"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRIK
"Aku tidak akan pergi, sebelum kamu maafin aku, Cha!" Rangga menatap Meysa dengan tatapan sendu. Ia tidak pernah memelas seperti ini pada siapa pun.
Meysa membuang wajahnya. Seolah ia tidak peduli. "Kamu tidak akan pernah mendapat maaf dariku, Mas.."
Kata-kata itu terasa seperti pisau yang menusuk perlahan di dada Rangga.
Rangga berdiri. "Baiklah. Aku akan pergi. Tapi aku akan kembali, Cha. Aku tidak akan menyerah."
*
Rangga melepas jaketnya dan melemparnya ke sofa, ia duduk sesaat sambil melihat sekeliling ruangan yang terasa sunyi.
Kemudian ia berjalan ke balkon, membuka pintu kaca lebar-lebar. Angin sore menerpa wajahnya, tapi tidak cukup dingin untuk menenangkan pikirannya. Ia menatap ke bawah, ke arah jalan raya yang mulai ramai oleh kendaraan pulang kerja.
"Apa yang udah gue lakuin selama ini?" gumamnya pada dirinya sendiri. "Gue bunuh anak gue sendiri. Gue hancurin satu-satunya orang yang berani bertahan sama gue."
Ia menyandarkan kepalanya ke tiang balkon. Matanya terpejam. Angin bertiup lebih kencang, tapi tidak ada yang bisa mendinginkan panasnya penyesalan di dadanya.
*
Meysa tidak bisa diam di kamar terus. Empat dinding putih itu terasa seperti menjerat, mengurungnya bersama semua kenangan pahit yang tidak ingin ia ingat. Setelah perawat selesai mengganti infus dan memeriksa tekanan darahnya, Meysa meminta izin untuk berjalan-jalan sebentar di taman rumah sakit.
Perawat itu ragu pada awalnya nolak. "Kondisi ibu masih lemah, sebaiknya istirahat saja di kamar."
"Sebentar saja, Mbak. Saya butuh udara segar," pinta Meysa dengan mata yang membuat perawat itu tidak tega menolak.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya bu."
Perawat itu membantu Meysa duduk di kuris roda, dan mendorongnya..
Taman rumah sakit tidak terlalu besar. Ada beberapa bangku taman di bawah pohon rindang, bunga-bunga berwarna-warni yang tertata rapi, dan air mancur kecil di tengahnya..Meysa meminta untuk berhenti disana.
Tak lama kemudian, sebuah pemandangan membuatnya terpaku.
Seorang pria mendorong kursi roda. Di kursi roda itu duduk seorang wanita dengan kepala digulung perban, dan di pangkuan wanita itu, terbaring seorang anak laki-laki dengan tangan mungil yang terpasang infus.
Sang suami berjongkok di depan istrinya, menyuapi anak mereka dengan bubur sambil bercanda riang.
Melihat itu, Membuat Meysa merasa sakit.
"Seandainya dia bisa lahir ke dunia. Mungkin kami juga bisa seperti itu.." batinnya.
"Meysa?"
Suara berat dari belakang membuatnya menoleh. Pak Soerya berdiri tidak jauh dari bangkunya, tangan kanan membawa kantong plastik berisi buah-buahan segar..
"Ayah...?" Meysa terkejut. Ia cepat-cepat menyeka air matanya dengan tangannya.
Pak Soerya mendekat dan duduk di bangku yang ada di hadapan Meysa. Ia meletakkan buah-buahan itu di samping bangku, lalu menatap Meysa dengan pandangan yang lembut.
"Perawat bilang kamu ke taman. Ayah cari ke sini." Ia menghela napas. "Kamu sudah lebih baik, Nak?"
Meysa mengangguk pelan, meskipun wajahnya bercerita lain.
"Ayah bawa buah buat kamu. Apel, anggur, jeruk. Kamu suka yang mana?"
"Semuanya suka, Ayah," jawab Meysa lirih.
Pak Soerya mengangguk. Ia menatap langit sore yang mulai gelap. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah basah dari hamparan rumput di depan mereka.
"Meysa," Pak Soerya memulai lagi setelah beberapa saat.. "Ayah tahu kamu kecewa. Tapi ayah mohon, jangan ambil keputusan terburu-buru soal masa depan kamu dan Rangga."
Meysa terdiam.
"Bukan karena ayah memaksa," lanjut Pak Soerya.
"Ayah..." Meysa hendak bicara, tapi pak Soerya dengan tegas memotongnya
"Ayah tidak minta kamu memaafkannya sekarang. Tapi ayah minta kamu jangan menutup pintu. Beri waktu untuk dirimu sendiri. Beri waktu juga untuk Rangga. Lihat apa dia benar-benar berubah."
Pak Soerya berdiri, menepuk bahu Meysa pelan. "Ayah pamit dulu. Ada urusan mendadak, besok ayah kesini lagi."
"Ayah... terima kasih buahnya," ucap Meysa.
Pak Soerya tersenyum tipis, lalu berjalan meninggalkan taman. Meysa menatap punggung pria paruh baya itu yang mulai sedikit membungkuk karena usia. Ini kali pertamanya ia merasa kasihan pada ayah mertuanya, karena ulah anaknya sendiri.
Ketika matahari hampir tenggelam, Meysa kembali ke ruang rawat inap. Di meja samping tempat tidur, ia menemukan sebuah amplop putih tanpa nama pengirim, lalu ia membukanya.
"Kamu hanya penghalang. Sekarang bayimu sudah tidak ada. Apa kamu masih mau bertahan dengan seorang pembunuh?"
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey