NovelToon NovelToon
ELEGI DUA HATI

ELEGI DUA HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Chicklit
Popularitas:154.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: d'Gayatri

Pradjna, wanita karier berusia 30 tahun yang sukses dengan bisnis EO nya. Di usia yang sudah matang itu dia belum pernah terlihat mempunyai hubungan yang serius dengan seorang pria. Semua pria yang terlihat di dekatnya hanyalah rekanan bisnis saja.

Haris Rahardjo, pria dewasa dan mapan yang menjadi incaran para wanita, terkenal sangat angkuh dan introvert untuk kehidupan pribadinya.

Hingga suatu ketika ketika mereka berdua bertemu, dunia yang sudah mereka bangun luluh lantak seketika

Inilah Elegi Dua Hati...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon d'Gayatri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

"Dasar perempuan tidak tahu diri!!" umpat Intan Rahardjo kesal di dalam mobilnya. Wajahnya yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak lagi muda itu penuh kemarahan.

"Kenapa dia bisa muncul lagi dan harus punya kontrak kerja dengannya pula" tangan Intan mengepal hingga buku jari-jarinya memutih.

Wanita itu memasuki rumahnya yang mewah dengan langkah tergesa, langkahnya terhenti di ruang tengah, seorang gadis cantik berdiri tersenyum kepadanya.

"Wina..!!!" serunya sambil menghampiri lalu memeluk gadis itu.

"Tante In, apa kabar? Long time no see" ucap gadis itu setelah Intan melepas pelukannya.

"Sehat sekali seperti yang kamu lihat. Kok ga' bilang kalau mau ke sini? Tante kan bisa suruh sopir buat jemput" kata Intan pada gadis yang di panggilnya Wina itu.

"Gapapa tante, tadi Wina nebeng temen kok, kebetulan satu arah" Wina menjelaskan.

"Oh ya, Tan. Wina mau ijin nginap di sini beberapa hari boleh kan? Ada pekerjaan di sini" lanjut gadis itu.

Mata Intan berbinar, terlihat sekali dia begitu senang.

"Tentu saja boleh, Sayang. Kamu mau tinggal di sinipun pasti Tante ijinin, kamu kan calon mantu kesayangan Tante" ucap Intan bersemangat.

"Tunggu sebentar, Tante telpon Aris dulu ya biar dia nanti pulang ke sini" kata Intan seraya mengeluarkan ponsel dari tasnya lalu menelpon Aris.

"Ya, Ma" sahut Aris dari seberang.

"Nanti malam kamu makan di rumah ya, Ris! Ada yang Mama bahas sama kamu, ga' ada alasan, Mama tunggu" ucap Intan lalu menutup panggilannya, dia tahu Aris pasti akan menolak dengan banyak alasan bila panggilannya masih tersambung.

Intan tersenyum menghampiri Wina, "Aris datang nanti, sekarang beristirahatlah dulu, siapkan dirimu untuk nanti malam, Sayang" ucap Intan lembut pada Wina.

Wina mengangguk gembira, memanggil salah satu ART untuk membawakan travel bag nya ke kamar tamu.

Sementara itu Aris tengah berpikir di kantornya, apa yang membuat Mamanya menyuruh untuk makan di rumah setelah mereka sempat bersitegang tadi siang karena Pradjna. Ia hendak mengejar Pradjna tadi, ada banyak hal yang ingin ia tahu, setidaknya ia bisa mendekatkan diri terlebih dahulu sebelum menanyakan semua tanya yang ia simpan selama beberapa tahun ini.

Terlebih ia ingin meminta maaf untuk semua kesalahannya. Ia tidak tahu seperti apa hidup gadisnya itu setelah ia bertolak ke Amerika. Di malam sebelum Pradjna wisuda gadis itu sudah tidak menjawab panggilan teleponnya, membalas pesannya pun tidak.

Ia tahu pasti terjadi sesuatu dengan gadis itu, tetapi entah apa. Hanya saja sebuah pikiran melintas di kepala Aris demi melihat Pradjna yang sekarang sukses. Bisa jadi Pradjna bertemu lelaki yang lebih darinya lalu membiayai semua kebutuhan Pradjna.

Anehnya Hana memberi tahu bahwa Pradjna kuliah ke London karena mendapat beasiswa, lalu tadi Pradjna juga berkata bahwa ia kuliah sambil bekerja.

Berarti ada hal lain yang membuat Pradjna menghilang dan menutup semua akses kontaknya.

Bahkan apartment yang ia beli untuk Pradjna pun di sewakan dan uang sewa itu masuk ke rekeningnya. Pradjna pergi tanpa membawa apapun yang ia beri.

Parahnya Pradjna membawa pergi hati juga pikirannya. Dia nyaris gila saat itu hingga harus beberapa kali mengunjungi psikiater untuk bisa sebentar saja tidur.

Pradjna memenuhi semua hari juga pikirannya, ia sering merasa Pradjna memanggil namanya meminta tolong dan beberapa hari yang lalu akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali.

Ia bisa melihat Pradjna, yang justru terlihat semakin cantik dan matang. Wajah baby face itu masih sama menawannya dengan terakhir kali ia lihat di panggilan videonya. Senyumnya juga masih hangat walau seperti ada jarak yang sengaja diciptakan di antara mereka berdua.

Harapan dan rasa itu kembali muncul dan tumbuh subur di hati Aris. Ia berharap bisa mengurai benang kusut di antara mereka lalu merajut kisah lama yang sempat terputus itu. Terlebih dari itu, Aris mendengar dari beberapa orang bahwa Pradjna masih single dan menutup rapat semua informasi tentang kehidupan pribadinya. Ia akan mulai mencari tahu, ia harus mendapatkan jawaban secepat mungkin.

Aris menuju ke rumah Mamanya setelah pulang kantor, masih dengan setelan kantornya, melepas 2 kancing atas kemejanya juga menggulung lengan kemejanya.

Ia mengendarai pelan mobilnya, rasa hatinya seperti malas hendak menuju ke rumah itu. Hubungan mereka merenggang jauh semenjak Aris melempar tuduhan Mamanya lah penyebab menghilangnya Pradjna. tetapi wanita yang sudah melahirkannya itu menyangkal keras tuduhan tersebut.

Semua semakin menjadi dingin saat Mamanya mulai menjodohkannya dengan wanita-wanita yang menurut Mamanya kompeten sebagai mantunya. Aris muak sekali saat Mamanya selalu menyodorkan wanita-wanita itu padanya. Wina terutama, wajahnya memang cantik tetapi kepalanya seperti tidak ada isinya.

"Kalau cuma cantik, banci Thailand banyak yang lebih cantik darinya, Ma" begitu kata Aris dulu, hingga membuat Wina menangis dan Mamanya menampar pipinya. Wina memang cantik, ahli memulas make up pada wajahnya, juga memlilih pakaian mana yang akan ia kenakan lengkap dengan aksesorinya tapi coba ajak gadis itu mengobrol masalah saham atau berita negara terkini, di jamin tidak akan ada jawaban yang masuk akal. Apalagi hobi belanjanya itu, membuat kepala Aris pening seketika, bukan karena jumlah angka yang keluar, hanya ia tidak melihat kegunaannya. "Dasar wanita hedon" ucap Aris dalam hatinya mengingat gadis yang digadang-gadang menjadi mantu Mamanya itu. Aris bergidik, lebih baik jadi bujang lapuk daripada harus jadi suami Wina.

Mobil Aris sudah ada di depan gerbang rumahnya, seorang satpam membukakan gerbang.

Aris membuka kaca mobilnya melongokkan sedikit kepalanya keluar "Bang, siapa yang datang hari ini ke rumah?" tanyanya pada satpam rumahnya.

"Ada mba Wina, den Aris. Datang tadi sekitar jam 2 siang" jawab satpam itu.

Aris menghela nafasnya, feeling nya benar, ia memundurkan mobilnya lalu memutar ke arah ia pulang, lalu berhenti sebentar melambai ke satpamnya.

"Jangan bilang saya datang ya, Bang" kata Aris sambil menyelipkan beberapa lembar uang ke tangan satpamnya itu lalu bergegas menginjak gasnya.

1
Teeh Tie
bagus ceritanya, sukaaaa...
Dede Maryanah
lanjut seru banget
Purbo Ariyanto
lanjut dong
Dede Maryanah
seru banget
Suryani Harun
lanjut
Meiske Djauhari
lanjut ceritanya bagus dan lagi bikin penasaran
Wiwik Lestari
lanjut thor...lama bgt
Siti Khamidah
suka ceritanya, tapi namanya susah jadi ribet deh bacanya, Mita aja kan gampang bacanya
Lusye Wolley
lanjut
Isky Setiawan
ceritanya bagus beda dari yg lain.
aq naik lgi untuk like stiap chapternya, dan aq vote ya thor...

semangaaat...aq tunggu kelanjutanya thor.
Kartini Kartin
bahasa inggrisnya tak ngerti thor
Mami Qute
ah ganting lgi
Mami Qute
kaya lagy
Mami Qute
sabar dan semngat pra
Sali Bah
lanjut...
Mami Qute
perjuangkan cintamu ris
Mami Qute
harus kuat
Mami Qute
kenapa ga dipanggil mita aja si
Mami Qute
menyedihkan yg tabah ya pra
Mami Qute
jangan gantung cerita ya thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!