Sreya berhasil mendapatkan seorang anak hasil dari ia mencuri benih pria yang menjadi idamannya. Ia ingin hidup bahagia bersama anak yang dilahirkan dan dibesarkannya dengan penuh perjuangan, namun takdir yang sangat rumit harus ia hadapi, dimana ia tidak bisa menghindari pertemuan dengan ayah kandung anaknya. Bagaimana kisah Aya? Ikuti kisah selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAHA(H&F), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Di ruang keluarga rumah Meda, "Apa hasilnya ? Sian akan tetap di sini kan Rome?" tanya Mamih penuh harap bisa terus bersama dengan Sian.
"Maaf saya menyela, hari ini saya akan membawa pulang Sian, kita bertemu lagi besok di alamat yang saya kirim untuk melakukan tes DNA" jelas Aya berpamitan.
"Aku tidak mau pulang, aku mau tetap bersama Oma dan Opa" jerit Sian menolak.
Meda menghampiri Sian yang berdiri dekat Mamih, "Sian, hari ini kamu pulang dulu ya, turuti ucapan mama mu, besok kita bertemu lagi" bujuk Meda.
"Iya Sian, Oma besok juga akan ikut menemui Sian di rumah sakit, Oma janji" tambah Mamih.
Dengan penjelasan dan bujukan dari Meda dan juga Mamih, Sian akhirnya menurut dan ikut Aya pulang ke apartemen.
Di dalam mobil selama perjalanan ke apartemen Sian hanya diam dan marah pada Aya.
"Sekarang hanya diam saja, tadi meronta dan merengek di depan orang yang tidak kamu kenal, kamu tidak mengerti perasaan mama, mama tadi sangat khawatir saat kamu menghilang, hidup mama hancur jika terjadi sesuatu pada mu, bagaimana agar kamu bisa mengerti mama, mereka bukan keluarga kamu, tapi kamu sangat keras kepala, sifat siapa yang kamu contoh itu, mama tidak pernah mengajarkan kamu membelot seperti itu" ceramah Aya panjang lebar selama perjalanan pulang.
"Sifat papa!" sahut Sian ketus pada Aya.
"Papa mu tidak seperti itu, dia orang yang baik dan bijaksana, sangat mengerti mama, tidak pernah kerasa kepala seperti mu itu" tambah Aya.
"Aku tidak mau pulang, aku mau turun, Sekarang!" bentak Sian pada Aya.
Menepikan mobil lalu berhenti, "Sian!, cukup!, mama akan buktikan pada mu besok kalau dia bukan papa mu, apapun yang terjadi kamu tidak akan bisa bersama mereka, kamu hanya milik mama!" teriak Aya pada Sian yang menangis histeris.
Pikiran Aya juga kacau, ia tidak akan membiarkan Sian diambil Meda dan keluarganya. Hingga sebuah ide muncul dalam pikirannya. Mencari rumah sakit yang mau diajak kerja sama agar bisa memanipulasi hasil tes DNA Sian dan juga Meda.
***
Malam panjang dilalui Aya dengan pikiran kacau hingga terjad perang dingin antara Sian juga dengannya, Hingga keesokan harinya.
"Sian sayang, maafkan mama, kita pergi sekarang ya, kamu akan bertemu lagi dengan mereka hari ini" bujuk Aya di depan pintu kamar Sian.
Sian yang pintar sudah menyiapkan diri untuk bisa terlepas dari mama nya. Ia sangat optimis kalau memang ia adalah anak kandung dari Meda juga cucu kandung dari Oma dan Opa.
Sambil menunggu Sian bersiap, Aya sudah mengkonfirmasi kesediaan sebuah rumah sakit melalu Jinrua.
"Saya akan sampai di sana 30 menit lagi, tolong persiapkan baik-baik, jika pekerjaan anda benar uang nya akan langsung masuk" kata Aya dengan penuh persiapan.
Panggilan masuk dari Jinrua, "Apakah kamu yakin bermain curang tidak akan ketahuan?" tanya Jinrua yang khawatir rencana Aya gagal dan terancam hukum pidana atas tindakannya.
"Kamu jangan khawatir, hanya ini cara satu-satunya agar Sian tidak diambil dari ku, aku yang mengandung dan membesarkannya, tak kubiarkan siapapun membawanya pergi dari ku, siapkan saja pengacara yang handal saat aku ketahuan" jelas Aya mempertaruhkan separuh jiwanya.
Semua sudah berkumpul di rumah sakit yang di infokan oleh Aya. Meda bersama Mamih dan Papih serta membawa Kelvin sebagai pengacara juga Sintya yang masih sah sebagai istri Meda.
"Kenapa lama sekali, kita di sini sudah menunggu 15 menit" keluh Sintya yang penasaran dengan anak mirip dengan Meda juga sang ibu.
"Bisakah kamu tidak mengeluh, akan lebih baik jika kamu tidak ikut" sesal Mamih.
"Tapi memang sudah lama kita menunggu di sini, aku ingin tahu bagaimana wajah perempuan yang berani merebut suamiku" celetuk Sintya.
"Jaga mulut mu ya Sin, usia anak itu lebih tua dari usia pernikahan mu dengan Meda, jadi siapa yang bisa dibilang perebut itu" cerca Mamih.
"Kalau dia tidak mau merebut, kenapa baru sekarang keluar serta membawa anak, sudah jelas niat busuknya, setelah tahu pernikahanku dengan Meda tidak ada keturunan" jawab Sintay yang tidak mau kalah>
"Jika kamu sekarang sudah memiliki anak, Mamih jamin tidak akan ada wanita lain yang membawa seorang anak pada Meda seperti sekarang ini" tambah Mamih.
"Hentikan perdebatan kalian, ini di tempat umum, tidak kah kalian tahu, banyak pasang telinga yang bisa mendengar" kata Meda melerai.
Akhirnya Sintya dan Mamih berhenti berdebat dan duduk saling berjauhan.
Aya dan Sian yang sudah di tunggu-tunggu akhirnya datang bersama Jinrua yang mendampingi.
Sian yang tahu Oma dan Opa nya langsung berlari menghampiri.
"Aku yakin kalau Sian adalah cucu Oma" bisik Sian di telinga Mamih.
"Iya Sian, Oma juga yakin kalau Sian adalah cucu kandung Oma" senyum Oma mengusap kepada Sian.
Aya mendatangi Meda yang sudah bersiap, Ia memperkenalkan Jinrua sebagai Ayah Sian.
"Dialah Papa nya Sian, jadi tes ini sebenarnya tidak ada gunanya, aku hanya mau membuat Sian senang" ucap Aya pada Meda dengan lirih.
"Jangan yakin dulu, Sian lebih mirip dengan ku dibanding laki-laki yang kamu bawa sebagai papa nya. Kita buktikan saja kebenarannya" balas Meda percaya diri.
Tiba-tiba Sintya menyela, "Saya istri sah Romedal" ucapnya mengulurkan tangan.
Aya dan Jinruan menyalami Sintya, "Saya Shreya Gutama, dan ini adalah papa nya Sian, saya berharap ini adalah pertemuan pertama sekaligus pertemuan terakhir kita, senang bertemu denganmu" ucap Aya tersenyum palsu.
"Bagus, Itu juga yang aku inginkan, jangan harap kamu bisa merebut suamiku" ancam Sinyta yang baru mengenal Aya.
Perdebatan itu tidak terlanjutkan karena pihak rumah sakit telah menyambut dan mempersilahkan kedua psaien yang akan melakukan tes DNA. Aya menyerahkan sepenuhnya pada pihak rumah sakit. Meda dan juga Sian memasuki ruang pengambilan sampel darah untuk dilakukannya tes DNA.
Selagi menunggu semua proses pemeriksaan, Kelvin mendekati Aya mengajaknya berkenalan dan juga memastikan identitasnya sama dengan wanita yang diajaknya bekerja sama tujuh tahun yang lalu.
"Kelvin Umbara" mengulurkan tangan hendak menjabat tangan Aya.
"Sreya Gutama, Jinrua" ucap Aya dan Jin bergantian.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? saya pernah kenal dengan suara anda" pancing Kelvin agar identitas Aya terbongkar.
"Tidak, mungkin itu orang yang lain" jawab Aya.
"Sepertinya begitu, karena banyak sekali klien yang saya temui, mungkin hanya mirip, saya adalah kuasa hukum Romedal, ini kartu nama saya, jika membutuhkan bisa panggil saya"
"Terimakasih" ucap singkat Aya karena tidak mau berbicara dengan Kelvin. Agar identitasnya tidak terbongkar.
"Saya merasa kenal dengan anda, saat tujuh tahun yang lalu saya berhutang budi pada seorang wanita karena memberikan banyak modal dalam perjalanan karir saya, hingga firma hukum yang saya dirikan berkembang pesat juga karena dia, jika saya berkesempatan bisa bertemu dengannya lagi pasti apapun akan saya lakukan" kata Kelvin untuk memancing Aya lagi.
pliss lanjut ceritanya dong Thor 🙏🏻🥰