Follow instagram @Ukiii__21 untuk info karya ini
ANGKASA SERIES
Seri 1: MENIKAHI TEMAN KELAS (END)
Seri 2: MUHASABAH CINTA (END)
Seri 3: (BUKAN) PERNIKAHAN SEMPURNA
***
Kegagalan pernikahan di masa lalu menghentikan niat Angkasa menikah lagi. Kehidupannya yang dulu kosong dan tanpa arah seolah terulang kembali, bahkan lebih buruk.
Angkasa tenggelam dalam kesedihan, hingga Sakti yang merupakan sahabat sejak SMA rela melepas kesenangan demi kesembuhan dirinya.
Kehidupan berjalan sesuai takdir. Bersama Sakti, Angkasa mulai membangun mimpinya yang pernah hilang. Namun, saat semua fokus Angkasa terarah pada pekerjaan dan pencapaian, mantan istrinya kembali.
"Kasa, kamu ingat aku?" Wanita bermata bulat dengan cadar hitam di wajahnya itu bertanya pelan.
Bibir Angkasa tertutup rapat, tetapi hati berbisik, "Bagaimana aku bisa lupa saat tajamnya namamu mampu memutus semua syaraf di kepala sampai aku nggak ingat lagi kehidupan yang sebenarnya, Myria?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uki Hara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Napas Myria sedikit memburu usai berkata. Air mata yang tadi jatuh setetes demi setetes, kini makin deras seperti guyuran hujan yang masih menemani. Dia tak mampu menyekanya lagi dan hanya bisa membekap mulut.
Angkasa memutar badan 90 derajat, pria itu membungkukkan badan hingga wajahnya sejajar dengan Myria. “My, jangan nangis. Aku nggak bisa hapus air matamu sekarang.”
Bukannya tenang, hati Myria makin teriris. Tangisnya tak kunjung berhenti dan makin sesenggukan.
Angkasa menegakkan tubuh lalu terdiam karena tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk menenangkan Myria. Semua perbuatan memiliki batasan. Sesuatu yang bisa dilakukannya hanya menunggu sampai mantan istrinya itu sanggup mengontrol emosi.
Lama menunggu, bahkan Angkasa lupa jika Sakti tak kunjung kembali. Fokusnya hanya ada pada Myria sekarang sehingga tidak curiga sama sekali andai dibohongi.
Hujan mulai reda, tersisa rintik kecil dan hawa dingin. Tak ingin melihat Myria lebih menderita lagi, Angkasa melepas jaket dan menutupkan ke kepala wanita itu.
“Aku nggak mau kamu sakit. Pakai ini,” kata Angkasa pelan. Perbuatannya itu membuat Myria menoleh dan menatap dengan tatapan sendu.
“Eng–enggak perlu.” Myria menarik jaket dari kepala, lalu menyerahkan pada Angkasa. “Justru kamu yang bakal masuk angin kalau pakai kaus pendek gitu.”
Senyum tipis muncul di bibir Angkasa. Pria itu bersyukur Myria sudah terlihat tenang sepenuhnya. Meski masih tampak sisa tangis di kedua mata yang memerah, paling tidak wanita itu mau bicara tanpa ada acara merajuk.
“Tenang aja. Aku udah biasa kena angin malam. Kalau ntar sakit, masih bisa cuti sama digantiin Sakti. Kalau kamu? David bakal kekurangan orang dan berimbas ke pekerjaan.”
Mendengar penjelasan Angkasa yang tak jauh dari perkara kerja, Myria mencebik. Dia pikir perhatian Angkasa itu khusus karena memang masih cinta. Namun, jangankan cinta, bilang rindu pun belum pernah dari awal bertemu.
Belum sempat terjadi lanjutan pembicaraan, sebuah motor yang dikendarai perempuan mendekat. Kendaraan itu berhenti di dekat tempat Myria dan Angkasa berteduh. Kemudian, si pengendara turun sembari menenteng helm.
“My, sorry banget nunggu lama. Aku neduh tadi, soalnya nggak bawa jas ujan. Maaf, ya.” Friska berkata dan hendak menyerahkan helm. Akan tetapi, saat melihat dua mata sahabatnya memerah, dia langsung memberi pertanyaan, “My, kamu nangis? Kenapa?”
Wanita bergamis biru itu menoleh ke samping. Friska sedikit terkejut melihat siapa yang berteduh bersama sahabatnya. “Kasa! Ternyata elo.” Tubuh wanita itu sigap pindah ke tengah. “Lo apain sahabat gue sampai nangis gini, Ka?”
“Gue nggak ngapa-ngapain? Lo nggak lihat ini tempat umum? Mana berani gue.”
Tanggapan Angkasa mendapat tatapan sengit dari Friska. Tidak ada yang berubah dari wanita itu jika menyangkut Myria. Sahabatnya sedih, dia ikut merasakan itu. “Terus kenapa dia nangis gini? Nggak mungkin nangis tanpa alesan, kan?”
Angkasa memijat pelipis. Rasa pusing seketika hadir dapat tuduhan tidak mendasar dari mantan teman kelasnya satu itu. “Myria cuma ….”
“Ayo, pulang, Friska. Nanti aku ngantuk di jalan,” kata Myria menengahi. Dia segera memakai jaket yang sejak tadi ada di tangan, lalu menarik paksa helm dari sahabatnya. “Ayo, ah!”
Satu tangan ditarik Myria, membuat Friska mau tak mau ikut. Dua wanita itu pergi begitu saja tanpa pamit pada Angkasa yang masih berdiri sendiri di teras restoran.
Setelah melepas kepergian Myria dengan helaan napas berat, Angkasa baru merogoh ponsel dari saku. Dia hubungi Sakti yang entah sembunyi di mana sebenarnya.
“Lo mau balik, apa gue tinggal?” Nada bicara Angkasa penuh penekanan saat panggilan diangkat, bahkan seperti mengancam seseorang.
“Iya balik sekarang. Gue habisin kopi gue dulu.” Sakti yang ternyata masuk restoran lagi, buru-buru menghabiskan kopinya. Dia tadi sengaja menipu untuk memberi ruang Angkasa bicara.
Kemarin, mati-matian Sakti meyakinkan Angkasa agar mau jujur pada Myria. Pria itu mendebat setiap argumen sahabatnya saat lembur berdua. Bahkan, cekcok yang terjadi berlangsung lama dari sore hingga menjelang pagi baru keluar dari kantor.
Decakan lidah menyambut jawaban Sakti. Angkasa mematikan panggilan dan menuju motor tanpa menungu. Ketika mesin menyala, sahabatnya itu muncul dengan senyum lebar.
“Good job. Gitu, dong, jadi sahabat gue.” Sakti berkata sambil mengangkat dua jempol. Selama di dalam restoran, dia terus mengawasi Angkasa dan Myria sehingga tahu usahanya kemarin tidak sia-sia.
Tidak penting mendengar Sakti mengoceh, Angkasa melajukan motor dan segera pulang.
Tiba di rumah, Nyonya Nasita kaget melihat rupa putranya.
“Kamu naik motor malam-malam hanya begini, Nak?” Pertanyaan heran langsung terlontar setelah menjawab salam. Nyonya Nasita mengusap kedua lengan Angkasa yang terasa dingin.
“Iya, Ma.”
“Jaketmu ke mana? Biasanya bawa, kan? Mama tidak akan memberimu izin kalau kamu bandel lagi, Kasa.”
Kesewotan sang ibunda tentu saja dimaklumi, Angkasa tidak lupa jika Nyonya Nasita begitu over protective saat menyangkut motor apalagi balapan. Pria itu menyimpan helm ke tempatnya, lantas mengaku, “Aku bawakan Myria tadi. Kasian dia, Ma. Kedinginan.”
“Tunggu, Nak! Myria?” Satu tangan Nyonya Nasita menahan Angkasa. Wanita itu mengadang jalan sang anak. “Kenapa ada Myria? Kamu bilang ada makan malam dengan karyawanmu, kenapa bisa bertemu Myria?”
Wajah Nyonya Nasita yang keheranan membuat Angkasa tertawa kecil. Pria itu membungkuk dan menjatuhkan kepala ke bahu sang ibunda. “Myria kerja di kantor kita, Ma. Dia yang jadi gantinya Faiza.”
Dua mata Nyonya Nasita langsung berbinar. Tangannya menarik bahu Angkasa agar sang putra membalas tatapan. “Lihat Mama dan katakan sekali lagi kalau Myria kerja di perusahaan.”
Tawa Angkasa keluar lagi. Senyumnya makin lebar hingga lesung pipi ikut terlihat. “Iya, Ma. Kapan-kapan kalau Mama ke kantor, Mama bisa cek sendiri di ruang desainer.”
“Kamu serius, Nak?”
Angkasa mengangguk dengan bibir melengkung tinggi. Sang ibunda sampai menepuk pipinya karena bahagia sekaligus terharu.
“Apa kalian ….”
Paham maksud Nyonya Nasita, Angkasa menahan tangan ibunya yang masih di pipi. “Aku tahu harapan Mama selama ini. Tapi Paman Mandala enggak mau punya mantu seperti aku, Ma. Myria sekarang jauh lebih hebat dari sebelumnya. Dia punya segalanya dan bisa milih laki-laki seperti apa pun itu buat jadi suami. Aku juga yakin kalau Paman Mandala nggak akan sembarang milih pasangan buat Myria.”
Binar kebahagiaan di wajah Nyonya Nasita meredup. “Tapi anak mama satu ini tidak kalah hebat.”
Angkasa tersenyum lagi. Dia coba beri penjelasan paling logis menurutnya. “Aku selalu hebat di mata Mama dari dulu, tapi belum tentu di depan ayah Myria. Paman Mandala bukan orang sembarangan, dia pebisnis yang disegani banyak orang, Ma. Sekalipun sudah bertahun-tahun lewat, belum tentu beliau menarik semua ancaman di waktu itu. Aku nggak bisa gegabah atau semua yang udah dibangun dihancurkan Paman Mandala begitu tahu Myria kembali padaku.”
“Tapi kalau kamu bahagia, Papa bisa usahakan bicara pada pamanmu. Biarkan Papa melamarkan Myria untukmu, Kasa.”
kenapa bs menekan suaminya spt itu? kyk gk menghormati & menghargai suaminya