NovelToon NovelToon
Pernikahan Dalam Perjanjian

Pernikahan Dalam Perjanjian

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:704.1k
Nilai: 4.7
Nama Author: Imelda Agustine

Naya dan Brama terjebak dalam perjodohan, mau menikahi Naya hanya karena sebuah perjanjian.

Brama : "Aku tidak mengijinkanmu untuk menyukaiku, karena itulah aku menikahimu."

Naya : "Tapi aku sudah menyukaimu."

Brama : " Hapuslah!"

AKU TIDAK MUNGKIN MENYUKAI BOCAH SMA SEPERTIMU, SUNGGUH BUKAN TIPEKU. - Brama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjemput Sekolah

Naya tengah duduk santai sembari membaca buku dengan teman sekelasnya, Rika.

Lalu tiba-tiba saja Sally datang melabraknya.

"Heh, kamu!" bentak Sally, bersindakap, berdiri dengan angkuh didepan Naya.

Naya menoleh kanan kiri, bingung. "Saya?" menunjuk dirinya sendiri.

Sally memutar bola matanya, jengah. "Kamu lah! Siapa lagi."

Naya ikut berdiri. "Ada apa ya, kak?"

"Semenjak kamu balik sekolah disini lagi Dimas jadi cuekin aku! Awas kamu ya kalau sampek bikin kita putus!" ancamnya dengan geram.

Naya bingung. "Maksud kakak apa? Naya gak ngerti."

Sally mendorong tubuh Naya, hingga ia memundur kebelakang. "Jangan sok gak tahu deh!"

Rika membalas mendorong Sally, membela temannya. "Jangan cari ribut ya! Kalaupun Dimas mutusin kamu, itu karena kelakuan kamu sendiri yang jelek begini."

"Apaan, sih? Ikut-ikut aja." dengusnya kesal, sebelum berbalik badan. "Awas ya! Pokoknya sampek Dimas mutusin aku itu pasti gara-gara kamu." ancamnya lalu berbalik pergi.

Rika ingin mengejar Sally untuk memberinya pelajaran, tapi Naya mencegahnya. "Dasar lampir!" umpat Rika kesal.

"Udah, gak usah diladenin, tambah jadi ntar dianya." ucap Naya, menenangkan.

"Tapi dia udah keterlaluan banget sama kamu."

"Gak apa-apa , lain kali kalo dia berani dorong aku lagi. Aku bakal lawan balik dia kok."

"Nah, gitu dong. Baru itu namanya temenku." memeluk temannya, lalu berjalan kembali ke dalam kelas.

****

Brama duduk diam termenung, tiba-tiba saja memikirkan gadis yang selalu membuatnya tertawa akhir-akhir ini.

"Ihlam." panggil Brama pada asisten yang selalu berada tak jauh dari jangkauannya itu.

"Iya Tuan, apa ada yang perlu saya lakukan?'

"Batalkan semua rapat hari ini, kita harus pergi membeli ponsel untuk bocah itu."

"Baik Tuan."

Setelahnya Brama langsung beranjak berdiri, memasang jasnya kembali untuk berlalu pergi.

"Kita ke toko ponsel sekarang." ucap Brama pada Ilham, untuk melajukan kendali mobil pada tujuannya.

Sesampainya di pusat toko ponsel, Brama dibingungkan dengan banyak pilihan.

"Sial! Ini gara-gara aku hanya memikirkan pekerjaan sampai tidak tahu ponsel yang mana yang paling disukai anak jaman sekarang." Brama bingung ketika ditawarkan beberapa jenis merk ponsel. "Kalau menurutmu, apa dia akan suka jika aku membelikan iP X seperti ini?"

"Ponsel merk iP X mmg sangat berkualitas, bukan hanya itu tetapi juga untuk menunjang sosial ketika temannya melihat. Tapi saya pikir Nona lebih menyukai kesederhanaan."

"Kamu benar sih, nanti dia mengira aku terlalu memanjakannya." sahutnya, sedikit berpikir. "Jadi menurutmu, mana yang cocok dengan seleranya? Kan, yang terpenting dia harus membalas pesanku dan mengangkat panggilan telefonku secepat mungkin."

Ilham juga ikut bingung. "Bagaimana kalau kita tanyakan langsung saja?" tanyanya memberikan ide.

Brama mengangguk. "Ah iya, kamu benar." tersenyum sumeringah. "Mari kita menjemputnya pulang!"

****

Rika yang semula keluar terlebih dahulu untuk pulang, kini masuk kedalam kelas lagi untuk menemui temannya.

"Naya! Aaaaa." jeritnya kesetanan.

"Apaan sih teriak-teriak?" tanyanya heran, sembari memasukkan buku kedalam tas.

"Pangeran." ucapnya sembari menjerit, tertawa sendiri, membuat Naya semakin bingung.

"Pangeran apa, sih? Gak jelas!" dengusnya.

"Didepan ada pangeran, kayanya lagi nungguin adiknya pulang sekolah." sahutnya tersenyum sumringah. "Anak-anak juga lagi rame lihat dia tahu! Mirip oppa korea."

"Ck! Pria tampan sih aku sudah melihatnya tiap hari." ucapnya tanpa sadar lalu teringat. "Gak mungkin dia, kan?" Naya langsung saja berlari melihat siapa pemuda yang banyak dibicarakan oleh temen sekolahnya itu.

"Nay! Malah ngebet sendiri dia." teriak Rika ikut berlari mengejar temannya.

Disisi lain, Brama memang sedang berdiri memakai kacamata hitam sambil menyandarakan tubuhnya di badan mobil yang terparkir.

"Cih! Kamu lihat? Bocah bocah ini terpesona dengan ketampananku." ucapnya menyombongkan diri pada Ilham. "Tampan itu memang melelahkan."

Jelas saja, para gadis berkumpul memandang penuh kagum pada Brama yang bak seorang model tengah melakukan sesi pemotretan.

Ketika Brama melepaskan kacamata, Para gadis langsung menjerit dan lagi-lagi membuat Brama besar kepala. "Lihatlah! Si Bocah itu pasti akan kagum padaku karena dia berhasil membuat teman-temannya iri karena dia menikahiku." ucapnya dengan nada arogant dan kesombongan.

"Paman." sapa Dimas tiba-tiba membuatnya jengkel.

Brama menoleh. "Hei Bocah! Sejak kapan aku menikah dengan ibumu?" dengusnya kesal, tak terima dengan panggilan paman.

"Oh, maaf." sahutnya enteng. "Soalnya kan Anda itu paman dari Naya, jadi saya juga memanggil Anda dengan sebutan seperti itu."

"Hah! Kamu mengatakan apa? Aku paman Naya?" Brama kaget.

Dimas mengangguk. "Iya, Naya mengatakannya sendiri." sahutnya.

"Mas Bram." sapa Naya, menembus kerumunan.

"Ah kebetulan." Brama langsung memeluk leher Naya, hampir mencekiknya dengan satu lengan. "Minggir!" ucapnya meninggi pada Dimas.

Dimaspun minggir, menjauh dari mobil dan Brama menuntun Naya masuk kedalam mobilnya.

"Aaaa! Lepas!" pintanya, memukul-mukul lengan Brama yang mencekik. "Saya tidak bisa bernafas." ucapnya terbata, dan Brama segera melepasnya.

Naya bernafas terengah-engah, memegangi lehernya. "Mas Bram, apa-apaan sih? Kalo Naya mati gimana?"

"Oh, sekarang berani membentakku ya! Berani ya!" geramnya, membuat Naya langsung menundukkan kepala.

"Ampun!" ucap Naya memohon, menyatukan kedua jemarinya.

"Kalau disekolah bilangnya masih single, jadi bebas pacaran." ucap Brama sengaja memperlambat untuk menyudutkan.

Segera Naya menggelengkan kepala cepat, merengek. "Gak kok mas. Sumpah! Naya gak pacaran."

"Oh, terus aku ini siapamu?"

"Su...suamiku." sahutnya terbata.

"Suami apa pamanmu?"

Lagi-lagi menundukkan kepala, menyatukan jemarinya keatas sampai melebihi kepala. "Maaf, gak sengaja." rengeknya.

Brama menjitak kepala Naya, hingga gadis itu mengaduh kesakitan. "Gak sengaja, gak sengaja! Awas kamu mengulangi lagi, ya! Ku jitak kepalamu ini sampai pecah." ancamnya.

"Ampun, ampun, ampun." ucap Naya ketakutan. "Jangan ya! Naya takut mati."

Sontak Brama dan Ilham tertawa. "Dasar bodoh!" menjitak kepala Naya lagi.

****

Kamsamida.

1
Anisa Febriyanti
ko cuman sampe efisode 37 sih padahal ceritanya rame, :(
Siti Halimah
semangat
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel. upthor
Arikaa Ubaidiah
Lumayan
Khusnul Khotimah
Thor knp ceritanya ngambang gini , lnjut dong Thor gimana hubungan Naya dan Brama selanjutnya...moga mereka bisa hidup bersama bahagia selamanya... semangat terus ya thor
Purnita
seru thor aku makin meleleh neh lanjut kan thor 👍🏻😘
Siti Jubaedah
semangat....author.....
Wiwin Wiwin
👍👍👍
Rosari Nan
ini mn sih klnjtanya
Nur Halimah
tterusin cerita nya
Nur Halimah
lanjutkan lagi cerita nyA biar jelas
Selviah Selviah
mungkin aku suka nanti
zia kinara
ko ga da klanjutannya ya,,
arfan
up
Mishbah Ando Ibang
endingnya?.... tdk jelas
FUZEIN
Nah....tak jadi baca.....sakit jiwa raga..kalau syok baca...tapi menghilang...
Diana Mansiu
lanjutkn ya ceritanya
Sriamul Sbc
Lo kok....... lanjutannya mana?
Gilang Ayyash
2 tahun tk berlanjut.....sesaaaaattttt
Virginia Maniku
ngak azyik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!