NovelToon NovelToon
Terjebak CEO Tampan

Terjebak CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.

IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28 : Malayani suami

Malam itu, ruang tamu rumah utama keluarga Wiratama terasa kaku. Arsen dan Nayra duduk berdampingan. Namun tidak ada kehangatan di antara mereka. Raya dan Alea sudah masuk ke kamar lebih dulu.

Di depan mereka, Pak Arya duduk tenang. Sementara di sebelahnya, Bu Ambar bersandar dengan wajah yang sulit ditebak. Tatapannya sesekali melirik Nayra… dingin.

Kakek Sanjaya membuka pembicaraan.

“Soal kejadian tadi di aula…” ucapnya tegas. “Opa tidak ingin hal seperti itu terulang lagi.”

Pak Arya mengangguk. “Iya Pa, tadi Arsen juga sudah menjelaskan pada Amanda.”

Belum sempat suasana mereda. “Tentu saja dia marah.” Suara Bu Ambar tiba-tiba menyela.

Semua menoleh.

Wanita itu menatap lurus ke depan, lalu perlahan melirik Nayra. “Kalau aku jadi dia, aku juga akan melakukan hal yang sama.”

DEG

Nayra terdiam.

Arsen langsung mengernyit. “Mom…”

Namun Bu Ambar belum selesai. “Datang ke pernikahan pria yang selama ini dekat dengannya, lalu mendapati pria itu menikah diam-diam dengan wanita lain,” lanjutnya dingin. “Itu bukan hal yang mudah diterima.”

Kalimat itu jelas dan menyakitkan. Nayra menunduk sedikit. Tangannya saling menggenggam di pangkuan.

Kakek Sanjaya menghela napas. “Ambar.”

Namun Bu Ambar justru menatap Arsen tajam. “Kamu juga salah, Sen.”

Arsen terdiam.

“Kamu tidak pernah memberi kejelasan pada Amanda. Kamu membiarkan dia berharap,” ucapnya tanpa basa-basi. “Dan sekarang kamu memilih menikahi wanita seperti dia.”

Ia melirik Nayra lagi. Kali ini lebih terang-terangan.

“Dengan wanita yang latar belakangnya, kami tidak tahu.”

DEG

Suasana langsung membeku.

Pak Arya mencoba menengahi. “Ambar, cukup.”

Namun Bu Ambar menggeleng. “Tidak. Ini harus dibicarakan sekarang.”

Tatapannya kembali ke Nayra. Tidak ada senyum. Tidak ada kelembutan.

“Kamu,” ucapnya singkat.

Nayra perlahan mengangkat wajah.

“Jangan salah paham,” lanjut Bu Ambar. “Saya tidak mengenalmu. Jadi saya tidak akan berpura-pura menerima kamu begitu saja.”

Jantung Nayra berdegup lebih cepat.

“Statusmu dan anakmu…” sambungnya. “Itu bukan hal kecil, yang dengan mudah di terima oleh keluarga ini.”

DEG

Arsen langsung bangkit sedikit. “Cukup, Mom.”

Namun Nayra dengan cepat menahan. Tangannya menyentuh lengan Arsen pelan.

“Tidak apa-apa,” ucap Nayra pelan.

Arsen menatapnya, tidak percaya.

Sementara Nayra kembali menatap Bu Ambar. “Saya mengerti,” jawabnya singkat.

Jawaban itu justru membuat Bu Ambar sedikit terdiam.

Namun Nayra melanjutkan, suaranya tetap lembut... tapi ada ketegasan yang tidak bisa diabaikan.

“Saya tidak datang ke sini untuk meminta diterima dengan mudah,” ucapnya. “Dan saya juga tidak berniat merebut posisi siapa pun.”

Matanya tidak goyah. “Saya hanya menjalani keputusan yang sudah dibuat.”

Beberapa detik yang terasa panjang.

Bu Ambar melipat tangannya di dada. “Apa maksudmu?”

DEG

Pertanyaan itu tajam.

Nayra terdiam sesaat, lalu menjawab pelan, “Arsen, tolong jelaskan.”

Semua mata langsung ke arah Arsen. Rahang Arsen mengeras.

Kakek Sanjaya mengetukkan tongkatnya pelan. “Cukup.” Suaranya tegas, memotong semua ketegangan.

“Pernikahan ini sudah terjadi. Suka tidak suka, Nayra dan kedua anaknya adalah bagian dari keluarga ini sekarang,” ucapnya.

Ia menatap Bu Ambar dalam. “Jika kamu tidak suka dengan keputusan Saya, kamu boleh pergi... Ambar.”

Bu Ambar seketika terkejut mendengar ucapan Kakek Sanjaya. "Maksud Papa, apa?"

"Saya sudah muak dengan sikap kamu, kalau kamu tidak bisa jaga sikap. Sebaiknya kamu pergi dari rumah ini," tegasnya.

Pak Arya menahan tangan Bu Ambar untuk tidak melawan lagi. Bu Ambar hanya mendengus kesal. Ia tidak membantah lagi. Ia hanya memalingkan wajah, jelas masih tidak setuju.

Pak Arya berdiri. “Sudah malam. Kita sudahi saja.”

Satu per satu mereka bangkit.

Namun sebelum pergi, Bu Ambar kembali bicara. Kali ini tanpa menatap siapa pun. “Amanda… jauh lebih cocok untuk keluarga ini.”

"Ambar cukup," bentak Pak Arya dan menarik tangan istrinya itu.

Langkah Nayra terhenti sejenak. Namun ia tidak menoleh. Ia hanya menarik napas pelan, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar.

Di ruang tamu, Arsen masih berdiri. Tatapannya mengikuti punggung Nayra yang menjauh. Ada sesuatu yang menekan di dadanya. Marah, bukan pada Nayra. Tapi pada keadaan dan pada keluarganya sendiri.

Di dalam kamar, begitu pintu tertutup, Nayra berhenti. Senyumnya hilang, perlahan ia bersandar pada pintu. Matanya terpejam.

Kalimat Bu Ambar terngiang jelas. "Amanda jauh lebih cocok…"

Dadanya terasa sesak. Namun ia menegakkan tubuhnya lagi. “Memang disini bukan tempatku…” gumamnya pelan.

Ia menatap ke arah tempat tidur, di mana Raya dan Alea sudah tertidur lelap.

Wajahnya perlahan melembut. “Yang penting mereka.”

Namun di balik ketenangannya, ada luka yang mulai tumbuh. Dan kali ini… lebih dalam dari yang ia kira.

Arsen berdiri beberapa detik di ruang tamu. Rahangnya masih mengeras, pikirannya belum sepenuhnya tenang.

Namun kakinya akhirnya bergerak. Langkahnya mantap menuju kamar tempat Nayra berada. Di dalam kamar. Nayra masih berdiri di dekat ranjang. Tatapannya jatuh pada Raya dan Alea yang sudah tertidur lelap.

Ia baru saja hendak berbaring di samping mereka tiba-tiba...

Pintu terbuka perlahan.

Nayra menoleh, Arsen berdiri di ambang pintu. Tatapannya lurus ke arahnya.

“Nayra… kamu mau tidur di sini?” tanyanya datar.

Nayra sedikit mengernyit.

“Kita ini sudah menikah,” lanjut Arsen. “Apa kamu tidak ingin melayani saya sebagai suami kamu?”

DEG

Ucapan itu seperti petir di siang bolong.

Nayra langsung berbalik penuh. Matanya membesar menatap Arsen.

“Astaga… dia bicara apa sih,” batinnya kacau. “Aku sekarang memang istrinya, tapi ini hanya pernikahan kontrak. Masa aku harus melayaninya?”

Arsen tetap berdiri di sana, ekspresinya tidak berubah. “Saya mau mandi,” lanjutnya tenang. “Siapkan air hangat dan pakaian.”

Ia menatap Nayra lebih dalam. “Kamu tidak ingin Kakek marah lagi kan?”

Kalimat itu langsung menekan. Nayra mengepalkan tangannya pelan. Ada kesal, ada rasa tidak terima, tapi juga ada sesuatu yang menahannya.

Tanpa berkata lagi, ia bangkit. Langkahnya cepat menghampiri Arsen.

“Baik,” jawabnya singkat.

Arsen berbalik lebih dulu. Nayra mengikutinya di belakang.

Beberapa menit kemudian, di kamar utama. Ruangan itu jauh lebih besar. Lebih dingin dan terasa asing bagi Nayra.

Ia langsung menuju kamar mandi. Tangannya membuka keran air hangat, memastikan suhunya pas.

Sementara itu Arsen berdiri di dekat lemari, membuka kancing jasnya perlahan. Hening, hanya suara air mengalir.

Nayra keluar kembali. “Airnya sudah siap,” ucapnya pelan.

Arsen mengangguk singkat. Namun saat Nayra hendak berbalik...

“Nayra.”

Langkahnya terhenti, perlahan ia menoleh. Arsen kini menatapnya. Lebih tajam dari sebelumnya.

“Mulai sekarang,” ucapnya pelan. “Jangan tidur di kamar anak-anak.”

Nayra membeku.

“Kalau orang rumah tahu, itu akan jadi masalah baru,” lanjut Arsen. “Kamu mengerti maksudku.”

Nayra menatapnya beberapa detik. Lalu ia tersenyum tipis. “Jadi ini semua demi terlihat nyata?” tanyanya pelan.

Arsen tidak langsung menjawab. “Itu memang tujuan kita dari awal, kan?” balasnya akhirnya.

Jawaban itu menghantam hati Nayra.

Nayra mengangguk pelan. “Iya… saya tahu.” Ia menunduk sebentar, lalu kembali bicara. “Tenang saja. Saya akan jalankan peran saya dengan baik.”

Arsen memperhatikannya, namun tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya berjalan masuk ke kamar mandi.

Pintu tertutup.

Begitu suara pintu terdengar, Nayra langsung menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.

Ia berdiri diam di tengah kamar. Matanya berkeliling, tempat tidur besar itu terasa terlalu luas untuknya. Perlahan ia duduk di tepi ranjang. Tangannya meremas gaun pengantinnya.

“Melayani suami…” gumamnya pelan.

Wajahnya memanas. Kesal, malu dan entah kenapa ada perasaan lain yang tidak bisa ia mengerti.

“Aku ini kenapa sih…” bisiknya lirih.

1
Arditya
Buku ini bagus ceritanya. Authornya mendalami banget ya sama cerita ini. lanjut thor sampai ratusan bab.
Vhiie Chavtry
suka banget, ada gambar visualnya di babnya... semangat Thoor😍
Vhiie Chavtry
aku suka banget sama Alea...hheee

semangat, lanjut thoor😄👍
Vhiie Chavtry
Ceritanya sangat menarik, dan relate... semangat author. recommended bangt sih😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!