Dea merupakan putri tertua Pak Bani dan Alm. Bu Ida. Karena ditipu teman bisnis akhirnya Pak Bani bangkrut. Mereka menjual seluruh aset demi menutupi hutang di bank dan membayar gaji karyawan.
Suatu hari, Yudi yang merupakan mantan karyawan Pak Bani datang mencarinya. Karena Yudi merasa hutang budi kepada keluarga itu. Karena Pak Bani lah, dia bisa menjadi pengusaha mebel sukses.
Pak Bani meninggal dalam kecelakaan menuju tempat kerja, sebelum dia meninggal. Pak Bani menitipkan Dea kepada Yudi. Yudi seorang duda yang berpisah karena istrinya selingkuh. Hingga suatu rencana busuk dibuat mantan istri Yudi untuk memisahkan Yudi dan Dea.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yati suryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 13
Om Duda Teman Bapak
Part 13
Tidak ada satu manusia pun yang benar-benar bisa melupakan masa lalu dan kesedihan.
Seorang bijak akan mengatakan, masa lalu adalah kenangan, masa depan adalah harapan.
Harapan apa yang aku punya untuk masa depan? semua kubiarkan berjalan apa adanya.
"Waiyo," Widi mengagetkanku. "Lagi ngelamunin Om ganteng, ya?" Widi bergelayut manja di lenganku.
"Nggak." Memang aku tidak memikirkan Om Yudi.
"Jadi? Kak Jevan?," terkanya.
Aku mengangguk. Jevan mengajak balikkan. Aku belum memberinya jawaban apa pun. Apa aku terlalu baper kepada Om Yudi sehingga hanya bayangnya yang terbayang saat itu.
Ujian kenaikan kelas akan dimulai, setiap murid yang bersekolah di sekolah swasta wajib membayar uang ujian. Uang ujian Widi cukup besar bagiku saat ini--Rp. 400.000.
"Kapan terakhir bayarnya?"
"Seminggu lagi, Kak."
"Insyaallah Kakak udah gajian."
"Makasih, ya, Kak."
Aku segera pamit akan berangkat kerja, hari ini jadwal masuk sore pulang pukul sepuluh malam. Aku mewanti-wanti Widi agar hati-hati di rumah. Jangan buka pintu untuk siapapun.
Motor metic ku gas menuju tempat kerja, sekarang aku sangat parno jangan sampai lupa untuk mengisi bensin. Tidak mau kejadian tempo lalu terulang lagi. Beruntung saat itu bertemu Om Yudi. Kalau tidak. Aku tidak tahu apa yang terjadi.
"Aduh, kenapa ingat dia lagi, dia lagi," upatku sambil menepuk-nepuk jidat.
Sesampainya di tempat kerja, sebelum tas kumasukkan loker, terlebih dulu ponsel kuperiksa, ternyata ada pesan masuk ke aplikasi bewarna hijau.
[De, saya rindu Malika] bunyi pesan itu.
[Temui lah, Om!]
[Tidak dikasih izin.]
[kalau gitu, om rujuk aja! Bisa ketemu Malika setiap saat]
[gak lah. Terima kasih jika harus rujuk]
Kenapa aku tersenyum membacanya. Tuhan, jangan jadikan hamba wanita perusak kebahagiaan orang. Malika juga butuh sosok ayah dan ibu.
Aku akhiri obrolan dengan alasan akan segera bekerja. Aku takut terjebak dengan obrolan tersebut.
Pukul sepuluh malam restoran tutup. Aku bersiap-siap untuk pulang setelah ceklock (absen digital menggunakan sidik jari). Mengambil jaket dan tas di loker. Kembali memeriksa ponsel. Ada lagi pemandangan mengejutkan. Dua puluh kali panggilan tidak terjawab dari Widi.
Segera aku menelepon balik, khawatir terjadi apa-apa.
"Kak, udah pulang? Ini ada perempuan aneh, marah-marah sambil nyari kakak," jawab Widi sampai lupa ia mengucapkan salam.
"Sekarang dia masih di situ?"
"Ia kak. Dia nungguin kakak. Tapi Widi di dalam rumah aja," terang widi di seberang sana.
"Bagus. Kakak segera pulang."
Sesampainya di rumah, wanita yang dimaksud Widi itu adalah Ivi si nenek gayung. Melihat aku sudah sampai rumah, Widi membuka pintu dan menghampiriku.
"Eh perempuan gatal, apa sudah nggak ada laki-laki lain? Kenapa suami orang yang diganggu. Dasar! kecil-kecil sudah jadi pelakor."
Aku hanya tertawa mendengarnya.
"Bangun dong, bangun! Jangan tidur magrib, jadi ngigo, kan?" ledekku. "Perasaan kalian sudah resmi bercerai, kok, masih ngaku-ngaku suami. Yang gatal itu aku apa kamu? Selingkuh sama teman suami," balas kuhina si nenek gayung.
"Dasar nggak didik. Orang tua kamu mungkin nggak pernah didik kamu sopan santun, ya. Cuma ngedidik kamu cara godain pria-pria kaya saja."
Mendengar orang tua dihina, amarahku semakin memuncak. Sudahlah capek pulang kerja, disambut seperti ini. Lu jual, gue beli.
"Eh, Ibu Ivi yang cantik nan terhormat. Kalau kamu menghina saya, saya nggak masalah. Hinalah sampai mulutmu berbuih! Tapi jangan coba-coba hina orang tua saya. Mau duel aku layani. Apa mau aku rebut beneran mantan suamimu?" Aku memberi tekanan intonasi pada kalimat mantan suamimu.
Mungkin dia merasa bahwa aku mengejeknya, tangan kanannya melayang ingin menampar pipi kiriku. Dengan cepat aku menangkap tangan itu membalikkan tubuhnya dan memelintir tangannya.
Terdengar teriakkan kesakitan. "Aku diam jangan dicari-cari salahku. Paham?"
Aku lepaskan pelintiran tangan itu dan memberi ia sedikit dorongan hingga ia tersungkur.
"Lihat aja! Kau akan menyesal sudah memperlakukan aku seperti ini," ancam nenek gayung sesaat sebelum meninggalkan rumah.
***
Pagi-pagi sekali terdengar suara pintu depan diketuk. Aku matikan kompor, menghentikan memasak sarapan, lalu berjalan ke depan melihat siapa yang datang. Sesampai di depan ternyata pintu sudah dibukakan oleh Widi. Tampak tiga orang lelaki berseragam polisi lengkap.
"Maaf, bisa kami bertemu Ibu Dea?" tanya salah satu dari mereka.
"Ia, itu saya. Ada apa, Pak?"
"Kami membawa surat penangkapan anda, atas laporan kasus penganiayaan."
Penganiayaan? Oh, aku ingat. Mungkin ini yang dibilang nenek gayung itu. Bukan kali ini aku berurusan dengan polisi. Aku paling tidak suka kalau orang tuaki dihina atau direndahkan.
Dulu aku pernah dilaporkan ke polisi karena telah membuat tangan sepupuku patah dan berbulan-bulan dia berobat ke sinse dibiayai Bapak, karena dia mengatakan Mamak penyakitan.
Aku ikut saja dibawa ke kantor polisi.
"Jangan nangis, Wid! Ini nggak apa-apa. Lakuin aja apa yang bisa kamu lakuin!"
Di kantor polisi sudah ada nenek gayung, dia tersenyum puas melihatku berhasil dijemput. Setelah sekian lama introgasi dan menanyakan awal mula peristiwa itu muncul Om Yudi.
Tatapan tidak suka tampak di wajah tampan saat menatap mantan istrinya.
"Kenapa kamu? Bikin ulah lagi?" Kalimat pertama yang terlontar dari mulut Om Yudi. Lima tahun kami pernah seperti keluarga, sehingga dia tahu tabiatku.
"Begitulah, Om. Om dulu pernah bilang. Kalau kita salah, kita diam. Kalau kita benar, kita lawan. Dea nggak salah. Istri Om aja mencak-mencak di rumah. Nggak tau orang capek pulang kerja," jawabku ketus. Aku tidak ingin lagi bersikap baik kepada Om Yudi.
Entah apa negosiasi antara Om Yudi, Ivi dan polisi sehingga laporan dicabut. Aku disuruh bersalaman dengan Ivi. Dia hanya menyentuh ujung jariku, lalu cepat menarik tangannya seolah najis menyentuhnya.
"Dea ini taewondo, jadi jangan coba-coba ngajak dia durl!" ucap Om Yudi kepada Ivi.
"Udah sabuk apa?" tanya seorang polisi yang mengurus masalah kami.
"Sabuk hitam, Pak."
Kami meninggalkan ruangan, ternyata Widi menelepon Om Yudi. Itulah yang membuat Om Yudi bisa muncul di sini.
"Saya antar pulang!" ajak Om Yudi.
"Nggak usah, Om. Urus aja istri Om itu. Dea nggak mau ada masalah lagi. Dea capek Om. Dituduh-tuduh pelakor," marahku kepada Om Yudi.
Aneh, kenapa Jevan tiba-tiba muncul juga. Apa Widi lagi yang meneleponnya?
"Kamu kenapa, sih, De?" tanya Om Yudi seakan bingung lihat sikapku.
"Dea pulang dengan Jevan, terima kasih atas kebaikkan Om selama ini. Tolong jadikan ini terakhir kali kita bertemu. Rujuklah Om! dari pada Dea terus diserang nenek gayung."
Aku meninggalkan Om Yudi dan menarik tangan Jevan, mengajakknya pergi dari sini. Om Yudi kulihat masih berdiri di samping pintu mobilnya.
Semua itu harus kuucapkan. Biarlah dia rujuk. Menjalin hubungan lagi dengan Jevan mungkin lebih baik. Aku tidak ingin memikirkan Om Yudi.
***
Malam harinya, aku menanyakan pasal Jevan kepada Widi kenapa dia tahu aku di kantor polisi. Ternyata Widi juga tidak tahu, dia hanya punya nomor telepon Om Yudi. Aneh juga, dari mana dia bisa tau aku di kantor polisi dan keanehan yang kedua juga kurasa, dari mana nenek gayung tahu rumahku.
"Mungkin Kak Jevan melacak HP kakak," celoteh Widi.
"Kamu kira dia mafia punya alat-alat secanggih itu," jawabku kesal.
"Ya udah. Jangan marah-marah lanjutin lagi yuk nonton drakor-nya! Cowoknya uwwu banget nih."
Ponsel berdering berkali-kali, aku hanya melirik layarnya, tertulis panggilan dari Om Yudi.
"Om Yudi nelepon, tuh." Widi menyikut lenganku.
"Biarin aja!" jawabku malas.
"Dasar aneh." Widi terlihat sewot.
Pekanbaru, 10 mei 21