NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KAMI BERDUA SUDAH CUKUP

BAB 13 — KAMI BERDUA SUDAH CUKUP

Tahun-tahun pertama menjadi seorang ibu mengajarkan Keisha satu hal yang sangat berharga:

Bahwa cinta yang terbesar seringkali datang bersamaan dengan rasa lelah yang luar biasa.

Pagi-pagi buta saat dunia masih sunyi, Leo sudah menangis minta susu.

Belum sempat ia memejamkan mata kembali, satu jam kemudian popok harus diganti.

Baru saja ia bisa duduk tenang, bayi itu sudah bangun lagi dan meminta diajak bermain.

Kadang Keisha menangis diam-diam di sudut kamar sambil menggendong anaknya yang tak mau berhenti rewel.

Kadang tubuhnya terasa begitu lemas dan sakit sampai lututnya gemetar hanya untuk berdiri.

Kadang ia merasa sangat kesepian dan kecil di negeri asing yang dingin ini.

Namun... setiap kali Leo menatapnya dengan mata bulat jernih dan polos itu, atau saat tangan mungilnya memegang jari Keisha...

Segala rasa lelah dan sakit itu seakan lenyap begitu saja.

Semua terasa sangat layak untuk diperjuangkan.

 

“Dia mirip sekali sama kamu kalau lagi tidur, Sha,” kata Bibi Rina suatu pagi sambil memperhatikan cucu keponakannya itu.

Keisha sedang sibuk menjemur pakaian-pakaian kecil Leo di ruang laundry, tangannya bergerak cepat namun wajahnya penuh senyum.

“Terus kalau dia bangun dan lagi aktif gitu mirip siapa, Bi?” tanyanya santai.

“Wah, kalau lagi gitu... mirip banget sama ayahnya. Tatapan matanya itu lho, kelihatan galak dan serius banget.”

Keisha terdiam sepersekian detik.

Bibi Rina langsung menutup mulut, menyesal telah bicara sembarangan dan mengusik kenangan.

Namun Keisha hanya tersenyum tipis, tak marah dan tak sedih berlebihan.

“Semoga sifat keras kepalanya jangan ikut menurun ya, Bi. Cukup wajahnya saja yang tampan.”

Ia melirik ke arah stroller tempat Leo tidur pulas.

Benar kata Bibi Rina. Leo tumbuh menjadi anak yang sangat tampan.

Kulitnya cerah.

Rambutnya hitam lebat dan tebal.

Hidungnya mancung sempurna.

Dan setiap kali ia menatap sesuatu dengan serius, ada aura dominan yang tiba-tiba muncul... yang selalu mengingatkan Keisha pada pria yang sudah ia coba lupakan selama bertahun-tahun.

 

Waktu terus berjalan tanpa bisa dihentikan.

Musim berganti berkali-kali.

Salju turun, mencair, lalu turun lagi menyelimuti bumi.

Dan Leo tumbuh dengan kecepatan yang menakjubkan.

Di usia satu tahun, ia mulai bisa berjalan dengan langkah terhuyung-huyung yang lucu, mengejar ibunya ke seluruh penjuru rumah.

Di usia dua tahun, ia mulai banyak bertanya dan banyak bicara.

“Mama...”

Itu adalah kata pertama yang keluar dengan jelas dari mulut kecilnya.

Mendengarnya, air mata Keisha langsung jatuh. Ia memeluk anak itu erat-erat seolah dunia adalah milik mereka berdua.

“Ulangi lagi, Sayang... bilang Mama...” pinta nya dengan suara bergetar.

“Mama...” ulang Leo polos sambil tersenyum memperlihatkan gigi-gigi kecilnya.

Bibi Rina yang melihat dari kejauhan pun ikut tersenyum lebar, hatinya terasa hangat melihat kebahagiaan sederhana itu.

 

Namun hidup tentu tidak selalu berjalan manis dan mudah.

Saat Leo menginjak usia dua tahun lebih, Keisha sadar ia harus mulai bekerja untuk membantu keuangan dan menabung demi masa depan anaknya.

Ia mendapat pekerjaan paruh waktu di sebuah kafe kecil milik kenalan Bibi Rina. Pekerjaannya sederhana: melayani pesanan, membersihkan meja, dan membuat kopi.

Upahnya tidak besar, pas-pasan.

Namun cukup untuk membeli susu, kebutuhan Leo, dan sedikit membantu biaya hidup sehari-hari.

Setiap pagi adalah momen paling berat bagi Keisha.

Ia harus meninggalkan Leo di rumah bersama Bibi Rina.

Setiap kali ia hendak melangkah keluar pintu, anak kecil itu akan memeluk kakinya erat-erat dengan wajah sedih.

“Mama jangan pergi...”

Dadanya selalu terasa diremas-remas sakit setiap mendengar rengekan itu.

“Tunggu Mama pulang ya, Sayang? Mama cuma kerja sebentar.”

“Cepat?”

“Iya, Mama janji cepat pulang.”

Dan setelah pintu tertutup, diam-diam air mata Keisha jatuh membasahi pipinya sepanjang perjalanan menuju halte bus.

 

Suatu malam, setelah Leo terlelap, Keisha duduk di ruang tamu sambil menghitung catatan pengeluaran bulan itu dengan wajah serius.

Biaya susu.

Baju baru untuk musim dingin.

Biaya cek kesehatan ke dokter.

Tabungan untuk sekolah nanti.

Angka-angka itu membuat kepalanya terasa pening dan berat.

“Ayo sini, Bibi bantu bayarkan yang ini saja,” kata Bibi Rina lembut sambil meraih kertas catatan itu.

Keisha cepat menggeleng dan menarik tangannya kembali.

“Enggak usah, Bi. Bibi sudah bantu terlalu banyak selama ini. Keisha harus bisa mandiri.”

“Kamu ini ya, keras kepala sekali.”

“Mungkin ya...” Keisha tersenyum kecut.

“Kamu tahu nggak? Sifat keras kepala dan gengsimu ini... mirip sekali dengan seseorang yang pernah kamu ceritakan dulu.”

Keisha menghela napas panjang.

“Jangan samakan aku dengan dia, Bi. Aku dan dia berbeda.”

Namun dalam hati kecilnya, ia sadar betul satu hal:

Leo mewarisi seluruh ketampanan dan ketajaman wajah dari ayahnya.

Sedangkan sifat keras kepala dan pantang menyerah itu... mungkin diwarisi dari mereka berdua.

 

Di Jakarta, lima tahun yang sama juga mengubah Arsen menjadi sosok yang jauh lebih dewasa namun juga jauh lebih dingin.

Perusahaannya berkembang pesat dan mendominasi pasar.

Namanya sering muncul di cover majalah bisnis sebagai pengusaha muda sukses dan ditakuti.

Banyak orang menghormatinya, namun tak sedikit pula yang gentar melihat tatapan matanya.

Dingin.

Tajam.

Dan seakan tak pernah bisa dikalahkan.

Namun siapa sangka, kehidupan pribadinya justru terasa sangat hampa dan sunyi.

Ia menolak lamaran banyak wanita cantik.

Ia menolak mentah-mentah usia perjodohan dari keluarganya.

Ia menutup pintu hatinya rapat-rapat, tak mengizinkan siapa pun masuk terlalu dekat.

“Apa sebenarnya yang salah denganmu, Sen?” ejek Adrian suatu malam saat mereka duduk di bar pribadi.

Arsen menyesap whiskey-nya tanpa ekspresi.

“Aku hanya sibuk bekerja.”

“Bohong.” Adrian menggeleng tak percaya. “Kau bukan sibuk. Kau sedang lari. Atau... kau punya trauma tertentu?”

“Aku hanya tidak suka hidupku diatur oleh orang lain.”

“Bukan. Kau juga tidak suka... melupakan seseorang,” potong Adrian tajam.

Arsen menatap sahabatnya itu dengan tatapan dingin yang membeku.

Adrian justru menyeringai santai.

“Masih ingat gadis itu? Gadis yang menghilang tanpa jejak lima tahun lalu?”

Tak ada jawaban yang terucap dari mulut Arsen.

Hanya keheningan panjang yang menjawab.

Dan keheningan itu... sudah lebih dari cukup menjelaskan segalanya.

 

Malam itu, setelah pulang ke penthouse mewahnya yang sunyi, Arsen berjalan menuju meja kerjanya.

Dengan gerakan lambat, ia membuka sebuah laci lama di bagian bawah.

Di sana, tersimpan rapi sebuah kartu akses hotel yang sudah agak lusuh dimakan waktu. Benda kecil dari lima tahun lalu yang entah kenapa tak pernah sanggup ia buang sampai detik ini.

Ia menatap benda itu lama sekali, jemarinya menyentuh permukaan plastik itu pelan.

“Gila...” gumamnya pelan pada diri sendiri.

Ia bahkan tak mengerti mengapa ia masih menyimpan kenangan semurah dan sepele ini.

Tapi satu hal yang tak bisa ia pungkiri:

Selama lima tahun ini, tidak ada satu pun wanita lain yang pernah mampu bertahan lama di dalam pikirannya, selain wajah gadis bernama Keisha itu.

 

Kembali di Kanada, Leo kini sudah berusia hampir lima tahun.

Ia duduk di atas karpet tebal, sibuk menggambar di buku sketsa kecilnya dengan wajah serius, lidahnya sedikit menjulur karena fokus.

“Mama...” panggilnya tanpa menoleh.

“Iya, Sayang? Ada apa?” jawab Keisha yang sedang melipat pakaian di dekatnya.

“Kenapa ya teman-teman di sekolah Leo semua punya Papa? Terus kenapa Leo enggak punya?”

Tangan Keisha yang sedang memegang baju tiba-tiba berhenti bergerak.

Dadanya seketika tercekat dan menegang kencang.

Leo menoleh, menatap ibunya dengan mata polos penuh tanda tanya.

“Papa Leo mana, Ma? Di mana?”

Ruangan itu mendadak menjadi sunyi senyap.

Keisha menelan ludah susah payah, lalu berjalan mendekat dan berlutut tepat di hadapan putranya agar sejajar.

Dengan tangan gemetar, ia mengusap lembut rambut halus anak itu.

“Papa Leo... tinggal di tempat yang sangat jauh sekali, Nak.”

“Jauh banget?”

“Iya... jauh banget, di seberang lautan.”

Leo mengerutkan kening kecilnya berpikir keras.

“Terus... Papa enggak sayang ya sama Leo? Kenapa Papa enggak pernah datang-datang?”

Pertanyaan polos dan lugu itu seakan sebuah pisau tajam yang menghancurkan pertahanan diri Keisha seketika.

Ia langsung menarik tubuh kecil itu masuk ke dalam pelukannya erat-erat, seolah takut ada yang merebutnya.

“Bukan begitu, Sayang... Bukan begitu...” ucapnya terbata-bata, air mata mulai membanjiri pipinya.

“Terus kenapa?” desak anak itu polos.

Keisha menutup matanya rapat-rapat.

Karena Mama yang membawa kamu pergi lari dari sana. Karena Mama yang menyembunyikan kamu.

Namun kalimat itu tak pernah sanggup ia ucapkan pada anaknya yang masih kecil dan polos itu.

Ia hanya mencium kening Leo berkali-kali dengan penuh rasa bersalah dan kasih sayang.

“Kamu kan punya Mama. Mama ada di sini terus sama kamu. Mama sayang Leo lebih dari apa pun di dunia ini.”

Leo memeluk leher ibunya balik dengan erat.

“Leo juga sayang Mama. Sangat sayang.”

Malam itu, setelah Leo benar-benar tertidur pulas...

Keisha duduk sendirian di dapur yang gelap, menangis dalam diam.

Ia sadar betul satu hal yang selama ini ia coba hindari:

Rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat selama ini... tak akan bisa ia pendam selamanya.

Suatu hari nanti, kebenaran pasti akan terungkap.

Bersambung...

1
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!