REYHAN, dia adalah anak angkat yang dituduh telah menghabisi orang tua yang mengadopsinya hingga pada usia 12 tahun memaksanya harus merasakan dinginnya tembok penjara.
tidak ada yang mengetahui jika anak kecil itu hanya difitnah karena pada hari kejadian orang-orang melihatnya memegang pistol yang diduga dipakai menghabisi nyawa orang tuanya. bahkan adik angkatnya pun sangat membencinya karena tragedi itu.
pembelaan yang dilakukan hanya sia-sia, saat diadili tanpa sengaja dia melihat pembunuh orang tua angkatnya ada di sana dia tersenyum pada Reyhan dengan menyeringai kemudian pergi begitu saja.melihat itu api dendam dalam dirinya menyala dan bersumpah akan menghabisi orang yang telah membunuh orang tua angkatnya kelak saat dia dibebaskan dari penjara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N_Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 bertukar Kisah
Amelia benar-benar memperhatikan cara Reyhan memotong tomat bukan hanya itu Reyhan juga mengajarkan cara memotong sayuran, menanak nasi dan masih banyak lagi.
30 menit berlalu akhirnya makan malam sudah siap, Amelia dan Reyhan mulai menatanya di meja makan sebelum memanggil Kyesor dan Luna.
"hmm.. akhirnya semuanya sudah siap aku panggil Ayah dan bunda dulu ya." ucap Amelia bergegas menemui Kyesor dan Luna.
Setibanya di meja makan, Kyesor dan Luna terpukai melihat banyak makan di atas meja. Reyhan lalu mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Sungguh, semua ini Reyhan yang buat wahh." ucap Kyesor kagum.
"Tidak tuan, non Amelia juga turut membantu ku." ucap Reyhan.
"Benarkah, ayah tidak menyangka ternyata putri ku pandai memasak." Kyesor terkekeh geli mengetahui itu, sebab ia tahu jika anaknya sama sekali tidak bisa memasak.
Melihat reaksi sang ayah, wajah Amelia menjadi manyun karena dia tahu jika ayahnya sedang meledeknya.
"Sudahlah, ayo sekarang kita makan nanti keburu dingin." ucap Luna lalu menyajikan makanan ke piring suaminya sebelum dia.
Usai makan malam, setelah Amelia dan Reyhan membersihkan meja makan. Amelia bergegas menemui ayahnya yang kini sudah ada di kamarnya. Melihat kedanngan sang putri, Kyesor lalu meminta untuk duduk di sampingnya.
"Ada apa sayang?" tanyanya seolah dia tahu jika Amelia ingin menyampaikan sesuatu.
"Ayah, aku merasa jika saat ini aku akan berhenti kuliah dan ingin mencari pekerjaan." ungkap Amelia.
"Apa yang kau katakan nak, ayah tidak setuju jika kau harus berhenti kuliah." tolak Kyesor tidak menyetujuinya.
"Tapi ayah, keadaan kita saat ini tidak memungkinkan aku untuk melanjutkan kuliah ku, apa lagi ingin membayar uang kuliah yang lumayan tinggi dari mana kita akan mendapatkan uang." Amelia mencoba memberikan pengertian kepada Kyesor.
Mendengar itu Kyesor tertunduk lesu merasa begitu malu, dia merasa benar-benar gagal menjadi Ayah yang baik untuk putrinya. Amelia yang melihat wajah sang ayah turut merasa bersalah.
"Maafkan Amelia ayah, aku tidak bermaksud membuat mu bersedia tapi aku mohon izinkan aku berhenti kuliah agar bisa mencari pekerjaan." ucapnya memohon.
Kyesor bangkit dan tanpa mengatakan sepatah kata ia pun pergi meninggalkan kamar itu. Amelia menghela nafas dan air mata jatuh membasahi pipi mulusnya. Sebenarnya ini adalah keputusan yang sulit untuknya tapi dia tidak juga tidak bisa menjadi beban lagi.
Di sisi lain, Reyhan merasa begitu perihatin dengan keluarga itu. Kemudian dia menyusul Kyesor yang tadi dilihatnya keluarga dari rumah.
"Kemana tuan Kyesor pergi?" tanyanya sambil terus mencari.
Setengah cukup lama, akhirnya ia menemukan Kyesor ada teras apartemen yang biasanya digunakan untuk menjemur pakaian oleh penghuni apartemen. Perlahan ia mendekat lalu merangkul pahu Kyesor.
"Udaranya begitu dingin tuan tapi mengapa kau ada di sini?" Reyhan mencoba basa basi
"Rey, jangan panggil aku tuan lagi sebab aku bukan lagi atasanmu, panggil saja paman." ucap Kyesor.
Reyhan mengangguk tanda setuju, kemudian ia melepaskan rangkulannya lalu menghela nafas.
"Paman, bolehkah aku bercerita padamu?" tanyanya meminta persetujuan.
"Tentu, cerita saja aku pasti akan mendengarkannya." jawab Kyesor menyetujuinya.
"Dulu saat usia ku 10 tahun, aku pernah di adopsi oleh sepasang suami istri yang mana mereka sangat menyayangiku sehingga aku tidak merasa jika mereka hanyalah orang tua angkatku." Reyhan mulai bercerita.
"Lalu?"
"Aku merasakan sangat bahagia dan beruntung karena di pertemukan orang baik seperti mereka, namun semuanya sirna setelah kejadian itu." Reyhan tertunduk dan mulai mengingat malam itu.
Kyesor terheran karena Reyhan tak melajukan lagi ceritanya, saat menolehkan ia melihat Reyhan meneteskan air mata.
"Kau menangis, tapi kenapa apa yang terjadi dan dimana orang tuamu saat ini?" Kyesor bertanya lagi.
Reyhan menghela nafas lalu kembali melanjutkan ceritanya.
"Ini terjadi sekitar 12 tahun yang lalu, saat itu ada perampok yang masuk ke rumah kami dan mereka melenyapkan ayah dan ibu tepat didepan mataku, dan demi lolos dari hukum dia dengan cerdiknya membuat ku seolah yang menjadi tersangka, itulah mengapa aku dihukum selama 12 tahun penjara dan baru-baru ini aku baru bebas."
Kyesor tercengang mendengarkan cerita Reyhan, dia tidak menduga jika anak itu telah melalui masa-masa sulit namun di masih tetap semangat.
"Lalu di mana orang yang telah membunuh orang tua angkatmu?" tanya Kyesor penasaran.
"Aku tidak tahu di mana dia saat ini, sebenarnya aku akan membalas dendam kepadanya atas apa yang ia lakukan pada ku dan pada ayah ibuku dahulu, aku yakin cepat atau lambat aku pasti menemukannya!" ucap Reyhan terbawah emosi hingga tanpa sadar memukul pagar besi yang menjadi penghalang teras itu.
Kyesor menelan selivanya melihat sedikit amarah dari seorang Reyhan, Sungguh dia benar benar tak menduga jika pria itu ternyata memiliki hasrat untuk membunuh orang walaupun hanya membalas dendam saja.
"Kau tenanglah nak, pasti hari itu akan tiba dimana kau bisa membalas kekejaman orang itu, dan satu lagi aku ingin mengetahui bagiamana bisa kau bisa mengenal Liando?" ucap Kyesor.
"Aku mengenal paman Liando saat aku masih menjadi narapidana di kantor polisi yang sama, dia yang selama ini melindungiku dari kejahatan narapidana lain yang menindasku. Bahkan aku sudah menganggapnya ayah begitu pun sebaliknya." jawab Reyhan.
"Liando memang pria yang sungguh bijaksana dan sangat baik, sungguh tega keluarga istrinya memperlakun Liando seperti itu." ucap Kyesor, dia sangat mengenal baik seperti apa Liando.
Beberapa saat mereka terdiam, lalu Reyhan teringat akan targadi yang terjadi pada anak Kyesor dan Liando di bukit, dengan sedikit ragu Reyhan mencoba menanyakan tentang itu pada Kyesor.
"Maaf paman, tapi apakah aku boleh tahu tentang tragedi yang dulu pernah kalian alami di bukit?" Mendengar itu, Kyesor menatap Reyhan dengan terkejut.
"D-dari mana kau tahu tentang itu?' tanya Kyesor.
"Maafkan aku Paman, sebenarnya di hari kau dan Amelia bertengkar sebab dia tidak di ijinkan ke bukit, di situlah aku mendengar pembicaraan mu dengan nonya." Jawab Reyhan jujur.
Kyesor terdiam kemudian ia memalingkan wajahnya dan mulai bercerita.
"Dulu, aku dan Liando adalah dua orang sahabat yang begitu dekat bahkan kami sudah merasa seperti adik dan kakak, persahabatan kami di mulai ketika aku bertemu dengannya di bangku sekolah dasar. Kami berbagi apa saja yang kami miliki hingga sampai kuliah pun kami tetap bersama." Kyesor menghela nafas untuk memberi jeda.
"Aku dan Liando memiliki hobi yang sama yaitu kami sangat suka berpetualang. Hingga dua hari sebelum aku menikah, kami masih sempat-sempatnya mendaki gunung." Kyesor tersenyum mengingat hal itu.
"Setelah aku dan dia sudah miliki keluarga, kami jarang bertemu karena sibuk dengan urusan masing-masing. Tapi kami tidak saling melupakan hingga suatu ketika dia pindah dekat rumah dan itu membuat kami kembali bersama-sama." Kyesor kembali memberikan jeda. Sedangkan Reyhan mendengarkan dengan seksama.
"Tentang tragedi itu, kami ke bukit untuk merayakan ulang tahun anak pertama Liando namanya Aldi sekaligus Ingin melihat suasana tahun baru di sana. Namun, hal mengerikan itu terjadi ketika anak-anak bermain sedangkan Kami sibuk membuat tenda, tanpa kami sadari mereka berdua menghilang entah kemana dan saat ditemukan mereka sudah..." Kyesor menghentikan ceritanya karena tidak sanggup.
"Tidak perlu di teruskan, jika paman tidak sanggup maaf karena aku mamaksamu." ucap Reyhan merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Reyhan. Sudahlah ayo kita masuk karena ini sudah sangat larut." jawab Kyesor.
Reyhan mengangguk, setelah itu mereka meninggalkan tempat itu dan masuk kedalam apartemen.