NovelToon NovelToon
Figuran Yang Polos

Figuran Yang Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
​Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Mereka pun duduk mengelilingi meja bundar tersebut. Suasana awalnya terasa sangat tenang, dengan hanya suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen mahal. Anna berusaha keras untuk tetap fokus pada menu di depannya, sama sekali tidak berani mengangkat kepala untuk menatap Axel yang duduk tepat di seberangnya.

​"Wah, Anna! Kamu harus coba pasta truffle di sini, ini favorit aku banget!" seru Jolina memecah keheningan dengan semangat.

​"Iya, Na! Terus nanti minumnya lychee tea, seger banget habis muter-muter mall tadi," timpal Emma tak kalah antusias.

​Melihat keceriaan kedua temannya, Anna perlahan mulai rileks. Ia menarik napas panjang dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa kejadian di dapur semalam hanyalah sebuah "kecelakaan" kecil karena faktor obat yang diminum Axel. Ia tidak ingin merusak momen bahagianya bersama teman-teman barunya hanya karena merasa canggung.

​"Boleh deh, aku ikut saran kalian. Tadi pas milih baju aku beneran capek tapi seneng banget!" jawab Anna dengan nada bicara yang sudah sangat santai, tidak lagi kaku seperti saat pertama kali bertemu. "Tahu nggak, tadi pas Emma milih baju warna neon itu, aku hampir mau bilang kalau itu lebih cocok buat baju keselamatan di jalan raya!"

​"Hahaha! Anna! Kamu jujur banget sih!" Emma tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak minumannya.

​"Tapi emang bener, Na! Emma kalau pakai itu bakal kelihatan dari jarak satu kilometer," sahut Jolina sambil tertawa lepas.

​Anna ikut tertawa lepas, matanya menyipit cantik. Tanpa ia sadari, Axel terus memperhatikannya dari balik tablet yang ia pegang. Axel memperhatikan bagaimana cara Anna tertawa, bagaimana tangannya bergerak dengan lembut saat bercerita, dan bagaimana ekspresi wajahnya yang begitu hidup saat merasa bahagia.

​Di tengah asiknya mereka bercerita, tiba-tiba seorang pria muda dengan gaya modis menghampiri meja mereka. Pria itu tampak sedikit ragu namun tetap memberanikan diri.

​"Permisi... maaf mengganggu waktunya," ucap pria itu sambil tersenyum sopan ke arah Anna. "Tadi aku lihat kamu dari sana, dan... ya ampun, kamu cantik banget. Kalau boleh, aku mau minta nomor telepon atau akun sosial mediamu? Boleh?"

​Emma dan Jolina seketika saling berpandangan dengan senyum-senyum nakal yang menggoda. Mereka langsung menyenggol lengan Anna, memberikan dukungan penuh agar Anna memberikan nomornya.

​"Ciee, Anna... ada yang naksir nih!" goda Jolina dengan suara tertahan.

​"Ayo dong, kasih aja, Na! Orangnya ganteng tuh," bisik Emma sambil menahan tawa.

​Anna yang mendadak jadi pusat perhatian hanya bisa tertegun dengan pipi yang mulai merona merah. Sementara itu, di ujung meja, suasana mendadak mendingin. Gelas yang dipegang Axel berderit pelan karena genggamannya yang mengeras, dan matanya menatap tajam ke arah pria asing tersebut dengan tatapan yang seolah siap menerkam mangsanya hidup-hidup.

Anna yang awalnya sedang tertawa seketika terdiam saat matanya menangkap detail seragam yang dikenakan pria itu. Itu adalah seragam dari sekolah lamanya—sekolah elit tempat para tokoh utama berada. Rasa malas langsung menjalari dirinya karena ia sama sekali tidak ingin berurusan lagi dengan apa pun yang berkaitan dengan dunianya yang dulu.

​"Maaf, aku tidak bisa memberikan nomor ponselku," ucap Anna dengan nada yang tetap lembut namun tegas.

​Pria itu tidak menyerah, ia justru sedikit membungkuk dan memohon. "Tolonglah, sebentar saja. Aku hanya ingin berteman, aku sering melihatmu di sekolah dulu tapi tidak berani menyapa."

​Anna menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang mulai menunjukkan ketidaknyamanan. Ia merasa bayang-bayang masa lalunya yang toxic kembali mencoba mendekat.

​Jolina, yang sangat peka terhadap perubahan ekspresi sahabat barunya, segera menyadari bahwa Anna benar-benar terganggu. Senyum nakalnya langsung hilang, digantikan dengan tatapan protektif.

​"Heh, dengar ya! Teman gue sudah bilang enggak, ya artinya enggak!" seru Jolina sambil berdiri dan memberikan isyarat mengusir dengan tangannya. "Sana pergi, jangan ganggu waktu makan kami. Kalau masih maksa, aku panggil sekuriti ya!"

​Emma juga ikut membantu dengan melipat tangannya di dada, menatap pria itu dengan galak. Pria itu, yang akhirnya merasa terintimidasi oleh reaksi teman-teman Anna—dan tanpa ia sadari, oleh tatapan mematikan Axel dari ujung meja—akhirnya memilih untuk mundur dan pergi dengan langkah seribu.

​Anna menghela napas lega dan menyandarkan punggungnya ke kursi. "Terima kasih ya, Jolina, Emma. Aku benar-benar tidak ingin berurusan dengan orang dari sekolah itu lagi."

​"Tenang aja, Na. Selama ada kami, nggak akan ada yang bisa ganggu kamu," ujar Jolina sambil kembali duduk dan memberikan semangat.

​Axel yang sejak tadi hanya diam, perlahan meletakkan gelasnya.

"Ayok kita pulang!" seru Jolina sambil merapikan tas belanjanya, yang langsung disambut anggukan setuju oleh Anna dan Emma.

​Melihat mereka bersiap pergi, Jigar melangkah mendekat dengan sopan. "Kalian pulang dengan apa?" tanya Jigar.

​"Kami naik taksi sih, Om Jigar," jawab Jolina santai karena mereka memang sudah sangat akrab dengan asisten pribadi Axel itu. Namun, Jolina melirik pamannya dengan tatapan jahil. "Tapi... kalau Paman Axel mau kasih tumpangan buat kami yang cantik-cantik ini, boleh banget lho, Paman!"

​Hening sejenak. Axel yang baru saja merapikan tabletnya terdiam, lalu menjawab pendek dengan suara beratnya, "Hmm. Ayo."

​"Yey! Makasih Paman!" Jolina bersorak girang sambil menarik tangan Anna dan Emma menuju parkiran VVIP.

​Di dalam mobil mewah yang kedap suara itu, Jigar mengemudi dengan tenang sementara Axel duduk di kursi depan. Jolina, Emma, dan Anna duduk berjajar di kursi belakang yang luas. Sepanjang perjalanan, Jolina dan Emma masih asyik membisikkan sesuatu tentang belanjaan mereka, namun Anna justru terdiam.

​Anna menyandarkan kepalanya ke jendela mobil, menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala. Pikirannya melayang jauh.

​Apa tidak apa-apa kalau aku berteman sedekat ini dengan keluarga Elion? batin Anna cemas.

​Di dunia novel ini, keluarga Elion adalah pemegang tahta kekuasaan tertinggi—jauh melampaui keluarga De Luca yang selama ini mengusiknya. Bahkan di novel aslinya, kisah keluarga Elion hampir tidak tersentuh karena fokus pada drama remaja. Mengenal mereka adalah pedang bermata dua; di satu sisi ia merasa aman dari jangkauan orang-orang seperti Kiel, namun di sisi lain, terlibat dengan "Raja" dunia ini seperti Axel bisa membawanya ke dalam pusaran masalah yang jauh lebih besar dan berbahaya.

​Anna melirik sekilas ke arah spion tengah, di mana ia bisa melihat mata tajam Axel yang ternyata sedang memperhatikannya melalui pantulan cermin. Anna segera membuang muka, jantungnya kembali berdegup kencang saat teringat sensasi panas tubuh Axel di dapur malam itu. Ia merasa dunianya kini sudah benar-benar bergeser dari alur cerita yang ia ketahui.

1
UMMI HABIBAH
lanjut thorrr
wahyu andria
suka karyanya. . .up yang bnyak thor
Teguh Aliyanto
up yg bnayak thorr jagan 1 satu aja
Teguh Aliyanto
semagat💪💪
Teguh Aliyanto
ug yg banyak thor😍😍
Teguh Aliyanto
lanjuth thorr😍
Teguh Aliyanto
lanjuttt🤭🤭
Teguh Aliyanto
lanjur thor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!