Perasaan yang benci lama-lama terluluhkan oleh seorang siswa yang super duper nakal yaitu Gita. Namun ia menemukan sikap dan sifat yang berbeda dari Gita yang membuat seorang guru sangat menyukainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Martha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dah Dig Dug
"cepat panggil Seno" perintah Ayah Gita kepada ART
"mas. mas. mas Seno di panggil bapak" ujar ART lalu mereka pun bergegas ke kamar Gita
"iya pak. bapak panggil saya?" tanya Seno
"Kamu kenapa sih ngga cek dulu mobilnya sebelum berangkat? Kamu tau apa yang terjadi kepada Gita? jika terjadi apa-apa dengan anak saya kamu saya PECAT.!" bentak ayah Gita yang sudah sangat geram
"pak saya benar-benar minta maaf pak. Lain kali saya tidak ulangi lagi pak. Saya akan lebih teliti lagi pak" jawab Seno dengan ketakutan jika di pecat
"pa, udah pa" ujar Gita dengan nada sedu.
"Pak Seno ngga salah, Gita yang salah pa seharusnya Gita tunggu di tempat Pak Satpam sekolah pa. Jangan pecat pak Seno pa" ujar Gita yang baru siuman. karena pak Seno tidak berpihak kepada ibunya tirinya, ia tidak ingin orang-orang yang berpihak kepada Gita di pecat oleh ayahnya. Sudah cukup pak Otong yang ia sangat sayangi di pecat oleh ibu tirinya. Ia sekarang mengerti, sepertinya ini sudah di rencanakan terlebih dahulu. Makanya ia kedepannya akan lebih berhati-hati, supaya tidak terulang kembali.
Mendengar suara Gita yang sudah siuman, ia pun langsung menghampiri Gita
"Nak kamu udah sadar nak. Syukurlah nak. papa takut kamu kenapa-kenapa nak. Maafin papa ya, papa ngga bisa jaga kamu. Karena keledoran papa juga kamu bisa di culik kayak tadi, papa akan menyewa bodyguard untuk menjaga kamu."
Lalu pak Yuda menghadap ke arah Gito
"Terimakasih juga nak Gito. Om sangat berhutang Budi sama kamu nak" ujar ayah Gita.
Tanpa ia sadari Ayah Gita meneteskan air matanya untuk kedua kalinya setelah kematian istri pertamanya. Ia merasa sangat tidak berguna dalam menjaga orang-orang yang ia sayangi.
Dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaan Gita.
"kamu ngga apa-apa. Cuman kamu perlu istirahat dan minum vitamin ya." ujar dokter dengan senyuman
"ini pak vitamin yang harus di beli" dokter memberi karcis tersebut kepada ayah Gita.
"om. biar Gito aja yang belinya.'' pinta Gito
"jangan Gito. kamu kan juga masih sakit, dokter sekalian Gito juga ya di periksa. Om ngga mau kamu kenapa-kenapa" ujar Ayah Gita
"om. aku ngga apa-apa ini cuman luka kecil" jawab Gito
"baik saya periksa dulu ya"
"Lukanya saya obatin dulu. Beberapa hari juga sembuh kok" ujar dokter.
"kalau begitu saya permisi pulang dulu ya pak"
"Kalau semisalnya tidak ada perubahan nanti bapak bisa bawa ke rumah sakit terdekat ya pak." ujar Dokter
"iya. pasti dok, terimakasih banyak Dokter" ujar ayah Gita
"iya sama-sama pak" jawab dokter.
Ayah Gita memang berniat untuk menjodohkan Gito dengan Gita. Karena Ayah Gita melihat bahwa Gito adalah sosok laki-laki yang gagah, baik, dan bertanggung jawab.
"Pria seperti ini yang aku cari, semoga kedepannya mereka bisa bersama" benak ayah Gita
"Nak. Kamu istirahat di sini saja. nanti om kabarin ayah kamu biar orang di rumah mu tidak cari kamu ya. jangan nolak ya, om berhutang sama kamu. Dan Om juga minta tolong kedepannya kamu bisa jaga anak om ini. Karena dia selama ini perlu pendampingan" ujar Ayahnya membuat mata Gita melotot mendengar pinta ayahnya
"papa" ujar Gita. Ia sangat malu karena ayahnya berbicara seperti itu dengan gurunya.
"udah ah. papa keluar sana gih, Gita mau istirahat" ujar Gita dengan nada kesal
"iya iya papa keluar."
"kamu istirahat di sini ya Gito" pinta ayah Gita
"eh.... eh ...... eh......
kan kamar tamu ada pa, masak istirahat di sini sih. Gita ngga suka pa, bawa ke kamar tamu aja pa. Gita ngga bisa istirahat sama orang lain di kmar Gita" jawab Gita yang semakin kesal.
Namun Entah mengapa hal yang di ucapkan oleh ayah Gita membuat hati Gito semakin deg deg degkan. ia merasa sudah menyukai murid nakal itu. Namun ia juga tahu diri kalau dirinya adalah seorang guru dan orang yang ia sukai adalah muridnya. Jadi ia tetap harus membatasi diri.
"Om. Saya di kamar tamu aja om. Saya kan laki-laki ngga enak om berduaan di kamar bersama wanita." ujar Gito yang merasa apa yang di katakan Gita ada benarnya. Gita perlu istirahat dan tidak baik perempuan dan laki-laki bersama di kamar.
"baiklah kalau begitu. Tapi tunggu dulu ya biar Bik Sina siapin dulu" ujar ayah Gita
"Om permisi dulu ya" lalu ayah Gita segera memanggil ART nya segera menyiapkan kamar tamu untuk Gito.
"iya om. makasih ya om" jawab Gito
"Makanya jadi cewek itu jangan suka jalan sendiri. Kamu lihat kan kejadian kayak tadi. Untung ada saya, coba kalau ngga ada saya kamu pasti udah di sekap berhari-hari. ngga makan, minum ataupun mandi. iiiidihhh" ujar pak Gito memancing pembicaraan
"pak. jangan ikut campur urusan sayalah. capek berdebat sama bapak. Lagian ngga ada gunanya berdebat sama bapak" pinta Gita
"ya ampun. masih syukur saya tadi tolong kamu. seharusnya kamu terimakasih sama saya" jawab Gito yang mulai terpancing juga emosinya
"iya iya. makasih bapak Gito yang baik hati dan suka menghukum murid" balas Gita
"heh kamu ni"
"permisi den, kamarnya sudah siap" ujar ART
"baik bik." jawab Gito
"Aden mau makan apa? biar bibik siapkan" tanya ART
"air putih aja bik. Oh ya bik, Gita belum makan lho bibik siapin untuk Gita aja bik. kasihan dia" jawab Gito
Setelah Gito keluar dari kamar Gita, Gita baru kepikiran kenapa ayahnya dan pak Gito seperti sudah kenal lama, apalagi dari pembicaraan mereka nampak jelas mereka. Padahal setau Gita, ayahnya belum pernah ketemu Gito dan Gito juga guru baru di sekolah. Hal ini membuat Gita penasaran. Kedepannya ia akan menyelidiki Gito. Ia tahu jika Gito bukan dari kalangan menengah tetapi dari kalangan atas. Ia tahu itu ketika ia mengantar Gito ke rumahnya.
Selain ia ingin menyelidiki siapa Gito. Dan ia juga ingin menyelidiki siapa yang beraninya menculik dirinya. Gita pun langsung berdiri ia mengingat saat penculik itu telfonan, dan itu terdengar jelas suara perempuan. Namun ia tidak mengenal sama sekali suara itu.
"apa mungkin Niken?" benak Gita, karena ia tahu hanya Niken lah yang tidak menyukai dirinya, ia juga tidak tahu apa penyebabnya.
"tapi jika Niken, dia pasti tidak mungkin punya uang menyewa penculik sebanyak itu."
"atau ini musuh papa yang menculik aku?, apa papa punya musuh perempuan? aduh pusing ah kenapa sih harus gue yang jadi sasarannya. Apa coba salah gue?" benak Gita
kelanjutan nya..