"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.
Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"
"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"
"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."
Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.
Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2
Pagi hari di mansion mewah keluarga Valerio yang terletak di kawasan eksklusif Bel-Air, Los Angeles, menyuguhkan pemandangan yang berbanding terbalik dengan hiruk-pikuk penuh gunjingan di pelataran Universitas Los Angeles.
Di sini, di dalam ruang makan megah berlantai marmer Italia dengan langit-langit setinggi delapan meter, atmosfer yang tercipta begitu tenang, formal, dan sarat akan disiplin tingkat tinggi.
Cahaya matahari pagi menyusup masuk melalui jendela-jendela kaca besar, memantul pada set perak dan piring porselen berkualitas tinggi yang tertata rapi di atas meja makan kayu ek panjang.
Di ujung meja, duduk kepala keluarga yang sangat disegani di dunia bisnis internasional, Kensington Valerio. Pria itu memegang koran finansial pagi dengan tatapan mata yang tajam dan berwibawa.
Di sampingnya, sang istri, Audrey Valerio, duduk dengan keanggunan seorang sosialita kelas atas, jemarinya yang lentik dengan tenang menyesap cangkir teh kamomil.
Di hadapan mereka, duduk putra sulung mereka, Maximilian Valerio, pria muda berusia 20 tahun yang menjadi pusat perhatian pagi ini.
Tepat di seberang Max, saudari kembarnya yang cantik dan modis, Emme Valerio, sedang sibuk mengoles selai pada roti panggangnya dengan gerakan anggun.
Sementara di ujung meja yang lain, adik bungsu mereka, seorang remaja laki-laki bernama Ray Murphy Valerio, hanya memperhatikan kakak lakinya dengan tatapan separuh kagum dan separuh cemas.
Duk.
Kensington meletakkan cangkir kopinya ke atas tatakan porselen dengan ketukan yang cukup keras, memutus kesunyian yang membeku di ruangan itu. Pandangan matanya yang dingin langsung tertuju pada Max.
"Daddy tidak mau mendengar lagi masalahmu, Max," ucap Kensington, suaranya berat, dalam, dan tidak menerima bantahan sedikit pun.
Max yang sedang mengunyah sepotong daging asap hanya melirik ayahnya sekilas, mempertahankan ekspresi wajahnya yang datar tanpa riak. Dia tidak membantah, tidak juga membenarkan.
"Kemarin Daddy sudah mengirimkan mobil sport keluaran terbaru langsung ke Boston untuk mengganti mobil temanmu yang hancur itu. Dan jangan harap kamu bisa berulah lagi di sini," lanjut Kensington, melipat korannya dengan gerakan tegas.
"Daddy akan tetap mengawasimu dengan ketat. Kampus barumu di Los Angeles ini bukan taman bermain seperti tempat pelarianmu di Boston."
Audrey Valerio menatap putrinya, lalu beralih menatap Max dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa rindu sekaligus sedikit kekecewaan yang tertahan.
Maximilian adalah putra kebanggaannya. Dua tahun lalu, mereka dengan penuh rasa bangga melepas Max ke Boston untuk belajar di Harvard University.
Max dikirim ke sana bukan karena kekuatan uang atau nama besar Valerio, melainkan murni karena kepintarannya yang luar biasa, sebuah otak genius yang mampu menembus salah satu universitas paling kompetitif di dunia.
Di mata Audrey, Max selalu menjadi putra yang begitu baik, penurut, dan terbiasa mendengarkan serta menjalankan setiap nasihat orang tuanya dengan sempurna. Namun, kehidupan jauh dari pengawasan orang tua di pantai timur ternyata telah mengubah banyak hal. Max diam-diam menjalani kehidupan yang dinilai "liar" oleh standar kaku keluarga Valerio.
Liar dalam arti yang sebenarnya bagi seorang anak baik-baik: Max mulai merokok untuk meredakan tekanan akademisnya yang gila, dan ada beberapa tato baru yang kini tersembunyi di balik pakaiannya—sebuah bentuk pemberontakan visual atas ekspektasi tinggi yang selalu diletakkan di pundaknya.
Perawakan anak baik kebanggaan Mommy Audrey ternyata sudah berubah drastis secara lahiriah. Gaya pakaiannya yang dulu selalu rapi kini cenderung berantakan, santai, dan terkesan acuh tak acuh.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah dari seorang Maximilian Valerio: kepintarannya.
Otaknya tetap sekokoh batu karang, mempertahankan nilai-nilai tertingginya di Harvard tanpa cela. Pola hidupnya saja yang berantakan, akibat lingkungan pergaulan Boston yang keras dan egonya sebagai pria muda yang sedang mencari jati diri.
Dan puncaknya adalah insiden seminggu lalu yang membuat Kensington murka dan langsung menariknya pulang ke Los Angeles.
Max menghancurkan mobil sport milik salah satu teman sekampusnya di Boston hingga tak berbentuk.
Di mata orang tuanya, dan berdasarkan laporan resmi yang diterima Kensington, Max menghancurkan mobil itu karena mengamuk setelah kalah dalam taruhan balapan liar.
Kensington dan Audrey tidak pernah tahu fakta sebenarnya di balik insiden tersebut.
Mereka tidak tahu bahwa Max menghancurkan mobil itu dengan balok besi karena pria pemilik mobil tersebut bersenang-senang mengejeknya di depan umum, mengatakan bahwa Max adalah seorang 'banci' hanya karena di usianya yang sudah 20 tahun, Max masih mempertahankan keperjakaannya dan menolak untuk tidur dengan wanita-wanita murahan yang mengelilingi mereka.
Max memiliki prinsipnya sendiri, sebuah harga diri yang sangat tinggi yang tidak boleh diusik oleh siapapun.
Jika mereka menyebutnya lemah hanya karena dia menghargai dirinya sendiri, maka Max akan menunjukkan cara menghancurkan sesuatu dengan kekuatan penuh.
Meskipun gayanya berubah menjadi lebih berantakan dan dia mulai akrab dengan asap rokok, Max sebenarnya masih anak baik yang suka belajar.
Dia masih menghabiskan malam-malamnya dengan tumpukan buku bisnis dan ekonomi, memenuhi harapan terdalam orang tuanya untuk menjadi penerus takhta Valerio Corp.
"Makan sarapanmu, Max. Emme akan mengantarmu ke kampus hari ini agar kau tidak tersesat di hari pertamamu," ucap Audrey lembut, mencoba mencairkan ketegangan di meja makan.
Max menyeka bibirnya dengan serbet kain, lalu berdiri dari kursinya. "Aku bisa pergi sendiri, Mom. Terima kasih untuk sarapannya," jawab Max pendek.
Suaranya kini terdengar lebih dalam dan serak, sangat berbeda dengan suara remaja penurut yang diingat Audrey dua tahun lalu.
Ray Murphy, sang adik, hanya bisa memberikan isyarat kepalan tangan bersemangat di bawah meja, yang dibalas Max dengan senyum tipis—satu-satunya senyum tulus yang dia tunjukkan pagi itu sebelum melangkah keluar dari ruang makan mewah tersebut.
Beberapa puluh menit kemudian, di depan gerbang utama Universitas Los Angeles.
Suasana kampus pagi itu sedang berada di puncak keramaian. Namun, fokus perhatian sebagian besar mahasiswa, terutama para kutu buku dan mahasiswi yang gemar bergosip di Fakultas Bisnis, sedang teralih pada satu rumor panas yang beredar sejak kemarin.
Kabar tentang adanya seorang mahasiswa pindahan atau pertukaran pelajar dari Harvard University telah memicu spekulasi yang liar di kalangan mereka.
Mendengar kata 'Harvard', isi kepala para mahasiswa di kampus bisnis langsung merujuk pada satu stereotip yang mutlak.
Mereka berspekulasi bahwa anak baru ini pasti adalah seorang kutu buku sejati dengan kacamata berbingkai besar yang tebal, gaya rambut klimis yang disisir rapi ke samping, dan kemeja lengan panjang yang dikancingkan rapat sampai ke ujung leher, lengkap dengan buku tebal yang didekap di dada.
Mereka mengharapkan sosok pemuda culun yang membosankan namun berotak encer.
Namun, kenyataan yang muncul pagi itu menghantam ekspektasi mereka tanpa ampun.
Sebuah mobil sport yang dikendarai Max berhenti tidak jauh dari gerbang. Ketika pintu terbuka dan Maximilian Valerio melangkah keluar, atmosfer di sekitar gerbang kampus seolah membeku sesaat.
Tidak ada kacamata besar. Tidak ada kemeja yang dikancingkan sampai leher.
Max berdiri tegak dengan tinggi badan yang atletis dan tegap. Dia mengenakan baju kaos polos berwarna hitam yang pas di badan, menonjolkan bentuk dada dan lengannya yang kokoh hasil latihan fisik yang disiplin.
Celana jeans gelap yang sedikit pudar membungkus kaki panjangnya dengan sempurna, memberikan kesan kasual namun sangat maskulin.
Di salah satu tangannya, dia menyampirkan sebuah jaket kulit hitam dengan santai, sementara tas ransel hitamnya hanya dicangklongkan di satu bahu secara asal-usul, seolah membawa beban akademis ratusan kilo bukanlah hal yang berarti baginya.
Rambutnya ditata dengan gaya messy look yang terkesan berantakan namun justru menambah kesan karismatik dan liar pada wajah ketampanannya yang tegas.
Sepasang mata tajamnya menatap lurus ke arah koridor kampus, mengabaikan bisikan-bisikan yang langsung pecah di sekitarnya.
"Tunggu... itu anak pindahan dari Harvard?" bisik seorang mahasiswi di dekat air mancur, matanya tidak berkedip menatap langkah mantap Max.
"Sial, kupikir dia akan memakai kacamata tebal! Dia terlihat seperti model atau anggota geng motor kelas atas," sahut temannya dengan nada tertahan, menelan ludah melihat perawakan sempurna Max.
Max terus melangkah, membelah kerumunan mahasiswa yang perlahan memberi jalan padanya.
Dia bisa merasakan tatapan-tatapan penuh rasa ingin tahu, kekaguman, dan juga kecemburuan dari para pria di sekitarnya.
Namun, setelah melewati masa-masa keras di Boston, semua perhatian ini terasa hambar bagi Max. Langkah kakinya membawa dirinya langsung menuju gedung utama Fakultas Bisnis, tempat di mana dia harus melaporkan status kepindahannya hari ini.
Max mengembuskan napas panjang, menatap koridor fakultas baru dengan seringai tipis. Mari kita lihat seberapa menariknya tempat ini, batinnya sembari melangkah masuk.