Khalisa, harus rela bekerja pada keluarga kaya. Bukan sebagai pembantu rumah tangga melainkan merawat seorang pria yang bernama Adrian. Adrian adalah seorang pria muda yang di nyatakan stroke.
Meski pun Adrian sangat keras kepala dan memperlakukan Khalisa dengan sangat kasar. Khalisa tetap sabar menjalankan pekerjaan nya demi sang adik yang sedang sakit keras.
Dari rasa benci berubah ke rasa suka lalu berubah lagi pada rasa benci hingga pada akhirnya mereka saling mencintai. Banyak hal yang terjadi dalam hidup Khalisa, namun diri nya dengan sabar melewati kesedihan yang selalu datang dalam hidup nya.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Silahkan baca dan Jangan lupa Like, Rate, Vote and Coment 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13.Bisa Berdiri
Hari ke hari telah berlalu, Kaki Adrian yang mulai bisa di gerakkan membuat pria itu semakin bersemangat untuk sembuh. Khalisa yang mulai menerima kematian adik nya hanya menghabiskan waktu dengan merawat dan membatu Adrian agar segera sembuh.
Seperti pagi ini, selesai sarapan mereka sudah berada di taman belakang rumah yang lumayan luas. Kali ini Khalisa hendak membantu Adrian belajar berjalan.
"Aku sangat takut." ucap Adrian.
"Jangan takut, ada aku yang membantu mu." balas Khalisa.
"Kalau aku jatuh gimana?" tanya pria itu khawatir.
"Jatuhkan ke bawah, palingan juga sakit."
Adrian melirik Khalisa dengan sorot mata tajam nya. "Kau ini, kalau bicara asal saja!" ucap nya tidak terima.
"Iya...iya...maaf.." ujar Khalisa "Ayo coba berdiri dulu." pinta khalisa sambil membentangkan ke dua tangan nya.
Ke dua tangan kekar itu meraih tangan mungil khalisa, jrekkk...cukup kuat Adrian menggenggam tangan Khalisa hingga wanita mata wanita itu melotot.
"Ayo...coba berdiri pelan-pelan." ucap Khalisa.
Sedikit berkeringat, Adrian menatap wajah Khalisa lalu mencoba berdiri pelan-pelan. Pria itu berhasil, meski tak terlalu tegap namun ia berhasil berdiri kembali setelah dua tahun lama nya. "Lisa....lihat aku bisa berdiri.." ucap nya senang. Khalisa tersenyum, wanita itu tak kalah senang saat melihat Adrian bisa berdiri.
Nampak dari dalam rumah seorang pria setengah tua melihat dengan perasaan haru.
Senyum keriput nya terukir, lalu Surya mengucapkan syukur. "Tak sia-sia aku memperkerjakan mu." ucap Surya.
Masih mencoba bertahan, tak lama Adrian terduduk kembali di kursi roda nya. "Aku mau mencoba berdiri lagi." ucap pria itu penuh semangat.
"Baiklah, aku bantu."
Dengan penuh semangat pria itu mencoba bangkit dari duduk nya, berdiri dan terduduk kembali begitu yang di lakukan Adrian.
Merasa lelah, Adrian meminta untuk menyudahi nya. Wanita itu kemudian memijat pelan kaki Adrian. Adrian menatap wajah lelah yang mengurusnya dengan tulus itu. "Terimakasih." ucap Adrian. "Terimakasih sudah membantu ku sejauh ini."
Khalisa tersenyum, "Sama-sama, selagi kau tidak pernah menyerah, aku pasti akan membantu mu hingga sembuh."
"Aku janji, jika aku sembuh nanti, aku akan mengajak mu jalan-jalan kemana pun yang kau mau."
"Benarkah?" tanya Khalisa serius.
"Aku serius dan aku berjanji."
"Jangan suka berjanji, ia jika kau bisa menepati nya jika tidak? itu akan menjadi hutang mu." tutur Khalisa.
"Aku berani bersumpah! kau ini jangan meremehkan ku." ujar Adrian tak terima.
"Terserah kau saja, kau sembuh pun aku sudah sangat bersyukur." balas Khalisa.
Sesi pijat memijat dan berdebat selesai, Khalisa mengatar Adrian kembali ke kamar untuk istirahat. Setelah itu, Khalisa menuju dapur untuk membuat segelas jus agar ia tetap segar.
"Khalisa.." panggil Surya.
Khalisa membalikan tubuh nya, "Iya pak? ada apa?" tanya nya.
"Terimakasih, kau telah membantu Adrian hingga dia bisa sejauh ini."
"Tidak pak, ini sudah menjadi tugas saya. Lagian bapak membayar mahal saya, jadi saya harus bekerja lebih keras lagi."
"Kau memang wanita hebat. Orang tua mu pasti sangat bangga memiliki putri seperti mu." puji Surya dan Khalisa hanya mengucapkan terimakasih.
Setelah Surya kembali ke kamar nya, Khalisa memilih kembali ke taman. Wanita itu terbayang kembali dengan ucapan Surya.
"Ayah, ibu, Disa...aku rindu kalian." ucap nya lirih. "Apa arti nya dunia ini tanpa kalian, apa arti nya aku bekerja keras tanpa kalian."
Pilu kembali hati Khalisa, wanita itu menatap gumpalan awan yang menghitam. Mata lentik nya tak terasa mengeluarkan sebulir bening namun cepat-cepat ia menghapus nya.