam kegelapan. Perlahan seperti sedang menunggu kesempatan. Aku tidak tahu siapakah dan apa 'bayangan' itu. Namun, satu hal yang jelas. Mereka tidak memiliki niat baik untuk diam-diam mengintai. Karena terkadang di kotaku sendiri, aku sering menemukan laporan aneh itu. Mungkin suatu kelompok atau organisasi bawah tanah. Entahlah.

"Ya. Sebenarnya sudah puluhan tahun, kediaman ini diserang oleh kelompok tak dikenal. Dalam beberapa kasus, mereka mengaku diri mereka sebagai orang gila. Atau hanya maling amatiran yang mencoba mencuri pedang sihir yang ada di sini. Terutama dua puluh satu pedang sihir itu. Mereka seperti mengincarnya."

"Itu buruk sekali. Apa mereka manusia?" Luxia bertanya untuk memastikan.

Yuze mengangguk. "Benar, mereka adalah manusia. Namun, tampaknya mereka beraksi dalam organisasi dunia bawah tanah yang rapih. Mereka memiliki tato khas dalam tubuh mereka—."

"Rune, tato rune bergambar salib terbalik. Bukan begitu?" Aku memotong kalimat Yuze. Dari wajahnya yang terkejut, sepertinya aku benar.

"Benar sekali Tuan Jianying. Tampaknya mereka juga menyerang kotamu Tuan Jianying?"

Aku menggeleng. "Tidak, hanya beberapa kasus aku pernah menemui beberapa tempat persembunyian penyihir dalam kota. Ada tanda salib terbalik saat aku menyelesaikan kasus penyihir yang bersembunyi dalam kotaku itu. Dibuat oleh merah darah, seakan mencoba memberi pesan teror kepada ku dan Hunter yang ada di dataran Cina."

"Masalah ini sepertinya semakin serius. Kita seharusnya mengadakan rapat para kepala cabang jika ada masalah demikian. Agar tidak ada hal yang tidak diinginkan terjadi karena para 'bayangan' itu." Luxia mengambil keputusan setelah mendengar penjelasan kasus misteri tersebut. Aku dan Yuze mengangguk setuju.

"Haha, daripada membicarakan hal itu, mari kita nikmati sejenak hidangan jiaozi khas dari kota ku. Rasanya akan kurang enak jika sudah dingin. Mari." Yuze mengangkat tehnya, menyeruput beberapa teguk. Demi menghormati tuan rumah, aku dan Luxia juga turut menyesap teh hangat itu. Melupakan sejenak percakapan misterius barusan.

Tepat sekali kami sedang bercakap-cakap santai sembari menikmati teh. 'bayangan' gelap itu meluncurkan rencananya.

Aku melihat ke jendela luar. Ada sesuatu sedang mendekat. Semakin lama semakin besar. Itu sebuah helikopter.

Dengan kecepatan tinggi, helikopter itu nekat menuju ke arah kami.

"BERLINDUNG!"

BUM! DUAR!

Asap hitam menjamur di lantai teratas. Jerit sahut menyahut memberi peringatan terdengar. Disertai suara jeritan kesakitan, aku tak tahu apa yang sedang terjadi di bawah sana.

"Ohok ... Ohok ... Apa Nona dan Tuan baik-baik saja?" Yuze sempat memasang pelindung tingkat tinggi. Namun, dampak ledakan tadi tak bisa dia redam. Hasilnya badan terpental mengenai dinding sebelum pelindung terpasang sempurna. Kepalanya terbentur keras. Mengalir darah deras.

Aku segera memasang punggung dan mengeluarkan jimat pelindung untuk Luxia sebelum terkena hantaman tadi. Pelindungku pecah karena ledakan, punggungku tergores kaca dan puing bangunan. Helikopter tadi tidak mengarah tepat pada kami. Meledak tepat di ruangan di samping kami.

Luxia segera merapal mantra penyembuh untuk kami berdua.

Lantai teratas itu terbakar. Pijakan kami sangat rentan untuk jatuh. Di sebelah kiriku, helikopter terbakar hebat. Dengan satu pengendaranya hangus tercerai-berai akibat ledakan. Pelayan yang menunggu di samping Yuze pun terkena imbasnya. Mati terkena ledakan.

"Kita harus bergerak Yuze!"

Kami mulai bergerak, berlari menuju lift. Sayang, sepertinya karena ledakan tadi listrik menjadi padam. Kami memutuskan menuruni tangga. Sedikit gelap karena tidak ada penerangan yang menyala.

"Ranum." Yuze membuat bola cahaya mengambang di atas kami. Menelepon anak buahnya yang ada di bawah. Nihil, tidak ada jawaban. Apa yang terjadi?

Di bawah sana pertarungan sengit meletus. Anak buah Yuze bertarung habis-habisan melawan orang-orang berbaju hitam. Pedang dan senjata api melontar. Jerit parau terdengar keras.

Ini keadaan darurat. Kami terburu-buru menuruni tangga. Aku mengeluarkan pistol untuk berjaga-jaga.

Pertengahan lantai gedung, orang-orang berbaju hitam ketat itu mulai bermunculan. Mereka ganas merangsek maju. Yuze di depan menghunus pedang, lantas menebas cepat dua kepala. Aku menembaki yang di belakang. Dor! Dor! Tepat di kepala. Dua tersungkur.

"Mereka di atas! Cepat bunuh mereka!"

Pertarungan segera meletus. Dentang pedang bersahutan. Yuze lihai melekuk menebas cepat orang-orang berbaju hitam menjadi dua. Berseru menakuti lawan.

Aku menembaki orang-orang yang merangsek mencoba membunuh Luxia. Tidak meleset satu peluru pun. Dua puluh detik, dua puluh mayat bergelimpangan. Lantai penuh dengan darah.

"Gunakan jurus hitam! Bunuh mereka! Jangan sisakan satu pun di gedung ini!"

Orang-orang berbaju hitam tak ada habisnya menerjang. Kali ini tidak mudah. Mereka menggunakan suatu penangkal. Peluru biasa tak mempan. Seakan ada medan magnet yang tak terlihat membuat peluru pistolku berhenti tepat sebelum mengenai kulit musuh. Begitu juga pedang. Untungnya Yuze menggunakan pedang sihir. Dia fokus, balas mengeluarkan jurus.

"Teknik pedang Tao; 河神之舞; (Tarian Dewa Sungai.)"

Pedang Yuze mengeluarkan aliran air. Lantas Yuze menari diantara aliran tebasan yang mengalir seperti sungai. Menebas badan delapan orang dalam sekejap. Terbelah dua oleh tarian pedang Yuze yang indah. Habis.

"Cepat! Kita harus segera pergi dari sini!" Yuze menuntun, bergegas menuruni tangga.

"Mereka mencuri semua pedang sihir yang ada di sini." Aku melihat dinding yang di penuhi oleh puluhan pedang tadi. Kosong. Tidak ada yang tersisa. Yuze mengepalkan tangan keras. Setenang-tenangnya dia. Dia juga bisa marah.

"Para bajingan itu! Mereka mengincar pusaka pedang sihir ternyata!"

BUM!

Lantai bergetar. Bangunan yang kami pijak seperti akan runtuh.

"Kita harus segera keluar dari sini!" teriakku, menyadarkan Yuze yang terdiam kesal. Kami kembali berlari ke lantai dasar. Tepat satu langkah kami di luar ...

BUM! BUM! BUM!

Ledakan bertubi-tubi meledakkan seisi bangunan. Runtuh seperti istana pasir.

Sebelum terhempas, aku mengeluarkan kertas jimat. Berseru cepat.

"AXEL!"

Pelindung tipis seperti bola melindungi kami dari hantaman hempasan. Aku sedari tadi melindungi tubuh Luxia agar tidak terluka. Memeluknya erat. Kami terhempas beberapa puluh meter, mendarat keras di jalanan high way. Kediaman Yuze luruh seperti pasir. Menyisakan kepulan dan kobaran asap hitam.

***

1
Story
Kok jadi POV 1🤔
Story
yang benar harusnya bergeming. 🤔
Ayanagi Souma: bergeming = tidak bergetar atau bergerak kecil

tak bergeming = bergerak atau bergetar kecil

source dari gugel
total 1 replies
🇮  🇸 💕_𝓓𝓯𝓮ྀ࿐
gak nyangka baca sampai sini😅
Ayanagi Souma: terima kasih sudah membaca, semoga terhibur~
total 1 replies
Filan
udah jasad masih bisa mati juga hehe
Filan
jangan2 ga ada yg baca pesan dia wkwkwk...
Filan
emang bawa2 HP terus semua orang? Ada waktu ngetik daripada ngomong?
Ayanagi Souma: ponsel si Kai punya fitur voice changer, jadi ketikan dia bisa bersuara
total 1 replies
erlis nia★🎀
bagus bang..jngn lupa mampir yeah
Ceritera ini mirip-mirip sama inuyasa, ya gak sih?
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
apakah serigala nya kuat
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
kayak tulisan jepang bagus/Facepalm/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
hadir bang.bagus novel nya
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
bahasa Korea ya/Doubt/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
ngeri nya
Ayanagi Souma
Sizhu kan orang tampan dan pendiam😁👍
Filan
Dan bagaimana bisa dia terlihat ga kesakitan?
Filan: iya sih
total 2 replies
Filan
Dalam keadaan seperti itu bagaimana bisa ttp datar? /Sweat/
leasiee~。
hai kak aku mampir... yukk mampir juga di novel' ku jika berkenan 😊
Dian
Lanjut thor semangat 💪🏻
off
jadi apa yang dimaksudnya Aamon?
off
wkwkwkw kayak merasa deg deg degan lagi
/Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!