NovelToon NovelToon
WARISAN PEMIKAT JANDA

WARISAN PEMIKAT JANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: StarBlues

Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Pagi hari datang dengan perlahan, membawa hawa dingin sisa malam yang baru saja berlalu dengan gila di balik pintu-pintu kedap suara. Di teras bangunan dua lantai itu, Juan duduk dengan santai.

Asap rokok mengepul perlahan dari bibirnya, naik ke udara sebelum hilang terbawa angin pagi. Tatapannya kosong, namun wajahnya terlihat tenang, bahkan lebih tenang dibanding siapapun di tempat itu.

Di kamar belakang, Nurita wanita penghibur VIP yang menemaninya semalam masih tertidur pulas dengan wajah puas.

Selimut masih menutupi tubuhnya sampai leher, napasnya teratur, wajahnya tampak lelah namun puas. Meski Juan tidak mengatakan apa-apa, wanita itu tahu siapa yang memimpin sepanjang malam.

Di bawah selimut itu, tubuhnya masih terasa panas dan berdenyut, rahimnya seolah masih bergetar merasakan hujaman beringas dari pusaka raksasa milik Juan yang tidak memberinya ampun hingga subuh menjelang.

Dan sebelum keluar dari kamar, Juan sudah menyelesaikan semua hal yang perlu ia selesaikan, termasuk mentransfer bonus yang semalam ia janjikan.

"Tuan, apakah anda tidak salah transfer, ini terlalu banyak," gumam Nurita dengan suara parau yang sensual saat ia memeriksa ponselnya dengan mata setengah terpejam.

Wanita itu terkejut, bahkan beberapa kali memastikan angka yang muncul di layar ponselnya bukan kesalahan.

Matanya yang sayu seketika membelalak melihat saldo yang masuk, sebuah angka yang jauh melampaui tarif normalnya, sebuah penghargaan atas lembahnya yang telah terkoyak nikmat oleh kejantanan Juan.

"Tidak, aku tidak salah kirim... Kau melayaniku dengan baik, aku rasa itu harga yang pantas," jawab Juan dengan tegas.

Suaranya rendah dan dalam, membuat bulu kuduk wanita itu meremang teringat bagaimana suara itu mengerang di telinganya semalam saat Juan sedang memacu kecepatannya.

Ia bahkan sempat meminta nomor Juan sebelum tertidur. Untuk apa? Juan juga tidak tahu.

Tetapi mengingat bagaimana para wanita di tempat ini memandang orang berduit seperti dewa berjalan, apalagi pria dengan ukuran pusaka yang luar biasa mengerikan dan stamina tanpa batas seperti Juan, meminta nomor adalah sesuatu yang sangat wajar.

Juan menghabiskan rokoknya sampai tinggal puntung. Tak lama kemudian, suara pintu berderit terdengar dari arah koridor. Heri dan Tarjo muncul, dan wajah mereka jelas sangat berbeda dibanding semalam.

Kalau malam tadi mereka masuk dengan dada panas, muka kusut, and harga diri terinjak, kini keduanya berjalan dengan langkah yang ringan dan senyum lebar yang tak bisa mereka sembunyikan.

Bahkan dari sudut mata mereka sudah terlihat kemerahan, entah karena kurang tidur, atau terlalu bahagia setelah semalam suntuk "bertempur" habis-habisan memuaskan nafsu mereka.

Tarjo menepuk bahu Heri, sementara Heri menyeringai lebar melihat Juan.

“Gila, Jo,” ucap Heri, terbahak kecil. “Demi Ultraman, kalau aku mati hari ini, aku mati dalam keadaan bahagia.”

Tarjo menyambung, “Bangun pagi pasti lebih indah dari biasanya, ya? Dapat pelayanan kelas atas itu beda rasanya!”

”Aku bahkan masih boleh meremas semangkanya, mereka benar-benar melayani dengan sepenuh hati," sahut Heri, teringat bagaimana ia membenamkan wajahnya di antara dua bukit kembar yang kenyal dan besar milik teman kencannya semalam.

”Aku bahkan di tawari main satu ronde lagi, cuma aku tolak... Tenagaku sudah habis, dan aku tidak ingat terjadi sesuatu di luar prediksi nanti," tambah Tarjo. Ia masih membayangkan bagaimana liang sempit wanita itu menjepit miliknya hingga ia hampir menyerah di tengah jalan.

Juan hanya menghembuskan napas ringan, setengah malas menanggapi, setengah menikmati ekspresi dua sobatnya itu.

Ada bagian dari dirinya yang merasa puas karena mereka akhirnya bisa membuktikan sesuatu, bukan kepada dunia, tapi kepada diri mereka sendiri, bahwa mereka tidak serendah yang selama ini dianggap orang.

“Kalian puas?” tanya Juan santai.

Dua kepala itu mengangguk keras bersamaan.

“Lebih dari puas, bro,” jawab Tarjo. “Gue bahkan sampai lupa caranya jalan pas berdiri dari kasur. Rasanya lutut gue lemas, pinggang mau copot kena goyangan maut semalam!”

Juan tertawa kecil. Ia tahu Heri dan Tarjo mungkin tak akan pernah melupakan malam ini sepanjang hidup mereka.

Bukan karena pelayanan wanita-wanita itu, tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, mereka merasakan bagaimana rasanya dipandang tinggi dan membayar harga tinggi pula.

Namun kebahagiaan itu tidak sepenuhnya menutupi kejadian semalam. Heri menghela napas, lalu duduk di samping Juan.

“Tapi, tetap aja, Bro... gue masih kepikiran dua wanita yang rese kemarin,” ucapnya. “Mereka hina kita habis-habisan.”

Tarjo ikut duduk. “Kalau nggak karena lo, mungkin kita sudah berkelahi, sudah masuk kantor polisi.”

”Iya, gue masih gedek banget kalau ingat mereka itu," timpal Heri sambil mengepalkan tangannya.

Juan mengangguk pelan. Ia tahu itu benar. Sekalipun punya uang banyak, masuk masalah hukum tetap bukan hal yang dia inginkan. Buatnya, membuktikan dengan bukti lebih memuaskan daripada adu mulut.

“Tenang,” kata Juan. “Mereka sudah lihat sendiri kan, siapa yang hina siapa.”

Tarjo tersenyum sinis. “Iya. Kalau mereka punya harga diri, pasti mereka malu. Liat kita keluar bareng bidadari-bidadari kelas VIP sedangkan mereka cuma jadi penonton.”

Juan tidak membalas. Ia merokok sekali lagi, membiarkan asap naik dan hilang di udara. Baginya, pagi itu sudah cukup untuk menutup semua kejadian semalam.

Setelah beberapa waktu duduk dan mengobrol, Nurita wanita penghibur VIP yang tadi bersama Juan keluar dari kamar. Rambutnya belum rapi, matanya masih menyimpan sisa kantuk yang sensual.

Daster tipis yang dikenakannya seolah tidak mampu menutupi lekukan tubuhnya yang sintal, dengan bekas-bekas merah yang masih menghiasi lehernya, sebuah tanda bahwa Juan telah menguasainya dengan beringas. Begitu melihat Juan, ia tersenyum pelan.

“Pagi,” ucapnya dengan nada manja.

Juan balas mengangguk sopan. Wanita itu menghampiri, lalu duduk di sampingnya, membiarkan aroma parfum yang bercampur dengan bau gairah khas wanita tercium oleh Juan.

Heri dan Tarjo saling melirik, kaget, sekaligus bangga melihat betapa Nurita bersikap sangat submisif di depan Juan.

Biasanya, wanita seperti itu hanya turun, mengambil uang, lalu pergi tanpa menoleh. Tapi wanita tersebut terlihat masih ingin berbicara dengan Juan.

Ia merasa ketagihan, bukan hanya pada uangnya, tapi pada pusaka Juan yang sekeras beton yang telah membuatnya berteriak histeris semalam.

Dia menatap Juan beberapa detik sebelum berkata, “Kalau kamu perlu aku lagi, kamu bisa hubungi nomor aku yang tadi. Kapan pun. Aku pasti datang.”

Nada suaranya tidak sama seperti wanita penghibur lain. Ada kesan berbeda. Entah karena uang yang Juan keluarkan, atau karena sikap Juan yang tenang dan tidak sembronoh seperti pelanggan laki-laki lain.

Tapi yang jelas, wanita itu tidak berbicara dengan nada profesional. Suaranya lebih lembut, seolah ia benar-benar takluk pada kejantanan Juan yang mengerikan.

Juan hanya mengangguk pelan. Ia tidak berjanji apa pun, tidak memberi janji manis, tidak memberi harapan yang tidak perlu. Baginya, malam sudah selesai.

Wanita itu bangkit, memberikan senyuman terakhir yang penuh arti sembari menggoyangkan pinggulnya dengan sensual, lalu pergi.

Heri dan Tarjo langsung menatap Juan dengan senyum nakal.

“Bro, dia kayaknya suka sama lo,” sindir Heri.

“Suka dompet gue lebih tepatnya,” jawab Juan singkat.

Mereka tertawa. Namun dalam hati, Juan tahu wanita itu tidak sekadar tertarik pada uang. Ada sesuatu lain, ketenangan Juan, khususnya ukuran pusakanya yang luar biasa, atau wibawa yang entah sejak kapan muncul dari dirinya sejak kejadian dengan liontin itu.

Beberapa menit kemudian, mereka bersiap. Juan membayar semua tagihan, menutup semua biaya, dan memastikan tidak ada satu pun masalah tertinggal.

Ketika mereka keluar dari lokalisasi itu, beberapa orang yang semalam menganggap mereka rendah kini menatap mereka berbeda, ada rasa segan, ada rasa iri, ada rasa penasaran saat melihat Juan yang berjalan dengan wibawa seperti seorang bos besar.

Juan tidak menoleh. Baginya, itu semua bukan kemenangan. Itu hanya pembuktian kecil dalam perjalanan yang jauh lebih besar.

Di luar, matahari mulai naik, menghangatkan udara pagi. Ketiga sahabat itu berjalan meninggalkan bangunan itu, satu demi satu.

Bagi Heri dan Tarjo, itu adalah malam tak terlupakan.

Bagi Juan, itu hanya awal dari perubahan hidupnya yang akan menjadi semakin panas dan liar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!