Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahlawan Berjas Hitam
Jika ada yang mengatakan bahwa ketakutan terbesar seorang gadis kampung adalah menghadapi rentenir kejam, maka bagi Nayla, ketakutan itu kini bergeser. Ketakutan barunya adalah menyaksikan suaminya sendiri, Gibran Mahardika, ketika sedang berada dalam mode "pamer kekayaan tingkat tinggi."
Setelah insiden di kafe Sudirman yang membuat Pak Hartono lari terbirit-birit seperti dikejar sepasang aneh herder, Gibran ternyata tidak langsung mengajak Nayla pulang ke griya tawang. Pria itu justru menyuruh Gunawan untuk memutar arah mobil SUV mewah mereka menuju jalan tol lintas provinsi.
"Mas, kita mau ke mana sih? Ini kan jalan ke arah luar kota? Jangan bilang kamu mau membuangku ke hutan karena aku merepotkanmu?" tanya Nayla panik, matanya menatap keluar jendela melihat papan petunjuk jalan yang semakin menjauh dari Jakarta.
Gibran yang duduk di sebelahnya sedang sibuk mengetik sesuatu di iPad kerjanya. Tanpa mengalihkan pandangan, ia menjawab santai, "Gue mau ke kampung halaman lu. Sekarang."
Nayla hampir saja melompat dari kursinya jika saja sabuk pengaman tidak menahannya. "Hah? Ke kampungku? Mau ngapain, Mas? Malam-malam begini? Jaraknya kan tiga jam dari sini!"
Gibran meletakkan iPad-nya, lalu menatap Nayla dengan senyum tipis yang penuh misteri. "Rentenir seperti Hartono itu tipikal pengecut yang bermuka dua. Di depan gue tadi dia memang takut, tapi siapa yang menjamin dia enggak bakal balik ke kampung lu dan melampiaskan amarahnya ke ibu atau adik lu? Cara terbaik untuk membasmi kecoak adalah dengan menghancurkan sarangnya sekalian."
Nayla tertegun. Di balik sikap arogan dan sok mengatur itu, Gibran ternyata memikirkan keselamatan keluarganya sampai sejauh itu. Rasa hangat kembali menyusup ke dadanya, membuat bantahan yang sudah siap di ujung lidahnya tertelan kembali
Malam semakin larut ketika SUV hitam milik Gibran melaju mulus membelah jalan tol lintas provinsi. Lampu-lampu jalan berpendar kekuningan, memantul di kaca mobil yang sedikit berembun karena pendingin udara terlalu dingin.
Di dalam mobil, suasana justru terasa hangat oleh percakapan yang tidak ada habisnya.
Nayla duduk gelisah di kursi penumpang depan. Sejak tadi gadis itu beberapa kali melirik Gibran diam-diam. Pria itu masih terlihat segar meskipun seharian sibuk menghadapi urusan kantor, bertemu klien, lalu menghadapi Pak Hartono di kafe Sudirman.
Sebaliknya, Nayla malah merasa bersalah.
“Mas …” panggilnya pelan.
“Hm?”
“Kita enggak usah ke kampung malam ini juga sebenarnya.”
Gibran tetap fokus memandang layar iPad di tangannya. “Kenapa?”
“Ya karena … kamu pasti capek.” Nayla menggigit bibirnya pelan. “Dari pagi kerja terus, terus ribut sama Pak Hartono juga. Besok pagi aja kita berangkatnya. Istirahat dulu.”
Gibran akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, tetapi lembut.
“Lu pikir gue bakal bisa tidur nyenyak kalau masih ada kemungkinan keluarga lu diganggu orang?”
Nayla langsung terdiam.
“Masalahnya ....”
“Enggak ada masalah,” potong Gibran tegas. “Hartono itu tipe manusia dendaman. Gue kenal model begitu. Hari ini dia takut karena gue ada di sana. Tapi kalau dia nekat datang ke kampung lu pas kita enggak ada gimana?”
Nayla menunduk pelan.
“Gue enggak mau ambil risiko.”
Nada suara Gibran rendah, tetapi penuh ketegasan yang membuat dada Nayla menghangat aneh.
Pria itu benar-benar memikirkan keluarganya.
Padahal beberapa bulan lalu mereka bahkan tidak saling mengenal.
Nayla memandang keluar jendela sambil tersenyum tipis. “Kamu ini sebenarnya baik banget ya.”
Gibran mendengus kecil. “Baru sadar?”
“Ih, pede banget.”
“Fakta.”
Nayla memutar mata malas. “Aku kira orang kaya kayak kamu tuh dingin, galak, sama enggak peduli orang lain.”
“Gue memang galak.”
“Itu sih benar.”
“Dan gue dingin ke orang yang enggak penting.”
Nayla langsung menoleh cepat. “Berarti aku penting?”
Gibran menatapnya beberapa detik tanpa berkedip.
“Lumayan.”
“Cuma lumayan?” Nayla manyun. “Aku kan istrimu.”
“Lu cerewet.”
“Jawabannya enggak nyambung!”
Gunawan yang menyetir di depan sampai menahan senyum mendengar perdebatan pasangan itu.
Gibran meletakkan iPad-nya lalu menyandarkan tubuh ke kursi. “Kalau gue bilang lu penting banget nanti kepala lu makin besar.”
Nayla terkekeh kecil.
Entah kenapa, menggoda Gibran selalu terasa menyenangkan. Reaksi pria itu kadang dingin, kadang menyebalkan, tetapi diam-diam perhatian.
“Mas …”
“Apa lagi?”
“Kalau nanti sampai kampung, jangan kaget ya.”
“Kaget kenapa?”
“Kampungku beda banget sama hidupmu.”
Gibran mengangkat sebelah alis. “Maksudnya?”
“Ya … rumahku kecil. Jalannya sempit. Enggak ada lift, enggak ada marmer, enggak ada lampu kristal kayak di griya tawang kamu.”
“Terus?”
Nayla menghela napas kecil. “Aku takut kamu enggak nyaman.”
Beberapa detik mobil menjadi hening.
Lalu tiba-tiba Gibran tertawa kecil.
Dan itu membuat Nayla melotot.
“Mas! Aku serius!”
“Gue juga serius.”
“Terus kenapa ketawa?”
“Karena lu lucu.”
“Apanya yang lucu?”
“Lu pikir gue nikahin lu karena rumah lu punya lift?”
Nayla langsung tersedak ludah sendiri.
“Ya enggak gitu juga!”
“Terus?”
Nayla menggaruk pipinya salah tingkah. “Aku cuma … malu aja.”
Tatapan Gibran melembut.
Untuk pertama kalinya malam itu, pria tersebut mengulurkan tangan lalu mencubit pelan pipi Nayla.
“Nayla.”
“Hm?”
“Rumah sederhana bukan sesuatu yang memalukan.”
Suara Gibran terdengar tenang.
“Yang memalukan itu kalau orang enggak punya hati.”
Napas Nayla tercekat sesaat.
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa menenangkan.
Gibran melanjutkan, “Lagipula gue lebih suka rumah yang hangat daripada rumah besar isinya manusia palsu.”
Nayla menatap pria di sebelahnya lekat-lekat.
Dalam balutan jas hitam mahal dan jam tangan miliaran rupiah, Gibran memang terlihat seperti pria sempurna yang hidup di dunia berbeda.
Namun, di balik semua itu, ternyata ada sisi hangat yang perlahan mulai dikenalnya.
Dan sisi itu membuat jantung Nayla semakin sulit diajak tenang.
“Mas …”
“Hm?”
“Kamu tahu enggak?”
“Apa?”
“Kamu kalau ngomong baik gitu bahaya.”
Gibran mengernyit. “Bahaya gimana?”
“Bisa bikin cewek salah paham.”
Pria itu menatap Nayla datar beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum miring.
“Kalau ceweknya lu, enggak apa-apa.”
Deg!
Wajah Nayla langsung memanas.
“Mas!”
“Kenapa?”
“Kamu jangan ngomong begitu mendadak dong!”
“Lu sendiri yang mulai.”
Nayla langsung memalingkan wajah ke jendela sambil menutupi pipinya yang merah.
Sial.
Kenapa akhir-akhir ini Gibran sering sekali membuat jantungnya berantakan?
Melihat Nayla yang salah tingkah, Gibran justru terlihat puas.
Pria itu lalu menyandarkan kepala sambil memandang Nayla diam-diam.
“Eh, Nay.”
“Apa?”
“Gue penasaran.”
“Penasaran apa?”
“Dulu di kampung lu pasti banyak cowok yang ngejar.”
Nayla langsung mendelik. “Enggak ada.”
“Bohong.”
“Serius!”
“Dengan muka kayak gitu enggak mungkin enggak ada.”
Nayla langsung menatap Gibran tidak percaya. “Kamu lagi muji aku?”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Gue cuma ngomong fakta.”
Nayla langsung menahan senyum.
Aneh sekali.
Pujian dari Gibran terdengar jauh lebih mempan dibanding seribu rayuan laki-laki lain.
“Kalau kamu sendiri?” tanya Nayla balik cepat. “Pasti banyak perempuan yang ngejar.”
“Banyak.”
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Nayla langsung cemberut.
Dan Gibran yang melihat ekspresinya malah tertawa kecil.
“Tapi gue enggak peduli.”
“Kenapa?”
“Berisik.”
Nayla mendengus kesal. “Dasar sombong.”
“Bukan sombong. Selektif.”
“Halah.”
“Lagipula …” Gibran menoleh pelan. “Sekarang gue sudah punya istri.”
Jantung Nayla kembali berdegup tidak karuan.
“Walaupun istrinya kadang nyebelin.”
“Mas!”
“Tapi lucu.”
“Mas Gibran!”
“Tapi cantik.”
“Ya ampun …”
“Dan terlalu polos.”
Nayla langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan karena malu.
Gunawan di depan sampai harus menahan tawanya mati-matian.
Sementara Gibran tampak sangat menikmati reaksi istrinya.
Beberapa saat kemudian suasana kembali tenang.
Mobil terus melaju menembus malam.
Nayla memandangi jalanan gelap di luar jendela, lalu tanpa sadar bersandar pelan ke kursinya.
Rasa kantuk mulai menyerang.
Namun sebelum matanya benar-benar terpejam, ia sempat menoleh ke arah Gibran.
Pria itu masih duduk tegak dengan tatapan serius memandang jalan di depan.
Seolah sedang memastikan dirinya akan tiba dengan selamat.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nayla merasa benar-benar dilindungi.
Bukan karena uang.
Bukan karena kekuasaan.
Tetapi karena seseorang memilih berdiri di sisinya tanpa ragu.
Sementara di luar sana, malam terus berjalan.
Dan SUV hitam itu melaju semakin jauh menuju kampung kecil tempat semua rahasia masa lalu Nayla menunggu untuk terbuka.
sory ya thor 🙏