Andini Putri Azalia, seorang gadis cantik dan lucu yang baru saja tamat SMP dan akan segera masuk ke SMA. Dia memilih Sekolah berbasis agama di luar kota dan di terima di sana.
Beberapa hari menjalani kegiatan sekolahnya, dia mulai bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Disitu pula dia berkenalan dengan seorang kakak kelas yang bernama Aidan. Awalnya mereka hanya berteman biasa, sampai akhirnya Andin menganggap Aidan sebagai kakak angkatnya, karena dia tak punya saudara di sana. tapi seiring berjalannya waktu, tumbuh cinta diantara keduanya.
Namun cinta mereka tak bisa bersatu begitu saja setelah kehadiran Nita sahabat Andin. Tak hanya Nita yang akan muncul, tapi akan banyak cowok dan cewek yang akan hadir meracoki hubungan percintaan mereka.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka ke depannya yah?? apakah akan tetap menjadi saudara angkat atau malah jadi sepasang kekasih yang bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmatul Yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Setengah jam berlalu, Andin dan teman-temannya tiba di kos. Mereka segera menuju ke kamar masing-masing dan beristirahat sebentar mendinginkan badan sebelum mandi. Satu per satu mereka mulai merebahkan tubuhnya ke atas kasur, termasuk Andin.
Sementara itu, Caca yang sekamar dengan Andin, tidak ikut berbaring ke kamar. Dia memilih bangku kosong yang ada di dekat dapur sebagai tempat istirahatnya. Kemudian, seperti biasa dia langsung menghubungi Angga kekasihnya.
🌸🌸🌸🌸
Setelah mendapatkan posisi yang pas, Andin pun langsung meraih ponselnya. Dia segera mencari kontak Aidan, lalu menghubunginya. Karena tidak ada Caca di sana, membuat dia lebih leluasa berbicara dengan Aidan.
Zzzz ... zzzz ... zzz, terdengar telfon Andin tersambung kepada Aidan, namun belum ada jawaban. Dia mengulangi sampai tiga kali, barulah Aidan menjawab telfonnya.
🌸🌸🌸🌸
Di mesjid Aidan
Aidan menunggu kabar Andin sampai di kosannya. Namun setelah menunggu sekitar lima belas menit, Andin masih saja belum menelfonnya. Akhirnya Aidan memutuskan untuk main game.
Saat sedang asyik main, terlihat di pojok atas layar ada panggilan masuk dari Andin. Namun Aidan tak menghiraukannya. Setelah beberapa kali panggilan, baru lah Aidan menjawab telfon Andin.
"Hallo, Assalamu'alaikum," sapa Aidan.
"Wa'alaikumussalam," jawab Andin.
"Udah nyampe di kosan yang?" tanya Aidan.
"Alhamdulillah udah bang, ini lagi istirahat bentar sebum mandi," balas Andin.
Tiba-tiba saja Andin memanggil Aidan dengan sebutan "abang" untuk pertama kalinya semenjak mereka kenal. Aidan yang merasa salah dengar memastikan pada Andin.
"Dek, apa kamu panggil kakak tadi? abang yaa?" tanya Aidan.
Andin hanya tertawa mendengar pertanyaan Aidan tersebut, dan tidak menjawabnya.
"Dekk ... ayolah ulangin apa yang kamu ucap tadi!" lirih Aidan.
"Hehehe gak ada kak, mungkin kakak salah dengar tadi tu!" ucap Andin.
Aidan yang tak ingin lagi ada masalah dengan Andin, memutuskan untuk menghentikan pembahasan itu. Karena dia sudah mulai mengerti sedikit demi sedikit karakter Andin yang jika ada sesuatu yang gak mengenakkan hatinya, dia akan langsung ngambek lalu menangis.
"Yaudah lah, lupain aja masalah itu, mari kita bahas yang lain," ajak Aidan.
Akhirnya mereka berdua mengobrol panjang lebar, saling sahut-sahutan via ponsel.
🌸🌸🌸🌸
Tak terasa satu jam sudah mereka lewati. Tiba-tiba saja Caca masuk ke dalam kamar tanpa permisi seperti biasanya. Andin yang kaget langsung memutuskan sambungan telfonnya dengan Aidan.
"Eehh Caa, lho suka kali ya masuk tanpa permisi, bikin kaget aja," sapa Andin.
"Wkwkwkwk, aku mah gitu orangnya, suka bikin orang marah." Jawab Caca sambil tertawa girang.
Andin yang sadar akan telfonnya dengan Aidan yang di putus secara mendadak, akhirnya mengirim sebuah pesan singkat. Kali ini Andin sengaja isengin Aidan dengan panggilan Abang.
Abang, maaf ya telfonnya adek putus mendadak begitu aja, soalnya Caca masuk tanpa permisi bikin kaget, nanti kita sambung lagi yaa.
Pesannya pun langsung terkirim pada Aidan. Segera Aisan membuka pesan itu. Sebuah senyuman kecil nampak tersungging dari bibirnya. Dia merasa geli saat Andin memanggil dia dengan panggilan abang. Namun demikian, dia tetap bahagia, karena sudah banyak perubahan pada Andin.
Sekarang Andin sudah mulai berbicara secara leluasa dengannya, padahal sebelum terjadi peristiwa waktu itu, Andin masih agak kaku saat berkomunikasi dengannya. Dia bersyukur bahwa semakin hari dia merasa semakin jatuh cinta dengan perlakuan Andin.
🌸🌸🌸🌸
Aidan semakin hari semakin nyaman dibuat Andin. Hampir tak ada waktu sedikitpun ingin dilewatinya untuk tetap bersama Andin. Di Sekolah, Aidan sering menghampiri Andin secara diam-diam.
Sepulang Sekolah, Aidan juga langsung mengambil ponselnya lalu menghubungi Andin. Kegiatan itu rutin dilakukannya setiap hari. Andin pun tak pernah memberikan sinyal penolakan. Meskipun demikian, hubungan mereka tak pernah ketahuan oleh siapapun.
Suatu hari, entah karena Andin sering keceplosan manggil Aidan dengan sebutan "abang", akhirnya Aidan meminta Andin secara langsung untuk selalu memanggilnya abang.
"Dek, boleh gak minta sesuatu?" tanya Aidan.
"Minta apa kak?" jawab Andin.
"Mulai sekarang adek panggil kakak, dengan sebutan Abang aja ya, biar kita terasa semakin dekat," jelas Aidan.
Tanpa pikir panjang Andin pun menyetujui permintaan Aidan begitu saja.
"Hehehehe, kirain mau minta apaan, kalau cum itu mah boleh bang," sambil malu-malu.
"Ok sayang, makasih yaa," balas Aidan.
Setelah lama berbincang-bincang, mereka selalu ketiduran satu sama lain. Sambungan telfon membuat mereka tidur dengan nyenyak, hanya hembusan nafas masing-masing yang menghiasi lelap mereka.
🌸🌸🌸🌸
Andin benar-benar telah dibutakan oleh cinta. Padahal dia sudah tau kalau Aidan punya pacar, tapi dia tetap mau jadi simpanan Aidan. Waktu itu, pernah sekali Andin protes atas hubungan Aidan dengan Dina. Namun entah mengapa, Aidan bisa membuat yakin Andin kalau dia benar-benar mencintai Andin seorang. Semenjak itu tak pernah lagi mereka membahas masalah itu.
🌸🌸🌸🌸
Dua bulan berlalu, hubungan Andin dengan Aidan mulai goyang. Andin mulai memperlihatkan kecemburuannya pada Aidan. Mereka jadi sering berantam hanya karena membahas kehadiran Dina.
Dulu Aidan lah yang tak ingin jauh dari Andin, dan Andin hanya memberi respon biasa-biasa saja. Tapi sekarang yang terjadi adalah kebalikannya. Andin lebih sering ngomel-ngomel tak menentu pada Aidan.
Hal ini membuat Aidan mulai bosan dan tidak nyaman dengan semua itu. Akhirnya Aidan mulai mengurangi komunikasinya dengan Andin.
Andin. yang merasakan adanya perubahan dari Aidan, berusaha untuk mencari tahu. Dia sering menghubungi Aidan lewat sambungan telfon tapi tak pernah ada jawaban. Akhirnya Andin mengirim pesan singkat pada Aidan dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Andin masih belum menyadari apa kesalahan yang di perbuatnya. Di Sekolah, dia masih saja seperti biasa menunggu Aidan di dekat parkiran. Namun sudah beberapa hari ini Aidan memang benar-benar menghindarinya.
🌸🌸🌸🌸
Sudah seminggu Aidan dan Andin tak pernah tegur sapa. Ini membuat benteng pertahanan Andin runtuh. Dia yang sudah tidak tahan lagi dengan semuanya, akhirnya meluapkan emosinya dalam tangisan.
Tak sengaja, Caca melihatnya sedang menangis. Karena Caca adalah teman sekamarnya, Caca berusaha untuk mendekati Andin dan menanyainya.
"Andin, kok kamu nangis? ada apa?" sapa Caca.
Pertanyaan Caca hanya terlewat begitu saja. Andin tak ada berbicara sedikitpun. Dia terus saja menangis. Dalam fikirannya masih terbayang perkataan Aidan yang mengaku cinta padanya, tapi kenapa begitu cepat ada perubahan pada Andin. Serta dia juga bingung mau jawab apa tentang pertanyaan Caca.
Aahhhh aku benar-benar bodoh! padahal aku sudah tau kalau Bang Aidan sudah punya pacar. Tentu saja dia gak mungkin bicara serius soal cinta sama aku. Aku udah dibutakan dengan cinta, sampai-sampai aku mudah saja tergoda seperti ini. Aku sudah membohongi sahabat-sahabat ku perihal ini. Termasuk Caca yang sekarang duduk di sampingku. Aku tak tau mau jawab apa. Lirih Andin dalam tangisannya.
Caca tak bisa berbuat banyak, karena dia tidak tau apa masalah Andin. Akhirnya dia memilih diam dan mengusap bahu Andin. Tak lama Andin berhenti menangis, lalu berucap pada Caca.
"Caaa ... aku pengen tidur! nanti tolong bangunin aku pas jam Shalat ya!" pinta nya.
"Hmm yaudah kamu istirahat dulu, jangan sedih lagi yaa. Nanti aku bangunin, kalau udah siap cerita nanti aku siap buat dengerin," ucap Caca.
Andin lalu tersenyum dan berkata," terimakasih Caa."
Andin lalu memperbaiki posisinya dan mulai memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama, akhirnya dia terlelap setelah lelah menangis.
Bersambung....
aku sudah boom like ya, mampir yuk keceritaku
Dia Untukku. Terimah Kasih.