CEO GILA, begitu julukannya. Karena usianya yang 27 tahun dan belum menikah tapi super duper galak garang, suka memaki sembarang dengan kata-kata toxic nyelekit.
Namanya Andre Wiguna Dharma, seorang CEO Perusahaan Keramik Asia Tile.
Kehidupan yang menurutnya penuh kepalsuan jauh dari cinta tulus, membuatnya tidak percaya pada cinta. Ditambah lagi dia pernah mencinta seorang gadis di usia 17 tahun, tapi ternyata kandas sebelum kapal berlayar. Membuatnya hanya menganggap cinta seperti permainan.
Hingga suatu ketika, ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang ternyata telah menikah. Dan ternyata suami Naysila adalah seorang office boy di perusahaan besarnya.
Akankah permainan cintanya berhasil kali ini?
Atau... Andre harus gigit jari karena Naysila lebih memilih Rendra sebagai cinta sejatinya?
Ataukah Tuhan akan memberinya jalan agar Naysila menjadi Takdirnya di masa depan?
Mari kita ikuti kisah Sang CEO GILA : Mencintai Istri
🙏🙏🙏Mohon dukungannya, please🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 (Bolos Sekolah Dan Merenung)
Plak
Tamparan seperti sudah jadi hadiah kecil bagi Andre dari Jaya Wiguna.
Ini adalah tamparan kedua kalinya setelah minggu lalu.
"Anak tak tahu adab! Beraninya kamu mengambil uang Mamamu sendiri! Sepuluh juta pula, bukan uang kecil itu!!!"
Jaya mengomel dengan suara baritonnya yang tinggi.
Shernita dan Daniel hanya menunduk dengan tubuh duduk di depan meja makan penuh dengan makanan.
Sarapan pagi tamparan dari Papanya membuat kenyang perut Andre.
"Kenapa Andre melakukan itu, apa Papa tidak ada niatan buat bertanya dulu?" protes sang Anak sulung yang masih terhuyung kaget sembari mengelus pipi mulusnya.
"Kau memang selalu cari gara-gara!"
"Papa tak pernah bisa menempatkan diri dengan baik. Papa berat sebelah!"
"Bisamu hanya protes saja! Kau sama sekali tidak dewasa, Andre!!!"
"Apakah Papa juga dewasa sedangkan umur Papa harusnya menjadikan Papa lebih matang dalam berfikir!"
Plak
Lagi-lagi pria itu menampar pipi putranya.
Shernita diam-diam tersenyum penuh kemenangan.
Usir saja, usir! Anak itu memang tak berguna bahkan untuk masa depanmu! rutuk Shernita dengan menggebu-gebu.
Daniel juga tersenyum samar. Smirknya membuat Andre ingin menampol balik. Sungguh menggelikan tingkah ibu dan anak itu.
Andre pergi dengan amarah tingkat tinggi.
Papanya benar-benar dibawah ketiak sang istri yang hanya memeras uang saja. Bahkan kini Jaya Wiguna seperti kehilangan akal dan wibawa. Tak bisa berfikir jernih serta normal mengambil keputusan sebagai seorang pengusaha handal.
....
"Dasar wanita kemaruk harta! Pasti kuntilanak itu sudah mencuci otak orang tua itu! Cih, benar-benar sundal!"
Tak henti-henti Andre menggerutu hingga ia lupa pada sekitar. Dan...
Hei, itu... cewek yang jadi rival gue waktu di lomba cerdas cermat! Hmm... Bentar gue ingat-ingat dulu namanya! Yap. Naysila Utami! Gue ingat!
Andre yang sedang berada di dalam grabcar langsung minta diturunkan segera.
Ia melihat sosok mungil yang menjadi lawan beratnya saat lomba. Naysila Utami, sedang berjalan tergesa-gesa di trotoar jalanan ibukota. Dengan airmata berlinang dan hape terus menempel ditelinganya.
Kenapa dia? Mau berangkat sekolah? Tapi..., arahnya justru kebalikannya. Apa sudah berangkat dan mau pulang kembali ke rumahnya?
Andre hanya mengekor.
Mengikutinya dari kejauhan.
Ia sangat penasaran pada gadis manis cantik itu. Ada apa dan kenapa dia terisak, menangis.
Andre tak mau gegabah untuk mempercepat langkahnya dan menghampiri Naysila segera. Karena mereka belum saling mengenal secara pribadi.
Dan lomba cerdas cermat sudah hampir tiga bulan berlalu. Kemungkinan besar, Nay lupa padanya kecuali jika cewek itu menyukainya sama seperti cewek-cewek lain.
Naysila memasuki sebuah gang. Langkahnya semakin cepat dan kini ia berlari kencang sambil berteriak.
"Ayaaah!!!"
Suasana depan gang yang tadinya sepi kini perlahan semakin kedalam semakin ramai orang lalu lalang.
Ada bendera berwarna kuning terbuat dari kertas wajit terpasang dipagar besi rumah.
Ada yang meninggal!
Jantung Andre berdetak lebih cepat.
Naysila berlari masuk rumah sederhana yang banyak orang berdiri di depannya.
Beberapa diantara mereka berurai air mata, sama seperti Naysila.
"Ayaaah!!! Ayaaah!!! Huaaahik hik hiks!"
Andre terdiam mendengar teriakan histeris Naysila yang begitu memilukan.
Ayahnya, meninggal dunia.
Pemuda itu hanya bisa diam terpaku. Berdiri di depan rumah Naysila dengan tatapan kosong dan hampa. Sementara orang hilir mudik keluar masuk ke dalam rumah Naysila yang terlihat sederhana.
Andre tak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya bisa mundur perlahan melihat kenyataan yang ada.
Bapak dari gadis yang ia taksir kini terbujur kaku dengan selembar kain panjang menutupi tubuh, serta selendang putih diatas wajah pucatnya.
Andre tak bisa melihat kesedihan yang mendalam itu.
Ia tak tega mendengar jeritan kepiluan Naysila serta anggota keluarganya yang lain. Sehingga ia memutuskan untuk pergi berlalu meninggalkan rumah duka.
Hanya doa yang ia rangkai dalam hati, semoga Naysila tabah menerima takdir ini. Dan kembali semangat menjalani kehidupan kedepannya.
...........
Andre bolos sekolah.
Ini adalah kali pertamanya.
Senakal dan seburuk apapun ia, baik watak maupun sikap, Andre tak pernah sampai membolos masuk sekolah.
Tapi untuk kali ini adalah pengecualian.
Ia memutuskan untuk merenung di pinggir kolam pemancingan.
Duduk diam sembari memperhatikan para pemancing bertarung dengan para ikan yang diberi umpan. Berharap mendapat keberuntungan dengan berhasil menangkap ikan besar.
"Hei! Ngapain lo nongkrong di sini kalo engga' mancing? Lo bolos sekolah, ya?" tegur salah satu diantaranya yang sadar kalau ada bocah remaja berseragam sekolah ikut duduk di tengah-tengah mereka dengan suara berbisik. Khawatir ikan-ikan shock dan tak mau mengambil umpan mereka.
Andre langsung mengeluarkan tiketnya. Ada nominal lima puluh ribu pertanda ia masuk pemancingan bukan mabal atau masuk secara sembunyi-sembunyi. Membuat si pemancing yang menegurnya langsung terdiam.
Andre kembali duduk tak ada niat beranjak pergi.
Ia memang tidak memiliki alat pancing. Hanya ingin menyepi saja karena tempat itulah yang terbaik baginya memikirkan permasalahan hidupnya.
Papa membuatnya menjadi anak durhaka. Berkali-kali mereka berdebat dan pada akhirnya kekerasan yang terjadi hanya karena satu perempuan.
Andre mengusap seluruh wajahnya. Helaan nafasnya membuat beberapa orang pemancing menoleh dan menaruh jari telunjuknya ke bibir. Menyuruhnya untuk diam.
Hhh...
Andre mengangguk dengan merapatkan telapak tangannya.
Ia kembali terpekur menatap kolam ikan yang tenang.
Sekolahnya tinggal setahun lagi. Tapi rasanya seperti sewindu menunggu masa-masa kelulusan itu.
Ia sangat ingin waktu cepat berlalu.
Ingin segera hengkang dari rumah besar Papanya dan tinggal di Bandung bersama Nenek.
Kemarin ke Bandung bersama Bianca, Andre tak sempat mampir menengok sang Nenek.
Selain tak ingin Bianca lebih mengetahui dirinya, juga waktu yang sempit bahkan hari yang sudah larut membuatnya tidak dapat bertemu Nyai Fatima, Neneknya.
Cita-citanya menjadi ilmuwan sepertinya tak kan kesampaian. Karena kini pola pikirnya menjadi lemot dan otaknya lemah karena masalah keluarga yang tak kunjung usai.
Hanya kursi kayu panjang pemancingan yang kini menjadi saksi bisu atas beban batin Andre.
Tubuhnya digelosor dan kini rebahan dengan wajah telungkup.
Andre tertidur.
...BERSAMBUNG...