Lanjutan Dari Novel Terpaksa Menikah. Sebelum membaca kisah dari Anak - Anak Raka dan Eva beserta sahabatnya. Mohon di baca untuk Season pertamanya.
Sebelum ke sini tolong baca dulu Terpaksa Menikah.
Memilih pasangan yang pas, seperti sang mama adalah keinginginan Rava Atmadja. Banyak keinginan yang ia dasari dari kisah cinta papa dan mamanya, yang bersatu karena sebuah kesalahan. Kesalahan yang menurut sang papa dan juga mamanya, adalah berkat dan kebahagiaan dengan hadirnya, Rava di kehidupan mereka.
.
Karena di Jodohkan oleh sang mama dengan anak sahabatnya, Rava mencoba untuk lari dari kenyataan. Dan berusaha untuk memilih yang terbaik antara pilihan sang mama dan juga pilihannya sendiri. Mari baca dan berikan dukungan kalian. Terima Kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat Kakak.
Rava keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga, karena kedua adiknya berada di rumahnya dan bahan makanan pun sudah tidak ada di kulkasnya, ia bergegas berjalan keluar rumah dan meminta Defan untuk pergi membeli sarapan untuk mereka santap di pagi hari.
"Fan, pergi sana beli sarapan untuk kita."
Defan terhenti dari memandikan kekasih gelapnya itu, lalu ia menoleh lesu ke Rava, "Kakak…, aku saja masih muka bantal. Masakan harus keluar sih kak?"
"Terus... kau menyuruh tuan rumah yang membelikan sarapan untukmu?" tanya Rava.
"Baiklah." jawabnya sendiri lalu masuk ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobilnya. Defan masih terdiam dengan mulut terngangah. Pikirnya Rava ada gilanya, bertanya sendiri dan menjawab sendiri.
Rava kembali masuk ke garasi, "Keluarkan mobilmu." perintah Rava seraya masuk ke dalam mobil nya.
Defan dengan cepat membuka gerbang pagar lalu masuk ke dalam mobilnya, agar mobil Rava bisa keluar dari garasi mobilnya. Sebenarnya halaman rumah itu luas, tapi kalian tahu sifat Rava yang suka mengkoleksi mobil dan motor. Tapi ia sengaja, memakai mobil yang ada di garasi mobil depannya, agar si Defan sibuk. "Dasar kakak usil." gerutu Defan saat mobil Rava melaju dengan kecepatan sedang.
Rava melajukan mobilnya dengan di temani lagu dari penyanyi kesukaannya, yang ia putar dari audio mobilnya seraya mengikuti lantunan yang di nyanyikan oleh penyanyi itu.
My location unknown tryna find a way back home to you again. I gotta get back to you gotta gotta get back to you. My location unknown tryna find a way back home to you again. I gotta get back to you gotta gotta get back to you.
I just need to know that you're safe, given that I'm miles away. On the first flight back to your side. I don't care how long it takes, I know you'll be worth the wait , On the first flight back to your side.
Tak terasa ia sampai di dekat Chelsea Market, Tempat di mana masyarakat lokal mencari makan. Dan tempat itu salah satu yang Rava sukai. Karena menyediakan berbagai macam menu makanan dan minuman dengan lebih 35 toko di dalamnya.
Usai memarkirkan mobilnya, Rava berjalan kaki untuk masuk ke dalam. Memilih toko penjual makanan yang layak ia belikan untuk kedua adiknya, Rava memilih beberapa toko makanan dengan pilihan masing-masing yang ia rasa cocok untuk kedua adiknya.
^
Di sana Vara merasa terusik dari tidurnya, mendengar suara yang menggelegar di depan pintu kamarnya. Tepat di depan pintu kamar Vara, itu adalah kamar Defan. Defan dengan sengaja mengetuk kamar Vara agar anak malas itu bangun pikirnya.
"Woiiii... anak manja! bangun, matahari uda nungguin tuh, minta di jemput ama lo!" teriak Defan dengan gerakan tangan kencang mengedor pintu Vara.
Vara menggerakan tubuhnya, berasa terganggu. Ia mengambil bantal untuk menutup kupingnya. Mencoba untuk kembali tidur.
"Wooiii... Kudanil! astaga, ni anak cewek tapi bisa malas banget sih!. Vara bangun! siram bunga kak Rava, kasihan butuh minum. Kau saja kalau kurang minum pasti dehidrasi, kenapa kau gadis yang snangat kejam dan pemalas.Woiiii...!" teriaknya lagi dengan kencang menggedor pintu kaamar.
"Berisik banget sih!" Vara pun kesal dibuat oleh Defan. Ia mengacak - acak rambutnya dan mencoha membuka matanya. Menguap sesekali dan mengucek matanya.
"Bangun woi bangun-“
Bruggggggg….
Vara yang dengan cepat membuka pintu kamarnya melemparkan bantal ke wajah Defan, refleks ia terdiam dan menatap tajam ke Vara.
“Ganggui orang tidur aja, Lo!” ketus Vara.
“Lo itu seorang cewek! Harusnya tahu diri, lo itu harusnya bangun duluan ketimbang kak Rava. Kau tahu, ka Rava sudah berangkat untuk membeli sarapan pagi kita, enggak kek lo masih enak-enakan tidur. Malas banget sih lo! Setahu ku itu bibi Eva, enggak kek lo ini, MANJA!!!”
“Uda siap curhatnya?” tanya Vara malas.
“Yeeee.. di kasi tahu ngeyel amat sih Lo! Serah Lo lah!” ucap Defan berjalan turun untuk menunggu Rava pulang.
Vara sendiri merasa kesal, seakan-akan perkataan Defan mengena di hatinya. Ia memilih kembali masuk ke kamarnya dan bersiap untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Defan yang sudah di bawah, mengambil Koran yang sempat ia pungut, membuka halaman demi halaman, tampak wajah sang papa yang terpampang di halaman bisnis dengan kerennya, judulnya “Pengusaha berjiwa Muda dengan segudang Canda” Alamak aduhai nya sih Frans.
Defan mengernyitkan keningnya sendiri, ia sebenarnya sangat mengagumi sosok papanya, tapi apalah dayanya, dia tidak tertarik dengan pekerjaan sang papa. Karena itu dia memilih jalannya sendiri, dan pada akhirnya Frans mengalah, mungkin suatu saat nanti Defan bisa berubah., apa lagi Frans percaya dengan Rava yang ada di sisinya.
“Kenapa?” tiba-tiba Rava datang dengan membawa bungkusan, melihat Defan yang terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Egh… enggak apa-apa bang. Sini Defan bantui,” dengan cepat ia berdiri dan mengambil seluruh bawaan Rava.
“Mana Vara, Fan?”
“Dih.. tuh anak di banguni malah ngomel enggak jelas deh kak. Defan di marahi terus, rasanya itu gimana gitu, di timpuk pakai bantal sama dia.” Defan mengadu, sambilan membantu Rava memindahkan makanan ke atas piring dan mangkuk.
“Dia memang seperti itu, susah untuk dibangunkan. Coba kamu ke atas, bangunkan lagi.” Perintah Rava, saat hendak berpindah Defan menatap kedatangan Vara sedang menuruni anak tangga.
“Nah itu dia bang,”
“Apaa!” ketus Vara melototkan matanya.
“Cih.. kau itu anak cewek, tapi malas banget. Siapa yang mau menjadikan mu istri bila kau tidak merubah sifatmu itu!” jawab Defan tidak mau kalah.
“Dih.. kau itu pria tapi mulutmu sama seperti mamak-mamak yang enggak di kasi uang belanja bulanan! Lebih parah dirimu!” jawabnya dengan menatap tajam Defan yang di depannya.
“Kau-“
Rava menarik nafasnya, kupingnya sangat panas berada di dua benua, “Sudah, kalian mau sarapan atau berdebat? Kalau berdebat terus, biar kakak yang keluar dari rumah ini!” Rava menatap pada keduanya.
“Jangan dong kak, ini kan rumah kakak.” ucap Vara sedih.
“Iya, kak jangan. Nanti enggak ada yang ngasi kita makan.” Sambung Defan.
“Ya sudah, kalau begitu kalian duduk di tempat kalian masing-masing, makanlah yang sesuai selera kalian.” Rava mendudukkan dirinya di bangku di tengah-tengah meja makan.
Ting… Tong… Bell gerbang itu berbunyi, Mereka bertiga yang baru menyuap makanan mereka masing-masing saling melempar pandangan, menunggu siapa yang akan menawarkan diri.
“Sudah kak, biar Vara saja yang bukakan gerbang.” tawar Vara seraya beranjak.
“Iya sayang Terima Kasih. Besok bibi baru sudah masuk kok,” balas Rava dengan kepergian sang adik.
Vara pun keluar dengan pakaian rumah yang memang ada di kamar rumah kakaknya untuk Vara tempati, tampak kepolosan gadis nan berisik itu terpancar di bawah sinar matahari yang menerpa kulit putihnya. Saat pintu gerbang terbuka, ia melihat Harsen sudah berdiri di depan gerbang dengan senyumannya.
“Selamat pagi, Nona Vara,” sapa Harsen.
Vara berubah jadi kesal, dengan memajukan bibirnya seakan tidak terima, “Jangan panggil aku nona, harus berapa kali aku katakan namaku itu VARA. Hisss.. pagi-pagi banyak orang yang enggak punya aturan, buat perasaan buruk saja. Masuklah, kakak ada di dalam,” ucap Vara ingin berbalik tiba-tiba terkaget.
“DUARRRRRR!!!!”
“Eh copot kau, copottt,” Vara gagap seraya memegang dadanya.
Pria yang tiba-tiba mengagetkan itu tertawa ngakak melihat wajah Vara yang kaget,“Halo adikku sayang,” sapa Zayn, sahabat baik Rava dan juga Harsen.
“Kak Zayn…., apa kabar kak, lah ternyata kak Zayn masih hidup, tak kirain,” ucapan Vara terputus karena tidak enakan untuk melanjutnya. Sebenarnya Vara sangat senang akan kedatangan kedua pria di depannya.
Zayn berjalan mendekati Vara dan langsung saja ia merangkul leher Vara seraya membuat wajah Vara di bawah keteknya.
“Tak kirain apa, hah? Kamu ngatin kakak?” ucap Zayn.
“Kak Zayn, Lepasin!!! Ketek kakak bau,” teriak Vara meronta-ronta.
“Ampunnn?” seru Zayn.
“Sudah kak, lepasin! Vara gigit mau!”
“Zayn, masuklah. Aku mau memasukkan mobil,” ucap Harsen seraya mendorong gerbang rasanya seperti orang-orang tiruan yang berdiri di antara keduanya. Harsen itu pria yang kakuh, berbedah dari Rava dan Zayn. Walau umur mereka terpaut 2 tahun, tapi bagi Rava dan Zayn , Harsen anak yang bisa masuk ke mana aja.
“Baiklah,”balas Zayn merangkul Vara masuk ke dalam rumah.
Sebelum Harsen masuk ke dalam mobil, di lihatnya Vara yang di rangkul oleh Zayn, tanpa penolakan, merasa iri sama Zayn, Karena Zayn mampu membuat Vara tertawa atau pun tersenyum secara alami. Berbedah dengan Harsen, Vara asik cerwis terhadapnya. Padahal Harsen merasa dia, sangat sopan dan santun terhadap adik atasannya sekaligus sahabatnya.
.
Tekan like dan Vote ya :)
terima kasih krn masih mau menulis cerita untuk kami di sini 😍😍