Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAU BISA MEMBENCIKU, TAPI BUKAN MENJAUHKAN ANAKKU
BAB 19 — KAU BISA MEMBENCIKU, TAPI BUKAN MENJAUHKAN ANAKKU
Pagi itu, suasana di rumah orang tua Keisha belum begitu riuh. Matahari baru saja menampakkan diri, dan udara pagi masih terasa sejuk.
Namun ketenangan itu buyar seketika ketika suara mesin mobil terdengar berhenti tepat di depan pagar rumah.
Keisha yang sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur langsung membeku di tempatnya.
Jantungnya berdegup kencang tak beraturan, seakan tahu siapa yang datang tanpa perlu melihatnya.
Ibunya menatapnya dengan wajah cemas.
“Dia?”
Keisha hanya mengangguk pelan, menelan ludah susah payah.
Bel rumah berbunyi.
Ting...
Hanya sekali.
Bunyi yang tenang dan santai.
Namun cukup membuat seluruh udara di dalam rumah terasa menegang dan mencekam.
Ayah Keisha yang berjalan mendahului untuk membukakan pintu.
Di luar sana, Arsen berdiri tegap dengan setelan jas warna abu-abu gelap yang terlihat sangat rapi dan mahal. Di belakangnya, sebuah mobil hitam mewah terparkir sempurna. Dua orang pria juga berdiri di sana—satu adalah sopirnya, dan satu lagi pria berkacamata yang tampak formal membawa sebuah map tebal berisi dokumen.
Arsen menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat.
“Selamat pagi, Pak.”
Ayah Keisha menatapnya datar, tanpa senyum.
“Pagi masih terlalu pagi untuk tamu yang tak diundang, Tuan.”
“Ada hal penting yang harus saya bicarakan dan selesaikan, Pak.”
“Aku tahu.”
Arsen tak tersinggung sedikit pun melihat sikap dingin itu. Wajahnya tetap tenang dan terkendali.
“Boleh saya masuk?”
Ayah Keisha menatapnya tajam selama beberapa detik, akhirnya menepi ke sambil memberi jalan.
“Masuk.”
Keisha berdiri di ruang makan dengan wajah tegang dan siap siaga.
Arsen melangkah masuk, dan pandangan matanya langsung jatuh tepat pada sosok wanita itu.
Keisha saat itu hanya mengenakan kaos rumah sederhana, rambutnya diikat asal-asalan, dan wajahnya polos tanpa setetes pun riasan.
Namun anehnya, justru penampilan alami itulah yang membuatnya terlihat jauh lebih indah dan menenangkan mata dibandingkan ingatan Arsen lima tahun lalu.
“Kamu kelihatan lelah sekali,” ucap Arsen pelan, suaranya terdengar tenang namun memiliki daya tarik tersendiri.
“Dan kamu kelihatan sangat menyebalkan,” balas Keisha ketus tanpa ragu.
Sudut bibir Arsen sedikit terangkat, membentuk senyum tipis yang membuatnya tampak tampan namun menjengkelkan.
“Bagus. Berarti kamu sehat dan masih punya banyak tenaga untuk marah.”
Keisha memijat pelipisnya, rasanya ingin sekali melempar piring yang ada di tangan ke arah kepala pria itu.
Tiba-tiba suara langkah kaki kecil terdengar berdecit di tangga kayu.
Leo turun dengan langkah malas namun antusias, sambil menyeret boneka singa besar hadiah dari Arsen kemarin sore.
Begitu matanya menangkap sosok pria tinggi besar di ruang tamu, matanya langsung berbinar-binar cerah.
“OM SEREM!!!” serunya lantang.
Ibunya langsung tersedak ludah sendiri mendengar panggilan itu.
Ayah Keisha terpaksa harus menutup mulutnya menahan batuk agar tidak tertawa.
Arsen terdiam selama dua detik, lalu untuk pertama kalinya sejak ia datang, ia tertawa kecil. Tawa yang renyah dan sungguh-sungguh.
“Panggilan yang cukup unik,” komentarnya sambil menggeleng kepala geli.
Leo berlari kecil mendekat, memeluk erat boneka singanya di dada.
“Om yang kasih ini ke Leo kan?” tanyanya menunjuk boneka itu.
“Iya, itu dari Om.”
“Besar banget ya, Om! Sama kayak badan Leo!”
“Kamu suka?”
Leo mengangguk sangat cepat sampai kepalanya bergoyang-goyang.
Dengan gerakan natural, Arsen berjongkok rendah agar posisinya sejajar dengan mata anak itu.
“Gini ya, kalau kamu mandi dulu terus sarapan yang habis... Om punya hadiah spesial lagi buat kamu di mobil.”
Mendengar kata 'hadiah', mata Leo langsung membelalak. Ia langsung menoleh cepat ke arah ibunya.
“MAMA! LEO MANDI SEKARANG JUGA!”
Anak itu berbalik dan berlari kembali naik ke atas secepat peluru, meninggalkan semua orang yang terdiam terpana.
Arsen berdiri kembali dengan wajah santai dan sedikit bangga.
“Anakku pintar dan cepat tanggap.”
“Jangan terlalu cepat mengaku-ngaku, belum tentu itu milikmu,” potong Keisha tajam, mencoba meruntuhkan rasa bangganya.
Tak butuh waktu lama, Leo sudah turun kembali dengan baju bersih dan perut kenyang setelah sarapan.
Arsen meletakkan sebuah kotak persegi panjang di atas meja makan. Saat dibuka, terlihat sebuah mobil mainan remote control model terbaru yang sangat canggih dan besar.
“WAAAAH!!!” Leo menjerit senang sampai menutup mulutnya. “MAMA LIHAT! BESAR BANGET!”
Keisha hanya bisa memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing.
Ini bukan sekadar kunjungan silaturahmi.
Ini adalah invasi.
Pria itu perlahan tapi pasti mengambil alih perhatian anaknya dengan sangat mudah.
“Baiklah. Sekarang kita berangkat,” kata Arsen sambil menatap lurus ke arah Keisha.
“Kita?” tanya Keisha curiga.
“Kamu, Leo, dan aku.”
“Kami tidak pergi ke mana-mana sama kamu!”
Arsen memberi isyarat mata pada pria berkacamata yang tadi membawakan map. Pria itu segera masuk dan menyerahkan berkas tersebut ke tangan ayah Keisha.
“Ini adalah surat permohonan tes DNA resmi secara hukum. Kita akan ke klinik terbaik dan terpercaya di kota ini. Dokter spesialis anak sudah siap standby. Prosesnya cepat, tidak sakit, dan sangat aman.”
Ayah Keisha membaca sekilas isi surat itu, lalu mendecakkan lidah.
“Kamu datang benar-benar sudah siap segalanya ya.”
“Aku tidak suka membuang-buang waktu, Pak.”
Keisha menatap Arsen dengan mata memancarkan amarah.
“Aku bilang TIDAK! Aku tidak mau!”
Melihat penolakan itu, Arsen melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa senti.
Suaranya merendah, menjadi berat dan serak, cukup hanya untuk didengar oleh mereka berdua saja.
“Kau bisa membenciku sesukamu, Keisha. Kau bisa marah, kau bisa memukulku, atau membenciku sampai kapan pun...”
Tatapan matanya menusuk tajam tepat ke dalam jiwa wanita itu.
“Tapi jangan pernah... menjauhkan anakku dariku.”
Napas Keisha tercekat di tenggorokan. Kalimat itu begitu kuat hingga ia tak mampu membalas sepatah kata pun.
Di lantai, Leo sibuk memainkan mobil barunya yang baru ia dapatkan.
“Mama ayo jalan-jalan yuk...” rengeknya manja.
“Leo, nanti dulu ya...”
“Ayo Ma... mau naik mobil Om Arsen!”
Arsen menambahkan tanpa rasa malu sedikit pun, seolah sedang memancing ikan:
“Mobil Om ada kulkas kecilnya, ada minuman dingin. Terus ada layar besar buat nonton film kartun juga lho...”
Mata Leo langsung membesar, ia menatap ibunya dengan tatapan memelas yang sangat sulit untuk ditolak. Seolah-olah seluruh kebahagiaan dunia ini bergantung pada jawaban ibunya saat itu.
Keisha rasanya ingin menjerit frustrasi.
Ibunya mendekat lalu berbisik pelan di telinga putrinya,
“Sha... dengar kata Ibu. Kalau memang ini harus dilalui supaya semuanya jelas... lebih baik cepat diselesaikan sekarang daripada dipendam terus.”
Ayahnya juga mengangguk berat.
“Kakek sama Nenek ikut. Kita semua pergi bareng.”
Keisha menoleh tak percaya. Orang tuanya sendiri yang menyerah dan menyuruhnya pergi?
“Yah...?”
“Kamu tidak bisa lari terus menerus, Nak. Hadapi ini.”
Kalimat itu menusuk tepat di titik paling lemah dan rapuh di hatinya.
Satu jam kemudian.
Mereka semua kini berada di dalam kabin mobil mewah milik Arsen.
Leo duduk di kursi belakang tepat di sebelah Arsen, matanya tak berhenti berkeliling mengagumi interior mobil yang mewah dan canggih itu.
“Om... ini mobil apa pesawat ya? Dalemnya bagus banget!” celotehnya antusias.
Arsen menahan senyum melihat tingkah polos anaknya.
“Hampir sama seperti pesawat, tapi ini jalan di darat.”
“Mama! Mama lihat nih! Kursinya bisa pijet-pijet lho!” seru Leo girang saat ia menekan tombol dan kursi itu bergetar memijat punggungnya.
Keisha duduk di seberang mereka, wajahnya kaku dan dingin. Ia memilih menatap keluar jendela, berusaha menahan segala macam emosi yang berkecamuk di dadanya.
Arsen memperhatikan wanita itu diam-diam dari balik kaca spion dan dari sudut matanya.
“Kamu masih suka diam dan mendiamkan orang kalau lagi marah ya,” godanya pelan.
“Kamu juga masih suka mengatur hidup orang lain seenak jidatmu,” balas Keisha tanpa menoleh.
“Kalau aku tidak mengatur begini, mungkin kamu sudah kabur bawa Leo ke bandara lagi kan?”
Keisha menoleh tajam.
Sialnya... pria itu benar sekali.
Di tengah perjalanan, mungkin karena merasa nyaman dan hangat, Leo menguap lebar. Tanpa sadar, kepala kecil itu perlahan bersandar dan tertimpu ke lengan kokoh Arsen.
Pria itu membeku sesaat, tubuhnya menegang kaku.
Ia menunduk menatap wajah polos anaknya yang sudah mulai terlihat mengantuk itu.
Perlahan dan sangat hati-hati, ia membiarkan kepala kecil itu bersandar nyaman di bahunya.
Tatapan mata Arsen berubah total.
Menjadi sesuatu yang asing bagi orang yang biasa melihatnya dingin.
Lebih lembut.
Lebih hangat.
Jauh lebih manusiawi.
Keisha yang melihat momen itu dari seberang kursi merasakan getaran aneh di dalam dadanya.
Ia tak pernah, sama sekali tak pernah membayangkan bahwa pria kejam dan dingin itu bisa terlihat begitu... sempurna saat berada di posisi sebagai seorang ayah.
Mobil akhirnya memasuki area gedung klinik privat yang sangat mewah dan tertutup.
Saat pintu mobil terbuka, Arsen turun lebih dulu. Ia membukakan pintu untuk Leo, lalu mengulurkan tangannya ke arah anak itu.
Tanpa ragu sedikit pun, tanpa perlu disuruh atau dipaksa, tangan kecil Leo langsung menggenggam erat jari-jari besar pria itu.
Keisha yang baru turun dan melihat pemandangan itu langsung membeku di tempatnya.
Leo berjalan masuk ke dalam gedung sambil bergandengan tangan dengan Arsen, tertawa kecil dan celoteh ini itu... seolah itu adalah hal paling wajar dan paling alami di dunia ini.
Arsen berjalan beberapa langkah di depan, lalu ia menoleh sedikit ke belakang, menatap tepat ke arah Keisha yang masih berdiri mematung.
“Kau datang?”
Nada suaranya terdengar datar dan biasa saja.
Namun sorot matanya berkata hal yang jauh berbeda.
Permainan yang sesungguhnya... baru saja dimulai.
Bersambung...