NovelToon NovelToon
Sesetia Langit Menemani Senja

Sesetia Langit Menemani Senja

Status: tamat
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:180k
Nilai: 4.5
Nama Author: Arrafa Aris

Senja tak pernah menduga, jika di rahimnya bakal hadir dua sosok malaikat kecil akibat pelecehan yang dilakukan Bumi terhadapnya.
Pasca menikah dengan Bumi, Senja seringkali mendapat perlakuan kasar.

Bahkan Bumi tega beberapa kali mencelakai Senja hanya untuk melenyapkan bayi yang dikandungnya.

Di saat Senja tak mendapat kasih sayang dari suaminya, kehadiran Langit sudah cukup menjadi pelipur lara baginya. Namun, kehadiran Langit justru membuat Bumi menjadi cemburu sekaligus takut jika Senja akan jatuh ke pelukan Langit.

“Aku nggak mau kamu menjadi hujan. Tapi langit seperti namamu, Mas. Bak sebuah pepatah, 'Sesetia Langit Menemani Senja'. Langit yang begitu setia menemani senja meski ia nggak selamanya indah.” Senja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrafa Aris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. SLMS

Setelah beberapa jam berada di kediaman Bumi, akhirnya Pak Andara dan Bu Cahaya berpamitan.

“Senja, maafkan papa,” ucap Pak Andara dengan lirih meski tak menjelaskan alasannya.

Senja hanya tersenyum. “Ngapain Papa meminta maaf sedangkan Papa nggak salah apapun. Ya sudah, Papa Mama hati-hati di jalan.”

Begitu mobil mulai meninggalkan perkarangan rumah, Bumi dan Senja ikut berpamitan pada Bik Riri juga Mang Dul.

Di sepanjang perjalanan menuju pusat perbelanjaan, Senja hanya diam dengan pandangan kosong ke depan.

Terus seperti itu sehingga keduanya tiba di tempat tujuan.

Tanpa menunggu Bumi, Senja segera mempercepat langkahnya.

“Senja, tunggu!!” Bumi berlari kecil menyusul Senja. Ia langsung menautkan jemarinya.

“Apa sih?!” Senja berusaha melepas tautan jemari itu.

“Senja, biarkan seperti ini. Percayalah padaku jika saat ini kalian adalah prioritas utama bagiku,” ucap Bumi.

“Prioritas utama untuk menyiksaku juga membu*nuh anakku kan? Begitu kan maksudmu?!” balas Senja dengan perasaan geram lalu menghempas kuat tautan jemari hingga terlepas.

Tanpa menghiraukan Bumi, Senja kembali melanjutkan langkah memasuki pusat perbelanjaan itu.

Sedangkan Bumi terpaku sejenak dengan kepala tertunduk. Ia kembali teringat akan ucapan Mang Dul beberapa jam yang lalu.

“Aku akan berusaha keras merangkai kembali puzzle itu supaya kembali terbentuk sempurna,” gumamnya disertai hela nafas.

“Sayang!”

“Jingga,” gumamnya lalu menoleh.

“Jadi, kamu di sini? Sejak semalam aku menghubungi ponselmu tapi di luar jangkauan. Apa kamu sengaja?!” tanya Jingga dengan kesal.

“Ponselku rusak,” jawab Bumi. Saat akan melangkah tangannya di tahan.

“Sayang, kamu kenapa sih, seolah menghindar dariku? Apa kamu sedang bersama Senja?!”

“Jingga, dia istriku dan sedang mengandung anakku. Untuk saat ini, tolong jangan ganggu aku. Soalnya aku lagi menemaninya berbelanja perlengkapan bayi. Kita bertemu nanti malam saja, lagian ada yang ingin aku bicarakan serius tentang hubungan kita.”

“Sayang, kamu apa-apaan, sih!! Pokoknya aku mau kamu menemani aku!” desak Jingga.

“Jingga! Tolong mengerti aku saat ini. Lagian ini pertama kalinya aku menemani Senja!” tegas Bumi.

“Sejak kapan kamu peduli padanya juga bayinya? Apa kamu mulai mencintainya?!!”

“Bayi kami, Jingga! Sudahlah, aku nggak ingin berdebat denganmu saat ini. Kita bertemu nanti malam saja di AG Restauran!” tegas Bumi lagi.

Setelah itu, ia langsung berlalu meninggalkan Jingga yang masih terlihat kesal.

Sementara, Senja yang kini berada di salah satu galeri pakaian khusus bayi, sedang melihat-lihat sembari menyentuh satu demi satu pakaian bayi sambil tersenyum.

“Sayang, rasanya momy sudah nggak sabar ingin melihat kalian mengenakan pakaian ini,” gumamnya lalu kembali melangkah pelan.

Menyusuri toko itu hingga langkahnya terhenti di tempat sepatu bayi. Senyumnya terus terukir merasa gemas.

“Senja!!” Seseorang memanggilnya lalu menghampiri.

“Vio, Leny?” sebutnya sambil melambaikan tangan. “Kalian ngapain di sini? Mau belanja perlengkapan bayi juga?” lanjutnya bertanya sesaat setelah kedua partner kerjanya itu mendekat.

“Nggak, kami kebetulan lewat dan nggak sengaja melihatmu di sini. Oh ya, suami kamu mana?” tanya Vio.

“Hmm, soalnya kami ikut penasaran siapa sosok pria itu,” timpal Leny.

“Mau tahu apa mau tahu banget? Kepo.” Senja kemudian tergelak. Kehadiran teman kerjanya itu seketika membuat hatinya sedikit terhibur.

“Senja.” Bumi menghampiri dengan senyum mengembang.

Ketiga-nya langsung menoleh ke arah sumber suara.

“Apa kamu suaminya Senja?” tanya Leny menatap kagum akan sosok Bumi.

Baru saja Bumi akan menjawab, Senja langsung menyela cepat. “Bukan! Dia sepupu suamiku!”

“Senja, kamu!” Bumi sedikit kesal

“Sepupu?” timpal Vio sambil senyum-senyum.

“Ya, dia sepupu suamiku. Suamiku baru saja meninggal dua Minggu yang lalu. Kenalkan, dia Bumi Azkhara Wasesa, seorang arsitek dan dia masih single lho. Iya kan, Mas Bumi?”

“Senja! Kamu apa-apa sih!” ucap Bumi kesal.

Senja tak menjawab melainkan hanya tersenyum. “Mas Bumi, ini Vio dan Leny. Mereka partner kerjaku dulu waktu masih bekerja di CJ Club'. Kalian bisa mengobrol, aku ingin ke toilet dulu,” kata Senja beralasan.

Ia pun segera meninggalkan tempat itu sekaligus merasa puas. “Bagaimana rasanya nggak dianggap? Sakit bukan? Seperti itulah yang kami rasakan,” batin Senja.

Saat berada di eskalator, ia meringis karena merasakan perutnya tiba-tiba kram. Begitu sampai di tempat makan, ia memesan segelas jus.

“Akh, kenapa perutku tiba-tiba kram begini? Sayang, apa kalian baik-baik saja?”

Setelah mendapat tempat yang kosong, Senja langsung mendaratkan bokongnya di kursi. Mengatur nafas sembari mengelus perut.

Selang beberapa menit kemudian Bumi menegur kemudian duduk di sampingnya.

“Kamu apa-apaan sih, ngomong seperti itu tadi?!”

“Memangnya kenapa? Aku memang sengaja. Mau marah? Silakan saja, itu artinya aku dan baby twins sudah menganggapmu mati,” pungkas Senja.

Bumi tertunduk dengan mata berkaca-kaca disertai sesak di dada. Perlahan menggenggam jemari sang istri sembari menatapnya lekat.

“Maafkan aku, Senja ... tolong maafkan aku. Aku menyesali semua perbuatanku padamu juga anak kita. Tolong beri aku kesempatan kedua demi anak kita, percayalah padaku.”

Senja tetap bergeming bahkan membuang muka. Kebencian yang kini sudah menyelimuti hati, seolah sulit untuk memberi kesempatan kedua pada sang suami.

“Sebaiknya kita pulang saja, perasaanku tiba-tiba nggak enak,” ucap Senja.

Bumi terpekur karena tak mendapat jawaban dari Senja. Hatinya kembali mencelos. Mau tak mau, ia hanya menurut.

“Senja, kamu duluan saja, tunggu aku di mobil. Aku ingin membeli sesuatu dulu,” perintah Bumi sesaat setelah mereka berada di lantai dasar.

“Hmm.”

Keduanya pun berpisah. Senja melanjutkan langkah keluar menuju parkiran sedangkan Bumi ke arah meja kasir.

Senja terus melangkah pelan seolah tak akan terjadi apa-apa. Namun, saat langkah kakinya semakin mendekati mobil, dari arah berlawanan tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi.

Tanpa sempat menghindar, ia langsung ditabrak hingga terpental jauh. Seketika suara teriakkannya terdengar hingga membuat orang-orang yang berada di sana berlarian menghampiri.

“Senja!!!” pekik Bumi. Ia langsung berlari menghampiri Senja yang sudah tergeletak tak sadarkan diri. “Senja!! Senja!!” panggilnya sekaligus panik.

Langit yang kebetulan baru memasuki area parkir seketika mengerutkan kening. “Sky, hentikan mobilnya, sepertinya ada kecelakaan.”

Begitu mobil berhenti, Langit menghampiri kerumunan itu sekaligus terkejut saat Bumi menggendong Senja.

“Senja, Bumi!!” Tanpa pikir panjang ia langsung berlari menghampiri. “Bumi! Biar aku saja yang membawa mobilnya,” tawarnya tanpa basa basi sesaat setelah mendekat.

Meski penasaran apa yang terjadi, akan tetapi ia tak berani bertanya karena bukan waktu yang tepat.

Melihat keadaan Senja yang tak sadarkan diri juga bersimbah darah, seketika ia menjadi cemas.

Sedangkan Bumi tak bisa berbuat banyak. Ia terus memeluk Senja sambil menangis.

Cemas, khawatir sekaligus takut kini menjadi satu.

Bayang-bayang akan kehilangan baby twins seketika membuatnya menjadi takut. Ia semakin terisak, berusaha menyadarkan Senja.

“Senja, sadarlah jangan seperti ini. Buka matamu! Mas Langit, lebih cepat lagi. Aku takut terjadi sesuatu pada Senja dan baby twins!”

“Bersabarlah, sebentar lagi kita akan sampai,” balas Langit yang tak kalah cemas memikirkan Senja.

“Ya Tuhan, aku mohon selamatkan ketiga-nya,” batin Langit. Sesekali menatap Bumi dan Senja lewat kaca spion tengah.

...----------------...

1
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻 semangat thor 💪🙏🏻
Shifa Burhan
novel pemuja pebinor
G.I
Cerita bagus tapi goblok...goblok kek yang nulis...masih bertahan dgn orang seperti itu...omong kosong...bikin novel tentang kebohongan saja...menyesal bacanya
MallesMellow: Boss novel lo mana?
total 1 replies
arsenmakapuas
mantappp criatanya
Istifada
Luar biasa
Afternoon Honey
bagus ide ceritanya
Murti Ningsih
ceritanya bagus dan penuh bawang /Puke/
Susi Susilawati
Luar biasa
Shella Antika
jadi illfeel sama si senja gk bisa jaga marwahnya sebagai istri mw sibumi salah tapi kan masih sah suaminya ini pergi kermh pria lain meskipun itu sahabat atw sepupu suami tapi hrs jaga batasan antara perempuan sdh menikah sama pria lajang...klo gt gk ada bedanya kelakuan si senja sama si bumi dan si jingga..
Jeni Safitri
Buat apa menyesal dan ditangisi senja iklaskan aja, jangan salahkan bumi k4n di awal dia mmg ngk suka kehadiran kamu dan calon anakmu berkali" mencelakan kalian tapi kamu bertahan menjelang lahir entah buat apa dan apa untungnya pergi nunggu lahir, yg harus disalahkan itu kamu
Jeni Safitri
Rasainlah sama kamu senja sdh jelas" berkali" bumi mencelakakan kandunganmu bahkan bibik dan mang dul sdh mengajak pergi jauh kamu bertahan sampai lahiran, skrg nikmatilah kesedihan itu buat apa menyesal anakmu meninggal
Jeni Safitri
Malas kali dengar keluhan senja tidak baik" saja dan sll merasa dlm bahaya saat di dekati bumi tapi ngk mau jg pergi jauh bawa kandungannya biar selamat lahiran
Jeni Safitri
Ah banyak cerita kamu senja, mmg apa bedanya pergi skrg dgn pergi saat kamu sdh lahiran, bagusan skrg kamu pergi jauh kalau sdh lahiran 2 bayi yg akan urus di perjalanan, niat pergi atau engak sih atau bicara hanya cari simpati
Jeni Safitri
Ck. Senja sdh jelas suami spikopat masih aja bertahan kalau mau pergi ya pergi aja ngk perlu bilang" biarkan penyesalan yg dia rasakan, kalau dia tau kamu mau pergi di ambilnya anak mu nanti bagaimana
G.I: Bukan salah Senja..
salah yang nulis cerita ini...karena yang nulis cerita ini lagi sakit jadi Senja disakiti terus
total 1 replies
Jeni Safitri
Jatuh dari tangga biasanya org mormal aja bisa geger otak lah ini kandungan baik" aja apa bisa gitu ya, takutnya anaknya cacat lagi k4n mendapat benturan berkali"
Jeni Safitri
Senja kamu mmg bukan wanita murahan tapi kamu wanita yg ngk punya harga diri sudah jelas mengalami siksaan masih aja bertahan dgn pria spikopat itu, kalau kamu wanita yg punya harga diri yg tinggi kamu ngk akan mengemis sama pria itu dan ngk sudi di siksa fisik dan mental mu
AJ_86: Wkwkwk 🤣🤣✌️
total 1 replies
Jeni Safitri
Ada ya laki kejam gini
Silvia Tatipikalawan
kak lanjut kabar gembira dari langit & senja mempunyai anak kak
Silvia Tatipikalawan
sedih
aish
pemeran wanitanya di sini jadi jalang gk bngt walau bumi slh tpi yg wanita lebih parah jijik bngt berlindung di balik kata sahabat peluk cium smpe lakuin hubungan intim mlh berharap hamil anaknya si langit lgi berhenti baca krna kecewa wlw gk bisa di tebak alurnya tpi gk gini jg awal' suka bngt mkin ujung mkin aneh alurnya acakadul🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!