Sinopsis
Disukai oleh seorang mafia tampan? Tak pernah terbesit dipikiran seorang gadis sholehah yang cantik dan sederhana ini. Dia Shifa Almadinah adalah seorang gadis muda berumur 19 tahun yang lembut dan cerdas yang sedang melanjutkan kuliahnya di negara asing. Gadis yang tak pernah disentuh oleh lelaki manapun.
Revano Alzano adalah seorang mafia muda yang tampan dan dingin. Dia berumur dua tahun lebih tua dari Shifa.
Cinta dari seorang mafia muda itu tak pernah ia harapakan. Akankah cinta dari seorang mafia yang tampan dan dingin ini terbalas? Akankah Shifa menerima takdir ini atau justru menolaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blue Wii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Zano dan Marcel memasuki kamar Celine untuk melihat keadaan gadis yang mereka lindungi.
“Kak Zan," ucap Celine.
Zano dan Marcel berjalan menuju tempat tidur Celine dan berdiri disampingnya. Zano hanya diam mendengar ucapan Celine yang memanggil namanya dengan semangat.
“Tuh kan bener nih…. yang datang kesini bukan Zano saja Cel tapi aku juga. Kamu kenapa sih tak pernah panggil nama aku, hah ?" tanya Marcel sambil menarik hidung Celine yang mancung.
Zano hanya diam saja dengan coolnya melihat tingkah Marcel seperti itu kepada sepupunya. Secara Zano tahu kalau Marcel menyukai Celine dari mereka kecil namun Celine tak menghiraukannya karena pada saat itu Celine masih dengan Faelardo.
“Hish apaan sih," ucap Celine.
Marcel hanya menatap Celine.
“Kak Zano ini benar-benar seperti kulkas yaa," ucap Celine.
Raut wajah Zano tiba-tiba berubah menjadi sedikit ramah karena dia mendengar kata kulkas yang juga diucapkan oleh Shifa kepadanya.
“Jangan panggil aku kulkas lagi Celine," ucap Zano serius tapi dengan raut wajah seperti semula.
“Kak belikkan aku makanan gitu… Masa iya adik sepupu lagi sakit dibiarin begini sih ?" keluh Celine kepada Zano.
“Okay… kamu mau apa Cel ?" tanya Marcel karena dia tahu Zano pasti menolak.
“Aku maunya kak Zano yang beli..," ucap Celine.
“Aku tidak mau biar Marcel saja yang beli. Lagipula kata Uncle Jordan kamu sudah membaik," ucap Zano.
Mendengar perkataan Zano seperti itu, raut wajah Celine berubah menjadi sedih. Tentu saja itu hanya acting Celine untuk mendapatkan apa yang dia inginkan karena memang ia sebenarnya sudah pulih dan besok dia akan pergi ke kampus.
“Okay …," ucap Zano tiba-tiba dan langsung pergi menuju lantai bawah.
Marcel yang bingung akan tingkah Tuannya itu langsung mengikuti dimana arah Zano pergi.
“Zano…," panggil Marcel.
Zano tak menanggapi ucapannya dan itu membuat Marcel kesal. Zano yang segera masuk kedalam mobil mewahnya dan diikuti oleh Marcel juga yang duduk di samping Zano di dalam mobil.
“Zan… loe apa-apaan sih.. hah ? Kok setuju aja," keluh Marcel didalam mobil Zano.
Zano tetap diam dan menjalankan mobilnya menuju mini market. Di dalam mobil suasana tearasa hening karena dari tadi Zano yang diajak bicara hanya diam menatap lurus kedepan kaca mobil ke arah jalan menuju mini market. Marcel yang bingung akan tingkah Zano hanya menghembuskan napasnya kasar. Dia tahu jika Zano seperti ini itu pertanda Zano memang tidak ingin bicara.
***
Shifa dan Zai yang sudah pulang dari kampus berjalan kaki menuju asrama. Sebelum sampai di asrama, Shifa dan Zainab berencana untuk ke mini market terlebih dahulu.
“Shif… Kita beli beberapa mie instan yaa nanti," ucap Zai kepada Shifa.
“Hmm… can’t Zai…," ucap Shifa.
“Iya lah Shif… Plis," ucap Zai sambil tersenyum.
Shifa hanya tersenyum melihat sahabatnya semakin manja saja kepadanya. Dua gadis itu masuk ke dalam mini market.
Zano yang memarkirkan mobilnya di parkiran mini market setelah itu masuk ke dalam mini market setelah Zainab dan Shifa masuk.
Zano dan Marcel berhenti di bagian makanan khususnya roti karena Celine sangat menyukai roti.
“Zan.. Celine sangat suka roti jadi kita beli banyak yaa," ucap Marcel yang melihat anek jenis dan rasa roti tanpa melihat wajah Zano.
Zano yang bersikap datar dan cool hanya melihat tingkah Marcel yang mengambil banyak roti dan memasukkan ke keranjang belanja.
Shifa dan Zai yang sedang berada di bagian mie instan karena tadi Zai meminta agar membeli mie instan padahal Shifa tidak terlalu suka mie.
“Ambil yang ini saja Shif, sepertinya ini lezat," ucap Zai.
“Up to you, Zai… Oh yaa by the way aku ke bagian roti dulu yaa sama aku juga mau beli beberapa buah untuk kita nanti malam," ucap Shifa.
“Okay Shif… nanti aku menyusul kesana yaa," ucap Zainab.
“Shifa selalu membeli roti dan buah tapi mengapa sahabatku itu tidak bisa merubah jenis makanannya sih," gumam Zai dalam hati.
Shifa memang sangat menyukai roti dan buah. Shifa lebih memilih jenis makanan yang sehat untuk tubuhnya dan menghindari makanan junk food. Sedangkan Zai ketika bersama keluarganya jarang sekali makan mie sejak dengan Shifa dia merasa bebas untuk makan mie tapi tetap saja Shifa selalu mengawasinya agar tidak sesering mungkin. Begitulah persahabatan mereka yang saling tulus dan melengkapi.
“Itukan kak Zano...," ucap Shifa pelan. Dia melihat Zano yang sedang memilih beberapa roti.
Marcel yang sudah tidak bersama dengan Zano tidak terlihat karena Marcel sudah pergi ke bagaian soft drink.
Shifa bingung harus bagaimana karena dia sangat malas untuk bertemu Zano karena Zano selalu membuatnya kesal namun tidak dengan Zano.
“Apa aku tunggu aja yaa kak Zano pergi dari sana," gumamnya dalam hati.
Akhirnya Zano berjalan menyusul Marcel namun tiba-tiba dia teringat sesuatu dan membalikkan tubuhnya ke arah semula. Shifa yang sudah merasa aman dan berjalan menuju bagian roti terkejut karena ternyata Zano berbalik ke arahnya.
“Madinah," ucap Zano yang terkejut karena ia bertemu Shifa di mini market.
“Kenapa kak Zano panggil aku Madinah ?" Shifa bertanya-tanya dalam hati.
“Hey…," ucap Zano sedikit mengagetkan Shifa.
Lamunan Shifa yang sedang berpikir pecah karena ucapan dari Zano.
“Hah… ya kak ?" ucap Shifa sambil sedikit tersenyum.
“Kamu sendirian kesini ?" tanya Zano.
“No.. kak, saya sama Zai kesini," ucap Shifa singkat.
Zano mengangguk setelah itu dia diam menatap wajah Shifa. Zano tiba-tiba mendekati tubuh Shifa. Shifa yang menyadari itu terkejut dan berjalan mundur. Dia bingung apa yang akan dilakukan Zano kepadanya saat ini. Zano yang sudah sangat dekat dengan Shifa mendekatkan wajahnya ke wajah Shifa. Hal itu membuat Shifa akan marah atas apa yang di lakukan Zano kepadanya tapi Zano sebenarnya ingin mengambil roti yang posisinya berada di atas Shifa.
“Kak Zan….," teriak Shifa sedikit geram.
Zano hanya tersenyum melihat tingkah gadis dihadapannya. Shifa heran mengapa Zano malah senang melihatnya emosi. Zano yang suda menjauhkan tubuhnya dari tubuh Shifa bersikap cool kembali. Shifa yang bersifat lembut seketika berubah pada saat di hadapan Zano tapi Shifa tidak menyadari hal itu.
“Kak Zano kenapa selalu membuat aku kesal hah ?" tanya Shifa.
“Okay maaf Madinah," ucap Zano santai.
Shifa melihat Zano yang bersikap santai.
“Oh yaa panggilan aku Shifa bukan Madinah," ucap Shifa.
“Tapi aku lebih suka panggil Madinah," ucap Zano singkat.
Shifa tahu kalau dia terus berbicara dengan Zano pasti tidak akan selesai. Zano tahu Shifa sudah sangat kesal dengannya lalu ia pergi menuju Marcel yang sudah berada di dekat kasir.
Shifa yang melihat Zano pergi lalu mengambil beberapa roti dan buah. Zainab menyusul Shifa dan mereka membayar belanjaan mereka menuju kasir yang sudah di lalui oleh Zano dan Marcel.
kpn rencana up lagi?
sudah saling tembak menembak
si Author malah kabur...
😃🤣
shi-za..... 😍
😁😀
hahahhiiihii author...
jgn ngeprank donk ah....
gk seru lah kl Syifa ma Arka.....
nangis kejer aqu...
Tetap dukung Zano!!!!
dukanya lbh byk....
mulai masuk bab membingungkan ni...
hihii
shifaaaaaaa
itu visual syifa, foto Author tuh... 🤣
Indonesia buangetttt...
knp si zano org Korea yaa?? 😁
Lanjut dan semangat thorquu
jgn pisahkan shi-za dong, thor...
😫😭😭
ruarrr biasa, thor....
Ttp semangat!!
😍😄
maaf....