COOL BOY GUS FASHAN
🌸SEASON DUA DARI USTADZ MUDA ITU SUAMIKU🌸
Seorang pria gagah, tampan, pemalu dan dingin. Sangat menyayangi keluarganya. Seorang pria berumur 25 tahun, Muhammad Fashan Ali Zainul Majdi. Si sulung dari 4 bersaudara.
Kisah cintanya tak berlangsung mulus, apalagi saat dia dituduh atas perbuatan yang tidak pernah dia lakukan. Namun, walaupun begitu. Dia adalah pria yang taat agama dan Sholeh. Menginginkan pasangan terbaik, bahkan keislamannya pun sangat berharga untuk nya. Gus Fashan adalah seorang pebisnis muda, guru dan pengurus pesantren keluarganya Al Bidayah. Karena kejadian malam itu, setelah yakin dengan sholat istikharah. Dia menikahi seorang gadis yang memiliki sifat tidak jauh-jauh darinya, dingin, cuek, galak dsn ketus. Gus Fashan berusaha menjadi sosok yang baik untuk istrinya tercinta Raihanah Sufu Embrace, 22 tahun, santriwati baru di pesantren. Gus Fashan berusaha menjadi pencair suasana, jika dia masih bersikukuh dengan sikap cueknya, entah bagaimana rumah tangga nya dengan Raihanah. Gus Fashan akan terus berusaha mendapatkan penerimaan yang ikhlas dari istrinya, walaupun sulit dan memerlukan waktu. Akankah si ketus Raihanah luluh? kita simak kisahnya..
Happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Tamparan keras
Raihanah, nek Riska dan Niken sedang menikmati bakso di seberang jalan. Berseberangan dengan pesantren, tak henti-hentinya nek Riska memperhatikan Raihanah. Raihanah terlihat sangat nyaman dengan penampilan barunya. Jiwa bar-bar cucunya terlihat berkurang.
"Rai, kamu betah mondok? Pasti enggak kan, gak bebas" tutur Niken, dan Raihanah langsung menggeleng kepala.
"Banyak temen kok, rame. Cuma harus pandai-pandai menjaga sikap sama bergaul, pesantren memang tempat menuntut ilmu, tapi gak ada jaminan manusia di dalamnya seperti malaikat, yang julid, jahil juga banyak. Tapi gak separah kehidupan di luar pesantren. Khusus aku yang mahasiswi, peraturannya lebih ketat sih" tutur Raihanah menjelaskan, dengan hati-hati. Supaya Niken tidak salah menilai tentang tempat tinggalnya itu, semakin lama. Raihanah merasa hidup di pesantren lebih tenang, ketimbang hidup sama Tante dan om nya.
Nenek Riska tersenyum mendengar penuturan Raihanah." Nenek seneng denger ucapan kamu Rai" ucap nenek dan Raihanah terdiam sejenak.
"Aku juga jadi pengen mondok" kata Niken, dia baru tahu jika Fara dan gus Fashan adalah anak pak kyai dari pemilik pesantren Al Bidayah. Keduanya adalah gus dan Ning.
"Ah kamu, sekolah aja pindah-pindah. Gak bener, nanti malah bikin malu nama pesantren" ujar nenek tanpa ragu mencela, bibir Niken mengerucut kesal.
"Aku juga dipaksa sama nenek, eh malah betah" kata Raihanah dan nenek tersenyum.
"Kamu harus bersyukur nenek maksa kamu, nenek mau yang terbaik untuk kamu Rai, untuk semua cucu cucu nenek" lirih nenek dan Raihanah mengangguk lucu.
"Rai, kamu sering ketemu sama gus ganteng itu dong" ujar Niken genit dan Raihanah melongo. Siapa? Gus Fashan kan?.
"Siapa?" Raihanah pura-pura tidak paham.
"Gus Fashan namanya, dia guru di sekolah aku juga" ucap Niken dan Raihanah menghentikan aktivitas nya, jadi dia sering melihat pagi-pagi gus Fashan rapi dan pergi bersama Fara itu bukan sekedar mengantar? Tapi gus Fashan juga guru di sekolah. Rasa kagum tiba-tiba muncul di benak Raihanah, apa gampang membagi waktu. Yang dia tahu gus Fashan pebisnis, guru dan mengurus pesantren Al Bidayah.
Sosok pria yang belum pernah dia temui sebelumnya.
"Oh itu, semua orang di pesantren tahu dia siapa. Adiknya Faiza kuliah di universitas yang sama, sama aku. Kami sering berangkat bareng, aku juga sering keluar masuk rumah pak kyai" tutur Raihanah, begitu antusiasnya dia menceritakan semuanya. Niken semakin iri." Nenek, nenek harus tahu. Keluarga pak Kyai itu baik-baik loh, aku sering dikasih kue, semuanya baik apalagi umi Nailah, tapi gus Fashan gak baik-baik amat sih. Dia songong" sambungnya sambil memegang tangan nenek.
"Heh jangan begitu, harus sopan sama keluarga pak kyai. Mau bagaimana pun juga mereka yang mendirikan pesantren Al Bidayah sampai seterkenal sekarang" ucap nenek dan Raihanah diam.
"Apa sangat terkenal?" tanya Raihanah dan nenek mengangguk.
*****
Di pesantren, Nida dan Fara sedang berjalan-jalan. Keduanya diam saat berpapasan dengan Syifa, Robi dan Ikhsan. Ikhsan tersenyum melihat kakaknya Nida. Dia langsung berlari dan memeluk Nida erat, Nida diam dan saling menatap lekat dengan ayahnya. Ayahnya yang sedang bersama istri kedua, dan sangat muda itu.
ikhsan mendongak, menatap wajah Nida begitu polos." Teteh" panggil nya lembut, walaupun Nida kasar, ikhsan tetap saja selalu mendekat. Anak kecil berumur 4 tahun itu tidak tahu apa yang terjadi, yang jelas dia senang karena memiliki kakak.
Nida meradang, dia tidak suka. Dia sama sekali tidak perduli dengan perasaan si kecil Ikhsan. Dia lepaskan kedua tangan Ikhsan dari pinggangnya, lalu mendorong adiknya itu. Semuanya panik melihat ikhsan terjatuh.
"Nida!" bentak Robi.
"Nida, kamu...." Ucapan Fara menggantung, dia bergegas mendekati Ikhsan dan Syifa pun mendekat.
"Anak umi jagoan, jangan nangis" ucap Syifa, berusaha menenangkan ikhsan yang sudah akan menangis. Hidungnya merah dan keduanya matanya berair.
"Kita jajan ya, teh Fara jajanin deh. Jangan nangis ya" ucap Fara ikut menenangkan, ikhsan mengangguk." Bibi, aku bawa Ikhsan boleh?" Fara meminta izin dan Syifa mengangguk. Fara pun lekas membawa Ikhsan untuk jajan, agar Ikhsan tidak sedih lagi. Ikhsan melangkah, tangannya digandeng Fara tapi dia terus menoleh melihat orang tua dan kakaknya Nida.
Tangan Syifa terkepal kuat, dan menatap Nida tajam." Kamu boleh gak suka sama saya, kamu boleh benci sama saya, tapi anak saya Ikshan gak tahu apa-apa, dan dia juga adik kamu. Kalau mau marah, marah aja sama saya Nida" seru nya lantang. Ibu mana yang bisa tahan melihat anaknya disakiti, anak yang dia kandung 9 bulan, anak yang dia lahirkan susah payah. Dengan mudahnya Nida menyakiti anaknya. Robi terus menahan Syifa dan Nida semakin kesal.
"Iya saya benci sama kamu!" teriak Nida. Kedua matanya berair dan saling menatap tajam dengan Syifa.
"Kemalangan yang saya alami bukan di saat saya menjadi istri kedua, tapi kemalangan yang paling buruk bagi saya adalah memiliki anak tiri yang begitu kurang ajar" tutur Syifa dan Nida tidak terima.
Plak
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Syifa, Syifa terkejut dan Robi melepaskannya lalu mendekati Nida.
"Lancang kamu" geram Robi.
"Ayah mau balas, silahkan. Tampar aku ayah" tegas Nida.
Robi sudah mengangkat tangannya, untuk menyeret Nida. Tapi dia berhenti saat abi Farhan menyelinap masuk di antara dia dan Nida, tangisan Nida pecah. Dia menunduk di belakang tubuh abi Farhan.
"Kita bicarakan ini di rumah, secara baik-baik. Jangan sampai semua anak-anakku melihat apa yang terjadi, semua santri adalah anakku. Jangan memperlihatkan sesuatu yang buruk kepada mereka, Syifa keponakan ku. Anak almarhumah Ning Ayu, dan Hafshah juga keponakan ku, anak dari Ning Inez. Keduanya sama-sama aku sayangi, jangan berbuat kasar. Ayo kita ke rumah" tutur abi Farhan begitu tegasnya, kewibawaan yang tak pernah lepas dari sosoknya. Syifa menangis dan berlalu pergi menuju rumah abi Farhan. Abi Farhan melangkah dan Nida mengikuti nya, di susul Robi. Raihanah dari balkon asrama memperhatikan, dia baru saja kembali setelah bertemu dengan nenek nya dan Niken, langsung melihat kejadian tidak pantas itu.
Di rumah abi Farhan semuanya duduk, gus Fashan duduk di dekat uminya. Umi Nailah terlihat sedih mendengar apa yang terjadi, Fara semampunya menahan Ikhsan bersama santriwati lain agar berhenti merengek-rengek, ingin bertemu dengan Syifa dan Robi.
"Nida, Syifa memang istri kedua ayah kamu. Tapi dia juga sama seperti ibumu, hormati dia nak. Umi juga seorang ibu, mana pernah anak-anak umi menaikkan suara apalagi sampai mengangkat tangannya. Kenapa kamu malah semakin liar sayang, kami semua sayang banget sama kamu. Tapi kami juga bisa lelah, cukup berprilaku seperti ini. Cukup, membuat onar untuk menarik perhatian. Bukan perhatian yang kamu dapat nak, tapi malah caci maki dan dijauhi semua orang. Usia 18 tahun memang masih labil, tapi apa gak bisa belajar berdamai dengan keadaan? Mau kamu berontak seperti apapun, kamu gak bisa mengembalikan keadaan seperti dulu" tutur umi Nailah serak, air matanya jatuh dan reflek Abi Farhan dan gus Fashan menyekanya.
"Umi" abi Farhan berbisik, dia merangkul bahu istrinya itu hangat.
Nida menunduk lemah, menekuk wajahnya dalam-dalam. Betapa bodoh nya dia karena melakukan itu, menyesal tiada guna. Penilaian orang tua dan semua orang semakin buruk tentangnya.
"Aku minta maaf karena membuat keributan disini" ujar Robi dan umi Nailah memalingkan wajahnya, tak mau dia melihat adiknya itu.
"Bukan hanya sekedar minta maaf seharusnya. Tapi om juga harus bisa menghargai dua keluarga yang sudah om bangun, dengan bibi Hafshah dan bibi Syifa. Karena masalahnya semakin runyam, alangkah baiknya untuk menyadari kekurangan masing-masing, Nida gak sepenuhnya salah. Dia berontak untuk menuntut keadilan buat ibunya bibi Hafshah, pemikiran anak seumur Nida gak bisa kita tuntut sama seperti pemikiran kita orang dewasa."
"Dulu, Nida baik-baik saja. Sikapnya normal seperti gadis yang lain, seusianya. Tapi setelah ayahnya menikah lagi dia berubah, seperti seorang ibu, seorang anak juga gak bisa melihat ibunya disakiti. Mungkin Nida sering melihat ibunya menangis, dan om setelah menikah lagi berubah, itu yang memicu terjadinya hal ini. Ini bukan sepenuhnya salah Nida, orang tua gak selamanya benar dan anakpun gak selamanya salah. Sudi kiranya untuk memperbaiki komunikasi, komunikasi yang baik antara anak dan orang tua itu penting." Tutur Gus Fashan lagi. Dia melirik Nida sesekali yang terus menangis.
"Apa yang dibilang Fashan itu bener. Nida gak sepenuhnya salah, seorang anak yang melihat ibunya di duakan pasti gak terima, tapi disini Syifa juga gak salah sepenuhnya. Seperti yang kita tahu, pernikahan kalian itu karena sebuah tragedi. Karena kecelakaan, dan akhirnya kamu Robi yang mau menikahi Syifa." Seru Abi Farhan menambahkan, Robi sama sekali tidak menyahut. Dia diam dan menoleh menatap putrinya lekat.
"Ayah lebih sayang sama anak laki-lakinya, gak sama aku hiks..." Ujar Nida protes, tangisannya semakin menjadi-jadi dan semuanya diam.
"Anak perempuan dan anak laki-laki itu sama neng" timpal Syifa dan Nida menunduk.
"Kami semua gak bisa ikut campur terlalu dalam, ini masalah keluarga kalian, kamu Robi sebagai kepala keluarga, urus lah keluarga kamu yang sudah ada, jangan malah sibuk mau menambah keluarga lagi. Kamu hanya manusia Robi, ingat itu. Jangan merasa kamu bisa memperistri semua gadis yang membuat kamu tertarik, dan tolong jangan pernah menganggu Risma ataupun Raihanah lagi" ujar umi Nailah begitu tegas. Gus Fashan menoleh saat mendengar nama Raihanah. Raihanah menjadi incaran pamannya itu?. Yang benar saja, seolah tidak pernah ada rasa puasnya.
"Pulang lah, selesaikan semuanya, tanpa harus mengangkat tangan, bicara baik-baik, jangan saling meneriaki. Nida, abi minta maaf sama kamu. Untuk kebaikan kamu sendiri, mulai sekarang Abi melarang kamu untuk datang kemari apalagi untuk menginap, rumah Abi bukan tempat pelarian neng. Diam di rumah apapun yang terjadi, sejatinya muslimah yang itu adalah menghuni rumahnya. Bukan keluyuran apalagi kabur, kamu sudah seperti anak Abi sendiri. Tapi tolong, jika bisa hargai Abi ya. Hargai orang tua kamu, mau kamu menyalahkan ayah kamu dan Syifa, kamu juga salah. Apalagi melibatkan kami semua disini" imbuh abi Farhan panjang lebar, keputusannya sudah final. Tidak bisa diganggu gugat apalagi di rubah.
"kamu boleh datang, dalam keadaan baik-baik saja, untuk bersilaturahmi bukan untuk menghindar dan jangan menginap. Kamu sudah dewasa, dan Abi punya anak lelaki dewasa yang belum laku juga, takutnya timbul fitnah" sambung abi Farhan kembali, Gus Fashan mendelik sebal. Kenapa dia harus dianggap belum laku juga.
Setelah berunding untuk kebaikan bersama, Nida akhirnya dibawa pulang. Syifa juga mengajak ikhsan pulang, umi Nailah dan abi Farhan diam. Masih duduk di sofa dan tidak habis pikir dengan apa yang terjadi saat ini.
*****
Hari ini, semua keluarga pak Kyai pergi untuk menghadiri acara amal. Kecuali Faiza dan Gus Fashan, Gus Fashan memiliki acara sendiri dan Faiza harus kuliah sampai sore.
Faiza beserta temannya Dedeh dan Gita sedang membuntuti mobil Bian, Bian, Raihanah, Kris dan dua orang perempuan di dalam mobil melaju, setelah meninggalkan kafe dan Bian bilang akan mengantarkan Raihanah, mereka ke kafe untuk membicarakan tugas kuliah mereka. Namun Raihanah panik saat mobil berbelok ke arah lain, bukan ke arah pesantren, dia mengirimkan pesan kepada Faiza untuk menolongnya, mengajak gus Fashan kalau perlu.
"Zovi, Nawal, kenapa kita kesini jalannya. Ini salah jalan" ujar Raihanah.
"Ini jalan lain Rai, lebih cepat." Ucap Bian dan terus menyetir.
"Yang bener lu Bian, ini kita mau kemana. Aku harus balik ke pesantren" tegas Raihanah. Tapi Bian diam.
"Diam dulu kenapa sih Rai, berisik banget. Nih minum biar tenang" titah Zovi, dia memberikan sebotol air dan Raihanah menerimanya. Dia juga sangat haus saat ini, Bian tersenyum tipis dan akhirnya Raihanah meminum air tersebut.
Kris menggigit bibirnya kelu, semakin lama Raihanah mulai merasakan sesuatu yang aneh dengan tubuhnya.
"Kenapa gak sampai-sampai sih?" Ketus Raihanah, dia mengepalkan tangannya yang berkeringat dingin. Air yang sudah di campur dengan lima tetes obat perangsang itu mulai bekerja. Raihanah mengusap keringat di keningnya, tubuhnya terasa begitu panas.
Mobil Bian berhenti, Zovi dan Nawal turun. Nawal menerima uang dari Kris dan tersenyum.
"Thanks Kris" ujar Nawal.
"Oke" singkat Kris, Zovi dan Nawal pergi. Raihanah sudah membuka pintu mobil tapi Bian menahannya.
"Bian lepas!" jerit Raihanah. Bian menariknya dan mengunci pintu mobil kembali. Mobil melaju tapi tiba-tiba berhenti mendadak saat Gita menghadang mobil Bian.
"Sial" umpat Kris. Terlihat Gita turun bersama Dedeh. Di susul Faiza. Ketiganya membawa senjata seadanya pemukul baseball, dongkrak dan air cabai yang selalu dibawa Faiza di dalam botol parfum.
"Bian keluar lu!" teriak Gita. Dia menghalangi mobil Bian dari depan.
Brak brak brak
Faiza menggebrak kaca mobil.
"Raihanah!" teriak Faiza frustasi. Bian dan Kris akhirnya keluar. Mereka tidak mau memberikan Raihanah yang sudah mulai tidak bisa mengendalikan tubuhnya.
"Gua laporin polisi lu ya berdua" tegas Gita.
"Rai ada urusan sama kita berdua, dia juga mau" ucap Bian beralasan.
"Kamu bilang mau? Rai kenapa, kamu apain Raihanah Bian" Faiza berteriak-teriak. Dedeh akhirnya memukul kaca mobil Bian dengan dongkrak.
Brak..
Prang...
"Sialan lu deh" umpat Bian dan tidak terima.
"Mau gue pukul juga lu hah!" tegas Dedeh dengan mengarahkan dongkrak di tangannya." Buka gak!" Tegas Dedeh.
Bian akhirnya membuka pintu mobil nya, Gita dan Faiza memukuli Kris dan Bian tiba-tiba, jelas keduanya langsung ambruk ke atas apal. Kedua pria itu sempat melawan, tapi tidak bisa.
"Rai" ucap Dedeh, dia memapah Raihanah dan Faiza berhenti lalu membantunya.
Gita pura-pura menelepon polisi untuk mengelabuhi Bian dan Kris.
"Iya pak, di jalan kenanga. Kami tunggu pak" seru Gita.
"Awas lu Gita" tegas Bian dan berlari lalu Kris menyusulnya.
Gita mengusap keningnya, dia mengatur nafasnya yang tersengal-sengal setelah memukuli kedua pria bajingan itu.
"Rai istighfar" ucap Faiza.
"Kita bawa ke kos-kosan gue, di sana aman" ajak Dedeh dan Faiza mengangguk.