NovelToon NovelToon
Geranium

Geranium

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.

Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.

Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.

Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Langkah kakiku terasa berat saat aku berbelok menuju ruang makan. Pikiranku masih tertuju padanya aku yakin sekali dia sedang duduk di sana, menyesap kopi seperti pagi-pagi biasanya. Namun, saat aku tiba di ambang pintu.

​Bukan dia yang kulihat, melainkan Mbok, pembantu rumah tangga yang beberapa hari sekali datang untuk membantu membersihkan rumah. Suara denting alat makan yang ia tata memecah keheningan, suara yang sudah lama tidak aku dengar dengan begitu jelas di pagi hari.

​Melihat Mbok sedang sibuk mengelap meja, sebuah rencana mendadak melintas di kepalaku. Tanpa berpikir panjang, aku menghampirinya.

​" Mbok," panggilku pelan. " Boleh aku pinjam ponsel sebentar?"

​Mbok menoleh, tersenyum ramah sambil merogoh saku celemeknya. " Boleh, non. Ini, silakan."

​Aku menerima ponsel itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Jari-jariku dengan cepat menekan deretan angka yang sudah hafal di luar kepala. Ini adalah satu-satunya cara.

Aku harus menghubungi Aurora sekarang juga, sebelum keberanianku menyusut atau sebelum waktu membuatku kembali ragu. Saat nada sambung mulai terdengar di telingaku, aku hanya bisa berdoa agar ia mengangkatnya.

Nada sambung itu terputus, digantikan oleh suara yang sangat kurindukan. " Halo? " suara Aurora terdengar di seberang sana, sedikit serak namun tetap hangat.

​Jantungku berdegup kencang. Aku menatap Mbok yang kembali sibuk menyapu di sudut ruangan, memberinya isyarat terima kasih sebelum melangkah menjauh ke arah balkon apartemen agar pembicaraan kami lebih privat.

​" Ra, ini aku," ucapku pelan, berusaha menjaga suaraku agar tidak bergetar.

​" Ca ? Tumben pakai nomor orang lain? Ada apa? " tanya aurora dengan nada cemas yang samar.

​Aku menarik napas dalam-dalam. " Aku butuh kamu di sini, sekarang. Bisa datang ke apartemen? Tolong, Ra. Aku tahu ini mendadak, tapi ada hal yang harus aku bicarakan. Sesuatu tentang... semuanya."

​Hening sejenak di seberang sana. Aku tahu Aurora pasti bingung, tapi aku juga tahu betapa besar kasih sayangnya kepadaku. Lagipula, bagi Aurora, aku bukan sekadar sahabat atau calon kakak iparnya aku adalah tempat ia berbagi cerita paling jujur selama ini. Tidak ada orang lain yang lebih bisa aku percayai untuk menghadapi kekacauan ini selain dia.

Aurora ​" Oke, ca," jawabnya akhirnya, singkat dan tegas. " Aku siap-siap sekarang. Setengah jam lagi aku sampai."

​Panggilan terputus. Aku menatap layar ponsel itu sejenak, merasa sedikit beban terangkat dari pundakku. Setidaknya sekarang, penantian panjang ini akan segera berakhir dengan kehadirannya.

Tidak butuh waktu lama mungkin belum genap tiga puluh menit bel pintu apartemen berdenting. Saat aku membuka pintu, sosok Aurora berdiri di sana dengan raut wajah yang penuh tanya, namun kekhawatirannya tampak lebih mendominasi.

Tanpa banyak bicara, aku menariknya masuk dan segera mengajaknya duduk di sofa ruang tamu yang temaram.

​Suasana hening sesaat setelah pintu tertutup rapat. Aku menatapnya, mencari keberanian di matanya yang selalu tampak teduh. Perlahan, aku mulai menumpahkan semuanya. Aku menceritakan tentang perasaan terkurung yang menyesakkan di sini, tentang bayang-bayang yang selalu mengikutiku, dan bagaimana aku merasa kehilangan kendali atas hidupku sendiri sejak tinggal di tempat ini.

​Aurora mendengarkan dengan saksama. Ia tidak memotong pembicaraanku, bahkan tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Sesekali ia meremas jemariku, memberi kekuatan yang selama ini diam-diam aku rindukan.

Caca ​" Aku sudah tidak sanggup, ra," bisikku lirih di akhir cerita. " Aku merasa tidak bisa keluar dari sini sendirian."

​Ekspresi Aurora berubah menjadi tegas, matanya berkilat penuh tekad. Ia menggenggam tanganku lebih erat, lalu menatapku lekat-lekat.

Aurora ​" Ca, dengarkan aku," ucapnya dengan nada yang meyakinkan. " Mulai sekarang, Kamu tidak sendirian lagi. Aku akan membantumu keluar dari tempat ini, apa pun risikonya. Kita akan cari jalan keluarnya bersama, dan aku janji, kita akan pergi dari sini secepatnya."

​Mendengar kata-katanya, setitik harapan yang sempat padam kini menyala kembali. Aku tahu, dengan Aurora di sisiku, keberanian yang sempat hilang kini perlahan mulai pulih.

Tanpa membuang waktu, Aurora langsung menarik lenganku. Ia tidak membiarkanku berkemas baginya, hanya keselamatanku yang paling utama saat ini. Kami melangkah cepat menuju pintu keluar, mengabaikan tatapan heran Mbok yang masih sibuk di ruang makan.

​Begitu sampai di lantai dasar, Aurora langsung menggiringku ke mobilnya yang terparkir di pojok area parkir yang sepi. Mesin mobil menderu hidup, memecah kesunyian malam. Tanpa menoleh ke belakang sedikit pun, ia tancap gas, meninggalkan gedung apartemen yang selama ini terasa seperti penjara bagiku.

​Di sepanjang jalan, tidak ada percakapan. Hanya deru angin dan lampu jalan yang berkelebat cepat di luar kaca jendela. Aurora berkendara dengan fokus yang tajam, terus melaju ke arah luar kota, menjauh dari keramaian dan tempat-tempat yang mungkin bisa melacak keberadaanku.

​Aku menyandarkan kepala di jendela mobil, menatap gedung-gedung yang perlahan menghilang di balik kaca spion. Rasanya tidak nyata. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa bernapas dengan lega. Udara malam terasa berbeda—lebih segar, lebih bebas.

Caca ​" Kita mau ke mana, ra? " tanyaku akhirnya, suaraku terdengar serak karena menahan haru.

​Aurora menoleh sekilas, menyunggingkan senyum tipis yang penuh keyakinan. " Ke tempat yang tidak ada satu orang pun tahu, ca. Kita akan memulai semuanya dari nol."

​Mobil itu terus melaju, membelah kegelapan malam, membawa kami menuju cakrawala baru di mana tidak ada lagi ruang bagi rasa takut yang selama ini membayangi.

1
Umi Fitriani
semangat thorr
you see me: Terima kasih kakak /Whimper/😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!