Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAMI BERDUA SUDAH CUKUP
BAB 13 — KAMI BERDUA SUDAH CUKUP
Tahun-tahun pertama menjadi ibu mengajarkan Keisha satu hal: cinta terbesar seringkali datang bersamaan dengan rasa lelah yang luar biasa.
Pagi buta saat dunia masih sunyi, Leo sudah menangis minta susu. Belum sempat ia beristirahat, popok harus diganti. Baru saja ia bisa duduk tenang, bayi itu sudah bangun lagi meminta diajak bermain.
Kadang Keisha menangis diam-diam sambil menggendong anaknya yang rewel. Kadang tubuhnya terasa remuk redam hanya untuk berdiri. Kadang ia merasa sangat kesepian di negeri asing ini.
Namun... setiap kali Leo menatapnya dengan mata bulat polos itu, atau saat tangan mungilnya menggenggam jarinya... segalanya terasa terbayar lunas.
“Dia mirip sekali sama kamu kalau lagi tidur, Sha,” kata Bibi Rina suatu pagi.
Keisha yang sedang menjemur pakaian tersenyum. “Terus kalau lagi aktif gitu mirip siapa, Bi?”
“Wah, kalau lagi gitu... mirip banget sama ayahnya. Tatapan matanya itu lho, kelihatan tegas dan serius.”
Keisha terdiam sesaat. Bibi Rina langsung menutup mulut, menyesal telah membahas topik itu. Namun Keisha hanya tersenyum tipis.
“Semoga sifat keras kepalanya jangan ikut menurun ya, Bi. Cukup wajahnya saja yang tampan.”
Benar kata Bibi Rina, Leo tumbuh menjadi anak yang sangat tampan. Kulit cerah, rambut hitam lebat, hidung mancung sempurna. Dan setiap kali ia menatap sesuatu dengan serius, ada aura dominan yang selalu mengingatkan Keisha pada pria yang sudah ia coba lupakan.
Waktu terus berjalan, musim berganti berkali-kali. Dan Leo tumbuh dengan kecepatan yang menakjubkan. Di usia satu tahun, ia mulai bisa berjalan tertatih-tatih mengejar ibunya. Di usia dua tahun, ia mulai banyak bicara.
“Mama...”
Itu kata pertama yang keluar dengan jelas dari mulut kecilnya. Mendengarnya, air mata Keisha langsung jatuh. Ia memeluk anak itu erat-erat.
“Ulangi lagi, Sayang... bilang Mama...”
“Mama...” ulang Leo polos sambil tersenyum memperlihatkan gigi-gigi kecilnya.
Namun hidup tidak selalu berjalan manis. Saat Leo menginjak usia dua tahun lebih, Keisha sadar ia harus mulai bekerja untuk menabung demi masa depan anaknya. Ia mendapat pekerjaan paruh waktu di sebuah kafe kecil. Upahnya tidak besar, tapi cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Setiap pagi adalah momen paling berat. Ia harus meninggalkan Leo di rumah. Setiap kali hendak pergi, anak itu akan memeluk kakinya erat-erat.
“Mama jangan pergi...”
Dadanya terasa diremas setiap mendengarnya. “Tunggu Mama pulang ya, Sayang? Mama janji cepat kembali.”
Dan setelah pintu tertutup, air matanya jatuh membasahi pipi sepanjang perjalanan.
Suatu malam, setelah Leo tidur, Keisha duduk menghitung catatan pengeluaran dengan wajah serius. Angka-angka itu membuat kepalanya pening.
“Ayo sini, Bibi bantu bayarkan yang ini saja,” tawar Bibi Rina lembut.
Keisha cepat menggeleng. “Enggak usah, Bi. Bibi sudah terlalu banyak membantu. Keisha harus bisa mandiri.”
“Kamu ini ya, keras kepala sekali.”
“Mungkin ya...” Keisha tersenyum kecut.
“Kamu tahu nggak? Sifat keras kepala dan gengsimu ini... mirip sekali dengan seseorang yang pernah kamu ceritakan dulu.”
Keisha menghela napas. “Jangan samakan aku dengan dia, Bi. Kami berbeda.”
Namun dalam hati, ia sadar: Leo mewarisi ketampanan dari ayahnya, sedangkan sifat pantang menyerah itu... mungkin diwarisi dari mereka berdua.
Di Jakarta, lima tahun juga mengubah Arsen menjadi sosok yang jauh lebih dingin dan disegani. Perusahaannya berkembang pesat, namanya sering menghiasi cover majalah. Banyak yang menghormatinya, namun tak sedikit yang gentar melihat tatapan matanya yang tajam.
Namun di balik kesuksesan itu, kehidupannya terasa hampa. Ia menolak semua lamaran wanita, menolak usia perjodohan, dan menutup rapat pintu hatinya.
“Apa sebenarnya yang salah denganmu, Sen?” ejek Adrian suatu malam di bar.
Arsen menyesap whiskey-nya datar. “Aku hanya sibuk bekerja.”
“Bohong. Kau sedang lari. Atau... kau masih terjebak masa lalu?”
“Aku hanya tidak suka hidupku diatur.”
“Bukan. Kau juga tidak suka... melupakan seseorang,” potong Adrian tajam.
Arsen menatapnya dengan tatapan membeku. Adrian justru menyeringai. “Masih ingat gadis yang menghilang tanpa jejak lima tahun lalu?”
Hening. Keheningan panjang itu sudah cukup menjelaskan segalanya.
Malam itu, di penthouse-nya yang sunyi, Arsen membuka laci lama di mejanya. Di sana tersimpan sebuah kartu akses hotel yang sudah lusuh. Benda kecil yang entah kenapa tak pernah sanggup ia buang.
Ia menatapnya lama. “Gila...” gumamnya. Ia bahkan tak mengerti mengapa ia masih menyimpan kenangan semurah ini. Tapi satu hal yang pasti: selama lima tahun ini, tidak ada satu pun wanita lain yang mampu bertahan di pikirannya selain wajah Keisha.
Kembali di Kanada, Leo kini hampir berusia lima tahun. Ia sedang sibuk menggambar dengan wajah serius.
“Mama...” panggilnya.
“Iya, Sayang?”
“Kenapa teman-teman di sekolah semua punya Papa? Terus kenapa Leo enggak punya?”
Tangan Keisha berhenti bergerak. Dadanya tercekat.
“Papa Leo mana, Ma?” tanya anak itu polos.
Keisha menelan ludah susah payah, lalu berlutut sejajar dengan anaknya. “Papa Leo... tinggal di tempat yang sangat jauh sekali, Nak. Di seberang lautan.”
“Jauh banget?”
“Iya.”
Leo mengerutkan kening. “Terus... Papa enggak sayang ya sama Leo? Kenapa enggak pernah datang?”
Pertanyaan itu bagaikan pisau yang menghancurkan pertahanan Keisha. Ia langsung memeluk anak itu erat-erat.
“Bukan begitu, Sayang... Papa sangat sayang sama Leo, cuma jarak yang memisahkan kita.” Ia tak sanggup mengatakan kebenaran bahwa merekalah yang lari dan bersembunyi.
“Kamu kan punya Mama. Mama ada di sini terus sama kamu. Mama sayang Leo lebih dari apa pun.”
“Leo juga sayang Mama.”
Malam itu, setelah Leo tidur, Keisha duduk sendirian di dapur yang gelap, menangis dalam diam. Ia sadar, rahasia besar ini... tak akan bisa ia pendam selamanya.