Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 — ORANG YANG SEHARUSNYA MATI
Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya.
Aku berdiri diam.
Tatapanku tidak lepas dari sosok di depan sana.
Siluet itu perlahan maju.
Langkahnya tenang.
Seolah tidak ada yang aneh.
Seolah kemunculannya… bukan sesuatu yang mustahil.
Tapi bagiku—
itu seperti melihat masa lalu yang bangkit dari kubur.
“Tidak mungkin…”
Bisikku hampir tidak terdengar.
Arkan yang berdiri di sampingku langsung menegang.
“Kamu kenal dia?”
Aku tidak menjawab.
Karena aku…
tidak yakin aku siap mengatakan namanya.
Langkah itu berhenti.
Cahaya lampu jalan menyentuh wajahnya.
Dan di detik itu—
duniaku benar-benar runtuh.
“Lama sekali kamu mencariku, Alena.”
Senyumnya tipis.
Sama seperti yang aku ingat.
Tidak berubah.
Tidak berkurang.
“Ayah…”
Kata itu keluar begitu saja.
Tanpa bisa kutahan.
Sunyi.
Bahkan angin pun terasa berhenti.
Arkan langsung menoleh cepat.
“Apa?”
Aku tidak bergerak.
Mataku tetap terkunci pada pria itu.
Pria yang selama ini—
kuanggap sudah mati.
“Aku pikir… kamu sudah mati.”
Suaraku bergetar.
Untuk pertama kalinya… sejak aku kembali.
Dia tertawa kecil.
Santai.
“Begitulah rencananya.”
Jantungku terasa diremas.
“Rencana…?”
Dia melangkah lebih dekat.
“Semua yang kamu tahu tentang masa lalu…”
Dia berhenti.
Menatapku dalam.
“…tidak sepenuhnya benar.”
Kepalaku terasa berat.
Semua yang baru saja kususun—
mulai retak lagi.
“Kenapa…” bisikku pelan.
“Kenapa kamu melakukan ini?”
Dia tidak langsung menjawab.
Hanya menatapku.
Seolah sedang menilai sesuatu.
“Karena kamu adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari yang kamu bayangkan.”
Jawaban itu…
tidak menjawab apa pun.
“Aku tidak butuh teka-teki!”
Aku melangkah maju.
Emosiku akhirnya meledak.
“Kamu tahu apa yang terjadi padaku?!”
“Semua yang aku lewati?!”
Arkan mencoba menahanku.
“Alena—”
“Jangan sentuh aku!”
Aku menepis tangannya.
Tatapanku kembali ke pria itu.
“Jawab aku!”
Sunyi.
Beberapa detik yang terasa panjang.
Lalu—
dia menghela napas.
“Baik.”
Suaranya berubah.
Tidak lagi santai.
Lebih serius.
“Kamu ingin tahu kenapa kamu dijadikan alat?”
Jantungku berdetak lebih cepat.
“Ya.”
Dia menatap lurus ke mataku.
Dan berkata—
“Karena kamu satu-satunya yang bisa menghancurkan mereka.”
Dunia terasa berhenti.
“Apa maksudmu…?”
Dia tersenyum tipis.
“Kamu bukan hanya bagian dari keluarga itu, Alena.”
Jeda.
Satu detik.
Dua detik.
“Kamu adalah pewaris sebenarnya.”
Napas Arkan langsung terhenti.
“Apa?”
Aku tidak bisa bicara.
Tidak bisa bergerak.
Semua terasa…
terlalu besar.
“Perusahaan itu… seharusnya milik keluargamu.”
Dia melanjutkan.
“Bukan milik mereka.”
Tanganku mengepal.
“Jadi selama ini…”
Aku menelan ludah.
“…semua ini tentang mengambil kembali sesuatu yang memang milikku?”
Dia mengangguk.
“Tapi mereka tidak akan membiarkan itu terjadi.”
“Makanya mereka menghancurkan kita…” bisikku.
“Tidak.”
Jawabannya cepat.
“Mereka tidak menghancurkan kalian.”
Dia menatapku dalam.
“Mereka mencoba menghapusmu.”
Sunyi.
Kalimat itu terasa lebih kejam dari apa pun.
“Menghapus… aku?”
“Karena selama kamu ada…”
Dia melangkah mendekat.
“…mereka tidak akan pernah benar-benar aman.”
Aku mundur satu langkah.
Tidak sadar.
“Dan kamu…” aku menatapnya tajam.
“…apa peranmu dalam semua ini?”
Senyumnya kembali.
Tipis.
“Aku memastikan kamu tetap hidup.”
“Dengan cara menghancurkan hidupku?!”
Aku berteriak.
“Dengan cara membuatmu cukup kuat untuk bertahan.”
Jawaban itu…
membuatku diam.
Karena bagian dari diriku tahu—
itu benar.
Sunyi.
Lama.
Arkan akhirnya bicara.
“Apa semua ini… juga bagian dari rencanamu?”
Pria itu menoleh.
Menatapnya.
“Kamu.”
Suaranya berubah sedikit.
“Kamu adalah variabel yang tidak direncanakan.”
Arkan mengernyit.
“Tapi ternyata…”
Pria itu tersenyum tipis.
“…kamu justru mempercepat semuanya.”
Aku menoleh ke Arkan.
Untuk pertama kalinya malam itu—
kami saling menatap tanpa konflik.
Karena kami sama-sama sadar—
kami bukan pemain utama.
Kami…
hanya pion.
“Atau mungkin… dulu.”
Aku menarik napas dalam.
“Sekarang tidak lagi.”
Aku menatap pria itu.
Tatapanku berubah.
“Kalau aku benar pewarisnya…”
Aku melangkah maju.
“…maka aku yang akan mengakhiri semua ini.”
Dia tidak terlihat terkejut.
Tidak juga menahan.
Dia hanya tersenyum.
“Bagus.”
Satu kata itu terasa aneh.
Seolah…
ini memang yang dia tunggu.
“Tapi ingat satu hal, Alena.”
Aku berhenti.
“Semakin kamu mendekat ke kebenaran…”
Suaranya lebih pelan sekarang.
“…semakin banyak yang akan kamu kehilangan.”
Aku tersenyum tipis.
“Tidak ada lagi yang tersisa untuk hilang.”
Dia menatapku.
Lama.
Lalu mengangguk.
“Kalau begitu… kita lihat seberapa jauh kamu bisa bertahan.”
Dan tanpa peringatan—
dia berbalik.
Pergi.
Meninggalkan kami.
Sunyi kembali.
Aku berdiri diam.
Masih mencoba memproses semuanya.
Arkan mendekat pelan.
“Alena…”
Aku tidak menoleh.
“Kalau semua ini benar…”
Suaranya berat.
“…kamu bukan hanya target.”
Aku akhirnya menoleh.
Tatapanku dingin.
“Aku tahu.”
“Dan itu berarti…”
Dia berhenti.
“Perang ini baru benar-benar dimulai.”
Aku tersenyum tipis.
“Bukan perang.”
Aku melangkah melewatinya.
“Ini pengambilalihan.”
Langkahku tidak berhenti.
Tidak ragu.
Karena sekarang—
aku tahu siapa aku.
Dan apa yang harus aku lakukan.
Di belakangku—
Arkan berdiri diam.
Tapi kali ini—
dia tidak mencoba menghentikanku.
Karena dia tahu—
aku bukan lagi wanita yang dulu dia kenal.
Aku adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya.