Novel ini dalam tahap revisi.
Seorang wanita yang d tinggalkan saat sedang mengandung oleh pacar nya. Sampai akhirnya bertemu kembali 10 tahun kemudian yang membuat nya harus memulai perjalanan cinta nya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Baik Baik saja
Malam yang gelap,dengan di hiasi bintang berjejer tidak beraturan menghiasi langit malam.
Begitupun dengan Bulan yang menerangi, seolah menjadi seorang ibu yang menjaga dan menerangi anak anak nya yang sedang bermain.
Hembusan angin menambah dingin nya udara malam ini.
Dengan memakai daster rumahan yang sederhana,tampak Iren sedang membereskan dagangan nya.
Berapapun penghasilan yang di dapatnya hari ini Iren sebisa mungkin mensyukuri nya, karena baginya ada hal lain yang lebih berharga di dunia ini yaitu putrinya.
'Alhamdulillah hari ini dapat 72 ribu' ucap Iren sambil menghitung uang hasil berjualan nya hari ini.
Bagi nya uang segitu sudah cukup, untuk menghidupi dirinya dan Putri semata wayangnya.
Semenjak Bayu pergi meninggalkan dirinya dan Putri, Iren terpaksa harus mencari nafkah sendiri, meski hanya dengan berjualan kecil kecil lan ia merasa itu cukup untuk menyambung hidup dirinya dan buah hatinya.
Waktu menunjukan pukul 20.30 putri sudah tertidur lelap di kamar nya, sementara Iren masih terduduk di di atas lantai sembari memijat kaki yang terasa pegal.
''Hari ini sungguh melelahkan''
Ucap ireyn di dalam hati.
Belum lagi dia harus bangun pagi menyiapkan dagangan dan menyiapkan peralatan sekolah untuk Putri.
Dia terbaring di atas lantai yang dingin, memandang langit langit rumah nya yang sudah terlihat kusam,memejamkan mata nya.
Pagi pun menjelang,suara Kokok ayam membangun kan setiap insan yang masih terlelap, matahari terbit dari ufuk timur, sinar nya yang kemerehan memberi warna yang indah serta memberi banyak harapan bahwa hari ini akan lebih baik dari hari kemarin.
Seperti biasa rutinitas pagi Iren selalu sama, mengantarkan anak nya bersekolah.
Setelah mengantarkan anak nya dari sekolah, Iren mulai menjaga warung kecil nya, berharap rezeky hari ini akan lebih baik dari hari kemarin.
Alhamdulillah hari ini warung nya lumayan rame, banyak anak kecil yang membeli jajanan nya.
Melihat Jam dinding sudah menunjukan pukul 12.00 Iren bersiap untuk menjemput anak nya sekolah, dan warung nya pun di tutup sementara.
Iren berjalan santai di jalan yang sama yang selalu dia lalui setiap hari nya, tak lama kemudian dia sampai di sekolah putri nya.
Tanpa di sangka Putri sudah menunggu di depan gerbang, Iren melambaikan tangan dan memanggil Putri.
Tapi alangkah kagetnya saat Iren melihat Putri, ternyata Putri sedang bersama seorang pria, memakai kemeja biru polos,dengan lengan panjang di gulung sampai ke lutut.
Jantung nya terasa berhenti berdetak.
Pria yang sedang bersama Putri adalah Dokter Doni, langkah nya pun tiba tiba melambat, sampai pada akhirnya Putri melihat Iren dan melambaikan tangan sambil memanggil "IBU ..." Dengan senyum bahagia.
Iren menghampiri mereka berdua dan berkata.
"Dokter Doni, sedang apa di sini?" Tanya iren dengan nada gugup.
"Kebetulan aku sedang perjalanan dinas, tidak sengaja melihat putri di sini'' Jawab Dokter Doni berbohong.
"Ibu, boleh ya aku jalan jalan dengan om Dokter sebentar aja? Naik mobil bagus... Please..." Pinta Putri memohon.
"Putri... Pulang sekolah kan capek, kamu harus istirahat dulu, nanti sakit lagi lho'' Jawab Iren pada Putri nya.
"Sebentar aja Iren, please ijinin aku bawa Putri jalan jalan, dulu aku pernah janji sama Putri akan ngajak dia jalan jalan saat dia udah sembuh" Doni berusaha membujuk.
"Putri mohon Bu, izinin ya, sekali saja." Ucap Putri memegang tangan ibu nya.
Akhirnya hati Iren luluh dan menganggukkan kepalanya.
"Tapi kamu janji tidak akan lama,dan tidak boleh nakal sama om Dokter ya'' Jelas Iren.
Putri pun bersorak gembira.
"Kamu tidak ikut sekalian?" Tanya Doni pada Iren
"Tidak usah Don,aku sibuk'' Jawab Iren.
"Ya sudah kalau begitu aku antar kamu pulang dulu, baru pergi jalan bersama Putri''
Iren pun menggelengkan kepalanya, menghampiri Putri dan berkata.
"Put, yang nurut ya sama om Dokter ya. Jangan minta yang aneh aneh.''
Pesan Iren sambil merapikan seragam Putri nya,tak lupa dia mengambil tas sekolah milik Putri.
"Baik Bu, Putri janji tidak akan nakal'' Jawab Putri.
"Aku titip Putri. Kalian hati hati ya'' Ucap Iren pada Doni sambil berbalik meninggalkan mereka berdua.
"Hati hati di jalan juga ibu'' Jawab Putri sambil melambaikan tangan nya.
Iren pun membalikan badan sembari membalas melambaikan tangan.
"Selamat bersenang senang ya putri ku sayang'' Ucap Iren berteriak kepada Putri, lalu ia pun Melanjutkan kan langkah nya.
Mobil Doni berjalan mendahului Iren, Putri masih melambai kan tangannya dari dalam mobil yang di balas dengan senyuman penuh haru oleh ibu nya.
***
Di dalam mobil Dokter Doni memulai percakapan dengan putrinya.
"Kita mau kemana dulu nih?" Tanya Doni sembari mengelus rambut putri.
"Terserah om aja" Jawab Putri dengan senyum ceria.
"Ada tempat yang ingin kamu kunjungi tidak, atau tempat yang tidak pernah kamu kunjungi,om bakalan bawa kamu ke sana?''
"Ada om... Aku belum pernah jalan jalan ke Mall, teman teman aku selalu cerita kalau mereka sering di ajak jalan jalan ke sana bersama ayah mereka, sedangkan aku sekalipun tidak pernah kesana'' Jawab Putri dengan nada sedih.
"Memang nya papa kamu tidak pernah mengajak kamu jalan ke mall'' Tanya Doni
Putri menggelengkan kepalanya sambil menunduk.
"Ok,kalau begitu om Dokter akan membawa kamu jalan jalan ke mall, kamu bebas beli apa saja,main apa aja dan makan apa aja,om yang traktir'' Ucap Dokter Doni menghibur putri nya.
"Yeeeeyyy asiiiik...." Putri pun bersorak gembira.
Akhirnya mereka sampai juga di mall. Putri turun dari dalam mobil, matanya tak berkedip melihat bangunan megah yang ada di depan mata nya.
"Mau om gendong?'' Tanya Doni.
"Mau mau om.'' Jawab putri.
Sembari menggendong putyri nya Dokter Doni memasuki mall.
"Kita makan dulu ya, om lapar nih''
"Ayo om, putri juga lapar''
"Putri mau makan apa?"
"Putri mau makan 'kaepci' om. Yang kaya di tv tv itu lho''
Doni tersenyum geli mendengar Putri mengucapkan kata "kaepci" dan kemudian melangkah menuju tempat makan yang di sebut Putri sebagai kaepci.
"Nah itu dia kaepci nya'' Ucap Doni sembari menurunkan Putri dari gendongan nya.
"Kamu berat juga ya'' Ucap Doni sambil mencubit pipi tirus Putri nya.
Selesai memesan makanan mereka duduk di samping jendela,mata Putri sibuk melihat lihat keluar jendela, ada banyak hal yang menarik perhatian Putri, karena ini adalah pertama kali nya dia memasuki mall, tempat ini masih terasa asing dan aneh di mata Putri.
"Sayang... Makanan nya di makan dulu ya" Ucap Dokter Doni.
"Iya om..." Jawab Putri.
"Selesai makan kita jalan,belanja belanja,kamu bebas minta apa aja sama om,tidak usah malu,uang om Banyak ko... oke..." Ucap Doni sembari memasukan sepotong ayam ke mulut nya.
Selesai makan mereka pun berjalan mengelilingi mall,memasuki toko pakaian, tempat aksesoris,bahkan menaiki wahana anak anak yang belum pernah di naiki oleh Putri.
Terlihat aura bahagia di wajah putri,dia tidak pernah sebahagia dan se gembira ini, senyum nya tak pernah terhenti dari bibir mungilnya.
***
Sementara itu Iren cemas karena Putri belum juga pulang, sementara waktu Sudah menunjukkan pukul 18.30
Dia duduk di teras rumah nya,dagangan nya pun telah selesai di bereskan.
Tak lama kemudian mobil Dokter Doni datang dan terparkir di depan rumah Iren
''Akhirnya mereka pulang juga..''
Ucap Iren dalam hati.
Iren berdiri dan menghampiri Putri yang tertidur di gendongan Doni.
"Putri kamu kenapa nak?'' Tanya iren.
"Dia tertidur di mobil,mungkin karena kelelahan'' Jawab Doni
Iren mencoba memindahkan Putri ke tangan nya.
Tapi Putri terbangun,sambil menguap dan mengucek matanya, Putri berkata.
"Kita sudah sampai om...?" Tanya Putri pada Doni.
"Iya kita sudah sampai sayang''
"Mainan Putri yang tadi mana om?''
"Putri di gendong ibu dulu ya,om ambilkan belanjaan kita di dalam mobil" Ucap Doni sambil memindahkan Putri ke pangkuan ibunya.
Iren masuk ke dalam rumah dan menidurkan anak nya disopa. Kemudian Doni masuk membawa lebih dari 5 buah kantong belanjaan yang semua isi nya penuh, Iren kaget dengan apa yang di lihatnya.
"Semua ini apa Doni?'' Tanya Iren.
"Ini semua mainan buat Putri, ada boneka, masak masakan, bahkan ada baju baru juga buat Putri''
"Aku ga suka kamu memberi kan barang barang mewah seperti ini pada Putri'' Iren berbicara dengan nada tegas.
"Ini bukan barang mewah, ini hanya mainan anak kecil yang tidak pernah di miliki putri, jadi wajar kalau aku membelikan nya untuk dia'' Doni berusaha menjelaskan.
"Aku tidak butuh semua ini, silahkan bawa lagi'' Ucap Iren
Tiba tiba Putri menangis.
"Ibu mainan Putri jangan di bawa lagi, Putri mohon ibu, papa belum pernah beliin Putri mainan sebanyak ini'' Ucap Putri sembari terus menangis memohon pada ibu nya.
Iren merasa tidak tega melihat anaknya menangis, akhirnya dia menerima semua yang di bawa oleh Doni, lalu ia menyuruh Putri untuk masuk ke kamar nya.
Sementara itu ia ingin berbicara 4 mata dengan Dokter Doni.
"Kita bicara di luar'' Ujar Iren sembari melangkah ke teras rumah.
''Jangan pernah melakukan hal ini lagi pada Putri, jangan memberikan barang apapun lagi sama dia.'' Ucap Iren sembari menatap langit gelap.
"Apa salahnya Iren, aku hanya ingin membuat putri bahagia, dia sepertinya tidak pernah mendapat kan perhatian sebesar itu dari Bayu''
"Jangan so tau kamu, Bayu menyayangi putri seperti darah dagingnya sendiri, karena dia yang merawat dan membesarkan Putri'' Jawab iren ketus
"Lalu dimana dia sekarang?" Tanya Doni.
''Dimana dia sekarang saat kamu harus berjualan seperti ini untuk menyambung hidup?" Doni melanjutkan ucapannya.
Iren hanya terdiam, karena memang kenyataannya Bayu telah meninggal kan dirinya dan Putri.
"Aku baik baik saja, aku dan Putri akan baik baik saja, tanpa Bayu dan tanpa kamu, kita sudah bahagia hidup berdua seperti ini. Aku minta kamu pulang sekarang'' Ujar Iren sambil masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
Dia terlihat tegar, tapi sebenarnya hatinya rapuh, air mata nya menetes dan langsung di usap oleh tangan nya sendiri.
Sementara itu Doni diam mematung, merasakan dinginnya nya udara malam, sedingin sikap Iren pada nya.
Akhirnya dia beranjak pergi, meninggalkan rumah sederhana itu dengan hati membeku karena sikap yang telah dia terima dari Iren.
******
komplit mendukungmu thor