Soraya harus merasakan sakit yang luar biasa ketika mengetahui Mario yang tak lain calon suaminya menghamili wanita lain, padahal dia juga sedang mengandung anak Mario.
Soraya tidak punya alasan untuk mempertahankan hubungannya dengan Mario, dia memilih untuk melepaskan Mario dan menyuruh Mario untuk bertanggung jawab pada wanita itu.
Mario tentu tidak terima, karena dia tidur dengan wanita itu tanpa sengaja, dan dia kekeh ingin menikahi Soraya, tapi Soraya juga kekeh menolak.
karena tidak ingin Mario mengejar-ngejarnya lagi Soraya, nekad menikahi pria bayaran yang sudah memiliki kekasih, tentu saja Soraya melakukan ini demi status dari anak yang di kandung karena Mario belum tau bahwa dia mengandung dan selama bertahun-tahun pula, Soraya berhasil menyembunyikan fakta, bahwa anak yang dulu dia kandung adalah anak Mario.
Dan karena masih dendam dengan keputusan Soraya, Mario terus mengganggu Soraya dan menyakiti anak Soraya, yang juga tanpa dia sadari adalah anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Soraya
Keesokan harinya
'Soraya berdiri di depan ruangan Mario, wajah Soraya benar-benar terlihat sangat kacau, bagaimana tidak saat ini dia sedang merasakan kalut yang luar biasa.
Semua dana di retas termasuk dana pribadi Soraya, hingga kinI Soraya benar-benar jatuh. Dia sudah melapor pada pihak kepolisian, dan setelah melapor, dia langsung menemui Mario dan akan mengatakan yang sesungguhnya, dia akan meminta waktu pada Mario untuk menunda pembangunan, sebab dia harus mencari dana terlebih dahulu.
Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya Soraya mengetuk pintu, dan ketika mendengar sahutan dari dalam, Soraya langsung memutar gagang pintu, kemudian dia pun masuk ke dalam ruangan Mario. Dan dan ketika dia masuk, Mario sedang berada di kursi kerjanya lelaki itu sepertinya sedang fokus mengerjakan pekerjaannya.
"Ada apa?" tanya Mario tanpa menoleh ke arah Soraya, membuat Soraya menggigit bibirnya. Jujur saat ini Soraya sungguh takut berbicara pada Mario.
"Ada apa?" Tanya Mario lagi ketika Soraya tidak menjawab ucapannya. Hingga Soraya pun langsung maju ke arah meja kerja Mario.
"Tu-tuan Mario ..." Pada akhirnya menceritakan semuanya, dari mulai awal sampai akhir, tentang keuangannya yang diretas hingga tentang dia yang ingin menunda pembangunan karena dananya sudah tidak ada.
Brakk
Soraya langsung mundur satu langkah ketika Mario menggebrak meja, bahkan tubuh wanita itu lambung gemetar, dia juga dia tidak berani mengangkat kepalanya.
"Bagaimana mungkin kau seceroboh itu." Mario berteriak dengan keras hingga, Soraya kembali mundur, matanya semakin rapat terpejam karena ketakutan Soraya benar-benar luar biasa, bagaimanapun Mario sudah melunasi semuanya dan sekarang dia malah kehilangan dana itu.
''Aku tidak mau tau, rumah itu akan aku hadiahkan untuk ulang tahun istriku, kita sudah sepakat rumah itu akan selesai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Jika kau tidak bisa membereskan semuanya, tepat waktu maka aku akan membawa permasalahan ini ke jalur hukum." Mario berbicara dengan pelan namun suaranya menggeram pertanda dia masih emosi pada Soraya.
Dan ketika mendengar itu Soraya langsung mengangkat kepalanya, wajah Soraya langsung memucat ketika mendengar Mario akan membawanya ke jalur hukum.
"Tu-tuan Mario." Soraya menatap Mario dengan tatapan memohon, berharap Mario mau memberikan waktu padanya dan mau memperingan semuanya.
"Keluar dari ruanganku. Dan jangan pernah bermain curang denganku, Jika kau berani menunda pembangunan maka aku akan pastikan kau akan mendekam di penjara."
Mario berucap dengan sadis membuat tubuh Soraya benar-benar seperti kehilangan tenaga.
"Ba-baik, Tuan." Soraya berbicara dengan pelan, bahkan saking ketakutannya pada Mario, Soraya sama sekali tidak berani menatap Mario.
Dengan tubuh yang lemas, Soraya pun berbalik lalu keluar dari ruangan Mario.
Ketika sudah berada di mobil, Soraya langsung mengutak-atik ponselnya, kemudian dia berencana menelepon kakaknya, dia akan meminjam uang pada Kalindra, untuk pembangunan rumah Mario dan juga gaji para timnya.
''Hallo, kak!" Panggil Soraya ketika kalindra sudah mengangkat panggilan darinya.
"Ada apa?'' Kalindra membalas ucapan Soraya dengan dingin, sepertinya lelaki itu masih marah pada Soraya karena Soraya enggan pulang untuk melihat ayah mereka.
"Kak, tolong pinjamkan aku uang, keuanganku di retas dan semua uang klien ku hangus, aku tidak tahu harus menggantinya dari mana, Aku berjanji aku akan mengganti uangmu setelah aku mendapatkan proyek baru," jawab Soraya, hanya kakaknya yang bisa membantunya.
Tak lama tubuh Soraya dia mematung ketika mendengar decakan dari seberang sana. "Jika sudah begini kok baru ingat kakak, kau tidak malu meminta tolong pada kakak? bukankah selama ini kau selalu mengatakan mampu mengatasi semuanya, jadi atasi saja semuanya sendiri." kalindra menjawab dengan kesal, dia ingin memberi pelajaran pada Soraya.
''ka-kakak ...'' Soraya memanggil kalindra dengan terbata, dia tidak percaya Kalindra akan mengatakan hal seperti ini.
"Kakak, sibuk. Jangan hubungi kakak lagi." Setelah Mengatakan itu, Kalindra pun langsung mematikan panggilannya, dan tepat ketika panggilan terputus Soraya menangis sejadi-jadinya.
Tak lama, Soraya menghentikan tangisnya, dia berpikir bukan saatnya menangis, dia harus mencari solusi secepatnya. Dan sekarang, dia berencana meminjam uang pada Kaka Joseph, Kaka angkatnya.
Namun, baru saja Soraya akan menelpon Joseph, dia menghentikan niatnya kala mengingat bahwa semua keluarga angkatnya sedang berlibur.
“Tuhan, sekarang aku harus bagaimana.”
Gas komen Kita ga FLEND
Ingat dah kena strok