Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1 -BAB 4 -SERANGAN AWAL (3)
Malam itu, Elian berada di dalam kamarnya. Ia duduk dengan tenang di samping tempat tidur, memperhatikan Arta yang tertidur pulas. Gadis itu tampak sangat kelelahan setelah mengalami trauma yang begitu berat.
Di tangan Elian, terdapat sebuah kalung dengan mata cincin. Cincin itu adalah tanda pertunangan mereka. Selama ini mereka tidak memakainya karena takut cincin itu akan rusak atau hilang, jadi mereka sepakat untuk menyimpannya sampai hari pernikahan tiba.
Elian menatap cincin itu sejenak, lalu menyimpannya kembali ke dalam kotak perhiasan yang indah sebelum melangkah keluar kamar.
Elian menuruni anak tangga yang sudah bersih dari debu-debu bangunan. Di bawah, ternyata seseorang sudah menunggunya. Sosok itu adalah Nebula.
"Kau... apa yang kau lakukan di sini?" Elian bertanya dengan nada curiga. Tangannya langsung memegang gagang pedang untuk berjaga-jaga jika Nebula menyerangnya.
"Aku rasa kita belum pernah bertemu secara langsung. Aku Nebula, mungkin Arta pernah menceritakanku padamu," ucap Nebula dengan suara datar dan tenang, seolah dia sudah bisa menebak reaksi Elian.
Elian menyipitkan matanya. "Jawab aku, apakah kau penyebab semua kehancuran ini?"
Nebula berdiri dan menatap Elian. "Bukan. Aku datang hanya untuk menyerahkan ini kepada Arta," jawab Nebula sambil menyodorkan sebuah kubus logam aneh sebesar kepalan tangan.
"Kami tidak butuh barang mencurigakan lagi darimu!" jawab Elian dengan sangat tegas.
Nebula terdiam sebentar, lalu menjawab singkat, "Baiklah, aku akan pergi."
"Apa?" Elian sedikit bingung karena Nebula pergi begitu saja. Namun melihat sosok itu benar-benar melangkah pergi, beban di hati Elian sedikit berkurang, meski ia tetap menaruh kecurigaan besar pada Nebula.
...
Keesokan siangnya, Arta terbangun setelah tidur yang sangat panjang. Kepalanya terasa sangat pusing dan tenggorokannya kering karena haus. Ia pun memaksakan diri untuk bangun.
"Pusing sekali..." bisiknya pelan.
Di meja kecil sebelah tempat tidur, sudah ada air minum dan sarapan yang sudah dingin. Arta meraih gelas itu dengan tangan yang lemas dan langsung meminumnya. Meskipun perutnya lapar, ia sama sekali tidak nafsu makan.
Angin sejuk masuk dari jendela kamar yang terbuka lebar, meniup gaun tidur dan rambutnya. Arta sempat menoleh ke arah jendela, tapi ia langsung memalingkan wajah karena rasa takut yang masih membekas. Ia belum sanggup melihat ke luar.
Wajah Arta terlihat datar, tapi kakinya gemetar saat ia berjalan menuju pintu. Ia hanya ingin keluar dari kamar itu untuk menenangkan pikirannya. Pandangan yang biasanya penuh percaya diri, kini tertunduk kosong menatap lantai.
Tepat di depan pintu, ia melihat kubus logam asing yang ditinggalkan Nebula semalam. Arta tahu itu dari Nebula yang entah bagaimana bisa ada di sana, tapi ia tidak peduli. Ia hanya menggeser kubus itu dengan kakinya seperti sedang menyingkirkan batu yang menghalangi jalan.
Saat membuka pintu, dua penjaga dari ras demi-human yang memiliki telinga musang dan serigala langsung menoleh ke arahnya.
"Ah, Nona Arta! Anda sudah sadar! Tunggu sebentar, saya akan panggilkan Tuan Elian!" ucap si telinga musang dengan semangat.
"Tidak perlu, aku hanya ingin jalan-jalan sendiri," jawab Arta dengan suara yang terdengar sangat lesu.
"Ba—baik Nona, silakan," jawab penjaga itu dengan bingung.
Arta berjalan melewati mereka begitu saja. Kedua penjaga itu pun saling berbisik.
"Menurutmu, dia tidak terlihat baik-baik saja kan?"
"Benar, sebaiknya kita lapor ke Tuan Elian."
Sebelum mereka pergi melapor, seseorang datang dari arah depan. Itu adalah Ibu Elian bersama Helica, si kepala pelayan Elf.
"Ada apa ini?" tanya Ibu Elian.
"Nyonya! Itu... Nona Arta baru saja bangun dan pergi ke lantai bawah."
Setelah mendengar itu, Ibu Elian dan Helica segera menyusul Arta. "Arta!" panggil Ibu Elian.
Arta menghentikan langkahnya dan menoleh.
Pandangannya terlihat kosong dan rambutnya yang biasa rapi kini tampak berantakan.
"Arta, apa yang terjadi nak?" tanya Ibu Elian dengan lembut.
Arta ingin menjawab, tapi rasa bersalah di hatinya membuat suaranya tertahan di tenggorokan. Melihat kondisi Arta yang menyedihkan, Ibu Elian langsung mendekat dan memeluknya dengan hangat.
"Tidak apa-apa... semuanya akan baik-baik saja," bisiknya.
Arta tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa membalas pelukan itu dengan lemah, seolah semua kekuatannya sudah hilang tak berbekas.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat