NovelToon NovelToon
Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Balas dendam. / Peningkatan diri -peningkatan kecantikan / Tamat
Popularitas:192.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rasti yulia

Bagaimana rasanya jika seorang wanita terlahir dengan bentuk badan tambun, berwajah dan berkulit kusam? Pasti akan sangat menyedihkan bukan?

Dewi Sekar Kemuning, wanita berusia 27 tahun yang berprofesi sebagai penyanyi orkes melayu, selalu saja mendapatkan perlakuan diskriminatif dari orang-orang yang berada di sekelilingnya. Meski memiliki suara yang khas namun tidak lantas membuat orang-orang di sekitarnya memuji ataupun memberikan apresiasi. Ia justru dijadikan bahan caci maki dengan fisik yang ia miliki. Ditambah lagi, di usia yang terbilang matang ia sama sekali belum pernah menjalin hubungan kasih yang membuat cemoohan demi cemoohan itu semakin datang menyerang.

Hingga pada akhirnya ia nekad pergi ke kota untuk berusaha mengubah takdir hidupnya.

"Akan aku buktikan bahwa aku bisa menjadi sang dewi yang bersinar yang dielu-elukan. Dan akan aku buat mulut orang-orang yang menghinaku terbungkam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Kedatangan Langit

Langit bertudung sinar mentari pagi kala Dewi membuka tirai jendela. Sinar keemasannya menyusup masuk, memenuhi sudut-sudut kamar miliknya. Seketika membuat rasa hangat semakin terasa. Setelah semalaman hawa dingin terasa begitu erat memeluk tubuhnya.

Kicau burung gereja menyambut datangnya sang mentari yang cantik memesona. Menggantikan rembulan yang telah lelah berjaga semalaman. Memberikan penerangan untuk bumi manusia yang berwajah muram.

"Ada urusan apa lagi kamu ingin bertemu dengan anakku? Bukankah kamu yang sudah membuat Dewi malu seperti ditelanjangi di depan umum?"

Suara bernada tinggi yang berasal dari teras, membuat dahi Dewi mengernyit seketika. Sangat jelas bahwa itu merupakan suara sang ibu. Namun Dewi begitu keheranan, mengapa sang ibu seperti berteriak lantang? Tidak ingin larut dalam segala pertanyaan yang memenuhi otaknya, Dewi mengambil langkah untuk menyusul sang ibu di beranda.

"Bang Langit!"

Dewi menyebut nama sosok laki-laki yang saat ini sedang berdiri berhadapan dengan sang ibu. Ia pun mendekat ke arah dua orang yang sepertinya sedang terlibat dalam perdebatan itu.

"Dew, lebih baik jangan kamu gubris kedatangan lelaki ini. Dia pasti hanya akan mencari masalah denganmu."

Tidak ingin melihat sang anak kembali diusik ketentraman jiwanya oleh Langit, Ambarwati meminta Dewi untuk mengacuhkan saja kedatangan lelaki ini. Ambarwati tidak rela jika Langit hanya akan membuat hati Dewi semakin tersakiti. Setelah beberapa saat sang anak mencoba untuk kembali berdiri.

Seutas senyum tipis tersungging di bibir Dewi. Ia menggelengkan kepala lirih di hadapan Ambarwati. "Ibu tidak perlu khawatir, Dewi akan baik-baik saja. Mungkin memang ada yang harus Dewi bicarakan dengan bang Langit sebelum Dewi pergi ke Jakarta."

Ambarwati mengalah. Dengan langkah gontai, wanita paruh baya itu meninggalkan teras dan hanya menyisakan Dewi dan Langit seorang.

"Ahhhh ... akhirnya muncul juga kamu!" ucap Langit saat melihat orang yang ia cari menampakkan batang hidungnya.

"Ada apa Bang? Ada keperluan apa Abang datang kemari pagi-pagi seperti ini?"

Senyum sinis terbit di bibir Langit. Lelaki itu kemudian mendaratkan bokongnya di kursi bambu yang berada di teras rumah milik Dewi.

"Aku dengar, kamu akan pergi ke Jakarta. Apakah kepergianmu ke Jakarta itu merupakan upaya untuk lari dari tanggung jawab?"

Langit menjejali Dewi dengan pertanyaan yang dipenuhi oleh prasangka buruk yang merajai. Rencana kepergian Dewi rupanya sudah sampai di telinga lelaki angkuh ini. Oleh karena itu, Langit bergegas pergi ke kediaman Dewi untuk mendapatkan kejelasan. Ternyata ia diliputi oleh kekhawatiran jika sampai Dewi pergi ke Jakarta karena sengaja untuk menghindar dari hutang yang ia limpahkan.

"Bang Langit tidak perlu khawatir, aku tidak akan pernah lari dari tanggung jawabku. Justru aku pergi ke Jakarta ingin mengadu nasib agar bisa segera melunasi hutangku."

Penuh percaya diri, Dewi memberikan penjelasan kepada Langit. Semakin hari entah mengapa hatinya dipenuhi oleh keyakinan bahwa Jakarta merupakan kota yang akan membuat jiwa yang sebelumnya rapuh kembali bangkit. Sedikit demi sedikit mencoba untuk mengurai segala rasa sakit layaknya sebuah benang yang terasa begitu melilit, yang mana membuat batinnya selalu menjerit.

"Kamu akan melakukan apa di ibu kota nanti? Apakah di sana kamu akan bekerja sebagai pembantu rumah tangga?"

Langit benar-benar dibuat penasaran dengan apa yang menjadi rencana Dewi ini. Meski sebenarnya hal ini bukanlah menjadi urusannya, namun ia sungguh ingin tahu Dewi akan bekerja di bidang apa ketika sampai di Jakarta nanti. Padahal ia tahu, tidak ada skill yang dimiliki oleh Dewi selain bernyanyi.

"Tentu tidak Bang ... aku akan mewujudkan mimpiku untuk menjadi seorang penyanyi. Sama seperti apa yang aku mimpikan selama ini."

Sorot mata yang tidak lepas dari bunga dandelion yang tumbuh di halaman rumah, Dewi semakin percaya diri dengan jawaban yang ia beri. Dari dandelion itu ia belajar untuk menjadi wanita kuat dan pemberani untuk menantang badai kehidupan yang menghampiri. Ia akan menjadi dandelion yang bisa tumbuh di mana pun angin membawanya pergi. Dan akan tumbuh kembali dengan berani. Meski angin memberikan tekanan dari segala sisi, namun dandelion tetap kuat menjaga diri.

Jawaban yang terlontar dari bibir Dewi pada kenyataannya hanya membuat Langit terperangah sembari menahan tawa. Dirasa sudah tidak lagi mampu untuk menahan tawa, lelaki itu terbahak di depan wanita ini.

"Hahahaha ... apa kamu bilang? Di Jakarta, kamu ingin menjadi seorang penyanyi? Kamu pikir untuk menjadi seorang penyanyi di ibu kota itu perkara mudah? Terlebih dengan kondisi fisikmu yang seperti ini. Jangan bermimpi kamu Dew!"

Dewi hanya menanggapi ucapan Langit dengan sinis. Kali ini tidak akan ia biarkan lelaki ini menginjak-injak harga dirinya lagi setelah beberapa waktu yang lalu ia dibuat menangis. Dan rasa cinta yang mungkin sebelumnya pernah ada untuk lelaki ini, akan ia pastikan saat ini telah terkikis habis. Ia berpikir tiada guna ia mempertahankan rasa cinta ataukah hanya sekedar mengagumi yang hanya membuat hatinya teriris.

"Kita lihat saja Bang. Akan aku buktikan bahwa kelak aku bisa menjadi seorang penyanyi terkenal. Dan setelah itu akan aku buat mulut Abang ini terbungkam karena telah merendahkanku."

"Hahahaha Dewi, Dewi .... aku peringatkan kepadamu sekali lagi, jangan bermimpi terlalu tinggi. Apakah kamu tidak sadar siapa dirimu? Selamanya kamu itu hanyalah rumput liar yang berada di bawah dan diinjak-injak. Selamanya kamu tidak akan pernah bisa untuk meraih bintang. Paham?"

Dewi semakin terbawa oleh arus yang diciptakan oleh Langit. Untuk kali ini ia tidak akan pernah menunjukkan sisi lemahnya di hadapan lelaki yang tidak berhati ini.

"Tapi kamu lupa bahwa rumput liar bisa tumbuh di manapun ia ingin tumbuh. Bahkan di puncak pegunungan yang tidak bisa dijangkau oleh kaki manusia, ia bisa tumbuh subur. Dan apakah kamu tahu artinya?"

Dewi sejenak memberikan jeda pada ucapannya. Ia memindai ekspresi wajah Langit yang sudah dipenuhi oleh tanda tanya. Dahi lelaki itu berkerut dalam seakan ingin segera mendengar jawabannya.

Sudut bibir Dewi sedikit terangkat. Dengan jengah, ia menatap wajah manajer Magatra ini. "Itu artinya aku bisa berada di tempat yang jauh lebih tinggi daripada kamu. Suatu saat nanti akan aku buat kamu dan semua yang pernah berbuat jahat kepadaku menyesali apa yang telah kalian perbuat."

Langit terperangah. Perkataan Dewi kali ini sedikit mengusik hatinya. "Apa maksud ucapanmu? Siapa yang sudah berbuat jahat kepadamu? Bukankah kamu sendiri yang sudah melakukan kejahatan karena mempermalukan aku di depan haji Amir atas kacaunya penampilanmu?"

Lagi-lagi Dewi hanya tersenyum miring. Ia ayunkan kakinya ke arah Langit yang sedang duduk di kursi bambu. Dan sedikit ia bungkukkan tubuhnya. Ia tatap lekat manik mata milik lelaki berusia tiga puluh lima tahun ini.

"Aku sudah mengetahui semuanya bahwa kamu, Adelia dan Amara lah yang menjadi penyebab aku kehilangan suara. Aku memang tidak memiliki bukti apapun sehingga tidak mungkin bisa menyeretmu ke dalam penjara. Namun, suatu saat nanti akan aku balas semua kejahatan yang pernah kalian lakukan terhadapku." Dewi mencengkeram kerah pakaian yang dikenakan oleh Langit dan kembali ia lanjutkan ucapannya. "Seekor singa tidak akan menampakkan keberingasannya jika ketenangannya tidak diusik. Camkan itu baik-baik tuan Langit yang terhormat!"

1
Sri Wahyuni
kisah yang mengharukan, namun akhirnya berakhir dengan kebahagiaan yang hakiki, adalah dikehidupan nyata akhir yg seperti itu... 🤔🤔🤔😘😘😘🌹🌹🌹👍👍👍💪💪🖕
Sri Wahyuni
hanya satu kata terucap, bahagia...
Naraa 🌻
idih najis gatau malu
Naraa 🌻
Dasar iblis EMG si Wenda, bisa jamin dah pasti dia terlibat dalam kecelakaan mamanya Bhumi, bego nya bapaknya mungut dan nikahin dia, mana udh di kasih clue nenek ga paham juga, parah bgt
Naraa 🌻
Jahat licik bgt para benalu
Wanda Pratiwi
good
Tina
Biasalah....iya kan thoorrrr , namanya jga kumpulan ibu2 julid hihihihihihi apalagi kerjaannya coba , kalau nggak menggosip & menjulid 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tina
Akhirnya.... mudah2an cita2mu segera tercapai ya Wi....💪💪💪💪 Wi.
Tina
Terima kasih ya thor, banyak pesan moral & kehidupan yg disampaikan disini, tp ceritanya tetap menarik 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰. ❤️ U thor 🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗👍👍👍👍👍👍👍
Tina
Bener jga kata Radit Ga , perlu dipertimbangkan, walau bentuk fisik bukan yg utama ,tapi kesehatan jga penting Ga.
Tina
Wuaaahhhh selamat ya Wi ,udah mau buat pertunjukan di TMII, akhirnya buah kebaikan, pengorbanan & kesabaranmu membuahkan hasil, & jgn lupa jga memberi khabar ibu & adikmu ya Wi. Dan teruntuk author moga lekas sembuh & bisa lekas menyapa penggemarmu lgi ya.....sehat selalu thor
Tina
Maaf thor,🙏🙏🙏🙏🙏🙏sekali, nggak sengaja thor...padahal aq bukannya mau kasih 1 bintang lho, tp pas mau tekan bintang berikutnya, padahal udah tak tekan2 masih nggak bisa, eee tau2nya muncul notif penilaian berhasil,akhirnya ini deh hasilnya...sekali lgi maaf ya thor, nggak sengaja 🤗🤗🤗🤗 padahal ceritanya lumayan lho, typo jga nggak terlalu tu.... cuma aq nya aja yg buru2 nekan itu bintang, sekali lgi maaaaaffff ya thor,mungkin author akan kecewa , tp tolong jgn marah ya....🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Tina
Yang sabar ya Dewi , semoga buah cinta & kesabaranmu membuahkan hasil .
Yora Fitriani86
hahahahahh
Sriza Juniarti
ternyata bhumi adalah arga...keren oi..🥰💕
Sriza Juniarti
bagus...tapi likenya kok sediikit ya
semangat kk💕🥰🥰
Sriza Juniarti
jahatnya.. balas thor...😤😤🤲
Maliqa Effendy
ga heran daerah Kampung Rambutan dan sekitarnya...harus extra hati2. kalo ga penting bngt jngn keluarin HP atau dompet.siapin uang secukupnya dikantong celana ..
Maliqa Effendy
lagian Dewi gampang banget sih percaya.kan jatohnya jadi gini...
Maliqa Effendy
Covernya bagus banget,Thor...semoga ceritanya jg bagus..baru mau baca ini....
Rasti Yulia: alhamdulillah... makasih kak.. tapi ini termasuk novel yang sedikit gagal karena pop nya gak naik-naik dan sepi pembaca 😂😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!