maaf, untuk sementara karya ini tidak di lanjutkan dulu dikarenakan authornya sedang sibuk, insyaallah, nanti akan saya lanjutkan kembali🙏🙏
apakah sebuah hubungan rumah tangga akan sakinah mawadah warahmah, jika suami dengan tega mengkhianati istri..??
.
kisah kehidupan yang menguras emosi dan air mata..🥀
Dinda harus menerima kenyataan kalau suaminya harus menikah lagi dengan sahabatnya sendiri karena hubungan terlarang yang mereka lakukan.
Dinda harus menjalani hari harinya dengan penuh kesedihan, ambisi Dewi untuk memiliki kekayaan suaminya membuat Dinda selalu disalahkan, Dewi melakukan segala cara untuk menyingkirkan Dinda dari rumah dia sendiri.
bagaimana ceritanya..?
baca yuk..!!
jngn lupa like, comen n votenya
rate ⭐⭐⭐⭐⭐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawar berduri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kenyataan pahit
''aku mau minta maaf sama kamu Din, aku menyesal karena sudah melakukan ...!? ucapan Dewi terhenti karena gerakan tangan Dinda menyetop pembicaraan nya
''mau apa kamu ke butik saya?'' tanya Dinda yang tetap tenang meskipun tangannya sudah mengepal, ingin sekali dirinya mencabik cabik wanita yang ada dihadapannya itu
''din, aku kesini mau ngasih surat ini ke kamu'' ujar Dewi menyodorkan selembar surat ke hadapan Dinda
''surat apa ini?'' tanya Dinda seakan tidak mau membacanya
''itu surat keterangan kehamilan Din, aku hamil'' jawab Dewi menjatuhkan air mata kepalsuan
''apa? kamu hamil Dew?'' tanya Dinda menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan perkataan Dewi barusan
''iya din, aku hamil'' ujar Dewi menangis dihadapan dinda.
Dinda hanya diam, tubuhnya bergetar melihat dewi yang menangis terisak. Dinda masih tidak percaya dengan perkataan dewi, diapun membuka surat tersebut dan ternyata benar hasilnya positif, itu tandanya Dewi hamil.
''kamu pergi dari sini Dew, pergi.....'' ujar Dinda mengusir Dewi dari ruangan nya
''tapi Din, aku mengandung anak Hendra, anak suami kamu. gimana nasib aku sekarang Din? kamu harus menyuruh Hendra untuk nikahi aku secepatnya, dia harus bertanggung jawab" ujar Dewi kepada Dinda
"engga" ujar Dinda menggeleng kn kepalanya
"apa kamu mau suami kamu aku laporkan ke polisi karena tidak mau bertanggung jawab atas anak ini'' ujar Dewi mengancam Dinda untuk memenjarakan suaminya
''pergi kamu dewi'' ujar Dinda murka, dia tak kuat menerima kenyataan pahit ini, tubuhnya lemas hingga dia terjatuh, duduk di lantai memeluk lututnya
"cobaan apa lagi ini ya Allah? kenapa semua ini harus terjadi di kehidupanku?". batin Dinda merintih
marah, kesal, sedih, kecewa semua campuraduk menjadi satu. Dinda melempar perhiasan yang Hendra kasih untuknya, dia marah kepada Hendra, entah apa yang harus Dinda lakukan saat ini, dia hanya bisa menangis karena kekecewaannya, kekecewaan yang begitu dalam hingga menghancurkannya sehancur hancurnya.
Dewi yang keluar dari ruangan dinda tersenyum menghapus air matanya, dia akhirnya berhasil membuat Dinda hancur.
"rasain kamu Dinda, sebentar lagi aku akan jadi nyonya Hendra, aku akan menggantikan posisi kamu" batin Dewi
Eva dan pegawai lainnya tersenyum menatap Dewi yang keluar dari ruangan dinda, Dewi yang saat itu sudah berhasil membuat Dinda bersedih dia langsung pergi meninggalkan butik itu.
di dalam ruangan Dinda menangis sejadi jadinya sembari memegang kertas yang membuat hatinya hancur berkeping keping, Dinda bingung apa yang harus dia lakukan, Dinda takut ibunya tau kalau Dewi mengandung anak Hendra, Dinda takut terjadi apa-apa dengan kesehatan ibunya.
tangannya yang gemetar mengambil handphone yang berada di dalam tas. Dinda mencari nomor Hendra dan langsung menghubungi nya.
...tuuut...
...tuuut...
...tuuut...
...suara panggilan yang belum di angkat...
''hallo sayang. ada apa? kamu sudah terima paketnya?'' tanya Hendra yang sudah mengangkat telponnya
''sudah mas terimakasih'' jawab Dinda terisak
''kamu kenapa sayang? kenapa nangis?'' tanya hendra khawatir.
''mas, mas bisa kesini?'' tanya Dinda menyuruh Hendra untuk datang ke butiknya
''kamu kenapa sayang? ada apa?'' tanya Hendra yang sangat khawatir kepada istrinya
''aku tunggu kamu disini ya mas'' jawab Dinda mematikan teleponnya
entah apa yang harus dia lakukan saat ini, Dinda tak mau berbagi suami apalagi dengan sahabatnya sendiri. tapi Dinda jg tidak mau kalau suaminya harus masuk penjara karena tidak mau bertanggung jawab atas apa telah dia perbuat.
...tok...
...tok...
...tok...
sayang
sayang..'' teriak Hendra membuka pintu ruangan
''kamu kenapa sayang?'' tanya hendra yang melihat Dinda menangis
''Dewi hamil mas'' ujar Dinda menangis
''hamil?'' ujar Hendra shock, Hendra kaget hingga dia duduk di lantai dengan wajah kebingungan
''iya mas. Dewi hamil. barusan Dewi kesini bawa surat keterangan ini mas, aku gak tau harus bagaimana, apa yang akan aku katakan kepada ibu kalau dia tau semua ini'' ujar Dinda yang terus menangis,
''astagfirullah aladzim" ujar Hendra beristighfar. Hendra menyesal dengan apa yang telah dia perbuat
"kamu harus tanggung jawab mas. kamu harus ceraikan aku dan nikahi Dewi secepatnya" ujar Dinda mencoba untuk kuat. Dinda begitu sangat mencintai Hendra, tapi Dinda terpaksa harus melepaskan Hendra karena Dinda tidak mau Hendra masuk penjara
"engga sayang. sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan kamu" ujar Hendra menggenggam tangan Dinda dengan erat, air matanya jatuh membasahi pipinya
"tapi mas, kamu harus menikahi Dewi, kalau tidak kamu akan masuk penjara. mas bagaimana pun janin yang ada di rahim Dewi itu darah daging kamu. kamu harus bertanggung jawab" ujar Dinda menatap mata Hendra seakan dia ikhlas melepaskan suaminya itu
"tapi mas ga mau kehilangan kamu sayang, mas sayang sama kamu" ujar hendra menangis tidak ingin kehilangan Dinda
"terus gimana? aku gak mau di madu mas" ujar Dinda melepaskan tangan Hendra
"sampai kapanpun mas tidak akan menceraikan kamu sayang. mas lebih baik di penjara dari pada harus kehilangan kamu" ujar Hendra memeluk tubuh Dinda dengan erat
Dinda hanya diam. air mata yang dia tahan akhirnya jatuh kembali membasahi pipi manisnya. Dinda tidak mungkin membiarkan orang yang dia sayangi harus masuk penjara.
"mas nikahi Dewi ya, aku ikhlas mas hidup bersama dewi, tapi mas harus ikhlaskan aku juga" ujar Dinda menghapus air matanya seakan dia baik baik saja
"engga sayang. mas lebih baik di penjara dari pada harus kehilangan kamu" ujar hendra keukeuh
"tapi aku gak mau mas di penjara" ujar Dinda lagi lagi dia menjatuhkan air matanya
Hendra diam, menangis sejadi jadinya. Hendra menyesal dengan apa yang telah dia perbuat, dia tidak menyangka kalau akhirnya akan seperti ini. menyakiti wanita yang sangat dia sayangi hingga hampir kehilangannya.
"sudah mas. aku mau pulang" ujar Dinda melepaskan pelukan Hendra
kesal, marah itu yang Dinda rasakan saat ini ingin rasanya dia berteriak sekencang kencangnya melepaskan kekecewaan yang ada dalam hatinya.
Dinda bangkit dari duduknya berjalan meninggalkan Hendra yang sedang menangis meratapi nasibnya.
Hendra hanya menunggu waktu, entah penjara, atau kehilangan wanita yang sangat dicintainya.
...bersambung...
🌾🌾🌾jangan lupa like, comen n vote nya ya 🙏😊😊
....itu pembantunya hendra...suruh peka dikit lah.....jgn oon2 amat....
yg ambilnperhiasan Dinda blum tau emg rumah org kaya gk da cctv