Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Kalimat pahit Dari Astrid
...----------------...
Besoknya, tepat dua hari sebelum jadwal ketemuan aku sama Astrid, aku bareng Liona pulang kuliah sore hari. Di dalam mobil, pikiran aku bener bener gak tenang. Aku terpaksa harus membatalkan janji main kita berdua yang udah direncanain buat hari Sabtu besok, demi bisa dateng nemuin Astrid.
Aku berdeham pelan, memecah keheningan di dalam mobil sambil terus fokus menatap jalanan di depan. "Sayang, kayaknya Sabtu ini kita gak bisa main dulu ya. Aku ada urusan bisnis mendadak banget sama Kak Zalya."
Liona yang tadinya lagi sibuk mainin ponsel langsung menoleh cepat. Alisnya bertaut bingung, lalu dia mematikan layar ponselnya. "Loh, kok mendadak banget? Bukannya Kak Zalya itu punya toko butik sendiri? Kamu tiba tiba mau ikutan punya toko butik juga, emangnya? Sejak kapan kamu tertarik sama dunia fashion, Sayang?"
Aku agak kagok, tapi langsung muter otak buat ngeles supaya dia percaya. "Bukan gitu... Kebetulan Kak Zalya disuruh Ayah buat belajar ngatur perusahaan keluarga bareng Kak Andra. Nah, makanya aku yang disuruh gantiin posisi Kak Zalya di butik satu hari itu. Ya... itung itung aku belajar magang juga dari hal kecil."
Mendengar itu, mata Liona langsung berbinar penuh harapan. Dia memajukan posisi duduknya, menatap aku dengan senyuman lebar. "Owalah Kalau gitu, ya udah aku main ke butik kamu aja ya! Nanti aku temenin di sana. Aku bisa bantu kamu milihin baju atau jagain kasir. Seru tahu! Daripada kamu sendirian di sana, kan?"
"Duh, jangan" tolak aku terlalu cepat, bikin suasana di dalam mobil mendadak canggung. Aku buru buru melembutkan nada suaraku. "Maksud aku jangan dulu, Sayang. Ini masalah rahasia bisnis internal keluarga besar Albian. Ada keuangan dan manajemen baru yang mau diterapin. Pokoknya orang luar belum boleh tahu dulu, termasuk kamu."
Seketika, raut wajah Liona langsung berubah drastis. Senyumannya hilang, digantikan oleh bibir yang mengerucut jatuh. Dia melipat tangannya di dada dan membuang muka ke arah jendela luar. "Hihhh! Kamu masa mau ingkarin janji kamu sih? Kita kan udah rencanain mau jalan jalan minggu ini! Aku gak suka ya, Arka! Alasan kamu tuh selalu aja soal bisnis keluarga."
Aku menghela napas panjang, mencoba membujuknya pelan pelan dengan meraih dan memegang tangannya yang terasa dingin. "Sayang, cuma sabtu ini doang kok. Minggu depannya aku janji bakal ganti hari main kita, ya? Kita bebas mau ke mana aja."
Tapi Liona malah makin menarik tangannya menjauh dari genggaman aku. Dia bener bener ngambek dan gak mau dengerin omongan aku sebelum aku setuju buat tetep main sama dia hari Sabtu.
"Gak usah bujuk-bujuk aku! Pokoknya aku males sama kamu. Aku pulang sendiri aja nanti, gak usah kamu jemput-jemput lagi!" ketus Liona pas mobil baru aja berhenti di depan gerbang rumahnya.
Dia langsung turun dari mobil tanpa pamit dan menutup pintu mobil dengan cukup keras sampai bodi mobil bergoyang sedikit.
Melihat tingkahnya, aku cuma bisa geleng geleng kepala sambil mengurut dahi ku yang mendadak pusing.
Ya, walaupun Liona itu orangnya jauh lebih baik dan tulus daripada Sania, tapi jujur... perilakunya kadang masih sangat kekanak kanakan. Dia gampang banget ngambek dan jarang bisa mengerti kondisi atau posisi aku. Mungkin karena dari kecil dia selalu dimanja oleh keluarganya, makanya dia tumbuh jadi anak yang terlalu bergantung sama orang lain. Dan yang paling parah, belakangan ini aku ngerasa Liona udah terlalu terobsesi sama aku. Semua hal tentang aku harus dia tahu, dan draf harinya harus selalu berpusat di aku.
...****************...
Dan di sinilah aku sekarang. Malam yang sudah aku dan Astrid janjikan untuk bertemu akhirnya tiba. Aku udah dateng di kafe yang dia pilih tepat pukul 19.00 malam. Biar gak kelihatan terlalu mencolok, aku sengaja cuma pakai baju polo warna hitam, celana jins, dan sepatu kets putih santai.
Ini adalah pertemuan kedua aku dengan Astrid setelah terakhir kali kami berinteraksi pas acara pesta perpisahan sekolah dulu. Duduk di sudut ruangan kafe, dada aku tiba-tiba berdetak sangat kencang. Entah kenapa, mendadak ada rasa gugup yang luar biasa menyerang aku.
Setelah menunggu beberapa menit sambil sesekali ngecek jam tangan, sosok yang aku tunggu akhirnya dateng.
Dari balik kaca kafe, aku melihat Astrid turun dari sebuah mobil SUV warna hitam. Sebelum melangkah masuk, dia kelihatan berbicara serius terlebih dahulu dengan seorang pria di dalam mobil itu. Begitu Astrid memasuki kafe, aku langsung mengangkat dan melambaikan tangan supaya dia bisa melihat posisi aku.
Astrid berjalan mendekat, lalu kami saling menyapa dengan agak canggung. Obrolan kami dimulai dengan basa basi yang ringan, walaupun jujur aku sempat gugup pas awal awal berbicara.
"Eh, Strid. Udah lama gak ketemu ya," ucap aku membuka obrolan, menggeser kursi di depan aku. "Silakan duduk."
"Iya, Ka. Makasih ya udah mau luangkan waktu malam malam gini," jawab Astrid pelan, senyumnya tipis banget. Dia menaruh tas kainnya di samping kursi. "Kabar lu gimana? Kuliah lancar?"
"Lancar lancar aja kok, ya gitu deh pusing sama tugas. Lu sendiri gimana? Masih sering sibuk?" tanya aku, mencoba menetralkan kegugupan.
"Gitu deh, Ka. Sejak Nyokap gak ada, gue emang harus urus banyak hal sendirian. Tapi ya... dijalanin aja," tutur Astrid, matanya sempat meredup sedetik sebelum akhirnya dia berusaha tersenyum lagi.
Aku berdeham, aku tidak tau jika astrid sudah kehilangan ibunya, aku menjadi merasa salah karena udah ngungkit hal sensitif. "Mau pesen apa, Strid?" tanya aku memecah kecanggungan sambil membukakan buku menu makanan di depan dia.
Astrid menerima menu itu dan mulai melihat-lihat isinya. Tapi baru beberapa detik membaca, wajah Astrid langsung berubah terkejut. Dia menatap aku dengan kikuk.
"Duhh... ternyata gak sesuai perkiraan gue ya, hehehe," ucap Astrid sambil tertawa malu.
Aku mengernyitkan dahi, agak heran. "Loh, kenapa, Strid? Kurang ada menu yang lu suka, ya?"
"Bukan gitu, gue kira kafe ini harganya gak terlalu mahal. Gue sengaja milih kafe biasa ini karena mikir... masa iya ketemu orang kaya kayak lu di pinggir jalan? Yang ada nanti malah buat nama lu jadi jelek di kenalan lu, kalau ada yang lihat kita nongkrong di tempat murah, hahaha," ucap Astrid sambil tertawa renyah, berusaha menutupi rasa sungkannya.
Mendengar kepolosannya, rasa gugup aku langsung hilang dan berganti jadi tawa kecil. "Hahaha, emang lu lucu juga ya. Gak usah mikirin kenalan gue lah, lagian gue juga manusia biasa. Udah, pilih aja apa yang mau lu pesen, nanti semua gue yang traktir. Hitung hitung hadiah pertemuan dari gue setelah sekian lama." ucap ku dengan senyum sambil mencuri curi pandang ke arah mobil SUV yang di pakai astrid.
"Beneran ya? Jangan nyesel lu," canda Astrid, matanya menyipit jenaka.
Astrid tersenyum lega. Sambil dia memesan ke pelayan, dia menyadari kalau pandangan mata aku dari tadi beberapa kali curi curi pandang ke arah luar jendela, tepatnya ke arah mobil SUV hitam yang dia kendarai tadi.
"Gak usah perhatiin mobil itu mulu, Ka. Gue kesini sama temen gue kok, dia emang sengaja nungguin di sana," ucap Astrid yang langsung tahu isi pikiran aku.
Aku langsung mengaruk tengkuk yang gak gatal, ketahuan banget. "Keren juga ya lu bisa tahu gue lagi perhatiin tuh mobil, hehehe. Kenapa gak ajak temen lu masuk kesini sekalian aja? Gak enak gue kalau dia nunggu di luar sendirian."
"Jangan... Soalnya abis ini gue bakal ngasih tahu hal yang penting banget sama lu. Cuma buat lu doang," ucap Astrid sambil memiringkan kepalanya sedikit dan tersenyum manis dengan mata yang tertutup.
Detik itu, aku sempat terpaku. Walaupun malam ini Astrid hanya berpenampilan sangat sederhana cuma pakai sweter warna abu abu, celana panjang, dan rambut hitamnya yang diikat dan menyisakan dua batang rambut depan, tapi bagiku dia kelihatan sangat cantik dan manis. Jauh lebih alami daripada cewek-cewek sirkel aku yang dandanannya serba tebal.
Tak lama kemudian, pesanan kami berdua dateng. Ternyata Astrid memesan chicken cordon bleu, satu porsi mix platter ukuran jumbo, dan cheese cake, lengkap dengan minuman es cokelat dan air mineral.
Melihat porsi pesanan Astrid yang terhitung cukup banyak untuk wanita pada umumnya, aku gak tahan buat gak tertawa kecil. Aku bener-bener gak menyangka kalau wanita dengan wajah sepolos dan sekalem dia bisa makan sebanyak ini.
"Kenapa ketawa? Kan lu sendiri yang bilang tadi boleh pesen apa aja, ya udah gue manfaatin," ucap Astrid dengan muka datar tapi sudut bibirnya kedutan menahan tawa, kelihatan gak peduli sama sekali.
"Gak apa apa kok, cuma lucu aja. ternyata ada cewe makannya ngalahin porsi makan gue. Ya udah, di makan dulu gih, keburu dingin nanti," balas aku menahan tawa.
Kami berdua akhirnya mulai menyantap makanan masing-masing. Di sela-sela makan, obrolan kami berlanjut dengan lebih santai.
"Lu suka es cokelat di sini?" tanya aku pas lihat dia minum dengan lahap.
"Suka banget. Manisnya pas, gak bikin enek. Lu mau coba?" tawar Astrid, menyodorkan gelasnya sedikit.
Aku menggeleng sambil tersenyum. "Gak usah, buat lu aja. Habisin gih."
Begitu semua makanan di atas meja habis tanpa sisa, aku langsung menyandarkan punggung ke kursi sambil memegangi perut, bener bener merasa kekenyangan.
"Keren juga ya lu... Bisa habis makanan buat porsi dua orang sekaligus. Gue yang cowok aja kalah," ucap aku bercanda sambil geleng geleng kepala.
Astrid meletakkan gelas es cokelatnya yang sudah kosong ke meja dengan perlahan, lalu menatap aku lurus-lurus. Tatapannya mendadak berubah, gak ada lagi candaan di sana.
"Yaa... kan emang porsi tubuh gue sekarang buat dua orang, Ka," ucap Astrid santai, suaranya pelan tapi terdengar jelas.
Mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya, dahi aku langsung berkerut dalam. Jantung aku mendadak rasanya mau copot. Aku terheran heran, merasa bingung sekaligus takut kalau pendengaran aku malam ini salah dengar.
"Maksud... maksud lu apa, Strid? Porsi buat dua orang gimana?" tanya aku singkat, mendadak gugup dan gelisah lagi.
Astrid menarik napasnya dalam-dalam, tangannya di atas meja. Sorot matanya yang tadi jenaka langsung berubah total menjadi sangat serius, bahkan ada binar kepasrahan dan ketakutan yang amat dalam di sana.
Suasana di sekitar meja kami mendadak berubah menjadi sangat dingin dan kaku.
"Oke, langsung aja gue kasih tahu hal pentingnya..." ucap Astrid, suaranya bergetar kecil namun terdengar begitu nyata di telinga aku.
"Gue... gue hamil, Ka. Gue hamil anak lu."
Deg.
Mendengar kalimat itu, seluruh pasokan oksigen di paru paru ku rasanya menguap seketika. Suara bising kafe langsung hilang dari pendengaran aku. Detik itu juga, waktu di sekitar aku seolah-olah berhenti berputar.
...----------------...