NovelToon NovelToon
Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Mafia / Nikahmuda / Bullying dan Balas Dendam / Menikah Karena Anak / Tamat
Popularitas:19.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nabila Ahmad

Sinopsis:

Dalam sinopsis ini, kita mengikuti kisah Azura yang tidak sengaja menemukan dirinya berhadapan dengan Ahmed Bin Yasir, seorang aktivis keturunan Mesir yang melarikan diri dari penjara Alcatraz di San Francisco. Meskipun Azura awalnya ketakutan, dia memutuskan untuk menggunakan akalnya untuk menghadapi Ahmed. Sementara itu, pihak berwenang sedang melakukan pencarian di seluruh daerah untuk menemukan pelarian tersebut.

Azura menyadari bahwa melawan Ahmed adalah mustahil, jadi dia mencoba untuk tetap tenang dan menunggu kesempatan untuk melarikan diri. Dia berusaha bekerja sama dengan Ahmed, berharap bahwa dia tidak akan menyakitinya. Namun, Azura tetap waspada dan mencari peluang untuk melarikan diri.

Dalam perjalanan ini, kita melihat ketegangan antara Azura dan Ahmed yang terus berlanjut. Azura berusaha menjaga keselamatan dirinya sambil mencari cara untuk menghadapi situasi ini. Dia juga berusaha mencari tahu bagaimana Ahmed bisa sampai ke tempatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabila Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 15

“Sebab itu bertentangan dengan peraturan,” sahut Dixon dengan tenang.

“Persetan dengan peraturan,” kata Rodriguez dengan marah.

“Itu peraturan konyol. Apa orang-­orang yang

mengelola tempat ini tidak menyadari betapa berartinya perlakuan baik bagi seorang napi? Perlakuan yang bisa mengembalikan sedikit harga dirinya?” Sekarang Rodriguez mencondongkan tubuh di depan meja, sikapnya penuh ancaman.

“Duduk, Mr. Rodriguez,” kata Dixon dengan tegas.

agar si napi tahu bahwa sikapnya sudah keterlaluan. Setelah beradu pandang beberapa saat dengan sang

kepala penjara, Rodriguez kembali duduk. Wajah tampannya masam.

“Kau seorang pengacara,” kata Dixon.

“Kurasa kau menyadari betapa ringan tambahan hukuman yang kauperoleh kali ini.” Setelah mengenakan kacamata bacanya yang keperakan, Dixon membaca laporan yang

terletak di mejanya.

“Ada seorang wanita muda. Miss Azura.” Ia menatap Rodriguez dari atas tepi kacamatanya.

Kalimatnya mengandung tanda tanya.

Rodriguez tidak menjawab, cuma balas menatap

Dixon tanpa ekspresi. Dixon kembali kepada laporan di hadapannya.

“Aneh juga, dia tidak membuat tuntutan

apa pun terhadapmu.” Rodriguez masih tetap diam meski sebenarnya ia agak kaget.

Akhirnya Dixon menutup arsip tersebut dan membuka kacamatanya.

“Kau boleh kembali ke selmu yang biasa, Mr. Rodriguez. Sekian saja pembicaraan kita.” Rodriguez berdiri dan beranjak ke pintu.

Ketika ia sudah memutar kenop pintu, Dixon menahannya.

“Mr. Rodriguez, apa kau bertanggung jawab secara pribadi atas serangan terhadap para polisi selama keributan itu?

Apa kau memerintahkan pengrusakan atas kantor-kantor pemerintah?”

“Aku mengorganisir demonstrasi itu. Hakim dan dewan juri memutuskan aku bersalah,” sahut Rodriguez tegas, lalu membuka pintu dan keluar.

Lama Dixon memandangi pintu itu setelah Rodriguez keluar. Ia tahu kalau orang yang bersalah mencoba berbohong. Ia juga tahu apakah seseorang tidak bersalah. Setelah membaca ulang arsip tentang Rodriguez ia membuat keputusan dan mengangkat telepon.

Saat digiring kembali ke selnya, jantung Rodriguez berdebar kencang, meski di luar ia tetap tampak tenang. Tadi, ketika dipanggil, ia mengira akan diberitahu bahwa ia menghadapi tuntutan telah masuk ke rumah

orang secara ilegal, telah menganiaya, menculik, dan entah tuduhan apa lagi. Ia takut akan diadili lagi untuk kasus lain. Ibunya pasti akan sangat malu dan sedih kalau itu

terjadi. Namun, ia sangat terkejut ketika diberitahu hanya dijatuhi hukuman tambahan enam bulan.

Ia akan sangat sibuk selama waktu itu. Pada saat ini, meja kecil di selnya pasti sudah penuh dengan surat­-surat dari orang yang

mencari bantuan hukum. Ia takkan bisa memungut bayaran dari mereka. Ia takkan pernah bisa melakukan praktik hukum secara resmi kembali. Tapi ia bisa menawarkan nasihat hukum secara gratis. Di kalangan Indian, nama Rodriguez melambangkan secercah harapan. Ia tidak akan menolak siapa pun yang meminta bantuannya.

Tapi kenapa Azura tidak mengajukan

tuntutan apa pun terhadapnya? Pihak negara bagian dan kepolisian federal pasti berusaha menciptakan kasus untuk melawannya. Namun, tanpa kesaksian Azura,

mereka tidak akan bisa membuktikan bahwa ia telah melakukan tindakan kriminalitas lain selain kabur dari penjara. Kenapa perempuan itu tidak bekerja sama dengan mereka?

Rodriguez tak suka berutang budi pada siapa

pun, tapi ia merasa wajib mengucapkan terima kasih kepada Azura.

Azura keluar dari kamar dan menutup pintunya perlahan­-lahan. bel pintu berbunyi untuk kedua kalinya. Ia bergegas ke lorong untuk membuka pintu. Dengan

tergesa­-gesa dirapikannya helai­-helai rambut yang lepas dari ekor kudanya. Ia berkaca sebentar di cermin lorong. Setidaknya penampilannya cukup rapi. Ia tersenyum

kecil penuh harap saat membuka pintu.

Tapi senyumnya langsung membeku begitu melihat siapa yang datang. Matanya terbelalak dan ia bersandar

di pintu untuk menahan tubuhnya. Sesaat ia mengira akan pingsan.

“Mau apa kau kemari?”

“Apa aku membuatmu takut lagi?”

“Apa kau sudah… bebas?”

“Ya.”

“Kapan?”

“Hari ini. Aku keluar sebagai orang bebas.”

“Selamat.”

“Terima kasih.” Percakapan ini sungguh konyol.

Tapi Azura merasa sikapnya cukup tenang, meski sebenarnya ia sangat terguncang. Ia tidak pingsan melihat Rodriguez. Ia berhasil menjaga tubuhnya tetap berdiri dengan bantuan pintu itu, meski telapak tangannya basah oleh keringat. Mulutnya terasa kering, tapi ia masih sanggup berbicara. Mengingat apa yang dirasakannya saat ini, sikap luarnya patut diacungi jempol.

“boleh aku masuk?” Azura mengangkat satu tangan ke leher.

“Ku… kurasa itu bukan gagasan bagus.” Rodriguez mau masuk ke rumahnya? Astaga! Tidak!Rodriguez menunduk memandangi sepatu botnya sejenak, lalu kembali menatap Azura dengan sepasang mata kelabunya yang memikat.

“Penting. Kalau tidak, aku tidak akan datang kemari.”

“Aku…”

“Aku tidak akan lama. Tolonglah.” Azura memandang sekitarnya dengan gugup, tapi tak mau menatap wajah lelaki itu.

Perlu tekad yang sangat kuat untuk tetap bertahan berdiri di situ. Ada nada permohonan dalam suara Rodriguez, bercampur tekad baja yang menjadi ciri khas turun­;temurun bangsa Indian.

Akhirnya Azura mengangguk dan menepi memberi jalan. Rodriguez masuk dan Azura menutup pintu. Lorong masuk itu seakan menyusut di sekeliling mereka. baru beberapa saat lelaki ini berada bersamanya,

tapi Azura sudah merasa sulit bernapas.

“Mau minum?” tanya Azura dengan suara serak.

Bilang tidak, bilang tidak.

“Mau. Ini perhentian pertamaku.” Azura hampir tersandung ketika berjalan ke dapur.

Kenapa dia kemari? Kenapa rumah ini dijadikan tempat perhentian pertamanya? Dengan tangan gemetar Azura mengambil gelas di lemari.

“Minuman ringan mau?” tanyanya.

“boleh.” Azura mengambil sekaleng soda dari kulkas dan membukanya.

Isi kaleng tumpah sedikit ke tangannya.

Ia menyambar lap dengan gugup membersihkan tangannya serta bagian atas meja. Tangannya terasa canggung ketika membuka freezer dan mengambil es batu. Setelah menuang soda ke dalam gelas dan menambahkan es batu ke dalamnya, ia membalikkan tubuh… dan terkejut melihat matanya menatap tepat ke dada lelaki itu.

Rodriguez masih berdiri di situ.

“Maaf. Silakan duduk.” Ia mengangguk ke arah meja.

Rodriguez menarik kursi dan duduk. Dengan ucapan terima kasih yang kaku, ia menerima minuman dingin tersebut. Matanya melayang ke sekeliling dapur, berhenti di rak pisau, lalu perlahan­-lahan kembali kepada Azura.

“Aku tidak berniat melukaimu dengan pisau

itu.”

“Aku tahu.” Sebelum lututnya tertekuk lemas,

Azura cepat­-cepat duduk di seberang lelaki itu, dibatasi meja.

“Maksudku, sekarang aku tahu. Waktu itu

aku takut setengah mati.”

“Kau memperlihatkan keberanian yang luar biasa.”

“Masa?”

“begitulah menurutku. Tapi itu pertama kalinya aku menyandera orang.”

“Itu juga pertama kalinya aku disandera.”

Mestinya mereka sama­-sama tersenyum.

Tapi itu tidak mereka lakukan. “Apa rambutmu sudah tumbuh lagi?”

“Apa?”

“Rambutmu. Ingat, tidak? Aku memotong rambut-mu segumpal.”

“Oh, ya,” sahut Azura.

Tanpa sadar tangannya me-

megang helai­-helai rambutnya yang lebih pendek

. “Sudah memanjang lagi. Hampir tidak kentara lagi sekarang.”

“bagus.” Rodriguez menghirup minumannya.

Azura mengatupkan kedua tangan dan meletakkannya di antara paha; lengannya terasa kaku, begitu pula dadanya, seperti akan kena serangan jantung. Ia takut pingsan karena sesak napas. bisakah ia menahan ketegangannya lebih lama lagi tanpa kehilangan kendali diri? Karena keheningan ini

sangat tak tertahankan, ia bertanya,

“Kau sudah pulang menemui ibumu?” Rodriguez menggeleng.

“Aku sudah bilang tadi, ini perhentian pertamaku.” Dia sama sekali belum menemui ibunya? Jangan panik dulu, Azura.

“bagaimana kau bisa sampai kemari?”

“Ibuku dan Gene datang ke penjara minggu lalu. Gene meninggalkan trukku di sana.”

“Oh.” Azura menggosokkan telapak tangan yang berkeringat di paha, tapi tangannya terasa dingin dan jari-­jari kakinya yang telanjang bagai tidak dialiri darah.

“Kenapa kau kemari?”

“Untuk mengucapkan terima kasih padamu.”

Azura menatapnya terperanjat. Tatapan tajam lelaki itu membuat isi perutnya jumpalitan.

“Mengucapkan terima kasih?”

“Kenapa kau tidak mengajukan tuntutan terhadapku?” Azura mengembuskan napasnya yang tertahan.

Jadi, dia cuma ingin tahu itu?

“Sherif dan semua polisi yang datang untuk menangkapmu itu sama sekali tidak tahu

tentang aku.” Ia menguraikan segala peristiwa sesudah penangkapan terhadap Rodriguez.

“Sesudah mereka membawamu pergi, baru ada yang melihat aku menuruni gunung itu.”

Sesaat mata mereka bertemu, masing-­masing teringat apa yang pernah terjadi di puncak gunung tersebut.

Azura cepat­-cepat berbicara lagi, “Mereka… menanyakan siapa aku dan apa yang kulakukan di sana bersamamu.” Azura tersipu, teringat betapa bingungnya ia waktu itu

dan terus bertanya­-tanya apakah orang-orang yang menginterogasinya bisa menebak bahwa sebelumnya ia dan Rodriguez baru saja bercinta. Rambutnya berantakan, bibirnya masih terasa bengkak karena ciuman, dan payudaranya masih terasa tergelitik,

sementara pahanya…

“Kau bilang apa?”

“Aku berbohong. Kukatakan pada mereka bahwa aku bertemu denganmu di jalan, lalu memberimu tumpangan. Aku menyangkal mengetahui bahwa kau adalah napi pelarian. Kukatakan aku setuju memberimu tumpangan ke rumah kakekmu karena dia sakit parah dan

aku kasihan padamu.”

“Mereka percaya ceritamu?”

“Kurasa begitulah.”

“Kau bisa ikut terkena getahnya.”

“Kenyataannya tidak.”

“Sebenarnya kau bisa mengajukan banyak tuntutan terhadapku, Azura.” Keduanya sama­sama terkejut mendengar nama Azura disebutkan.

Mata mereka bertemu sesaat. “Kenapa kau tidak menceritakan yang sebenarnya?”

“Untuk apa?” tanya Azura. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan gelisah di seputar dapur.

“Aku sudah selamat. Kau toh akan dipenjara lagi.”

“Tapi aku sudah… menyakitimu.”

Keduanya sama-­sama mengerti apa yang tersirat dalam pernyataan halus itu.

Mereka menyadari bahwa Azura bisa saja mengajukan tuduhan pemerkosaan terhadap Rodriguez, dan lelaki itu mungkin akan dijatuhi hukuman lagi. Rodriguez tidak akan bisa menyangkal. Siapa yang mau percaya padanya?

“Luka di lenganku tidak parah. Lagi pula, itu bukan kesalahanmu.” Keduanya tahu bahwa yang dimaksud Rodriguez bukanlah luka di lengan itu, tapi lebih aman kalau mereka pura-­pura tidak tahu.

“Kurasa para pejabat penjara salah besar tidak mengizinkanmu menemui kakekmu. Menurut pendapatku, pelarianmu bisa dibenarkan. Tidak ada yang terluka akibat peristiwa itu. Tidak ada yang serius.”

“Tidak ada yang mencari­-carimu?” Dengan sangat berat Azura memberikan jawaban & sejujurnya.

“Tidak.” Ia langsung pulang begitu pihak

berwenang melepaskannya.

Cara Tidak ada kru media massa di ngarai itu, ketika Rodriguez ditangkap, jadi tidak ada

yang tahu tentang keterlibatan Azura.

“bagaimana dengan para rekan kerjamu?” tanya Rodriguez.

“Rekan kerja apa?”

“Katamu, mereka akan mencarimu.”

“Paling aman kalau aku bilang begitu.”

“Oh,” kata Rodriguez sambil menggeleng dengan kesal.

“Jadi, sebenarnya kau tidak punya rekan kerja.”

“Waktu itu tidak. Tapi sekarang aku punya dua

karyawan.”

Rodriguez tersenyum lebar. “Jangan khawatir. Kali ini aku tidak berniat mengancammu dengan pisau.” Azura balas tersenyum, terpesona dengan ketampan an lelaki itu.

Setelah rasa kagetnya hilang, ia bisa memperhatikan wajah lelaki itu dengan saksama, untuk pertama kalinya. Rambut depan Rodriguez agak pendek, namun bagian belakangnya masih tetap panjang, sampai

menyentuh kerah kemejanya. Kulitnya tetap kecokelatan, sama sekali tidak menunjukkan warna pucat bekas dipenjara.

Kalau Azura bertanya kenapa kulitnya bisa

tetap cokelat, Rodriguez bisa menjelaskan bahwa setiap hari ia lari di pekarangan penjara, mengitarinya berkali-kali sampai menempuh keseluruhan jarak yang sudah ditetapkannya sendiri. Itu sebabnya fisiknya tetap prima.

Cuping telinga kanannya masih tetap dihiasi anting-anting perak. Liontin salib itu juga masih tampak di antara bulu dadanya yang hitam, yang mengintip dari balik kemejanya. Ibunya dan Gene pasti membawakan

pakaian baru untuknya. Kemeja dan jeans yang dipakainya tampak baru. Hanya sepatu bot dan ikat pinggang berhiaskan batu­batuan itu saja yang sama dengan yang

pernah dilihat Azura.

“Yah,” kata Rodriguez sambil berdiri dari kursinya.

“aku sudah janji tidak akan lama. Aku cuma ingin mengucapkan terima kasih padamu, karena kau tidak membuat segalanya semakin berat bagiku.”

“Tak usah dipikirkan.”

“Semula aku ingin menulis surat, tapi kemudian aku ingin mengucapkan terima kasih secara langsung.” Astaga, akan jauh lebih mudah kalau lelaki ini menuliskan saja ucapan terima kasihnya.

“Aku senang kau sudah bebas.”

“Aku tidak suka berutang budi pada siapa pun,

tapi…”

“Kau tidak berutang budi padaku. Aku melakukan apa yang menurutku benar, seperti kau juga.”

“Tapi aku tetap ingin mengucapkan terima kasih.”

“Sama-­sama,” kata Azura, yang berharap percakapan mereka selesai sampai di sini.

Ia mendahului keluar ke lorong masuk.

Sejak awal, Rodriguez takut menghadapi pertemuan ini, karena tak bisa menebak seperti apa reaksi Azura kalau melihatnya. Mungkin saja Azura langsung lari

menjerit­-jerit begitu membuka pintu dan melihatnya.

Dulu, ketika memilih rumah Azura untuk dimasuki, Rodriguez sedang dalam keadaan terjepit. Ia mesti memperoleh makanan dan tempat perlindungan selama beberapa jam. Orang yang putus asa akan melakukan

hal­-hal yang di luar kebiasaannya. Misalnya dengan menyandera seorang perempuan kulit putih, seperti yang dilakukannya. Sampai sekarang ia masih belum percaya bahwa Azura tidak menuntutnya atas perbuatannya itu. Tapi sekarang, setelah melaksanakan niatnya untuk mengucapkan terima kasih, ia merasa enggan untuk pergi.

Aneh. Semula ia mengira setelah niatnya terlaksana, ia akan meninggalkan Azura dengan hati ringan, untuk selamanya, dan menutup halaman kehidupannya yang satu itu.

Tapi dengan berat hati ia mesti mengakui bahwa selama dipenjara, ia terus memikirkan wanita itu. Sudah berbulan-­bulan berlalu sejak pagi di puncak gunung itu, saat Azura menyerahkan diri padanya. Sampai sekarang ia masih sulit untuk percaya bahwa peristiwa itu benar­-benar terjadi. Sebelum kabur dari penjara, ia menginginkan wanita. Wanita mana pun.Tapi sesudah pelariannya, hasratnya tertuju pada

sosok dengan nama tertentu, nada suara tertentu, aroma tubuh tertentu. Sosok Azura. bermalam-­malam, saat berbaring sendirian di dipan penjara yang sempit, ia

berusaha meyakinkan diri bahwa wanita itu tidak nyata, dan bahwa semua itu hanya khayalannya belaka.

1
Utayiresna🌷
Aku mampir author, semangat NULISssssss nya😘
eneng eneng
akhirnya Azura sudah ada cinta/Smile/
Verr Dull
gila, kek di acak2 hati baca ini
keren bgt😭
Verr Dull: ada tayang di apk lain ga kak?
demi ya tidur g nyenyak
di oren nyari2 g ada juga😭
suka bgt❤❤❤
total 2 replies
Verr Dull
serius tamat begini?😭
Jibut Axis
/Drool/nice
Jibut Axis
nice, lanjutkan berkarya
Jibut Axis
lanjut Thor
Jibut Axis
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!