Gema adalah seorang Manajer Pemasaran pada salah satu perusahaan di Jakarta. Kerja keras dan semangatnya untuk meniti masa depan melupakannya untuk mencari pasangan.
Beberapa kali ia bertemu wanita, tetapi selalu saja ia tolak. Standar yang terlalu tinggi untuk mencari wanita yang sempurna, membuat dirinya belum bisa menikah.
Sampai akhirnya mama Gema menjodohkannya dengan seorang gadis desa bernama Ratih. Ratih sendiri merupakan gadis polos dan cantik, yang baru saja pindah ke Jakarta beberapa bulan lalu karena berhasil diangkat menjadi PNS di Tanggerang Selatan.
Awalnya hubungan mereka selalu dihiasi dengan adu mulut dan saling benci satu sama lain. Perilaku tidak senonoh Gema kepada Ratih juga membuat Ratih semakin tidak menyukainya.
Namun siapa sangka, mereka seperti menjilat ludah sendiri, ketika sebuah rasa hadir dalam hubungan mereka. Membuat mereka sadar bahwa menikah dahulu dan pacaran setelahnya adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan kepada mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifky Adek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balas Dendam
"Hei bangun!" Sebuah jari menyentuh Gema yang masih tertidur pulas.
Gema yang merasakan ada sentuhan terbangun dan mulai membuka mata perlahan. Tak seperti biasanya, kali ini Gema sangat mudah dibangunkan. Mungkin karena tidur yang cukup dari semalam.
"AHHHH...SETANN!" Gema menjerit seperti wanita jantan. Ia wanita jantan, raganya pria tetapi teriakannya seperti wanita.
"Setan? Dimana?" Ratih menutup kupingnya karena suara bising Gema, sambil menengok ke kiri dan ke kanan.
Rupanya yang dilihat Gema adalah Ratih. Ia menggunakan mukena dan memakai masker wajah bewarna putih. Gema yang baru bangun dari tidurnya, menyangka wanita itu adalah jelmaan setan.
"Ngagetin aja lo." Ujar Gema sambil berusaha bangkit dari tidurnya.
"Waaaa...Haaa....takut ya?" Ratih meledek Gema sambil membuat gerakan seperti menakut-nakuti.
"Ga kok, kaget aja." Gema melipat tangan sambil membuang wajah.
"Teriakan kamu jantan sekali." Ratih cekikikan.
"Apa sih, minggir minggir." Mengibaskan tangan lalu pergi ke kamar mandi.
Saat Gema di dalam kamar mandi ia bersiul-siul dan menganggap bahwa siulannya sangat indah. Namun bagi Ratih itu tetap saja berisik dan mengganggu.
"Kalau suka bersiul nanti setan bakalan datang lho." Teriak Ratih mencoba memberitahu Gema yang berada di kamar mandi.
"Berisik!" Jawab Gema sambil terus bersiul.
Menggunakan cerita mitos seperti nenek ternyata tidak mempan bagi Gema. Padahal dahulu ketika nenek menceritakan sebuah mitos yang mengerikan dan tidak masuk akal sekalipun, biasanya Ratih akan percaya.
Ratih kemudian mencari cara lain untuk menghentikan siulan Gema yang mengganggu. Ia kemudian berjalan mendekati kamar mandi. Terlihat sebuah kontak yang biasanya digunakan untuk menyalakan atau mematikan lampu di kamar mandi.
Sebuah ide yang jahil namun ampuh menurut Ratih. Ia mematikan lampu kamar mandi dengan menekan kontaknya. Berharap Gema menghentikan siulannya dengan segera.
Benar saja, rencana Ratih berhasil. Gema terdengar panik dengan berteriak di dalam kamar mandi. Beberapa kali ia mencoba menggedor pintu itu yang sebelumnya telah dikunci Ratih dari luar.
"Woy, kenapa lo matiin lampunya," Teriak Gema.
"Makanya jangan berisik." Jawab Ratih sambil tertawa.
"Awas ya lo."
"Awas apa? ke sini dong kalau bisa, hahaha."
Gema tetap menggedor-gedor pintu kamar mandi. Berusaha melepaskan diri. Namun usahanya terasa sia-sia, karena Ratih sudah menutup akses pintunya. Membuat Gema harus berteman dengan gelap.
Beberapa menit kemudian suara dentuman yang keras terdengar dari kamar mandi seperti sebuah benda yang jatuh. Ratih yang penasaran mendekati pintu dan mengetuknya.
"Hei, kamu gapapa?" Ratih bertanya sambil mendekatkan telinganya ke pintu kamar mandi.
Tetapi tak ada jawaban sama sekali.
Panik dengan tidak adanya jawaban, Ratih membuka kunci kamar mandi dan membuka pintunya. Suasana kamar mandi yang gelap bisa terlihat jelas ketika pintu itu dibuka.
Dengan sigap, tangan Ratih meraih kontak agar lampu di dalam kamar mandi itu dapat menyala kembali. Ketika lampu dinyalakan mata Ratih kaget dengan pergantian cahaya yang cepat dari gelap ke terang.
Matanya menyipit dan tangannya membentuk sikap hormat untuk menghindari cahaya lampu yang cukup terang. Ia melihat ke segala penjuru ruangan, berharap suaminya itu dalam keadaan yang baik-baik saja.
Tak berapa lama Ratih mencari, tubuhnya mematung menatap Gema yang terkapar. Matanya melotot dan mulutnya ditutup dengan kedua tangan.
Ratih kini melihat apa yang terjadi kepada Gema. Kepalanya terlihat bersandar di tepi bathtub. Sepertinya ia tidak berdaya. Beberapa cairan merah berbentuk darah mengalir ke bathtub yang bewarna putih.
Ratih yang panik menghampiri Gema dan merangkulnya. Ia mencoba menepuk-nepuk pipi Gema berusaha untuk membangunkannya.
"Hei, bangun!" Tak hanya menepuk pipi Gema, kali ini Ratih juga menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Sekeras itu Ratih berusaha, namun tidak membuahkan hasil. Dirinya semakin panik tatkala cairan merah itu menempel di tangannya. Sepertinya benda itu berasal dari kepala Gema. Dan benar saja, semakin Ratih memegang kepala Gema, semakin banyak cairan merah itu di tangannya.
Kali ini kepanikannya menghasilkan tangis yang tak terbendung. Tetes air mata mulai jatuh melewati pipinya yang masih menggunakan masker. Darahnya seakan turun sehingga tangannya sedingin es.
Tak ada cara lain lagi, kali ini Ratih ingin berteriak sekencang-kencangnya agar penghuni rumah bisa mendengarnya. Memberikan pertolongan kepada Gema yang sedang terkapar entah kenapa. Ratih merasa sangat bersalah. Mungkin saja Gema tergelincir saat Ratih mencoba menjahilinya, pikir Ratih mengira-ngira.
"Tolong!" teriak Ratih.
Teriakan pertama tidak ada yang mendengarnya. Sementara Ratih terus menangis. Rumah yang cukup besar membuat suara Ratih tidak merambat dengan baik ke segala penjuru rumah.
"To-" Teriakan Ratih untuk kedua kalinya terhenti, saat pria yang dirangkulnya tersebut menjulurkan lidah. Satu matanya terbuka seperti mengintip Ratih.
Ratih yang mengetahui hal ini hanya kebohongan, mengusap air matanya. Ia dengan cepat melepaskan rangkulannya terhadap Gema yang membuat kepala suaminya itu berbenturan dengan lantai.
"Aduhh," erang Gema.
Cairan merah itu ternyata sabun cair yang ada di kamar mandi. Bodohnya Ratih tidak mengetahui akal-akalan suaminya itu. Mungkin karena panik ia tak bisa berpikir jernih. Dentuman itu bisa saja ia buat-buat dengan apapun itu pikir Ratih.
Ratih yang tidak peduli lagi dengan Gema meninggalkannya yang sedang meringis kesakitan. Namun dalam rasa sakitnya, Gema masih terlihat tertawa karena berhasil memberikan pembalasan kepada istrinya.
...****************...
"Ma, aku pamit dulu ya." Kata Gema sambil menyalami tangan Ella. Ia bahkan mencium pipi wanita itu
"Iya, hati-hati di jalan ya." Jawab Ella. Ella memeluk putranya yang berbadan kekar.
Gema melepas pelukan mamanya. Sebuah koper terlihat di sebelahnya. Tas ransel juga ia sandang untuk meletakan barang-barang yang penting.
Sebuah jacket bomber bewarna hijau tua kini melekat di badannya. Ditambah jeans hitam dan sneakers bewarna putih yang telah disiapkan Ratih sebelumnya.
"Lho, istrimu mana?" Celingak-celinguk mencari menantunya.
"Oh, dia ga enak badan katanya ma." Balas Gema seraya menggaruk-garuk kepala.
"Bukannya beberapa menit lagi istri mu bakalan berangkat kerja ya?"
"Duh mama, sekarang kan hari minggu kok mama lupa?"
Ella menepuk jidatnya dan tertawa. Gema tersenyum kecil, ia tahu bahwa mamanya kini semakin menua. Kerutan di wajahnya juga menjelaskan semua, perjuangan dari setiap kehidupan yang telah ia lalui.
Tiba-tiba seorang pria turun dari taksi yang akan mengantar Gema ke bandara.
"Tante, Adam pamit dulu ya tan." Kata adam sambil menyalami mama Gema.
"Iya Dam hati-hati. Titip Gema ya." Jawab Ella menyambut tangan Adam.
"Iya tante, yok Gem!" Perintah Adam sambil menarik jacket Gema.
Keduanya melambaikan tangan kepada Ella, sementara supir taksi sibuk memasukan barang Gema ke bagasi mobilnya.
Ternyata dari balik jendela mengintip sebuah mata yang melihat Gema pergi. Kamar di lantai dua juga tidak menghalangi keinginannya untuk terus menatap suaminya. Ratih yang kesal namun dalam hatinya tetap peduli. Walaupun sebelumnya dia tidak mau berbicara kepada Gema yang menjahilinya sampai berurai air mata.
hi kak Rifky
salken yaa..
salam buat urang minang, salam utk urang kampuang awak...
urang minang nihh.. othor orng mana nih??
jd kangen main ka taplau😄
astaga
soalnya jarang bgt Nemu novel othornya cowok..ceritanya mnarik, rapih lg,,ga tw dh slanjutnya..
lanjut ja dh,,smangat KK othornya y..
waduuuh nanggung amat yaa
IYA wanita jantan ✅
salken yaa