"Anda benar-benar membawa bencana dalam hidup saya Dok!" Sungut Mitha saat berdebat hebat dengan Prasetya didalam mobil SUV Sport hitam milik Pras.
Pras yang diliputi rasa penyesalan mendalam tidak bisa lagi menjawab hanya tertunduk mengeratkan genggamannya pada stir mobil.
Andai siang itu mereka tidak bertemu, mungkin tragedi itu tidak akan terjadi,padahal dalam dua bulan kedepan Mitha sudah berencana untuk melangsungkan pernikahan dengan seorang Pria yang selama tiga tahun ini menjadi kekasihnya.
Prasetya Daniel Wijaya, seorang duda muda berusia 35 tahun dengan profesi dokter sekaligus anak tunggal dari pemilik Rumah Sakit swasta ternama di negaranya. Namun Prasetya memilih untuk mengabdikan diri di sebuah kota kecil yang membuatnya bertemu dengan Paramitha Aloysa seorang gadis biasa yang bekerja sebagai konsultan medis produk susu di divisi sales marketing. Hubungan yang awalnya sebatas bisnis, berubah setelah Pras meminta Mitha datang ke kediamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black moonlight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keterbukaan
Mitha merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatapa langit-langit di kamarnya. Air matanya jatuh perlahan, sampai beberapa saat semakin cepat membasahi ke bantalnya.
" Hiks .. Hiks .. " Mitha menangis lepas begitu saja merasa tak ada siapapun di rumah.
" Ahhhh .. " Mitha memukul-mukul guling di ranjangnya
Ada sesak di dadanya yang tak dapat di jelaskan rasanya sangat menyakitkan. Ingin rasanya mati saja pikir Mitha frustasi. Saat ini Mitha benar-benar tertekan. Rasa lelah di fisik dan psikisnya sangat menyiksa.
Tok .. Tok
" Kak .. Kak Mitha. Kenapa Kak ? " Angga yang baru saja pulang dari sekolah tersentak mendengar jeritan yang terdengar dari kamar Mitha.
" Pergi dek ! Jangan ganggu kakak. "
" Kak Mitha kenapa ? Cerita sama angga Kak .. "
Perlahan Mitha membuka pintu, lalu tubuhnya ambruk memeluk adiknya itu.
" Kakak ingin mati saja Ga .. Kakak ingin mati. "
" Kakak ngomong apa ? Kakak kenapa ? Istighfar kak .. "
" Aku gak sanggup lagi Ga. " Mitha memukul-mukul dada nya.
" Kalau kakak pergi Angga sama siapa kak ? Ibu Bapak siapa yang akan urus ? Mereka pasti lebih hancur lihat kakak kaya gini. "
Angga mengusap lembut punggung kakaknya menepuk-nepuknya hingga Mitha lebih tenang.
" Kak, mati bukan solusi. Masalah itu di hadapi bukan malah lari. Kalau kakak lari yang akan menanggung masalah selanjutnya Ibu dan Bapak. Bagaimana mereka bisa hidup dengan rasa bersalah karena tak bisa menjaga kakak dan rasa malu telah gagal menjadi orangtua di hadapan orang-orang. "
" Sejak kapan kamu jadi dewasa begini ? " Setelah tenang Mitha buka suara lalu mencubit pipi adiknya.
" Kakak mau cerita masalah kakak ? "
Mitha menggelengkan kepalanya " Nanti kamu juga tau dek . " Mata Mitha berkaca-kaca.
Merasa khawatir, Angga memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit selain untuk menjenguk ayah nya, Angga juga ingin berdiskusi dengan kedua orangtuanya tentang keadaan Mitha. Angga takut kakak nya benar-benar mengakhiri hidup.
Angga tiba setelah shalat Isya, terlihat Pak Adi yang sedang beristirahat untuk menghadapi operasinya besok. Angga tak tega untuk mengganggu Pak Adi sehingga Angga hanya mengajak Ibu nya untuk berbicara di luar.
" Ada apa Ga ? "
" Bu ada yang gak beres sama kakak .. "
" Gak beres gimana ? "
" Kakak tadi siang nangis histeris terus bilang mau mati aja. Angga gak tau kenapa tapi kondisinya kacau banget. "
" Astaghfirullah .. Ibu harus lihat Mitha ke rumah Ga. Angga jaga dulu Bapak disini ya ? Tapi jangan bilang apa-apa sama Bapak biar Bapak fokus ke operasi nya dulu. "
" Iya Bu, kakak ke Angga gak mau cerita siapa tau ke Ibu kakak cerita. "
Dengan perasaan campur aduk Ibu pulang, di perjalanan jantungnya berdebar kencang tak pernah sebelumnya putri kesayangannya itu mengeluh apapun lalu sekarang tiba-tiba terpuruk begitu saja.
Ibu sampai di rumah keadaan rumah begitu sepi, lampu kamar Mitha terlihat gelap namun bagusnya tidak di kunci. Di lihatnya Mitha yang menutup dirinya dengan selimut dan terdengar masih sesenggukan.
" Mitha .. " Ibu duduk di samping Mitha lalu mengusap rambutnya lembut.
" Kenapa nak ? Cerita sama Ibu ya ? Biar Ibu bisa bantu Mitha. " Ibu membalikkan tubuh Mitha lalu membawa kepala Mitha bersandar ke paha nya.
" Ibu .. hiks hiks "
" Kenapa nak ? "
" Mitha anak durhaka Bu. Ibu pasti akan mengusir Mitha. "
" Kenapa begitu ? Mau bagaimanapun Mitha anak Ibu. Ibu gak akan usir Mitha. Kalau Mitha salah Ibu pasti bimbing Mitha kalau Mitha benar Ibu pasti bela Mitha. "
" Ibu .. "
" Ayo cerita Nak terus terang ke Ibu .. "
" Mitha .. Mitha ha-hamil Bu " Bibir Mitha bergetar begitu mengucapkan kata itu.
Bagai busur panah yang menembus dadanya. Ibu seketika membeku, hatinya begitu hancur sangat hancur putri yang di lindunginya selama ini telah di rusak seseorang.
" Siapa Ayah anak ini Mitha ? Apa dia Radit ? Sudah berapa bulan ? " Ibu mencerca Mitha dengan berbagai pertanyaan.
" Bukan Bu, ini bukan anak Radit itu yang membuat Mitha semakin hancur rasanya Mitha ingin mati saja Bu Mitha tak sanggup menanggungnya hiks .. " Mitha semakin terisak kencang.
" Mitha sadar ! Kamu akan menyeret Bapak dan Ibu ke neraka jika kamu benar-benar melakukannya. Namun jika kamu berterus terang meski ini tetap dosa besar tapi kita bisa memperbaikinya Mitha. " Ibu menggenggam tangan Mitha meyakinkan Mitha.
" Janin ini usianya .. sudah 4 minggu Bu, pria yang memperkosa Mitha ingin bertanggung jawab. Lalu bagaimana dengan Radit ? " Tanya Mitha lirih
" Siap pria itu ? Jelas kita harus membatalkan rencana pernikahanmu dengan Radit. Kamu harus menikah dengan Ayah dari anak yang kamu kandung. "
" Mitha gak mau bu Mitha gak mau .. " Mitha memukul mukul perutnya lalu di tahan Ibu.
" Jangan nak .. jangan. Anak ini tak bersalah kenapa kamu menyiksanya ? Mitha lihat Ibu, Ibu merawatmu menyayangimu kenapa kamu malah berani menyiksa bayimu sendiri. Kamu sekarang bukan seorang gadis lagi kamu calon Ibu Nak kamu tidak boleh bersikap seperti ini meski kamu tak menginginkannya. " Ibu memeluk Mitha lalu menangis bersama Mitha menenangkan Mitha hingga Mitha terlelap dalam pelukan Ibu nya.
Ada perasaan marah membakar hati Ibu, entah mengapa firasat Ibu berkata bahwa pelaku pemerkosa putrinya itu adalah dokter Prasetya karena selama ini yang ibu perhatikan dari sikap Mitha yang seringkali kasar pada Pras dan juga sikap Pras yang terlalu perhatian pada keluarga mereka. Pasti ada sesuatu di belakangnya bukan ? Ibu memutuskan untuk langsung menemui Pras setelah operasi Bapak selesai. Ibu tidak akan melibatkan Mitha dan siapapun dulu. Ibu hanya ingin mencari tau kebenarannya.
Keesokan hari nya pukul 07.30 Pras sudah berada di rumah sakit menuntaskan sarapannya selama 10 menit lalu turun ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan baju bedah. Penampilan Pras sudah sempurna. Sebelum memasuki ruang bedah Pras bertemu dengan Ibu selagi ikut membawa Pak Adi ke ruang operasi.
" Pagi Bu, ko sendiri aja Mithanya kemana ? "
" Pagi dok, Mitha sakit .. "
" Mitha sakit lagi Bu ? Anak itu sakit-sakitan bikin Bapak khawatir. "
" Sudah Pak jangan banyak berfikir, bapak fokus aja sama operasi Bapak. "
" Iya Bu, titip anak-anak ya ? "
" Baiklah mari kita masuk pak. "
Pras mendorong bed Pak Adi masuk menuju ruang operasi, Pras membersihkan dirinya sebelum melakukan pembedahan.
Setelah semua siap, operasi di mulai dengan membuat sayatan di bagian yang akan di perbaiki. Pras melakukan pembedahan dengan sangat hati-hati dan cekatan.
Beberapa saat kemudian, Pras keluar dari ruangan. Operasi berhasil dilakukan dan Pras hendak mengabari Ibu tentang kondisi selanjutnya.
" Syukurlah, operasi berjalan dengan lancar dan kami berhasil memperbaiki posisi organ yang terjepit begitupun dengan hernia Bapak sudah tidak ada lagi. " Ucap Pras pada Ibu.
" Alhamdulillah, terimakasih dok .. "
" Sama-sama Bu." Saat Pras hendak pergi, Ibu menahan Pras.
" Dok bisa saya bicara secara pribadi ? "
" Pribadi ? Boleh saja Bu. Setelah ini ibu bisa ke ruangan saya. Saya mau membersihkan diri dulu. Sekitar 30 menit, bagaimana ?"
" Iya boleh Bu, sampai bertemu nanti. " Pras berpamitan.
Perasaan Pras sedikit berdebar serasa alam memberi pertanda bahwa sebentar lagi dirinya akan menjadi tersangka di mata Ibu.