Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Siang itu, kantin Fakultas Bisnis terasa seperti kawah candradimuka yang penuh dengan aroma kopi mahal dan ambisi. Di meja pojok yang paling luas, empat pria yang menjadi incaran hampir seluruh mahasiswi di sana sedang berkumpul. Ezzra Velasquez duduk dengan gaya malas yang provokatif, menyandarkan punggungnya pada kursi kayu sambil memutar-mutar kaleng soda dingin di tangannya.
Di depannya, Mike—pria berkacamata yang otaknya seolah terhubung langsung dengan server bursa saham—sedang sibuk dengan laptopnya. Jemarinya menari lincah di atas keyboard. Di sisi kanan, Suarez dan Kai sedang asyik memperdebatkan hasil balapan liar semalam yang tidak bisa diikuti Ezzra karena "urusan mendadak".
Ezzra terdiam sejenak, matanya menatap kosong ke arah kerumunan mahasiswa yang berlalu-lalang. Pikirannya masih tertinggal di atas sprei sutra hitam penthouse-nya. Ia masih bisa merasakan tekstur kulit Elowen dan gemetar tubuh gadis itu di bawah kungkungannya.
"Kau tahu siapa kekasih Jeff?" tanya Ezzra tiba-tiba, suaranya lirih namun cukup untuk menghentikan perdebatan Kai dan Suarez.
Ketiga temannya menoleh serentak. Mike bahkan menghentikan ketikannya sejenak dan menaikkan kacamatanya yang sedikit melorot.
"Tentu saja tahu," jawab mereka hampir bersamaan.
Ezzra mendengus, ada rasa kesal yang tak beralasan muncul di dadanya. "Kenapa hanya aku yang tidak tahu?"
Mike menatap Ezzra dengan pandangan datar dari balik lensa kacamatanya. "Karena kau hanya sibuk dengan pesta, alkohol, dan deretan kekasihmu yang berganti setiap minggu, Ezzra," ucapnya tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Lagipula, kau jarang masuk kelas sebelum insiden 'hukuman' dari ayahmu itu dimulai."
Suarez dan Kai meledak dalam tawa. "Benar sekali! Kau bahkan hampir tidak tahu nama dekan kita, apalagi nama kekasih sahabatmu sendiri yang beda fakultas," tambah Kai sambil menepuk bahu Ezzra.
Ezzra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan rahasia gelap. Memang benar, sebelum seminggu yang lalu, nama Elowen Valerio hanyalah nama keluarga elit yang sering ia dengar. Ia tidak pernah benar-benar memperhatikan siapa gadis yang Berpacaran dengan Jeff karena ia biasanya terlalu mabuk untuk peduli.
Namun, pertemuan berdarah di kamar 222 dan penyatuan panas semalam telah mengubah segalanya. Ezzra merasa dirinya adalah pria paling beruntung di dunia. Semesta seolah melakukan plot gila untuk menyerahkan mahkota suci Elowen kepadanya, bukan kepada Jeff.
Dia milikku sekarang. Dan aku bersumpah tidak akan melepaskannya, batin Ezzra.
"Kau mau kumpul dengan kami nanti sore?" tanya Suarez memecah lamunan Ezzra.
"Kemana?"
"Kantin Universitas. Kita akan berkumpul lengkap. Paket komplit," jawab Kai. "Jeff juga akan datang. Katanya dia ingin mengenalkan kekasihnya secara resmi kepadamu, mumpung kau sudah 'bebas' dari tugas membersihkan toilet."
Ezzra menaikkan alisnya. Sebuah ide gila mulai tumbuh di kepalanya. "Baiklah. Aku juga memang sudah lama tidak menyapanya. Aku ingin lihat seberapa hebat gadis yang bisa membuat Jeff begitu setia."
Sore harinya, Kantin Universitas penuh sesak. Udara terasa gerah, namun bagi Ezzra, suhu ruangan itu tidak sebanding dengan panas yang mulai membakar dadanya saat ia melihat Jeff masuk ke kantin.
Jeff tidak sendirian. Ia menggandeng tangan seorang gadis dengan sangat protektif. Gadis itu mengenakan turtleneck hitam—pilihan pakaian yang sangat kontras dengan cuaca sore ini—dan rambut hitamnya dibiarkan terurai menutupi sebagian lehernya.
Elowen Valerio.
Ezzra merasakan desiran aneh saat melihat Elowen. Ia pura-pura sibuk dengan ponselnya saat kelompok mereka menyatu. Kini, lima pria yang sering dijuluki "Paket Komplit" itu duduk melingkari satu meja besar. Jeff duduk tepat di samping Elowen, sementara Ezzra duduk di seberang mereka.
"Ez! Akhirnya kau bergabung," seru Jeff dengan senyum tulusnya yang membosankan. "El, kenalkan, ini Ezzra. Dia berandal paling gila di grup kami, tapi dia pria yang baik."
Elowen menatap Ezzra. Matanya yang biasanya dingin kini terlihat sedikit bergetar, namun ia berhasil menguasai diri. "Kita sudah bertemu sebelumnya, Jeff. Dia... pria yang menolongku di hotel," ucap Elowen pelan.
"Ah, benar! Aku lupa kalian sudah bertemu dalam situasi yang agak... dramatis," Jeff tertawa kecil sambil mengelus tangan Elowen di atas meja. Sebuah gerakan romantis yang membuat rahang Ezzra mengeras.
Ezzra memperhatikan bagaimana Jeff begitu memuja Elowen. Jeff tidak tahu bahwa di balik turtleneck itu, ada tanda kepemilikannya yang masih segar. Jeff tidak tahu bahwa tangan yang ia elus itu semalam mencengkeram sprei ranjang Ezzra dengan penuh gairah.
"Jadi, kau mengenalku sekarang, Elowen?" tanya Ezzra dengan nada suara yang sengaja dibuat provokatif.
Elowen hanya mengangguk kaku, menghindari kontak mata. "Tentu."
Percakapan di meja itu mulai riuh. Kai dan Suarez mulai menceritakan kekonyolan Mike yang hampir membeli saham bodong, membuat suasana menjadi cair. Jeff sesekali membisikkan sesuatu ke telinga Elowen yang membuatnya tersenyum tipis. Ezzra merasa muak. Ia butuh lebih dari sekadar menonton drama romantis ini.
"Aku mau pesan minum lagi. Ada yang mau titip?" tanya Kai sambil berdiri.
"Aku ikut, aku mau cari camilan," sahut Elowen tiba-tiba. Ia tampak sangat ingin melarikan diri dari tatapan tajam Ezzra yang terus menguliti keberadaannya.
Elowen berdiri dan berjalan menuju konter makanan yang jaraknya hanya beberapa meter dari meja mereka. Ezzra melihat kesempatan itu.
"Aku juga haus," ucap Ezzra singkat, lalu berdiri menyusul.
Jeff tidak curiga. Ia sedang asyik berdebat dengan Mike soal algoritma terbaru.
Di depan konter yang cukup ramai, Elowen sedang berdiri menunggu antrean. Kai sedang sibuk menggoda pelayan kantin di ujung sisi lain. Ezzra melangkah maju, berdiri tepat di belakang Elowen. Begitu dekat hingga Elowen bisa merasakan panas tubuh Ezzra dan aroma parfum maskulinnya yang tajam—aroma yang semalam memenuhi paru-parunya.
Elowen membeku. Ia tahu siapa yang berdiri di belakangnya. "Ezzra, pergi," bisiknya tanpa menoleh.
"Kenapa? Aku hanya ingin memesan jus," bisik Ezzra tepat di samping telinga Elowen. "Kau tampak cantik dengan baju tertutup itu, El. Tapi aku lebih suka kau yang semalam. Sangat... berisik."
"Tutup mulutmu!" Elowen berdesis tajam, jemarinya mencengkeram pinggiran konter.
Ezzra melirik ke arah meja teman-temannya. Mereka semua sedang tertawa terbahak-bahak, memunggungi mereka. Jeff sedang sibuk menjelaskan sesuatu pada Suarez. Di tengah keramaian kantin yang bising dan penuh sesak itu, sebuah kegilaan muncul di benak Ezzra.
Dengan gerakan yang sangat cepat dan berani, Ezzra menurunkan tangannya ke bawah. Ia meraih bagian belakang tubuh Elowen dan meremas bagian belakang gadis itu dengan sangat kuat dan posesif di balik gaunnya yang tipis.
"Ezzra!" Elowen tersentak hebat, suaranya tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak, tubuhnya menegang seketika.
Ezzra tidak melepaskannya. Ia justru semakin menekan tubuhnya ke punggung Elowen, memberikan remasan sekali lagi yang membuat napas Elowen tercekat. "Diamlah, atau aku akan menciummu di sini, di depan Jeff," ancam Ezzra dengan suara serak yang penuh gairah.
Wajah Elowen memerah sempurna—antara marah, malu, dan r*ng sangan yang tidak diinginkan yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Jeff bisa mendengarnya dari kejauhan.
Ezzra akhirnya melepaskan tangannya saat Kai menoleh ke arah mereka. Ezzra segera memasang wajah tanpa dosa, bahkan sempat mengambil sebuah botol air mineral dari lemari pendingin di samping konter.
"Kenapa wajahmu merah sekali, El? Kau sakit?" tanya Kai yang baru saja kembali dengan nampan minuman.
Elowen gemetar. Ia tidak sanggup menatap Kai, apalagi menatap Jeff yang kini melambaikan tangan ke arah mereka. "Hanya... hanya gerah. Kantin ini terlalu panas," jawab Elowen dengan suara yang tidak stabil.
Ezzra berjalan kembali ke meja dengan gaya santai, seolah baru saja melakukan hal yang paling biasa di dunia. Ia duduk di depan Jeff dan memberikan senyum miring yang paling menyebalkan.
"Elowen benar, Jeff. Suasana di sini memang sedang sangat... panas," ucap Ezzra sambil meneguk air mineralnya, matanya menatap Elowen yang baru saja duduk dengan kaki yang tampak lemas.
Jeff mengernyit heran, namun ia kembali merangkul bahu Elowen. "Nanti kita cari tempat yang lebih dingin ya, Sayang?"
Elowen hanya bisa mengangguk pasrah, sementara di bawah meja, ia meremas tangannya sendiri. Ia tahu, Ezzra Velasquez bukan hanya seorang penyelamat atau berandal. Pria itu adalah iblis yang siap menghancurkan hidupnya, dan yang paling mengerikan adalah, Elowen menyadari bahwa ia tidak benar-benar ingin dihentikan.
Sore itu, di tengah tawa teman-temannya, Elowen menyadari bahwa ia telah terjebak dalam permainan paling berbahaya dalam hidupnya, dan Ezzra baru saja mencetak poin kemenangan pertamanya dengan cara yang paling kurang ajar.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...